LOGIN"Aku hanya menyarankan agar kamu tidak mempermalukan dirimu lebih jauh," balas Zacky kaku. "Ayo Thalia, kita lanjutkan makan malam kita."
Sabrina meremas gaun basahnya dengan bibir gemetar menahan amarah dan rasa malu.."T-tapi dingin banget Kak! Aku gak bisa jalan ke luar dengan dada basah begini! Kak Zacky... Boleh pinjam jas Kakak sebentar untuk menutupi dadaku? Nanti aku kembalikan setelah aku cuci.." tanyanya memohon dengan raut wajah dibuat semenyedihkan mungkin."ZACKY! JANGAN PERGI!" suara teriakan histeris Thalia menggema memenuhi koridor lantai teratas gedung Alvarez Tower.Thalia berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Ivan yang menahannya dengan sigap. Air mata Thalia menetes deras membasahi pipinya tampak pucat. Ia menyaksikan pintu lift khusus tertutup rapat, menyembunyikan tubuh tegap Zacky yang melangkah tanpa rasa ragu sedikitpun menuju jebakan Arjuna."Lepaskan aku, Pak Ivan! Tolong lepaskan!" pangkas Thalia berani dengan nada menuntut, matanya menatap tajam ke arah Ivan.Rasa panik yang biasanya melumpuhkan Thalia kini menguap, tergantikan dengan keberanian meningkat untuk melindungi pria yang dicintainya."Maafkan saya, Nona Thalia," sahut Ivan kaku, mempertahankan posisinya tanpa mengendurkan pegangannya sedikit pun."Tugas utama saya dari Pak Zacky memastikan keselamatan Anda. Kita harus segera kembali ke penthouse demi keamanan Anda.""Keselamatanku?!"
"Mmphh... Zacky..." desah Thalia halus, membiarkan dirinya tenggelam dalam ciuman sensual pria itu di tengah ketegangan yang mengepung mereka.Zacky melepaskan pertautan bibir mereka perlahan, meninggalkan jejak napas hangat yang berburu di depan wajah Thalia."Sekarang, duduklah di meja kerjamu dan selesaikan berkas auditmu," pangkas Zacky rendah namun kaku. "Kita punya janji makan malam bersama Mama nanti malam.""I-iya, Pak Zacky..." cicit Thalia malu-malu, cepat-cepat berbalik menuju meja kerjanya dengan wajah merona merah.Waktu terasa begitu cepat bagi Thalia. Jarum jam dinding di ruang kerja Zacky sudah menunjukkan pukul lima sore. Suasana di luar jendela kaca mulai redup diselimuti warna jingga keemasan.Thalia merapikan tumpukan map berkas terakhir di atas mejanya. Ia menghela napas lega, meregangkan kedua tangannya yang terasa pegal setelah seharian berkutat dengan angka-angka audit."Selesai juga..." gumam Thali
"Terus kalau bukan alat penyadap, dari mana Arjuna tahu?!" cecar Thalia panik.Zacky menyandarkan tubuhnya di tepi meja kerja, menarik Thalia mendekat hingga gadis itu berdiri tepat di antara kedua kakinya. Tangannya merangkul pinggang Thalia posesif."Seseorang yang mendengarkan percakapan kita, atau seseorang yang menebak rencana itu berdasarkan gerak-gerikku," jawab Zacky dingin. "Atau... Seseorang di dalam gedung ini yang menerima instruksi dari Arjuna secara langsung setelah melihat cincin yang kubeli kemarin.""Maksud kamu... Maya? Atau Sabrina? Atau ada mata-mata disekitar kita?!" cicit Thalia kaget.Zacky tidak menjawab. Pria itu meraih gagang telepon interkom di mejanya, menekan tombol panggil cepat.[Ivan, masuk ke ruanganku sekarang. Bawa tim pemindai sinyal terenkripsi,] perintah Zacky tegas lalu langsung mematikan sambungan.Thalia menatap Zacky dengan cemas. "Zacky... Apa kita harus membatalkan renc
"A-apa-apaan ini...?" cicit Thalia sangat pelan, suaranya bergetar menahan rasa panik yang mendadak muncul dalam hatinya.Kedua tangan Thalia meremas ponselnya, ia berdiri kaku di tengah koridor lantai lima, berusaha keras agar tubuhnya tidak gemetar di hadapan para staf yang lalu lalang.Tatapannya yang semula dipenuhi rasa takut perlahan menajam. Mengingat janji yang ia buat sendiri di cermin penthouse tadi pagi.Thalia menarik napas panjang, melangkahkan kakinya dengan penuh keyakinan, lalu berbalik melangkah kembali menuju kubikel Maya.Maya yang tadinya tersenyum sinis mendadak meredupkan raut wajahnya. Ia buru-buru memasukkan ponselnya ke dalam saku celana saat menyadari langkah kaki Thalia yang kembali menghampirinya."Thalia? Ada apa lagi? Ada berkas yang tertinggal?" tanya Maya pura-pura bingung, matanya bergerak gelisah menatap Thalia.Thalia berdiri tegap di depan meja Maya. Bukannya menunjukkan rasa panik sepert
Thalia melangkah mendekati meja kerja Zacky, menatap pria di hadapannya dengan sedikit ragu."Zacky, aku mau izin turun ke lantai lima untuk menyerahkan dokumen revisi anggaran ke divisi pemasaran," ujar Thalia.Zacky menoleh tajam ke arah Thalia. Alis tegasnya bertaut rapat. "Tidak. Itu terlalu berbahaya, Thalia. Maya bisa saja bertindak nekat kalau dia merasa terdesak.""Dia tidak tahu kalau kita sudah curiga padanya, Zacky," potong Thalia cepat dengan nada tegas. "Kalau kamu kirim orang lain atau Pak Ivan, Maya pasti langsung curiga. Biarkan aku bersikap biasa saja di depannya seolah tidak terjadi apa-apa.Aku mau melihat reaksinya secara langsung saat bertemu denganku. Kemarin di lift, kami gak sempat ngobrol.. Aku ingin dengar apa yang mau dia katakan kalau ketemu aku berdua.."Zacky menatap manik mata cokelat Thalia yang menunjukkan keberanian baru. Tak ada lagi Thalia yang ketakutan dan ingin bersembunyi. Gadis di de
Thalia berjinjit kecil, lalu tanpa diduga gadis itu mendaratkan kecupan singkat di pipi tegas Zacky sebelum duduk di kursi samping pria itu."Tentu saja! Mulai hari ini aku tidak boleh terlihat lemah lagi. Aku mau tunjukkan kalau aku layak berdiri di samping kamu, aku siap berubah lebih baik, Zacky.." ujar Thalia mantap sambil mengoleskan selai pada sepotong roti.Zacky meletakkan tabletnya, menatap Thalia dengan pandangan kagum dan sedikit terkejut dengan perubahan Tahlia. Namun tak lama kemudian senyum pipis mengembang di bibirnya.. "Aku suka perubahan sikapmu ini, Thalia," bisik Zacky sensual, tangannya merayap di bawah meja dan mengusap paha Thalia yang terbalut rok krem. "Tapi ingat, keberanianmu ini hanya boleh kamu tunjukkan di depanku dan musuh-musuh kita. Jangan mencoba menggoda ku di jam kerja, kamu tahu akibatnya.."Pipinya seketika merona merah, namun Thalia tidak menarik pahanya. Ia justru menggenggam jemari







