MasukSuamiku, Jerico Adrian sudah ribuan kali main gila di luar sana, tapi dia tetap tidak mau bercerai. Keluarganya bilang, aku ini perempuan kampungan yang tidak tahu diri. Lima tahun lalu, saat aku pertama kali minta cerai, Jerico tidak mengatakan apa-apa, dia hanya mengurungku di vila selama satu bulan penuh. Satu bulan kemudian, aku mendapati diriku hamil. Tiga tahun lalu, saat aku minta cerai untuk kedua kalinya, Jerico langsung pulang ke rumah orang tuanya malam itu juga. Tidak lama setelah itu, aku hanya mendapatkan hak untuk menemui anakku seminggu sekali. Hari ini adalah yang ketiga kalinya, aku akhirnya bisa pergi. Karena aku menyadari bahwa anakku tidak mencintaiku, pernikahan kami juga palsu. Aku tidak ada bedanya dengan wanita-wanita di luar sana.
Lihat lebih banyakRaut wajah Jerico kelihatan agak mendingan.Rumah ini awalnya cuma rumah kecil yang luasnya tidak ada 40 meter persegi, ditambah lagi kupenuhi dengan buku, jadi kelihatan makin sempit.Jerico memasang wajah dingin, dengan tidak rela duduk di sofa kecil.Ini mungkin pertama kalinya dia merasa secanggung ini selama 30 tahun lebih hidupnya.Asal mengambil satu buku untuk dilihat, Jerico tertegun sejenak."Aku kira, kamu udah nggak tertarik lagi sama hal-hal kayak gini dari dulu."Aku mengambil sebotol susu dari dalam kulkas, memanaskannya lalu menyerahkannya pada Nino."Udah 'kan, ketemu juga udah. Kalau nggak ada hal lain, kamu bawa Nino pulang aja."Nino memeluk botol susunya, menatap Jerico dengan bingung.Jerico memangku Nino di atas paha, suaranya terdengar lembut. "Sania, kita beneran nggak bisa balik lagi kayak dulu?""Kayak dulu yang gimana?"Aku bersandar di sofa, raut wajahku tampak santai. "Lanjut jadi Nyonya Adrian kamu yang nggak diakui itu?""Nggak usah deh, aku udah bosan."
"Sania! Kamu belum puas juga ributin hal ini?""Kalau ada yang kamu nggak suka bilang aja langsung, aku ubah 'kan bisa!"Ini pertama kalinya Jerico tunduk, mata Ferry sampai terbelalak kaget.Tapi, hatiku sama sekali tidak tersentuh.Dengan sopan aku memintanya memberi jalan, bersiap untuk pergi.Tapi, Jerico malah menggenggam tanganku."Sania, pulang sama aku."Belum sempat aku bicara, sebuah tangan mendadak terulur dari belakangan dan melepaskan cengkeramannya dariku."Tuan, tolong jaga sikap Anda."Julian yang memegang jaket di tangannya melepas cengkeraman Jerico dengan dingin."Kamu siapa?"Mata Jerico seketika memerah penuh emosi, dia berbalik dan ingin main fisik.Aku menghela napas, berdiri menghalangi di depan Julian."Nggak usah bikin ribut."Kalimat santai itu seolah menjadi tombol jeda.Gerakan Jerico terhenti, dia menatapku tidak percaya."Sania, kamu mau bela dia? Dia siapa?"Aku mendongak menatap lurus matanya yang penuh urat merah."Penting ya? Jerico, kita udah putus."
"Setiap hari ngintil terus di belakang kalian, nanya ini itu.""Waktu itu saya langsung mikir, anak ini besok-besok pasti bakal sukses."Kata-kata selanjutnya dari dosen tidak lagi kudengar, aku menundukkan mata dan minum alkohol dengan tenang.Selesai makan-makan, aku tidak terburu-buru untuk pergi.Menunggu sampai orang-orang hampir habis, aku mengeluarkan catatanku dari dalam tas."Pak, saya mau mulai belajar lagi."Dosen sangat terkejut, dia mengambil catatanku dan membaliknya dengan serius cukup lama.Saat meletakkannya kembali, wajahnya sudah dipenuhi senyuman."Sania, saya beneran nggak salah menilai kamu.""Saya udah liat catatan kamu, visioner banget.""Nanti malam biar saya pikirkan dulu, saya bakal rekomendasikan beberapa lembaga penelitian yang bagus, kamu coba ikutan wawancara ya."Pas lagi mengobrol, Julian mendadak memotong pembicaraan, "Boleh lihat?"Ini pertama kalinya malam ini dia bicara denganku.Aku mengangguk, lalu memberikan catatan itu padanya.Julian membetulka
Aku tertegun, teringat pada sosok pria dingin dan rasional di dalam ingatanku.Aku ini seorang anak yatim piatu, sejak kecil tumbuh besar di panti asuhan.Sejak kecil sangat pantang menyerah.Demi punya pendirian yang mandiri, aku belajar mati-matian dan berhasil masuk ke universitas terbaik di Kota Tirta.Mengambil jurusan terbaik pula.Saat semester tiga, aku juga berhasil bergabung dengan tim penelitian dosen, biarpun cuma jadi tenaga pembantu biasa.Senior yang dimaksud dosenku adalah Julian Darius, orang yang menjadi pilar utama di tim penelitian itu.Dia juga sosok yang dulu pernah aku taksir diam-diam.Sayangnya, saat aku semester lima, dia pergi ke luar negeri untuk kuliah.Perasaanku belum sempat diungkapkan, tapi sudah harus karam begitu saja.Melihat aku tidak bersuara, dosenku lanjut berbicara, "Dulu yang paling saya jagokan itu kamu sama Julian, kalian berdua murid paling gemilang yang pernah saya bimbing.""Sayang banget ya, kamu malah langsung nikah pas lulus."Sampai di












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.