Short
Di Perbatasan Utara, Hatiku Berlabuh

Di Perbatasan Utara, Hatiku Berlabuh

By:  YinaCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
24Chapters
2.9Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Saat Anjani Adyatama menjalani terapi MECT untuk pertama kalinya, tidak ada seorang pun di sisinya. Bahkan, Nathan Bimantara, tunangannya yang sangat mencintainya, juga tidak hadir di sana. Setelah dokter menyuntikkan obat pelemas otot ke tubuhnya, Anjani merasa pusing, juga menjadi antara sadar dan tidak sadar. Kemudian, dalam keadaan setengah sadar itu, Anjani teringat kejadian pada sore itu. Anjani sudah mengantre selama tiga jam untuk membeli kue. Lalu, kue itu dibawanya pulang dengan maksud memberikan kejutan kepada Nathan. Akan tetapi, yang dilihat Anjani justru adegan Nathan sedang berciuman dengan adiknya, Jihan Adyatama. Bibir dan lidah keduanya saling bertaut. Mereka saling berpelukan erat, seakan tidak sanggup untuk berpisah. Kue di tangan Anjani langsung terjatuh ke lantai dan hancur berantakan. Anjani pun menampar wajah Nathan. Akan tetapi, Jihan justru mendorong Anjani hingga jatuh dari tangga.

View More

Chapter 1

Bab 1

Saat tubuh Anjani terguling menuruni anak tangga, Anjani merasakan sesuatu yang sudah dia duga sebelumnya.

Pada akhirnya, semua orang di sisi Anjani pasti akan direbut oleh Jihan.

Jihan sangat ramah dan supel, selalu menyebarkan energi positif dan keceriaan bagi orang-orang di sekitarnya.

Sebaliknya, Anjani yang pendiam dan jarang bicara, bagaikan bayangan yang hampir tidak terasa kehadirannya.

Anjani sudah merasakan firasat buruk sejak detik pertama Nathan melihat Jihan.

Saat itu, Anjani mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa hubungan mereka yang sudah terjalin selama sepuluh tahun tidak akan hancur begitu saja.

Namun, kenyataan yang terjadi justru bertolak belakang dengan yang diyakini oleh Anjani.

Nathan mengantar Anjani ke rumah sakit dan menjaga Anjani di samping tempat tidurnya. Khawatir cairan infus akan membuat tangan Anjani kedinginan, Nathan pun meminta kantong air panas kepada perawat untuk menghangatkannya.

"Ciuman itu cuma nggak sengaja," kata Nathan.

"Aku cuma melihat dia sebagai dirimu, dirimu yang lebih muda, ceria dan penuh semangat."

"Anjani, kamu terlalu keras kepala dan terlalu acuh nggak acuh. Aku selalu merasa kamu nggak butuh aku."

"Nggak akan ada lagi kejadian kayak gitu …. Soal Jihan, bagaimanapun, dia itu adikmu. Dia juga masih sangat kecil, jadi kamu jangan terlalu mempermasalahkan hal ini, oke?"

Anjani menundukkan pandangannya dan tiba-tiba tersenyum.

"Kamu mengatakan semua ini karena takut aku akan mengusir Jihan, ‘kan?"

Nathan tercekat, kemudian menggenggam erat tangan Anjani.

"Anjani, aku tahu kamu masih marah. Nggak apa-apa, aku akan tetap menemanimu sampai kamu nggak marah lagi."

Anjani menarik tangannya, lalu membalikkan badan membelakangi Nathan.

Dari belakang, terdengar suara desahan Nathan. Seakan-akan, Nathan menganggap Anjani sebagai anak kecil yang tidak paham situasi.

Tiba-tiba, ponsel Nathan berdering. Anjani mendengar suara Jihan dengan jelas dari ujung telepon.

"Kak Nathan, aku sendirian di rumah dan takut. Bisakah Kakak pulang dan menemaniku?"

"Aku nggak sengaja mendorong Kak Anjani. Hanya saja, dia memukulmu dan hatiku sangat sakit melihatnya."

"Setelah tenang, aku memikirkannya kembali. Waktu itu, aku benar-benar nggak pakai banyak tenaga. Aku juga nggak tahu kenapa Kak Anjani bisa jatuh."

Nathan menghibur Jihan dengan suara pelan, lalu berkata kepada Anjani.

"Ada urusan mendadak di kantor. Aku akan segera kembali."

Nathan pun bergegas meninggalkan rumah sakit.

Namun, hingga Anjani diperbolehkan pulang, Nathan tidak pernah sekali pun kembali ke rumah sakit.

Luka di kaki Anjani belum sepenuhnya pulih. Anjani memilih untuk keluar dari rumah sakit karena tidak ingin terus-menerus dikunjungi orang.

Selama beberapa hari ini, orang-orang yang menjenguknya datang silih berganti. Namun, isi pembicaraan mereka semua sama saja.

Mereka meminta Anjani untuk memaafkan Jihan.

Entah apa yang sudah dikatakan Jihan kepada mereka.

Teman-teman dan rekan kerja Anjani menatap Anjani dengan pandangan penuh kecaman.

"Jihan cuma anak kecil. Sejahat apa pun ibunya, kamu nggak seharusnya melampiaskan amarahmu pada anak kecil."

