تسجيل الدخول"Kerja keras, dan sedikit tekanan dari keluarga," jawab Alicia, senyum tipis penuh ironi terukir di wajahnya. "Ayahku adalah petinggi Faksi Medis. Sejak kecil, aku dituntut untuk menjadi yang terbaik, tidak ada ruang untuk kegagalan." "Berat juga ya, rupanya," gumam Suliwa. "Kupikir orang-orang dengan latar belakang seperti itu hidupnya lebih mudah." "Mudah dalam hal materi, mungkin," balas Alicia. "Tapi? tekanan untuk selalu sempurna itu sendiri sudah menjadi beban yang tidak ringan." Percakapan mereka terhenti ketika telinga tajam Suliwa menangkap suara samar dari kejauhan, derap langkah kaki kuda yang mendekat dengan cepat. Ia segera bangkit, memberi isyarat pada Alicia untuk mengikuti. "Ada yang datang," bisiknya waspada, matanya menyapu sekeliling mencari tempat berlindung terdekat. Mereka bergegas bersembunyi di balik semak lebat tidak jauh dari sungai, menahan napas ketika sekelompok kecil penunggang kuda melintas di jalan setapak yang tidak jauh dari tempat mereka
Para prajurit yang masih sempoyongan segera berhamburan mengejar arah larinya Suliwa dan Alicia, namun kegelapan malam yang diperparah hujan deras membuat pencarian itu jauh lebih sulit dari yang mereka kira. Suliwa menarik Alicia menyusuri jalan pintas di balik tumpukan kayu bakar, bersembunyi sejenak di celah sempit antara dua bangunan sambil menahan napas. "Apakah mereka melihat mataku?" bisik Suliwa cemas, masih berusaha mengatur napasnya yang memburu. "Aku tidak yakin," jawab Alicia berbisik, matanya mengawasi ke arah suara langkah kaki prajurit yang semakin menjauh. "Tapi kita tidak bisa mengambil risiko itu sekarang. Kita harus mencari jalan keluar dari sini secepatnya." Mereka menunggu dalam diam beberapa saat, mendengarkan derap langkah prajurit yang perlahan menyebar ke berbagai arah, semakin jauh dari tempat persembunyian mereka. Ketika akhirnya suasana terasa cukup aman, Alicia menarik lengan Suliwa, mengajaknya menyusuri jalur rahasia yang hanya diketahui oleh
Langit sore itu tiba-tiba berubah gelap, awan mendung bergulung cepat di atas Lembah Gunung Hitam seolah ikut merasakan firasat buruk yang akan datang. TEET! TEET! TEET! Suliwa baru saja menyelesaikan tugas hariannya ketika suara terompet perang kembali menggema, kali ini jauh lebih keras dan mendesak dari sebelumnya. "Semua murid keluar sekarang! Area ini dikepung!" teriak salah satu penjaga sambil berlari panik melewati gudang logistik. Suliwa bergegas keluar, dan pemandangan yang menyambutnya membuat darahnya seketika membeku. Ratusan prajurit berzirah marun mengepung seluruh area logistik, membentuk lingkaran rapat yang tidak menyisakan celah untuk melarikan diri. Di tengah barisan itu, Kanaka berdiri dengan wajah dingin penuh amarah, memegang pedang pusaka sektenya yang memancarkan kilatan petir merah. Hujan mulai turun perlahan, membasahi tanah yang segera berubah menjadi lumpur. Suliwa melihat sosok Alicia diseret paksa oleh dua prajurit dari arah bangunan f
Di sisi lain dunia kultivasi, jauh dari kabut dingin Lembah Gunung Hitam, sebuah aula mewah berhias sutra ungu cerah menjadi saksi bisu pertemuan tertutup antara Moza dan salah satu mata-mata kepercayaannya. Aroma bunga mawar malam yang selalu melekat pada dirinya memenuhi seisi ruangan, memberikan kesan manis yang menipu di balik kelicikan yang tersembunyi. "Jadi," ucap Moza sambil bersandar santai di kursi berukir emasnya, jarinya memutar-mutar sebuah cawan anggur, "Tabib Alicia semakin sering mengunjungi wilayah perbatasan logistik belakangan ini?" "Benar, Nona," jawab mata-matanya, seorang pria bertubuh kurus dengan pakaian serba hitam yang berdiri membungkuk di depannya. "Hampir setiap dua atau tiga hari sekali, dan selalu berakhir dengan kunjungan panjang ke area gudang, terutama ke tempat seorang murid bernama Suliwa bekerja." Moza mengangkat alisnya, senyum tipis mulai terukir di bibirnya yang merah merona. "Suliwa? Nama yang tidak asing. Bukankah itu murid yang sempat
Malam itu, setelah seluruh murid logistik terlelap, Suliwa mengendap keluar dari gudang mengikuti tanda yang sudah disepakati, sebuah lentera kecil berwarna biru yang digantung di dekat pohon tua perbatasan faksi alkimia. Ia menyusuri jalan setapak sunyi, jantungnya berdegup campuran antara gugup dan harap.Alicia sudah menunggunya di sana, mengenakan jubah gelap yang berbeda dari biasanya, agar tidak terlalu mencolok dalam kegelapan malam. "Kau tepat waktu," ucapnya pelan. "Ikuti aku, dan jangan bersuara."Mereka menyusuri lorong tersembunyi di balik salah satu bangunan faksi alkimia, menuruni tangga batu yang curam menuju sebuah ruangan bawah tanah luas. Dinding ruangan itu dipenuhi rak-rak berisi bahan ramuan langka, sementara di tengahnya terdapat lingkaran formasi berukir yang berpendar samar kebiruan."Tempat apa ini?" tanya Suliwa, matanya menyapu seluruh ruangan dengan kagum."Ruang latihan rahasia leluhur faksi alkimia," jawab Alicia sambil menyalakan beberapa lampu minyak
Ruang penyimpanan obat itu remang-remang, hanya diterangi oleh satu lampu minyak kecil di sudut ruangan. Rak-rak kayu berjejer rapi dipenuhi botol-botol ramuan dan tumbuhan kering, aromanya bercampur antara herbal pahit dan sesuatu yang manis samar seperti mint."Duduklah," ucap Alicia sambil menunjuk bangku kayu sederhana di dekat meja racikan. "Percakapan ini akan lebih lama dari yang kau kira."Suliwa duduk dengan hati-hati, matanya masih waspada mengawasi setiap gerakan Alicia. "Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?"Alicia menarik kursi di seberangnya, duduk dengan sikap tegak yang tidak pernah luntur meski suasana di antara mereka begitu tegang. "Pertama, aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Tetua Agung dari Sekte Pedang Langit. Dan kedua, aku ingin memastikan energi yang kau sembunyikan itu tidak akan menjadi bencana bagi siapa pun, termasuk dirimu sendiri.""Kenapa kau peduli?" tanya Suliwa, suaranya masih penuh kewaspadaan. "Kau bisa saja langsung melaporkanku







