LOGINThalia bergeming sesaat, ia tidak peduli dengan ucapan Felix, berusaha memutar otak untuk menghubungi Zacky.
Jari tangannya bergerak meraba-raba area lehernya karena merasa panik dan gelisah, tapi ada sesuatu yang lain, lehernya terasa kosong. “Liontin pemberian Zacky kemana?!” liriknya. Tak ada lagi sensasi dingin dari liontin berlian yang biasa melingkar manis di lehernya. Jam tangan yang selalu membalut pergelangan tangan kiriThalia mencondongkan wajahnya, mendaratkan kecupan-kecupan basah dan lembut di sepanjang dada bidang Zacky, turun menyusuri perut rata suaminya.Napas Zacky menderu kasar, tangannya refleks meremas seprai di sisi lutut Thalia untuk menahan diri agar tidak langsung menerkam istrinya."Sshh... Kamu benar-benar menguji batas kesabaranku malam ini, Thalia," desis Zacky suaranya sangat berat, matanya berkabut gelap menahan hasrat yang siap meledak."Aku hanya ingin memanjakanmu," balas Thalia sensual.Namun, batas kesabaran Zacky akhirnya habis. Pria itu tidak bisa lagi hanya berdiam diri.Dalam satu gerakan yang sangat posesif, Zacky menarik pinggang Thalia, mengangkat wanita itu dan membaringkannya kembali ke tengah ranjang.Zacky menyusul naik, mengurung tubuh istrinya dengan menumpu berat badannya pada kedua tangan."Aku yang akan bergerak, Thalia. Tugasmu hanya menikmati setiap sentuhanku," geram Zacky.Pria itu menunduk, menyambar bibir Thalia dengan ciuman yang sangat liar. Tangan
"Selesai sudah..." desah Thalia lega, menyunggingkan senyum kemenangan yang sangat mempesona. Wanita itu duduk bersandar santai di sofa penthouse, memandangi layar laptop yang terhubung langsung dengan kamera pengawas rahasia di ruang rapat utama Alvarez Tower. Jantungnya yang semula berdebar karena cemas kini penuh rasa bangga dan lega. Dari balik layar, ia bisa melihat dengan jelas bagaimana Arthur, pria paruh baya utusan Vanguard Corp yang tadinya masuk dengan dagu terangkat sombong, kini masih bersimpuh memohon di bawah kaki suaminya. [T-Tuan Alvarez! Saya mohon... Berikan kami perpanjangan waktu! Jangan hancurkan perusahaan kami sore ini juga!] isak Arthur dari dalam layar, suaranya yang putus asa terdengar jelas melalui speaker laptop Thalia. Thalia menatap wajah Zacky di layar. Suaminya itu berdiri dengan postur tegap menunjukkan sisi dominan yang tampak jelas. Tidak ada sedikitpun belas kasihan di w
Thalia mencondongkan wajahnya, mendaratkan kecupan-kecupan basah dan lembut di sepanjang dada bidang Zacky, turun menyusuri perut rata suaminya. Napas Zacky menderu kasar, tangannya refleks meremas seprai di sisi lutut Thalia untuk menahan diri agar tidak langsung menerkam istrinya. "Sshh... Kamu benar-benar menguji batas kesabaranku malam ini, Thalia," desis Zacky suaranya sangat berat, matanya berkabut gelap menahan hasrat yang siap meledak. "Aku hanya ingin memanjakanmu," balas Thalia sensual. Namun, batas kesabaran Zacky akhirnya habis. Pria itu tidak bisa lagi hanya berdiam diri. Dalam satu gerakan yang sangat posesif, Zacky menarik pinggang Thalia, mengangkat wanita itu dan membaringkannya kembali ke tengah ranjang. Zacky menyusul naik, mengurung tubuh istrinya dengan menumpu berat badannya pada kedua tangan. "Aku yang akan bergerak
Disaat ruang meeting terasa penuh ketegangan, Thalia hanya bisa memperhatikan dari laptop di kamar penthouse. Zacky memberi Thalia izin memantau melalui CCTV yang terpasang di sana, itupun karena awalnya Thalia memaksa ingin ikut. “Tahan emosi Zacky, kamu gak perlu pakai kekerasan..” gumam Thalia cemas. Namun, di luar dugaan, raut wajah Zacky sama sekali tidak menunjukkan emosi atau ekspresi apapun. Sudut bibir Zacky justru tertarik ke atas, membentuk sebuah senyuman tipis yang sangat sinis dan mengintimidasi. Di balik ekspresi dinginnya, pikiran Zacky melayang pada senyum manis dan pelukan hangat Thalia sebelum ia berangkat.‘Istriku yang cantik dan jenius sudah menguliti kalian hidup-hidup, Arthur. Kalian hanyalah badut yang tidak sadar bahwa panggung ini sudah runtuh.’ batin Zacky dengan rasa bangga yang luar biasa."Kalian datang jauh-jauh ke sini hanya untuk menggonggong dengan draf murahan itu, Arthur?" desis Zacky r
"Mmph... Zacky, hentikan godaanmu. Para utusan Vanguard Corp itu pasti sudah mendarat dan bersiap merampok perusahaanmu," desah Thalia pelan, tubuhnya menggelinjang saat bibir Zacky menyapu leher jenjangnya."Biarkan saja mereka menunggu di lobi sampai membusuk," balas Zacky tanpa peduli. Pria itu mendaratkan kecupan basah di sepanjang tulang selangka Thalia, menghirup aroma manis dari kulit istrinya. "Menghabiskan waktu dengan istriku yang jenius ini jauh lebih berharga daripada meladeni sekumpulan serigala tua yang sedang sekarat."Thalia terkekeh pelan, menahan dada bidang suaminya dan mendongak untuk menatap manik mata pria itu. "Mereka bukan hanya sekarat, Zacky. Mereka datang untuk menyerahkan leher mereka sendiri ke tanganmu," pangkas Thalia dengan senyum penuh kemenangan. "Ingat kesepakatan kita. Kamu tidak boleh kehilangan ketenanganmu. Biarkan surat itu yang berbicara."Dada Zacky bergemuruh hebat mend
Jemari lentik Thalia menyusup ke sela-sela rambut tebal Zacky, sedikit menarik rambut pria itu saat bibir Zacky turun menyusuri dadanya. Tidak ada paksaan, tidak ada teror. Hanya ada penyatuan dua jiwa yang saling menginginkan. Setiap sentuhan Zacky penuh dengan cinta. Tangan pria itu mengusap lembut perut Thalia, memberikan pijatan melingkar yang menenangkan, sebelum akhirnya jari-jari panjangnya menelusup turun mencari pusat gairah istrinya. "Sshh... Zacky... ahh!" Thalia mengerang keras saat sentuhan ahli suaminya mulai memanjakannya di bawah sana. Tubuh Thalia bergetar hebat. Ia tidak lagi menyembunyikan wajahnya atau menahan desahannya. Ia membiarkan suaminya mendengar betapa besar reaksi yang ditimbulkan dari sentuhan itu. "Sebut namaku, Thalia. Biarkan aku mendengarmu," perintah Zacky dengan suara serak yang mematikan, mempercepat tempo jarinya sementara bibirnya tak henti melumat bibir istrinya.