"Kamu itu satu-satunya kakak Jihan, juga satu-satunya keluarga yang dimiliki Jihan di dunia ini. Kalau kamu punya prasangka buruk kepadanya, dia benar-benar akan sebatang kara dan nggak punya tempat bergantung!"

Mendengar Lusy Rahardja, sahabat terbaiknya, bicara dengan penuh keyakinan seakan dirinya benar, Anjani pun merasa sangat kecewa.

Anjani memang menyimpan rasa kesal.

Akan tetapi, Anjani tidak pernah sekalipun memperlakukan Jihan dengan buruk. Bahkan, ketika Jihan ingin belajar ke luar negeri, Anjani mengumpulkan biaya sekolah yang cukup untuk masuk ke sekolah tertentu dan mengirim Jihan ke luar negeri sejak SMA.

Semua orang seakan-akan sepakat untuk melupakan fakta bahwa Tony Adyatama, ayah Anjani dan Jihan, kabur bersama ibu Jihan saat Anjani belum genap berusia tiga tahun dan membawa pergi seluruh harta keluarga.

Yang tersisa bagi Anjani dan ibunya hanyalah tumpukan utang yang begitu besar, yang begitu membebani mereka, hingga mereka hampir tidak sanggup menanggungnya.

Bu Sekar melampiaskan kebenciannya terhadap suaminya kepada Anjani. Di satu sisi, dia bekerja keras untuk menghidupi anaknya, tetapi di sisi lain, Bu Sekar terus-menerus memarahi Anjani.

Anjani pun belajar dengan giat. Dia berhasil diterima di universitas ternama, lalu bekerja di perusahaan besar dan bertemu dengan Nathan. Tepat ketika hidup Anjani mulai tampak membaik ….

Keluarga Adyatama datang menemui Anjani dengan membawa Jihan.

"Tony dan istrinya kecelakaan mobil dan meninggalkan anak ini sebatang kara dan nggak punya tempat bergantung."

"Dia baru 13 tahun. Menurut hubungan darah, kamu kakaknya, jadi wajib membesarkan dia sampai dewasa."

Sebagai ayah, Tony tidak pernah sekalipun menelepon atau mengirimkan uang sepeser pun selama bertahun-tahun.

Namun, sekarang, karena alasan hukum, Anjani diharuskan untuk menafkahi anak dari wanita yang menjadi sumber utama penderitaan mereka.

Anjani tidak punya pilihan lain, sehingga dia pun membawa Jihan pulang ke rumahnya.

Usia Anjani sendiri baru 20 tahun. Namun, Anjani harus merawat adiknya yang masih berumur 13 tahun, layaknya seorang ibu.

Kadang-kadang, ketika pekerjaannya sangat sibuk, Anjani terpaksa membawa Jihan ke kantor.

Lantaran Tony dan istrinya hanya memiliki satu anak, tentu saja mereka memanjakan Jihan habis-habisan, sehingga Jihan tumbuh menjadi pribadi yang ceria dan supel.

Akhirnya, teman-teman dan rekan kerja Anjani yang awalnya menolak kehadiran Jihan, perlahan-lahan mulai menyukai gadis itu.

"Adikmu jauh lebih menyenangkan dibanding kamu."

Anjani tidak hanya sekali mendengar orang-orang di sekitarnya berkata seperti itu..

Kini, bahkan kekasih yang sudah bersamanya selama sepuluh tahun juga berpikir demikian.

"Anjani … bangun …."

Dalam keadaan setengah sadar, terdengar ada orang yang memanggil nama Anjani dengan lembut.

Lamunan Anjani pun menjadi buyar dan dia membuka matanya. Ternyata, sesi terapi sudah selesai.

Anjani bangun, sementara seorang perawat melepaskan alat-alat yang terpasang di kepalanya.

Perawat itu memperingatkan Anjani, "Daya ingatmu akan sedikit menurun untuk sementara waktu. Itu wajar. Pastikan kamu menjaga pola tidur dengan teratur."

"Jangan lupa tanggal kunjungan berikutnya."

Anjani mengangguk, lalu mencatat semua yang dikatakan perawat tersebut ke dalam buku catatannya.

Seiring bertambahnya frekuensi terapi MECT, Anjani perlahan-lahan akan melupakan banyak hal.

Oleh karena itu, Anjani perlu mencatat semua hal yang harus dia selesaikan, di buku catatannya.

Anjani mencoba mengingat-ingat kembali. Akan tetapi, Anjani mendapati jika masa lalunya seakan diselimuti oleh kabut tebal dan dia seperti seorang pengamat yang tenang dan rasional.

Di bagian depan daftar catatan penting itu, terdapat dua hal yang ditulis dengan huruf tebal berwarna merah.

Pertama, memindahkan KK Jihan.

Kedua, putus hubungan dengan Nathan.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviews

N Tri Hapsari
N Tri Hapsari
Sebenarnya ceritanya gak masuk akal sih ya. Gmn ceritanya rekan2 kerjanya begitu ikut campur bgt ma urusan pribadi keluarga rekan mrk dan walaupun Jihan jago berakting, masa mrk sampai sebegitu percaya&gak suka ma FL sampe mlh mdukung pelakor yg merebut kekasih kakak sendiri! Aneh bgt!
2026-09-06 18:29:28
0
0
M--G
M--G
cinta tapi ga percaya dan menyiksa
2026-08-09 10:29:47
0
1
24 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status