FAZER LOGINThalia menepis tangan Arjuna dengan sangat keras hingga menimbulkan suara pukulan nyaring di dalam ruangan itu. "Jangan pernah berani menyentuhku aku dengan tangan kotormu itu, Arjuna!" pekik Thalia penuh amarah.Arjuna meringis pelan, melihat punggung tangannya yang memerah akibat tepisan Thalia. Bukannya marah, pria itu justru terkekeh sinis. Matanya berkilat dipenuhi hasrat gairah yang berbahaya."Kamu makin berani ya sekarang, Thalia..." cicit Arjuna seraya mengusap tangannya sendiri. "Apa ini karena si Zacky itu? Jadi kamu merasa punya pelindung, hmm?""Zacky jauh lebih terhormat dari kamu!" tegas Thalia tanpa ragu, dadanya naik-turun menahan emosi. "Dia pria sejati yang menghargaiku! Gak kayak kamu yang cuma bisa mengancam, memeras, dan membikin hidup orang lain hancur!"Mendengar nama Zacky disebut dengan penuh kebanggaan oleh bibir Thalia, raut wajah Arjuna seketika berubah gelap. Wajah tampannya mengeras kaku, kilatan kemarahan murni terpancar jelas dari manik matan
Thalia terus berjalan bolak-balik di atas lantai marmer yang dingin, mencoba memikirkan cara untuk kabur dari ruangan itu. Matanya memperhatikan setiap sudut kamar, mencari jendela yang bisa dibuka atau benda tumpul apa pun yang bisa dijadikan senjata untuk membela diri. "Gak ada celah... Jendela ini memakai gratis besi," cicit Thalia putus asa sambil mendorong-dorong bingkai kaca tebal di sudut kamar. "Thalia, duduklah... Jangan buat dirimu semakin lelah," ujar Felix yang masih bersandar lemas di sofa. "Gimana aku bisa tenang, Pa?! Kita ini—" KLEK. Ucapan Thalia terhenti seketika. Suara engsel pintu yang terdengar terbuka perlahan membuat tubuh gadis itu membeku kaku di tempatnya. Jantung Thalia berdebar kencang melebihi batas normal. Matanya membelalak lebar saat menyaksikan daun pintu kayu tebal itu terbuka lebar dari luar. Sosok pria tinggi berjas gelap melangkah masuk dengan santai. Senyuman miring terukir di wajah tampannya, sebuah senyuman yang sangat dikenal T
Thalia bergeming sesaat, ia tidak peduli dengan ucapan Felix, berusaha memutar otak untuk menghubungi Zacky. Jari tangannya bergerak meraba-raba area lehernya karena merasa panik dan gelisah, tapi ada sesuatu yang lain, lehernya terasa kosong. “Liontin pemberian Zacky kemana?!” liriknya. Tak ada lagi sensasi dingin dari liontin berlian yang biasa melingkar manis di lehernya. Jam tangan yang selalu membalut pergelangan tangan kirinya pun lenyap tanpa bekas. “Liontin ku gak ada, jamku juga.. Dan.. Ponselku..! Dimana ponselku?! Aku harus menelpon Zacky! Dia pasti bisa melacak ku..” gumam Thalia semakin panik. Gadis itu menggeledah saku kemeja putih dan rok span hitamnya dengan napas terengah-engah. Kosong.. "Pa! Di mana ponsel dan barang-barang Thalia?!" tanya Thalia sambil menatap Felix dengan raut wajah menuntut. "Tas, kalung, jam tangan, pons
Thalia menarik napas panjang, mencoba menetralkan suaranya meski isakan kecil masih terdengar dari tenggorokannya. "Di mana Arjuna sekarang, Pa?" tanya Thalia dingin dengan tatapan mata yang membendung kesedihan. "Dia... dia sedang mengurus sesuatu di luar," jawab Felix pelan. "Tapi dia bilang dia akan segera datang kesini untuk menemuimu." Thalia meremas jemari tangannya, mencoba berpikir jernih di tengah kepanikan. "Kita harus pergi dari sini, Pa. Sekarang juga. Sebelum Arjuna kembali." "Gak bisa, Thalia..." geleng Felix cepat dengan raut wajah takut. "Di luar kamar ini ada anak buah Arjuna yang menjaga pintu. Kita gak akan bisa keluar tanpa izin darinya." Thalia meremas rok kerjanya, hatinya kian menciut. Namun bayangan wajah kaku Zacky dan tatapan posesif pria itu memberi sedikit keberanian dalam dirinya. "Aku gak peduli," desis Thalia mantap, menghapu
Suasana di dalam ruangan itu terasa makin tegang dan mencekam. Felix masih terduduk di atas sofa sambil memegangi dadanya yang naik-turun menahan napas yang terasa sesak. “Pa, kenapa diam aja?!” tanya Thalia lirih, matanya mulai berkaca-kaca. “Thalia.. Maaf.. Papa..” Wajahnya yang pucat menandakan bahwa penyakit jantung kumatnya bukan sekadar kebohongan. Thalia yang melihat kondisi papanya mencoba meredam amarahnya, ia beranjak mengambil segelas air putih dari atas meja nakas dan menyerahkannya pada Felix. "Minum dulu, Pa.." ucap Thalia dengan nada khawatir yang tak bisa disembunyikan, meski hatinya dipenuhi tumpukan kecurigaan. Felix menerima gelas itu dengan tangan gemetar, lalu meminumnya beberapa teguk. Napasnya perlahan mulai stabil, meski dadanya masih terdengar agak berat. "Papa... Sekarang jawab jujur pertanyaan Thalia," pinta Thalia pelan namun tegas, duduk di kur
Thalia memperhatikan sosok yang melangkah masuk kedalam kamarnya, matanya mengerjakan beberapa kali untuk meyakinkan dirinya tidak salah lihat. "P-Papa...?" pekik Thalia tertahan, matanya membelalak tak percaya. Di ambang pintu, Felix Effendy, papanya sendiri berjalan masuk. Pria paruh baya itu tampak sangat lesu, wajahnya pucat pasi, dan tubuhnya terlihat lebih kurus dari terakhir kali Thalia melihatnya. Thalia langsung bangkit berdiri dari tepi ranjang dan berlari menghampiri papanya dengan raut wajah panik sekaligus bingung. "Papa! Papa gak apa-apa?!" seru Thalia cepat, memegang kedua lengan papanya yang terasa dingin. "Apa yang sebenarnya terjadi, Pa?! Kenapa Papa ada di sini?! Dan pesan singkat semalam... Kenapa Arjuna bisa menculikku dari rumah sakit?! Papa tahu kita ada di mana sekarang?!" Thalia memberondong papanya dengan pertanyaan yang meluncur begitu saja dari bibirnya yang ge







