Home / Romansa / Pijat Yuk, Mas! / Bab 7 Kena Razia

Share

Bab 7 Kena Razia

Author: Irbapiko
last update publish date: 2026-02-21 10:25:34

Bus menderu pelan sebelum akhirnya memuntahkan asap hitam di Terminal Rambutan yang riuh. Mirah turun dengan kaki gemetar, ransel kumalnya terasa seberat beban dosa yang ia seret dari Sukamaju. Di belakangnya, pria ber-hoodie itu tetap mengawal tanpa suara.

"Jalan terus, jangan celingukan kayak orang ilang," bisik pria itu tajam saat melihat Mirah ragu menatap barisan taksi. Mirah hanya bisa menelan ludah yang terasa berpasir; bau knalpot dan sampah pasar menyergap indra penciumannya dengan kasar. Bau matahari desa yang biasanya menempel di kulit kini perlahan terhapus oleh pengapnya Jakarta.

Sebuah sedan hitam dengan kaca gelap sudah menunggu di sudut terminal yang agak tersembunyi. Pria ber-hoodie itu membukakan pintu belakang, memberi kode agar Mirah segera masuk ke dalam kabin yang dingin menusuk. Sosok pria paruh baya berkacamata hitam duduk di balik kemudi, menatap Mirah melalui spion tengah dengan senyum predator.

"Barang antiknya sudah sampai," gumam pria ber-hoodie itu sebelum menutup pintu dengan suara blam yang berat. Sedan itu meluncur membelah kemacetan, meninggalkan terminal yang bising menuju labirin beton yang kian menjulang. Mirah merapatkan lututnya, merasa seperti kendi tanah liat yang sedang dikirim ke toko gelas kristal di pusat kota.

"Nama saya Pak Broto, Dian itu anak didik saya yang paling pintar," ucap pria di depan tanpa menoleh sedikit pun."Dian bilang kamu masih 'segel', di Jakarta itu harganya bisa selangit kalau dilelang ke orang yang tepat," lanjutnya.

Lidah Mirah kelu, ia hanya bisa menatap gedung-gedung pencakar langit yang tampak angkuh dari balik jendela mobil. "Bapak saya... apa Kak Dian beneran udah bayar biaya operasinya?" tanya Mirah dengan suara yang hampir tersapu deru AC. "Sudah, Mirah. Seratus juta. Nyawa bapakmu itu mahal harganya bagi orang seperti kami," jawab Pak Broto dingin.

Mobil melambat dan berhenti di depan sebuah ruko tiga lantai kusam dengan papan nama mentereng: GADING RESTO. Begitu pintu terbuka, Mirah langsung disergap kombinasi aroma asap rokok pekat dan dentum musik pelan yang menggetarkan ulu hati. "Ayo turun, jangan bikin Mas Doni nunggu lama," perintah Pak Broto tegas.

"Mirah! Akhirnya sampai juga kamu!" teriakan itu memecah kebisingan saat Mirah melangkah masuk ke dalam ruko remang-remang. Nani berlari mendekat, namun Mirah hampir tidak mengenali sahabatnya itu karena perubahan fisik yang ekstrem. Rambutnya terurai modis, wajahnya tertutup polesan make-up dramatis, dan tubuhnya dibalut gaun merah menyala yang sangat berani.

"Nan... kamu... kamu beda banget," gumam Mirah, matanya membelalak tak percaya melihat belahan dada Nani yang terekspos jelas. "Ini Jakarta, Mir! Jangan norak kenapa sih, bodi udah mateng begini harus dipamerin," sahut Nani sambil menarik kasar tangan Mirah. Nani membawanya menuju pojok ruangan tempat seorang pria bertubuh tambun sedang duduk santai.

Pria itu adalah Mas Doni; leher dan jemarinya dipenuhi perhiasan emas yang mencolok di bawah lampu kristal. Ia menatap Mirah dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan lapar yang membuat Mirah merasa benar-benar telanjang. "Gila... Dian nggak bohong. Bau keringat desanya masih kenceng banget, bening," ucap Mas Doni sambil mengembuskan asap cerutu.

