Home / Pendekar / Petani Terkuat / 137 Rayuan Tiga Wanita

Share

137 Rayuan Tiga Wanita

Author: AgamYupi02
last update publish date: 2026-08-29 10:40:56

"He he he, sepertinya hubungan Tuan Jaka dan Nona Andini semakin hari semakin dekat."

Jeanne menyandarkan pinggul rampingnya ke tepi meja kerja kayu jati. Beberapa helai rambut pirang-emas miliknya menempel basah di pelipis akibat sisa panen yang menguras tenaga, namun kilatan jahil di wajah cantiknya sama sekali tidak memudar.

"Ayo lekas ceritakan kepada kami, Tuan Jaka. Seperti apa desahan manis Nona Andini saat kalian berdua berhubungan intim?"

Rosa mencondongkan tubuhnya ke depan dengan sep
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Petani Terkuat   138 Hasil Penelitian

    Jeritan panik bernada malu dari Hina Yulia seketika memecah atmosfer panas yang nyaris mengaburkan akal sehat Jaka.Pria itu lekas menegakkan postur tubuh dan menarik kedua lengannya, berinisiatif melepaskan diri dari kepungan lembut ketiga wanita meski batinnya harus melawan kenikmatan sesaat."Dasar kalian bertiga ini. Tanpa perlu melancarkan aksi penyerbuan manja seperti tadi pun, aku pasti akan membagikan cairan berharga ini kepada kalian semua.""Sungguh? Kamu memang majikan terbaik dan paling kami kagumi di seluruh dunia!"Jeanne memekik girang dengan sepasang mata berbinar penuh luapan antusiasme. Saking gembiranya, wanita berambut pirang itu secara spontan menarik kepala Jaka lalu membenamkannya ke dalam belahan dadanya yang empuk."Ahn!"Anehnya, justru Jeanne sendiri yang mendadak mendesah malu dengan nada manja karena sensasi sentuhan tak terduga pada area sensitif tubuhnya.Jaka menelan ludah hingga tenggorokannya terasa begitu kering. Posisi wajahnya terjepit nyaman di an

  • Petani Terkuat   137 Rayuan Tiga Wanita

    "He he he, sepertinya hubungan Tuan Jaka dan Nona Andini semakin hari semakin dekat."Jeanne menyandarkan pinggul rampingnya ke tepi meja kerja kayu jati. Beberapa helai rambut pirang-emas miliknya menempel basah di pelipis akibat sisa panen yang menguras tenaga, namun kilatan jahil di wajah cantiknya sama sekali tidak memudar."Ayo lekas ceritakan kepada kami, Tuan Jaka. Seperti apa desahan manis Nona Andini saat kalian berdua berhubungan intim?"Rosa mencondongkan tubuhnya ke depan dengan sepasang mata yang berbinar penuh rasa ingin tahu. Di samping kirinya, Selia menganggukkan kepala berkali-kali dengan antusias, memberikan dukungan tanpa syarat terhadap pertanyaan tanpa filter dari rekannya itu. Di sudut ruangan yang lebih tenang, Hina Yulia melirik ke arah mereka sekilas. Semburat rona merah jambu perlahan merambat naik hingga ke ujung telinganya yang mungil."Ehem!"Jaka berdeham berat seraya membetulkan kerah kemejanya. Nada bicaranya sengaja dibuat dalam dan berwibawa demi m

  • Petani Terkuat   136 Interogasi di Rumah dan Tanggung Jawab

    Perjalanan panjang dari kawasan gedung pencakar langit menuju desa agraris yang tenang memakan waktu hingga beberapa jam. Deru bising mesin kendaraan dan aroma polusi perkotaan perlahan sirna, tergantikan oleh semilir angin sejuk yang membawa aroma tanah basah serta kesegaran hamparan ladang hijau yang membentang luas di bawah sinar mentari.Langkah kaki Jaka berderap pelan menyusuri jalan setapak berbatu yang membelah perkebunan sayur milik warga. Di ujung jalan, rumah panggung sederhana dengan dinding kayu jati yang kokoh berdiri menyambut kepulangannya dalam keheningan yang menentramkan.Jaka mendorong pintu depan yang berderit halus, melangkah masuk ke dalam ruang depan yang beralaskan ubin terakota dingin. Namun, atmosfer nyaman itu mendadak sirna saat sepasang mata menatapnya tanpa berkedip.Begitu tiba di rumah, Jaka mendapat tatapan tajam dari adik perempuannya, Dina.Gadis remaja itu tengah berdiri menyandarkan bahu pada ambang pintu lorong dapur, melipat kedua tangannya di d

