INICIAR SESIÓNThalia memberikan dirinya sepenuhnya, menyalurkan rasa cinta dan rasa aman yang tak tergoyahkan.
Lidah hangat Zacky menerobos masuk, mengabsen setiap inci rongga mulut istrinya, menghisap rasa manis yang membuat dadanya bergemuruh liar.Tangan kekar Zacky menyusup ke balik gaun sutra yang dikenakan Thalia, memberikan usapan-usapan posesif yang menggetarkan.Sentuhan pria itu turun menyusuri garis punggung, lalu memberikan remasan lembut di pinggang yang membuatSensasi itu terasa seperti sebuah kedutan halus, seperti kepakan sayap kupu-kupu yang sangat kecil, namun terasa begitu nyata mengetuk dari dalam dinding rahimnya.Thalia menahan napasnya. Matanya seketika terbuka lebar. Ia meletakkan telapak tangannya sendiri di atas tangan Zacky yang masih berada di perutnya.Duk.Satu kedutan halus kembali terasa, kali ini sedikit lebih kuat, menekan lembut tepat di bawah telapak tangan mereka.Air mata haru seketika menggenang di pelupuk mata Thalia. Jantungnya berdebar kencang dipenuhi kebahagiaan yang meluap-luap. Ini pertama kalinya. Jagoan kecilnya bergerak."Zacky..." bisik Thalia dengan suara bergetar, mengguncang pelan lengan suaminya. "Zacky, bangun... sayang," panggil Thalia lagi. Kelopak mata Zacky terbuka. Nalurinya yang selalu waspada membuatnya langsung menegang. Pria itu mendongak, menatap wajah istrinya yang berkaca-kaca dengan kilat kepanikan."Thali
Thalia memberikan dirinya sepenuhnya, menyalurkan rasa cinta dan rasa aman yang tak tergoyahkan.Lidah hangat Zacky menerobos masuk, mengabsen setiap inci rongga mulut istrinya, menghisap rasa manis yang membuat dadanya bergemuruh liar. Tangan kekar Zacky menyusup ke balik gaun sutra yang dikenakan Thalia, memberikan usapan-usapan posesif yang menggetarkan. Sentuhan pria itu turun menyusuri garis punggung, lalu memberikan remasan lembut di pinggang yang membuat tubuh istrinya meleleh."Zacky... pindah ke kamar..." cicit Thalia dengan napas tersengal saat tautan bibir mereka terlepas untuk meraup udara. Pipi wanita itu merona merah padam, dadanya naik turun dengan cepat.Zacky tidak menjawab dengan kata-kata. Pria itu menyusupkan tangannya ke belakang lutut dan punggung Thalia, mengangkat istrinya ke dalam gendongan dan melangkah tegap meninggalkan ruang kerja menuju kamar utama penthouse.Sesampainya di kamar, Zacky mereba
Thalia menatap Zacky sekilas untuk meminta persetujuan. Zacky hanya mengangguk tipis dengan rahang yang masih sedikit mengeras. Dengan gerakan hati-hati, Thalia membuka kotak tersebut.Di dalamnya, terdapat sebuah dokumen resmi berlapis emas yang disegel dengan lambang negara."Ini... Sertifikat pulau pribadi?" cicit Thalia dengan mata membelalak lebar, membaca nama yang tertera di dokumen tersebut."Bukan sekadar pulau, Thalia. Itu gugusan pulau karang di laut selatan yang memiliki kedaulatan independen kecil. Papa membelinya atas namamu dan calon cucu Papa," jelas Joshua dengan senyum bangga. "Kalau Faksi Bayangan atau siapapun mencoba menggunakan hukum negara untuk menyita lahan Valerian milikmu, kamu memiliki kekuatan kedaulatan sendiri untuk menolak mereka. Tidak ada yang bisa menyentuh asetmu, Thalia."Dada Thalia bergemuruh hebat. Hadiah ini terlalu besar, terlalu tidak masuk akal, namun di saat yang bersamaan, hadiah ini dia
"Zacky, jangan menembak membabi buta. Biarkan mereka masuk, kita lihat siapa yang berani datang kesini," pangkas Thalia, suara sangat tenang namun penuh keberanian.Matanya menatap ke arah pintu ganda ruang kerja yang tertutup bayang-bayang gelap akibat pemadaman listrik, jantungnya berdebar, namun keberaniannya jauh melampaui rasa cemasnya.Zacky menggeram tertahan, lengan kirinya refleks terentang untuk menahan perut istrinya, memastikan Thalia tetap berada di belakang garis lengannya, sementara tangan kanannya masih mencengkeram erat gagang pistol perak untuk berjaga."Mundur selangkah, Thalia. Aku tidak akan membiarkan percikan darah mereka menodai gaunmu," desis Zacky beratnya terdengar serak dan mematikan. Urat-urat di leher pria itu menonjol, insting membunuhnya telah mencapai titik puncak.Suara langkah kaki yang berat dan teratur itu semakin mendekat. Terdengar ketukan tongkat kayu yang beradu dengan lantai marmer lorong, bergema mencekam di tengah keheningan penthouse ya
"Zacky..." cicit Thalia, merasakan debaran jantung suaminya yang berpacu kencang di balik kemejanya. "Aku hampir gagal melindungimu di dalam rumahku sendiri, Thalia," desis Zacky dengan suara bariton yang bergetar. Pria itu menenggelamkan wajahnya di ceruk leher istrinya, menghirup aroma manis dari kulit Thalia seolah itu satu-satunya udara yang bisa menyelamatkannya dari rasa sesak. "Kalau chip itu bukan alat peretas, melainkan bahan peledak skala mikro... Aku bisa kehilanganmu dan anak kita di depan mataku sendiri." Thalia memejamkan mata, membalas pelukan suaminya dengan tak kalah erat. Jemari lentiknya menyusup ke sela-sela rambut tebal Zacky, memberikan usapan lembut yang menenangkan. "Tapi buktinya itu bukan bom, Zacky. Mereka tidak berani melakukan serangan fisik secara langsung karena mereka tahu kamu akan membumihanguskan mereka," balas Thalia penuh keberanian. Thalia menangkup
"Ya, Zacky.. Kita selesaikan permainan hari ini sekarang, Zacky. Jangan biarkan kemarahan membutakan kewaspadaan mu," pangkas Thalia dengan suara yang sangat tenang, tangannya mencengkeram erat ujung kemeja suaminya dari belakang.Wanita itu sama sekali tidak bergetar. Tidak ada lagi Thalia yang menangis ketakutan dan bersembunyi di sudut ruangan. Matanya menatap tajam ke sekeliling ruang kerja yang luas itu, mencoba mengandalkan instingnya untuk melindungi pria yang sedang berdiri menjadi tameng hidupnya.Mendengar ketenangan dari suara istrinya di tengah situasi yang mengancam nyawa, dada Zacky bergemuruh hebat. Pria itu menggeser posisinya sedikit, memastikan seluruh tubuh Thalia tertutupi oleh tubuh tegapnya. Pistol perak di tangan kanannya terangkat, siap memuntahkan peluru mematikan."Tetap di belakangku, Sayang. Jangan lepaskan genggamanmu dari kemejaku sedetik pun," desis Zacky dengan suara bariton yang teramat dalam dan ser