"Tapi Kak Dian bilang saya jadi pelayan restoran biasa," sanggah Mirah dengan sisa keberanian yang ia kumpulkan. Mas Doni tertawa terbahak-bahak hingga perut buncitnya berguncang hebat, suara yang terdengar menjijikkan di telinga Mirah. "Memang pelayan, Mirah. Tapi pelayan khusus. Menu utamanya adalah kalian, bukan makanan di piring itu," bisiknya provokatif.

Malam harinya, di sebuah kamar ganti sempit yang berbau parfum murah, Mirah dipaksa mengenakan seragam pertamanya. Sebuah rok mini dari kulit sintetis yang sangat ketat hingga ia sulit bernapas, dipadukan dengan atasan transparan. Mirah menatap pantulan dirinya di cermin tua yang retak, air matanya jatuh tanpa suara membasahi pipi yang kini tebal oleh bedak.

"Hapus itu air mata, maskara mahal jangan dibuang cuma buat drama cengeng," tegur Dian dengan nada dingin di ambang pintu. Dian melangkah mendekat, merapikan kancing atas Mirah yang sengaja dibuat rendah agar menonjolkan bagian sensitifnya. "Tamu bayar buat senyummu, Mir, bukan buat liat muka mendung kayak mau tahlilan, ingat biaya Bapak!" serunya tajam.

Mantra itu kembali terucap; demi biaya rumah sakit Bapak, Mirah memejamkan mata erat-erat untuk membunuh nuraninya sendiri. Ia melangkah turun ke ruang utama dengan kaki lemas seperti jeli, menembus kabut asap rokok dan tawa pria-pria hidung belang. Di sebuah pojok yang paling gelap, Pak Broto sudah menunggu dengan sebotol wiski mahal di depannya.

"Sini, Mirah. Duduk dekat saya," panggil Pak Broto sambil menepuk kursi di sampingnya dengan gerakan posesif. Begitu Mirah duduk, Pak Broto langsung menarik pinggangnya hingga tubuh mereka menempel erat tanpa jarak. Mirah bisa merasakan tangan pria itu mulai meraba paha polosnya yang terekspos jelas oleh rok mini sialan itu.

"Kamu wangi sekali malam ini... wangi kuncup desa yang baru mekar," bisik Pak Broto tepat di telinga Mirah. Aroma wiski basi bercampur bau mulut pria itu menyengat hidung, memicu rasa mual yang tertahan di kerongkongan. Mirah menoleh ke meja seberang, melihat Nani tertawa renyah saat seorang tamu mencium lehernya dengan kasar.

Air mata Mirah kembali jatuh tanpa bisa ia bendung ketika merasakan tangan Pak Broto mulai merambat naik ke arah kancing seragamnya. Di dalam kepalanya, ia hanya memanggil wajah ayahnya yang sedang sekarat di dipan rumah sakit kota. "Satu sentuhan lagi, dan aku bisa membeli obat Bapak," bisiknya dalam hati, sebuah pembenaran pahit atas kehinaan.

Tepat saat Pak Broto memajukan wajahnya hendak mencium bibir Mirah secara paksa, suara dentuman keras terdengar dari pintu depan. "Semua diam! Jangan ada yang bergerak! Ini razia!" teriak suara bariton yang menggema di seluruh ruangan. Lampu utama mendadak dinyalakan terang-benderang, memperlihatkan kekacauan dan kepanikan para tamu yang mencoba menyembunyikan wajah.

Dian tiba-tiba muncul dari kegelapan dan menyambar tangan Mirah serta Nani dengan gerakan sangat cepat. "Ikut gue! Jangan sampe ketangkep!" perintah Dian sambil menyeret mereka menuju pintu rahasia di balik dapur. Mereka berlari menembus labirin gang-gang sempit Jakarta yang gelap, basah oleh air hujan, dan berbau sampah busuk.

Napas Mirah tersengal-sengal saat mereka akhirnya berhasil bersembunyi di balik tumpukan kardus bekas di ujung gang buntu. Ia menatap Nani dan Dian yang terlihat tenang, seolah dikejar polisi adalah rutinitas harian yang biasa.  