  • Petani Terkuat   135 Rencana Ekspansi Bisnis

    Sinar matahari membiaskan cahaya menembus dinding kaca lantai teratas gedung pencakar langit. Udara sejuk pendingin ruangan membawa aroma parfum floral yang samar, membungkus suasana tenang di ruang kerja mewah itu."Jadi akhirnya kamu membuat keputusan," ucap Andini pelan sembari menyandarkan punggungnya pada kursi kerja kulit hitam.Di seberang meja kerja gadis itu, Jaka duduk di sofa dengan wajah serius. Kedua tangannya bertaut di pangkuan, menatap lurus ke arah kekasihnya. "Jumlah cairan spiritual yang bisa diproduksi setiap hari melonjak drastis, bahkan jika disisihkan sebagian, masih banyak yang tersisa," jelas Jaka menyampaikan perkembangan dengan nada serius. Andini menopang dagu dengan jemari lentiknya, menatap kekasih tercinta dengan penuh minat. "Dengan kata lain, kamu berniat memulai perusahaan farmasi.""Niatnya begitu, tapi karena kamu sudah memiliki perusahaan farmasi, kita manfaatkan saja yang sudah ada," balas Jaka dengan nada santai namun matang.Mendengar solusi e

  • Petani Terkuat   134 Pagi yang Kacau

    Glek...Jaka menelan ludahnya sekali lagi, merasakan hawa panas yang membakar tenggorokannya saat kulit mereka bersentuhan langsung tanpa sekat. Pandangannya yang goyah beralih ke wajah Andini yang berada hanya beberapa senti dari hidungnya."Apa kamu baik-baik saja?" tanya Jaka dengan suara serak, berusaha memastikan batas ketahanan fisik gadis itu.Andini mengulas seulas senyuman tipis yang sarat akan kehangatan dan kebanggaan. Jemari lentiknya menyentuh lembut rahang tegas Jaka yang menegang kaku."Berkat rutin mengonsumsi campuran cairan spiritual yang kamu berikan, fisikku menjadi jauh lebih kuat dari sebelumnya," ujar Andini setengah berbisik. "Aku masih bisa melakukannya lagi, bahkan mungkin sampai kamu benar-benar merasa puas."Mendengar perkataan itu, benteng pertahanan terakhir di dalam kepala Jaka langsung runtuh tak bersisa. Jaka berusaha sekuat tenaga menekan keberadaan binatang buas kuno yang mendadak meraung liar di dasar lubuk jiwanya, menuntut pelepasan tanpa ampun.

  • Petani Terkuat   133 Detak Jantung yang Menggila

    Pendar lampu meja temaram menyinari sudut ranjang yang berantakan, membungkus dua sosok yang masih saling mendekap erat dalam kehangatan kamar. Udara ruangan terasa begitu pekat oleh aroma manis yang menguar di antara helai rambut basah oleh keringat."Aku keluar!""Hnghh!"Suara tertahan lolos begitu saja dari sela bibir kemerahan Andini saat sentakan terakhir itu tiba. Kedua kakinya yang ramping melingkari pinggang Jaka dengan sisa tenaga yang ada, menahan tubuh kekasihnya agar tidak menjauh darinya satu milimeter pun.Getaran halus merambat di sekujur kulit mulus Andini, sebelum akhirnya seluruh persendiannya terasa lepas dan ia terkulai lemas di atas kasur. Matanya setengah terpejam menatap langit-langit kamar, membiarkan tubuh Jaka perlahan terangkat menjauh.Jaka menegakkan tubuhnya perlahan, bertumpu pada kedua lutut seraya memandang gadis di hadapannya dengan rasa bersalah yang kentara. Pipi Andini masih merona merah, sementara dadanya naik turun dengan cepat untuk mengisi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status