LOGINl"Zacky, lewat pintu samping saja... Kerumunan wartawan di depan sangat padat," pangkas Thalia pelan saat mereka melangkah menyusuri koridor belakang gedung pengadilan yang sunyi.
"Tidak perlu menghindari mereka, Thalia," pangkas Zacky dingin dan berwibawa. "Alvarez Group tidak pernah bersembunyi dari publik. Biarkan mereka melihat bahwa pengkhianat perusahaan telah menerima hukumannya." Thalia menyunggingkan s”Zacky, kamu yakin kita akan datang malam ini?!” tanya Thalia memastikan. Zacky menoleh, mengangguk mantap dengan keputusan yang, “Tentu saja.. Kamu tidak takut, kan?!”Thalia menggeleng sambil tersenyum, “Tentu saja nggak. Klau gitu, dasimu harus terpasang sempurna malam ini,” pangkasnya dengan nada suara yang mantap dan tenang. Jari tangannya bergerak terampil merapikan simpul kain sutra hitam di leher kokoh Zacky.Tidak ada kecemasan di dalam hati mereka, meskipun tahu persis siapa yang akan ditemui di kediaman utama Alvarez malam ini. "Kamu tidak takut bertemu Gideon, Thalia?" pangkas Zacky memastikan sekali lagi, suaranya datar dan kaku seperti biasa, sorot matanya menatap dalam manik matha Thalia..Thalia menyunggingkan senyum penuh keberanian, mendongak, dan menatap langsung ke dalam manik mata hitam calon suaminya tanpa sedikit pun rasa ragu."Kenapa harus takut, Pak Zacky?" goda Thalia, jari tangannya me
Thalia tahu betapa beratnya beban emosional yang dirasakan Zacky saat ini. Dikhianati anggota keluarga kandungnya sendiri, sebuah pukulan telak yang sangat menyakitkan. Thalia berdiri dari pangkuan Zacky secara perlahan. "Tunggu sebentar ya, Zacky. Aku buatkan teh herbal hangat dulu untukmu." Zacky mengangguk pelan. Thalia melangkah menuju area dapur terbuka, gerakan tangannya begitu tenang menyeduh secangkir teh herbal beraroma chamomile dan madu murni. Keberanian dan kedewasaan Thalia kini membuatnya tahu persis bagaimana cara merawat dan menguatkan pria yang paling dicintainya. Thalia kembali ke area ruang tengah penthouse, ia meletakkan cangkir teh herbal di atas meja. "Zacky, kemarilah," panggil Thalia lembut, sambil menyunggingkan senyuman. Zacky berdiri, melangkah mendekati Thalia. Pria itu menurunkan tubuhnya, duduk bersilang kaki di atas karpet bulu tepat di dep
"Ini kopi hitam tanpa gula dan makan siang kamu, Zacky," pangkas Thalia lembut, meletakkan cangkir porselen hitam dan nampan berisi hidangan hangat di atas meja ruang kerja. Thalia menatap Zacky tanpa ada lagi keraguan. Ia berdiri di samping pria yang siap mempertaruhkan seluruh kekuasaannya demi dirinya dan menjadikannya wanita yang sangat berani, tenang, dan matang. Zacky mengangkat pandangannya dari layar laptop. Manik mata pekatnya menatap sosok Thalia yang kini mengenakan pakaian kasual rumah. "Terima kasih, Thalia," pangkas Zacky rendah. "Kamu sudah makan?" "Belum," goda Thalia dengan suara lembut di dekat telinga Zacky. "Aku kan mau makan siang bersamamu, Pak Zacky." Zacky meraih pergelangan tangan Thalia, menariknya perlahan hingga Thalia berputar dan jatuh di atas pangkuannya. Tangannya langsung mengunci pinggang ramping Thalia dengan cengkeraman yang sangat posesif. "Kamu sema
l"Zacky, lewat pintu samping saja... Kerumunan wartawan di depan sangat padat," pangkas Thalia pelan saat mereka melangkah menyusuri koridor belakang gedung pengadilan yang sunyi. "Tidak perlu menghindari mereka, Thalia," pangkas Zacky dingin dan berwibawa. "Alvarez Group tidak pernah bersembunyi dari publik. Biarkan mereka melihat bahwa pengkhianat perusahaan telah menerima hukumannya." Thalia menyunggingkan senyum tipis, merasa kagum dengan keteguhan hati calon suaminya. "Baiklah, Pak Zacky. Saya ikut keputusan Anda." Namun, tepat saat mereka mendekati pintu keluar lobi utama yang dibatasi oleh pagar pembatas, sebuah gangguan mendadak terjadi di antara kerumunan wartawan. "Pak Zacky! Nona Thalia! Tolong tanggapi foto ini!" seru seorang wartawan berjaket coklat yang tiba-tiba menerobos barikade pengawal dengan mengangkat sebuah amplop coklat tebal
"Zacky, dasimu sedikit miring... Biar aku rapikan dulu," ucap Thalia lembut, menyunggingkan senyuman paling manis di dalam ruang tunggu VIP Gedung Pengadilan Negeri. Thalia terlihat begitu anggun dan penuh percaya diri, tidak ada lagi jejak ketakutan di wajah cantiknya, yang terlihat hanyalah pesona seorang calon pendamping Zacky. Pria itu berdiri tegak, membiarkan jari tangan Thalia bergerak merapikan simpul dasi hitamnya. Manik matanya menatap wajah Thalia tanpa berkedip, menunjukkan rasa kepemilikan yang nyata. "Kamu sangat cantik pagi ini, Thalia," pangkas Zacky, suaranya rendah dan berat terdengar sensual di telinga Thalia. "Terima kasih, Zacky," cicit Thalia lembut, pipinya merona merah. Ia menyenggol dada bidang Zacky dengan jarinya sambil mengedipkan mata dengan tatapan serius. "Ingat, di depan media dan persidangan nanti, kita harus tetap me
"Aku memanjakan calon suamiku sendiri," goda Thalia halus, melepaskan tautan bibir mereka perlahan. Napas Thalia memburu halus, pipinya merona merah di bawah pendar lampu temaram kabin SUV, namun tatapan matanya merasakan kepemilikan yang sama besarnya. Thalia merendahkan kepalanya sedikit, menyapu leher tegap Zacky dengan embusan napas hangatnya. Jari tangannya perlahan bergerak membuka satu per satu kancing kemeja hitam yang di pakai Zacky, memperhatikan dada bidang dan kokoh milik pria itu. "Thalia..." erang Zacky rendah saat merasakan bibir ranum Thalia mendaratkan ciuman panas di sepanjang tulang selangkanya, memberikan gigitan-gigitan kecil yang sensual. "Fokus padaku, Zacky Farelio Alvarez," cicit Thalia berani. Tangannya menyusup ke balik kemeja Zacky, mengusap otot dada bidang pria itu yang berdebar kencang. "Biarkan aku membuatmu lupa pada semua teror murahan itu..."