"Kita... kita harus ke mana sekarang? Aku takut," tanya Mirah dengan suara yang bergetar hebat karena kedinginan dan syok. "Diem dulu, Mir. Jangan berisik kalau lu masih mau liat Bapak lu napas besok pagi," desis Dian sambil terus mengintip. Di kejauhan, sirine polisi masih meraung-raung, menandakan bahwa malam pertama Mirah di Jakarta baru saja dimulai dengan horor yang nyata.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pijat Yuk, Mas!   Bab 13 Jeratan Kontrak Emas

    Sisa aroma maskulin Elang masih tertinggal di ceruk leher Mirah, memicu denyut halus yang tak kunjung reda. Ia terbangun dengan napas memburu, menyadari matahari Jakarta yang kusam mulai menusuk celah jendela kosan. Di sampingnya, Nani sudah sibuk memoles lipstik merah menyala, tampak jauh lebih matang dari usia remaja mereka."Bangun, Mir! Jangan kebanyakan mimpi di kasur lembap," seru Nani sambil menepuk paha Mirah keras. "Mas Doni sudah WhatsApp, jam sepuluh kita harus sudah di Gading Resto buat urusan masa depan."Mirah mengerang, mencoba mengumpulkan jiwanya yang seolah tertinggal di taman terminal semalam. Bayangan kartu nama hitam di sakunya terasa sangat berat, menarik nuraninya ke arah yang berbeda. Kartu itu seperti gravitasi baru yang mencoba membuyarkan fokusnya pada misi awal."Nan, semalam aku ketemu pria itu lagi. Dia bilang Gading Resto itu jebakan," bisik Mirah parau. "Katanya lantai tiganya... kotor."Nani menghentikan pulasan l

  • Pijat Yuk, Mas!   Bab 12 Peringatan di Balik Asap Terminal

    Setelah melepas Jaya di hotel pengap kawasan Jakarta Pusat siang tadi, Mirah seolah kehilangan separuh jiwanya. Perjalanan singkat namun menyesakkan dengan mobil jemputan Mas Doni membawanya membelah kemacetan Jakarta menuju arah timur. Kini, ia terdampar di sebuah kamar kos di pinggiran Terminal Kampung Rambutan yang terasa semakin mencekam.Di luar, suara klakson bus antarkota bersahut-sahutan, menciptakan simfoni kekacauan yang pas dengan isi kepalanya yang kalut. Mirah melirik Nani yang sedang sibuk mematut diri di depan cermin lemari plastik yang sudah agak reyot."Mir, lo harus liat nih. Kulit gue di Jakarta kok kayaknya malah makin eksotis ya? Apa karena lampu-lampunya?" seloroh Nani sambil mengelus pahanya sendiri. Ia hanya mengenakan daster satin tipis tanpa bra."Nan, kamu benar-benar yakin sama tempat ini?" tanya Mirah pendek. Matanya tak lepas dari ponsel.Nani tertawa renyah, suara tawanya bersaing dengan deru mesin bus di luar. "Yakin seribu

  • Pijat Yuk, Mas!   Bab 11 Terenggutnya Kesucian

    Hotel melati di pinggiran Jakarta Pusat itu pengap, berbau pembersih lantai murahan yang menusuk hidung. Mirah duduk mematung di tepi ranjang, meremas sprei kasar hingga buku jarinya memutih. Pikirannya hanya berputar pada satu mantra: dua puluh lima juta untuk nyawa Bapak.Ketukan ragu terdengar di pintu, membuat jantung Mirah berdegup hingga telinganya berdenging hebat. Dengan tangan gemetar, ia membuka kunci dan mendapati sosok pria berdiri di bawah cahaya remang koridor. Bukan aroma wiski mahal, melainkan bau sabun melati desa dan peluh matahari yang sangat ia kenali menyeruak masuk."Mir..." suara itu parau, penuh luka, dan bergetar hebat.Mirah terperangah melihat Jaya berdiri di depannya dengan jaket denim kusam yang berdebu. "Hahhhh... Jaya? Bagaimana bisa kamu di sini?". Jaya melangkah masuk, meletakkan sebuah tas kecil di atas ranjang yang terlihat sangat kontras dengan kemiskinan di sekeliling mereka."Ini dua puluh lima juta, Mir... aku sudah jual motorku dan menggadaikan

