INICIAR SESIÓN"Zacky? Ada apa di layar ponselmu sampai membuatmu menegang seperti itu?" cicit Thalia, memecah sunyi dalam kamar yang hanya diisi suara hembusan angin Danau Comoro di luar jendela.
Wanita itu perlahan membuka kelopak matanya, mengerjap menyesuaikan diri dengan cahaya temaram lampu tidur.Posisi tidurnya sedikit bergeser saat ia menyadari kehangatan di sisinya telah menghilang. Thalia menopang tubuhnya dengan satu siku, menatap punggung tegap suaminya yang duduk kaku di tel"Z-Zacky... udaranya dingin..." cicit Thalia, tubuhnya menggelinjang halus merasakan udara malam Danau Comoro menyapu kulit perutnya. "Aku akan menghangatkannya," bisik Zacky sensual. Zacky menempelkan bibir hangatnya tepat di tengah-tengah perut Thalia. Ia memberikan kecupan basah yang panjang, lalu mengusapkan ujung hidungnya di sana dengan gerakan penuh pemujaan. Napas hangat Zacky berhembus teratur, membuat bulu kuduk Thalia meremang hebat. "Halo, jagoan... atau bidadari kecil papa," bisik Zacky tepat di depan perut istrinya, suaranya terdengar sangat parau dan menggetarkan hati. "Tumbuhlah dengan sehat di dalam sana. Papa sudah menyiapkan seluruh dunia ini untukmu. Papa mencintaimu dan mamamu lebih dari nyawa papa sendiri." "Aah... Zacky... geli..." Thalia mendesah pelan, jari tangannya meremas rambut tebal suaminya. Sensasi
"H-Hamil...?" cicit Thalia terbata-bata, suaranya nyaris terdengar seperti hembusan angin. Tangannya perlahan terulur, menumpuk di atas punggung tangan Zacky yang masih bertengger di perutnya. "Di dalam perutku... ada bayi kita?" "Iya, Sayang. Buah hati kita," pangkas Zacky mutlak. Pria itu membenamkan wajahnya di perut datar Thalia. Ia menciumi perut istrinya dari balik balutan gaun tidur tipis, memberikan kecupan-kecupan panjang yang diiringi isakan tertahan. Pertahanannya sebagai pria dingin dan tanpa belas kasih melebur malam itu, digantikan oleh naluri seorang ayah dan suami yang jiwanya baru saja diselamatkan oleh wanita yang sangat dicintainya. Air mata Thalia akhirnya tumpah dengan deras. Ia menunduk, memeluk kepala Zacky yang masih bersandar di perutnya, mengusap rambut tebal suaminya dengan penuh kasih sayang. Isak tangis bahagia meledak dari bibir Thalia, menghancurkan seluruh
"Zacky? Ada apa di layar ponselmu sampai membuatmu menegang seperti itu?" cicit Thalia, memecah sunyi dalam kamar yang hanya diisi suara hembusan angin Danau Comoro di luar jendela.Wanita itu perlahan membuka kelopak matanya, mengerjap menyesuaikan diri dengan cahaya temaram lampu tidur. Posisi tidurnya sedikit bergeser saat ia menyadari kehangatan di sisinya telah menghilang. Thalia menopang tubuhnya dengan satu siku, menatap punggung tegap suaminya yang duduk kaku di tepi ranjang.Zacky sama sekali tidak menjawab. Pria itu terpaku menatap layar ponsel satelitnya seolah benda canggih itu baru saja menampilkan rahasia terbesar di alam semesta. Napas Zacky tertahan, rahangnya yang selalu mengeras kini tampak sedikit bergetar.Melihat reaksi yang sangat tidak biasa dari suaminya, rasa cemas perlahan menyusup ke dada Thalia. Keberanian yang telah tumbuh dalam dirinya membuat Thalia tidak lagi bersembunyi di balik selimut. Ia
Thalia mengusap rahang tegas Zacky dengan tangannya yang bebas dari bekas suntikan. "Aku sungguh tidak merasa sakit tadi sore, Zacky. Aku sangat bahagia menikmati pemandangan danau bersamamu. Rasa mual itu benar-benar datang secara mendadak saat mencium bau makanan laut tadi."Zacky memejamkan matanya sejenak, menikmati usapan lembut jemari Thalia di pipinya. Pria itu menarik tangan istrinya, mencium telapak tangan itu dengan penuh kehangatan."Kamu membuat duniaku hampir berhenti berdetak saat kamu hampir pingsan di dekapanku tadi, Thalia," desis Zacky rendah.Thalia tersenyum manja, rasa percaya dirinya yang tumbuh di balik perlindungan pria itu membuatnya memberanikan diri menggoda suaminya. "Mana Pak Zacky yang selalu bersikap dingin, tidak tersentuh, dan kaku itu, hmm? Kenapa sekarang terlihat sangat panik?"Zacky membuka matanya, menatap lurus ke dalam manik mata Thalia dengan kilat dominan yang amat memikat. "Pria d
"Zacky... Jangan berteriak pada mereka, ini bukan salah pelayan," cicit Thalia lirih. Suaranya hampir tak terdengar di dalam kamar tidur utama vila yang super mewah itu. Tubuh mungilnya terbaring lemah di atas ranjang, dibalut selimut tebal yang hangat. Zacky berjalan bolak-balik di tepi ranjang dengan rahang mengeras kaku seketika menghentikan langkahnya. Pria itu berlutut di sisi tempat tidur, meraih telapak tangan Thalia yang dingin, lalu mengecupnya berkali-kali dengan perasaan cemas yang menyiksa batinnya. "Aku tidak peduli pada mereka, Thalia. Aku hanya peduli padamu," desis Zacky parau. Matanya menatap wajah pucat sang istri dengan kepanikan yang sangat nyata. "Kamu mendadak lemas dan mual seperti ini... Bagaimana mungkin aku bisa tenang?" Thalia mencoba menyunggingkan senyum tipis, meski kepalanya masih terasa begitu berat dan berputar. "Aku hanya sedikit pusing, Zacky. Mungkin ak
Thalia tersentak, refleks menoleh ke arah sumber cahaya. "Zacky... ada seseorang di sana! Kamera?"Seketika itu juga, rahang Zacky mengeras kaku. Aura dingin dan berbahaya memancar kuat dari tubuh tegap sang CEO. Dalam gerakan kilat, Zacky menarik kepala Thalia ke dalam dekapannya, menyembunyikan wajah cantik istrinya di dada bidangnya agar tidak tertangkap kamera.Zacky menekan tombol di earpiece komunikasinya dengan nada suara yang sangat mematikan.[Ivan.][Saya di sini, Pak Zacky. Tim pengawal sudah mendeteksi keberadaan fotografer asing itu,] lapor Ivan cepat dari kapal pengawal yang membuntuti di jarak aman.[Beli seluruh kantor media tempat bajingan itu bekerja detik ini juga. Hancurkan seluruh salinan foto, kamera, dan perangkat memorinya di tempat!] perintah Zacky kaku tanpa ampun. [Kalau dia menolak atau mencoba melawan, pastikan karirnya hancur dan perusahaannya bangkrut sebelum matahari terbenam.]







