Masuk"Berikan padaku, Zacky. Jangan sembunyikan apapun lagi dariku," pangkas Thalia tegas,l.
Melangkah maju tanpa ragu diatas lantai yang dingin. Matanya menatap lurus ke arah Zacky, penuh keberanian nyata.Zacky menegang di tempatnya. Tangan masih mencengkram erat amplop hitam bersimbol gagak emas di balik punggungnya.Pria dominan itu membeku, otaknya berputar cepat mencari cara agar istrinya yang sedang hamil muda ini tidak melihat teror mengerikan.Tepat"Hanya jika suamiku bersikap tidak masuk akal," pangkas Thalia menantang, menyunggingkan senyum manis yang tampak manja. Zacky menggeram tertahan. Pria itu tidak bisa lagi menahan hasratnya. Ia menunduk langsung menyambar bibir merah Thalia dengan ciuman yang sangat dalam dan menuntut. "Mmph... Zacky..." desah Thalia, memejamkan matanya saat lidah hangat Zacky menerobos masuk, menyapu setiap sudut rongga mulutnya dengan gerakan yang memanjakan sekaligus mendominasi. Tangan kekar Zacky menyusup ke punggung Thalia, memberikan usapan-usapan lembut yang perlahan menghancurkan sisa-sisa protes dari bibir istrinya. Ciuman itu terasa begitu penuh cinta, membuktikan bahwa seluruh aturan ketat yang dibuat pria itu semata-mata karena rasa cintanya yang terlalu besar. Thalia membalas lumatan itu, mengalungkan lengannya di leher tegap Zacky. Pertengkaran kecil mereka seketika menguap, tergantikan ol
"Berikan padaku, Zacky. Jangan sembunyikan apapun lagi dariku," pangkas Thalia tegas,l.Melangkah maju tanpa ragu diatas lantai yang dingin. Matanya menatap lurus ke arah Zacky, penuh keberanian nyata.Zacky menegang di tempatnya. Tangan masih mencengkram erat amplop hitam bersimbol gagak emas di balik punggungnya. Pria dominan itu membeku, otaknya berputar cepat mencari cara agar istrinya yang sedang hamil muda ini tidak melihat teror mengerikan.Tepat di detik yang sangat menegangkan itu, suara dering nyaring dari ponsel satelit milik Zacky yang tergeletak di atas nakas memecah keheningan kamar.Zacky tidak membuang waktu sedetik pun. Menggunakan kesempatan dari suara dering tersebut yang membuat fokus Thalia sedikit teralih.Zacky menggerakkan tangannya ke belakang dan langsung mendorong amplop hitam itu tepat ke dada Ivan yang masih berdiri mematung di ambang pintu.Manik mata Zacky menatap asisten pribadinya i
Thalia tersentak kaget saat menoleh ke belakang, tangan Zacky melingkar di pinggang menarik tubuh Thalia hingga merapat pada dada bidangnya. "Zacky... kamu mengagetkanku," goda Thalia, menyandarkan kepalanya ke dada suaminya."Aku sudah bilang, aku tidak suka kamu berada jauh dari jangkauanku, Thalia," geram Zacky rendah di telinga wanita itu."Aku hanya berjarak dua langkah darimu, Zacky," balas Thalia sambil terkekeh pelan. "Kamu benar-benar pria yang sangat posesif.""Hanya pada apa yang menjadi milikku," desis Zacky. Pria itu memutar tubuh Thalia agar menghadapnya. "Dan kamu adalah milikku yang paling berharga, Thalia."Zacky menunduk, mendaratkan ciuman yang sangat dalam dan memabukkan di bibir istrinya di tengah-tengah taman bunga itu. Angin musim gugur yang sejuk bertiup pelan, membawa guguran kelopak bunga berjatuhan di sekitar mereka, menciptakan momen romantis yang sangat sempurna.Thalia membalas lumat
"Kamu jangan nakal, Zacky. Ingat kata dokter, aku gak boleh terlalu lelah beberapa hari kedepan,” u ap Thalia sambil memukul pelan dada udang Zacky. Pria itu terkekeh pelan. “Aku hanya bercanda, Thalia. Aku gk sebuas itu sampai tega menerkammu yang sedang lemas begini, bisa-bisa mama datang saat ini juga. Jadi apa ada yang kamu inginkan, sayang?” “Aku ingin makan sesuatu yang hangat, Zacky. Tapi tolong, jangan ada makanan laut lagi. Memikirkannya saja membuat perutku kembali tidak enak,” cicit Thalia sambil mengerucutkan bibirnya manja. "Tentu saja. Aku sudah memerintahkan chef untuk membagikan semua stok makanan laut dari dapur resort ini ke semua pelayan. Dan berpesan tidak lagi memasak hidangan laut selama kita di sini," pangkas Zacky kaku. "Zacky! Kamu membagikan semuanya?" Thalia mendongak, menatap suaminya dengan mata terbelalak. "Ya, Thalia. Aku tahu kamu gak suka membuang makanan jadi aku minta m
"Aku ingin tetap di sini, Zacky," ucap Thalia yakin, mengulurkan kedua tangannya melingkari leher tegap pria yang kini berlutut di hadapannya. Senyuman manis yang penuh keberanian merekah di bibir Thalia. Tidak ada lagi keraguan atau getaran ketakutan di matanya. Thalia menatap dalam manik mata hitam pekat milik Zacky, memberikan tatapan menantang yang membuat dada pria dominan itu bergemuruh hebat. "Kita sudah merencanakan bulan madu ini sejak jauh-jauh hari, Zacky. Aku tidak ingin membiarkan kepanikan Mama merusak waktu kita berdua. Aku ingin menghabiskan sisa minggu ini bersamamu di Itala, persis seperti rencana awal kita," ucap Thalia. Jari tangannya mulai menyusup ke sela-sela rambut tebal suaminya, memberikan usapan lembut yang sangat memabukkan. Mendengar keputusan dari bibir istrinya, rahang Zacky yang tadinya sempat menegang seketika mengendur. Sorot matanya yang selalu memancar
Thalia menoleh ke arah Zacky saya melihat wajah Tamara sebelum mertuanya itu me [Zacky Farelio Alvarez! Akhirnya kamu ingat kalau kamu punya seorang ibu!] semprot Tamara dari seberang panggilan, suaranya sedikit meninggi. [Mama hampir menyuruh tim Alpha menyisir seluruh benua Eropa karena kamu membawa lari pengantinmu dari pesta dan mematikan semua pelacak!] [Ma, kecilkan suaramu. Kamu bisa membuat istriku terkejut,] balas Zacky datar dan sangat kaku, sama sekali tidak merasa bersalah. Ia menggeser posisi ponselnya hingga wajah Thalia yang sedang tersenyum canggung ikut masuk ke dalam bingkai kamera. [S-Selamat pagi, Mama,] sapa Thalia dengan suara lembut, melambaikan tangan kecilnya. [Maafkan kami membuat Mama khawatir.] Melihat wajah menantunya yang cantik dan berseri-seri, raut wajah Tamara seketika berubah melembut seratus delapan puluh derajat. [Oh, sel







