Share

105 Dooa

Author: AgamYupi02
last update publish date: 2026-08-05 12:06:15

Lampu gantung kristal di aula bernuansa mewah itu memantulkan kilau keemasan yang memanjakan mata. Suasana pesta amal kelas atas terasa begitu riuh oleh perbincangan para elite bertoksido rapi dan bergaun anggun.

Di tengah kerumunan tersebut, seorang pria paruh baya bertubuh gempal melangkah mendekat dengan percaya diri.

"Nona Andini, lama tidak berjumpa. Aku dengar akhir-akhir ini, bisnis Nona mengalami perkembangan yang luar biasa," sapa pria paruh baya bernama Dooa itu. Suaranya berat, diba
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Petani Terkuat   156 Genap Setahun

    Uap hangat perlahan memudar dari jemari Jaka saat dia menarik tangannya. Keringat tipis membasahi pelipisnya, menandakan rumitnya kendali energi yang baru saja dia kerahkan. Namun, seperti yang diharapkan dari sang tokoh utama, perawatan Dinda tuntas tanpa masalah. Cahaya di dalam ruangan berangsur normal. Dinda membuka kelopak matanya perlahan, merasakan sensasi hangat yang merayap di kulit wajahnya. Tangannya yang masih gemetar terangkat pelan, meraba pipi dan dagunya dengan penuh keraguan.Di atas meja samping tempat tidur pasien, sebuah cermin bundar tergeletak rapi. Dinda meraih gagang cermin itu lalu mengangkatnya tepat di depan wajah. Seketika itu juga, napasnya tercekat dan matanya melebar sempurna menatap pantulan dirinya.Wajah di cermin itu tampak luar biasa memukau tanpa sisa luka masa lalunya. Kulitnya kini seputih porselen dan memancarkan aura jelita yang jauh melampaui masa kejayaannya dulu. Ekspresi tercengang mengunci seluruh paras cantiknya."Ini nyata? Aku tidak se

  • Petani Terkuat   155 Kejatuhan Wanita Cantik

    Deru mobil membelah jalanan kota yang dingin. Jaka melirik wanita di sampingnya yang sejak tadi terdiam menatap ke luar jendela."Sebenarnya kita mau ke mana?" tanya Jaka memecah keheningan yang menyesakkan itu.Wajah Andini meredup seketika. Binar cerah yang biasanya selalu menghiasi parasnya mendadak padam, berganti raut kelam yang menatap kosong ke kejauhan.Menyadari perubahan drastis itu, Jaka kembali membuka suara dengan nada lebih berhati-hati. "Apa aku salah bicara?"Andini menggeleng pelan, lalu meremas jemarinya sendiri di atas pangkuan. "Tidak, ini masalahku.""Hah? Apa maksudmu?" Jaka semakin mengernyitkan dahi karena rasa penasaran yang memuncak.Andini menarik napas berat sebelum menoleh ke arah Jaka dengan mata berkaca-kaca. "Aku memiliki teman bernama Dinda." Jaka tetap tenang menyimak tanpa menyela, membiarkan Andini melanjutkan ceritanya."Dinda akan menikah tiga hari kemudian, tetapi kemarin sebuah bencana menerpanya," suara Andini tercekat menahan perih yang menca

  • Petani Terkuat   154 Permintaan Eldric

    Matahari siang memanggang hamparan ladang hijau di pinggiran kota dengan terik yang menyengat. Bulir-bulir tanaman bergoyang pelan disapu angin hangat, menandakan musim panen sedang berlangsung. Di antara barisan tanaman yang menjulang tinggi, Jaka sibuk memanen macam-macam buah. Keringat membasahi pelipisnya, lalu menetes jatuh ke tanah sebelum sempat ia usap. Suasana kerja yang hening itu seketika pecah saat saku celananya bergetar diiringi bunyi dering panggilan masuk.Jaka menghentikan pekerjaannya, lalu menegakkan punggungnya yang terasa sedikit kaku. Ia merogoh saku dan menatap layar ponsel yang menyala terang menampilkan nama Eldric. Tanpa menunda waktu, ibu jarinya segera menggeser layar untuk menerima panggilan tersebut.“Aku ingin bicara serius denganmu, sekarang kamu ada di mana?”Suara berat Eldric terdengar langsung dari seberang sambungan dengan nada yang sangat mendesak. Hembusan napas tetua itu terdengar berat, mengisyaratkan adanya persoalan genting yang sedang menek

