LOGINSuara serak dan napas Thalia berhembus hangat menerpa bibir suaminya. "Hukum aku sesukamu. Aku ini milikmu." Urat-urat di rahang Zacky menonjol keras menahan ledakan hasrat. Pria itu menggeram rendah seperti predator yang kelaparan, lalu menyambar bibir merah Thalia dengan ciuman yang sangat dalam, posesif, dan memabukkan. Lumatan Zacky terasa begitu menuntut, namun sangat berhati-hati. Lidah hangatnya mengabsen setiap sudut rongga mulut Thalia, menyerap seluruh rasa manis dan tantangan istri. Thalia membalas ciuman itu dengan gairah yang sama, dadanya naik turun cepat saat tangan kekar Zacky mulai bergerilya. Zacky mengusap punggung mulus Thalia, turun perlahan menyusuri garis pinggang rampingnya, lalu memberikan remasan lembut yang sangat sensual di sana. Sentuhannya penuh dengan persetujuan tak kasat mata, menghargai setiap respons tubuh istrinya. "Mmph... Zacky..." desah Thalia panjang, tubuhnya melengkung ke atas mencari kehangatan yang lebih saat bibir pria itu turun m
Thalia menoleh ke arah sumber suara yang berasal dari suaminya, Zacky melangkah maju, memotong jarak antara istrinya dan para dokter yang mengelilinginya. Kilat mata tajam Zacky menatap satu per satu dokter itu dengan aura mengerikan yang terpancar jelas. "Tidak ada satupun jarum atau alat medis dingin yang boleh menyentuh kulit istriku tanpa izinku. Dokter Stefano sudah memeriksanya tadi malam dan istriku butuh ketenangan, bukan atraksi medis seperti ini," geram Zacky. "Zacky Farelio, jangan keras kepala! Ini untuk kebaikan—" “Cukup Ma, jangan berlebihan seperti ini!” pangkas Zacky menyela kata-kata Tamara. "Tidak apa-apa, Zacky," ucap Thalia, nada sangat menenangkan. Wanita itu melangkah ke samping, menyusupkan jari mungilnya ke sela-sela jari besar suaminya, lalu menggenggam erat. Thalia mendongak, menatap Zacky dengan senyuman percaya diri yang membuat semua orang di ruangan itu menahan napas kagum melihat bagaimana dia mampu meluluhkan hati suaminya. "Biarkan m
"Hanya jika suamiku bersikap tidak masuk akal," pangkas Thalia menantang, menyunggingkan senyum manis yang tampak manja. Zacky menggeram tertahan. Pria itu tidak bisa lagi menahan hasratnya. Ia menunduk langsung menyambar bibir merah Thalia dengan ciuman yang sangat dalam dan menuntut. "Mmph... Zacky..." desah Thalia, memejamkan matanya saat lidah hangat Zacky menerobos masuk, menyapu setiap sudut rongga mulutnya dengan gerakan yang memanjakan sekaligus mendominasi. Tangan kekar Zacky menyusup ke punggung Thalia, memberikan usapan-usapan lembut yang perlahan menghancurkan sisa-sisa protes dari bibir istrinya. Ciuman itu terasa begitu penuh cinta, membuktikan bahwa seluruh aturan ketat yang dibuat pria itu semata-mata karena rasa cintanya yang terlalu besar. Thalia membalas lumatan itu, mengalungkan lengannya di leher tegap Zacky. Pertengkaran kecil mereka seketika menguap, tergantikan ol
"Berikan padaku, Zacky. Jangan sembunyikan apapun lagi dariku," pangkas Thalia tegas,l.Melangkah maju tanpa ragu diatas lantai yang dingin. Matanya menatap lurus ke arah Zacky, penuh keberanian nyata.Zacky menegang di tempatnya. Tangan masih mencengkram erat amplop hitam bersimbol gagak emas di balik punggungnya. Pria dominan itu membeku, otaknya berputar cepat mencari cara agar istrinya yang sedang hamil muda ini tidak melihat teror mengerikan.Tepat di detik yang sangat menegangkan itu, suara dering nyaring dari ponsel satelit milik Zacky yang tergeletak di atas nakas memecah keheningan kamar.Zacky tidak membuang waktu sedetik pun. Menggunakan kesempatan dari suara dering tersebut yang membuat fokus Thalia sedikit teralih.Zacky menggerakkan tangannya ke belakang dan langsung mendorong amplop hitam itu tepat ke dada Ivan yang masih berdiri mematung di ambang pintu.Manik mata Zacky menatap asisten pribadinya i
Thalia tersentak kaget saat menoleh ke belakang, tangan Zacky melingkar di pinggang menarik tubuh Thalia hingga merapat pada dada bidangnya. "Zacky... kamu mengagetkanku," goda Thalia, menyandarkan kepalanya ke dada suaminya."Aku sudah bilang, aku tidak suka kamu berada jauh dari jangkauanku, Thalia," geram Zacky rendah di telinga wanita itu."Aku hanya berjarak dua langkah darimu, Zacky," balas Thalia sambil terkekeh pelan. "Kamu benar-benar pria yang sangat posesif.""Hanya pada apa yang menjadi milikku," desis Zacky. Pria itu memutar tubuh Thalia agar menghadapnya. "Dan kamu adalah milikku yang paling berharga, Thalia."Zacky menunduk, mendaratkan ciuman yang sangat dalam dan memabukkan di bibir istrinya di tengah-tengah taman bunga itu. Angin musim gugur yang sejuk bertiup pelan, membawa guguran kelopak bunga berjatuhan di sekitar mereka, menciptakan momen romantis yang sangat sempurna.Thalia membalas lumat
"Kamu jangan nakal, Zacky. Ingat kata dokter, aku gak boleh terlalu lelah beberapa hari kedepan,” u ap Thalia sambil memukul pelan dada udang Zacky. Pria itu terkekeh pelan. “Aku hanya bercanda, Thalia. Aku gk sebuas itu sampai tega menerkammu yang sedang lemas begini, bisa-bisa mama datang saat ini juga. Jadi apa ada yang kamu inginkan, sayang?” “Aku ingin makan sesuatu yang hangat, Zacky. Tapi tolong, jangan ada makanan laut lagi. Memikirkannya saja membuat perutku kembali tidak enak,” cicit Thalia sambil mengerucutkan bibirnya manja. "Tentu saja. Aku sudah memerintahkan chef untuk membagikan semua stok makanan laut dari dapur resort ini ke semua pelayan. Dan berpesan tidak lagi memasak hidangan laut selama kita di sini," pangkas Zacky kaku. "Zacky! Kamu membagikan semuanya?" Thalia mendongak, menatap suaminya dengan mata terbelalak. "Ya, Thalia. Aku tahu kamu gak suka membuang makanan jadi aku minta m