  • Pijat Yuk, Mas!   Bab 10 Harga Sebuah Nyawa

    Mirah menatap pantulan dirinya di cermin retak yang tersandar di dinding kayu.Ponsel bututnya menjerit keras di atas lantai semen, memecah kesunyian yang mencekam di kamar kosan yang sempit itu. Nama 'Ibu' berkedip di layar yang retak, membawa firasat buruk yang langsung menusuk ulu hati Mirah seperti sembilu. Jemari Mirah gemetar hebat saat menggeser ikon hijau dengan napas yang mulai tercekat, pendek, dan tidak beraturan."Mir... Bapak kritis, Nduk," suara Ibu pecah oleh isak tangis yang begitu memilukan dari seberang telepon. Suara itu terdengar sangat jauh, namun rasa sakitnya merambat begitu nyata melalui gelombang sinyal yang tidak stabil. "Dokter bilang Bapak harus operasi jam dua belas ini, kalau tidak... Bapak nggak bakal kuat, Mir," lanjut Ibu dengan suara parau.Tangisan Ibu di desa seolah menjadi palu hakim yang menjatuhkan vonis berat atas nasib Mirah di perantauan. Mirah merasa dunianya gelap seketika, mengaburkan pemandangan kamar kosan yang memang sudah suram sejak aw

  • Pijat Yuk, Mas!   Bab 9 Hampir Ternoda

    "Kenapa diam saja? Kamu takut?" Pak Broto mendekat, aroma wiski murah bercampur cerutu mahal mengepung indra penciuman. Mirah tersentak, punggungnya tertahan pintu kayu jati yang kokoh dan dingin, sementara jantungnya berdegup. Ia teringat Jaya yang selalu memperlakukannya dengan sangat sopan, sebuah kontras yang membuat ulu hatinya terasa nyeri dan sesak.Pak Broto meraih dagu Mirah, memaksanya mendongak untuk menatap mata yang keruh oleh alkohol dan obsesi. "Jaya nggak akan bisa kasih kamu apa yang saya kasih malam ini, Mirah. Dengan uang ini, bapakmu bisa operasi. Kamu mau bapakmu selamat, kan?". Mantra itu menghantam pertahanan terakhir Mirah, memaksanya memejamkan mata rapat-rapat saat air matanya jatuh merusak riasan tebal."Bagus. Sekarang, lupakan desa. Lupakan sawah. Malam ini, cuma ada saya dan kamu," bisik Pak Broto sembari membuka kancing kemeja Mirah satu per satu dengan jemarinya. Kemeja transparan itu perlahan melorot, jatuh ke karpet tebal tanpa suara, meninggalkan Mir

  • Pijat Yuk, Mas!   Bab 8 Hina Berbayar

    "Gila, hampir saja kita diangkut!" gumam Dian parau sembari menyandarkan punggung pada tumpukan kardus basah di gang sempit. "Kalau ketangkap, bisa habis kita dikarantina di Kedoya kayak binatang dikandangin," lanjutnya sembari menyeka keringat yang melunturkan bedak mahal.Nani justru tertawa kecil, sebuah tawa hambar yang kontras dengan ketakutan yang mencekik tenggorokan Mirah. Ia merapikan rambut sebahunya. "Di sini kaki harus lebih cepat dari otak, Mir, jangan bengong kayak orang bego!" cetus Nani tajam.Dian segera menuntun mereka menyusuri labirin gang yang menyempit hingga sampai di sebuah ruko tua kusam. Mereka mendaki tangga semen curam yang gelap, hanya dipandu cahaya tipis dari ventilasi udara. "Nggak usah komplain, di sini petugas nggak bakal nyari asal kalian nggak berisik," perintah Dian sembari membuka pintu dengan kunci berkarat.Kamar kos itu sempit, pengap, dan hanya berisi satu kasur busa tanpa sprei yang diletakkan langsung di lantai. Dian menyentak kancing kemeja

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status