  • Petani Terkuat   153 Terobosan

    Dor! Dor! Dor!Tiga kilatan api membelah keheningan gudang saat senapan otomatis menyemburkan timah panas beruntun. Udara pekat berbau mesiu langsung tersibak desingan maut yang melesat menuju tubuh Jaka.Sudut pandang melambat seketika saat retina Jaka menangkap lintasan proyektil pertama yang membelah udara. Tanpa melangkah mundur, pemuda itu memiringkan kepalanya sedikit, membiarkan angin peluru meniup helaian poninya.Dua peluru berikutnya menyusul dalam formasi silang yang berbahaya. Tubuh Jaka meliuk lentur bagai bayangan air, berputar anggun untuk menghindari timah panas yang menghantam beton.Lantai semen meledak saat ia melesat maju menutup jarak dalam satu sentakan akselerasi. Kamera seolah meluncur cepat di samping siluetnya yang menerobos sisa asap mesiu dalam sekejap.Pria penembak pertama bahkan belum sempat mengedipkan matanya yang membelalak ngeri. Telapak tangan Jaka menyusup kilat, mematahkan cengkeraman senjata lawan hingga pistol terlempar ke udara.Satu dorongan r

  • Petani Terkuat   152 Poligami

    Pembangunan rumah baru akhirnya tuntas. Keluarga Jaka sudah mengemasi barang dan angkat kaki dari rumah lama. Sudah lewat seminggu semenjak mereka pindah menempati rumah baru ini.Nuansa modern menyerang mata dari segala sudut. Lantai marmer memantulkan cahaya lampu gantung di atap ruang tengah. Sofa kulit hitam melingkari meja kaca berdesain tajam dan futuristik.Mereka mulai terbiasa dengan kemewahan fasilitas kelas atas. AC sentral menghembuskan udara sejuk secara konstan. Sistem otomatis pintar juga ikut mengatur suhu ruangan.Tapi di lubuk hati, Jaka merindukan kehangatan rumah sederhananya. Ada rasa nyaman tak kasat mata di sana. Kehangatan yang tidak bisa dibeli dengan tumpukan uang.Jaka melangkah pelan menghampiri Bejo. Pria itu duduk santai. Ayahnya tampak tenang menyesap kopi hitam dari cangkir mahal.Kepulan asap menari membawa aroma kopi. Jaka berhenti di samping sofa, menatap ayahnya."Ayah, aku berniat melakukan renovasi pada rumah lama kita."Suara Jaka memecah kehenin

  • Petani Terkuat   151 Perasaan Rumit Seorang Gadis

    Ruang tengah keluarga Jaka terasa jauh lebih panas dari hari-hari sebelumnya. Pemuda itu duduk dengan tubuh kaku di atas sofa usang. Tatapan tajam ibunya mengunci rapat seluruh pergerakannya sejak lima belas menit yang lalu.Susi berdiri tegap dengan kedua tangan terlipat erat di depan dada. Rentetan pertanyaan tajam meluncur tanpa henti menyerbu telinga putranya. Jaka terus mencoba mengelak dengan berbagai variasi alasan.Namun pertahanan Jaka runtuh seketika saat nada suara ibunya meninggi. Pemuda itu akhirnya membuka mulut perlahan.Jaka terpaksa membeberkan serpihan kebenaran yang selama ini ditutupi. Dia mengakui seluruh perannya di insiden kemarin. Jaka adalah pahlawan utama di balik layar penangkapan pelaku pelecehan itu.Kejutan menghantam ruangan bagai gelombang pasang. Mata Susi membesar seketika mencerna pengakuan putranya. Lengan yang terlipat mulai merosot turun perlahan ke sisi tubuh.Tangan hangat wanita itu kemudian bergerak maju merangkul pundak Jaka. Susi memberikan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status