Compartir

Bab 3

Autor: Momo
Saat membuka jendela obrolan, aku menemukan bahwa sudah ada balasan di bawahnya.

[Nggak usah. Terima kasih, Bu.]

Dikirim tiga hari yang lalu.

Aku berusaha mengenang, dan teringat bahwa saat itu, aku bertemu Andry di supermarket dekat kampus.

Saat itu, aku berdiri di depan rak, membandingkan harga dua bungkus pembalut wanita.

Saking ramainya orang, ponselku sampai terjatuh, dan Andry mengambilnya untukku.

Kemudian, dia melihatku mengambil sebungkus, lalu diam-diam mengembalikannya karena harganya lebih mahal enam ribu. Dia bahkan berinisiatif menawarkan bantuan.

"Ambil saja. Aku belikan untukmu."

Saat itu, aku sangat senang.

Pertama, karena menghemat 40 ribuan.

Kedua, karena merasa dia masih peduli padaku.

Namun, setelah dipikir lagi sekarang.

Hanya dalam beberapa menit singkat itu, dia telah menolak kuota pertukaran mahasiswa itu untukku.

Kemudian, karena merasa bersalah, dia menebusku dengan dua bungkus pembalut wanita yang harganya tidak sampai 50 ribu itu.

Huh, sungguh transaksi yang menguntungkan.

Setelah lama bimbang, aku mengirim pesan kepada konselor.

[Bu, apa kuota untuk program pertukaran mahasiswa masih ada?]

[Bukan aku yang mengirim pesan penolakan beberapa hari lalu itu.]

Konselor membalas dengan cepat.

[Masih ada.]

[Kalau kamu ingin berpartisipasi, datang saja ke kantor besok dan serahkan formulir pendaftaran.]

Keesokan harinya, aku pergi ke toko cetak dekat kampus untuk mencetak formulir pendaftaran.

Begitu bergabung dalam antrean, aku mendengar suara keluhan yang familier.

"Mengapa selalu harus antre lama untuk mencetak?"

Natalia merangkul lengan Andry, sambil mengerutkan bibirnya.

Kakakku, yang berdiri di sampingnya, tersenyum mendengar hal itu.

"Kalau kamu rasa ini merepotkan, aku bisa belikan printer untukmu biar bisa dipasang di asrama."

Selesai berbicara, kakakku mendongak dan melihatku. Senyumnya membeku sesaat.

"Stefany, kamu juga datang untuk mencetak?"

Aku mengangguk.

Dia berdeham.

"Kebetulan sekali. Keluarga kita selalu memperlakukan semua orang dengan adil. Aku akan belikan satu untuk Natalia, dan Andry akan belikan satu untuk Stefany."

Andry tampak tidak senang.

"Biar aku yang belikan untuk Natalia saja. Kamu kakaknya Stefany, jadi kamu yang belikan untuknya saja."

Kakakku mengerutkan kening.

"Kamu dan Stefany dekat, jadi kamu saja yang belikan untuknya."

Keduanya saling melempar tanggung jawab di depanku.

Seolah-olah membelikanku printer akan mendatangkan malapetaka bagi mereka.

Orang-orang di sekitar sudah melihat ke arah ini.

Wajahku terasa memanas, dan aku pun menyela mereka.

"Nggak usah, aku nggak butuh printer."

Kakakku jelas menghela napas lega.

"Kamu sendiri yang bilang nggak mau, jadi jangan bilang kami pilih kasih nanti."

Tepat di saat itu, bos berteriak dari dalam, "Nak, formulir pendaftaranmu sudah selesai dicetak."

Andry berhenti melangkah.

"Formulir pendaftaran apa?"

Jantungku berdegup kencang.

Sebelum sempat memikirkan jawaban, Natalia, yang sudah sampai di pintu, berbalik.

"Andry, cepatlah."

"Bukannya kamu bilang mau ikut aku pergi mengambil gaun?"

Andry melirikku. Pada akhirnya, dia tidak mendesak masalah itu lebih lanjut.

Aku menghela napas lega ketika tiga orang itu benar-benar menghilang dari pandangan, lalu membawa formulir pendaftaran ke kantor konselor.

Mengingat aku akan berangkat dalam setengah bulan lagi, aku merasa sangat gembira. Saat makan siang, aku memesan tiga hidangan daging yang biasanya tidak mampu kubeli untuk merayakannya.

Namun begitu aku duduk, seseorang menarik kursi di depanku.

Natalia duduk sambil membawa mampan, diikuti oleh kakakku dan Andry.

Dia langsung melirik paha ayam di piringku.

"Kak, kamu kebagian paha ayam ya?"

"Aku datang terlambat. Bibi kantin bilang sudah terjual habis."

Aku bahkan belum sempat berbicara.

Kakakku sudah mengulurkan sendoknya, dan langsung mengambil paha ayam dari piringku, lalu memasukkannya ke dalam piring Natalia.

Aku terdiam selama beberapa detik.

"Apa yang kamu lakukan?"

Sembari berbicara, aku mengulurkan sendok untuk mengambilnya lagi, tetapi kakakku menepisnya.

"Kemarin kamu menolak untuk membagi tagihan, dan hari ini kamu menolak untuk berbagi sepotong paha ayam dengan Natalia."

"Stefany, kenapa kamu begitu egois sekarang?"

Suaranya tidak pelan. Orang-orang di sekitar mulai melirik ke arah kami.

Merasa diperlakukan tidak adil dan marah, aku melompat berdiri.

"Ya, aku egois!"

"Ketika seseorang nggak punya uang untuk makan, dia pasti akan egois!"

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Porsi Cinta yang Berbeda   Bab 10

    Setelah kembali ke kampus, aku memfokuskan seluruh energiku kembali pada fisika.Akun media sosialku masih diperbarui, tetapi frekuensinya lebih jarang.Para penggemar mendesakku untuk memberikan kabar terbaru, jadi aku menggunggah foto laboratorium.[Belakangan ini sibuk dengan sebuah proyek, jadi nggak bisa sering-sering unggah video lagi.]Kotak masukku penuh dengan permintaan kolaborasi bisnis, tetapi aku hanya menerima beberapa yang sesuai.Aku menghabiskan sebagian besar waktuku di laboratorium, bekerja dengan para profesor mengolah data dan mempersiapkan diri untuk mendaftar studi lebih lanjut.Ketika guru bertanya jalur mana yang ingin aku tempuh di masa depan, untuk pertama kalinya aku tidak ragu-ragu."Aku ingin melakukan penelitian."Di paruh hidup pertamaku, aku bekerja mati-matian untuk mendapatkan uang agar bisa bertahan hidup.Sekarang, akhirnya aku memiliki kepercayaan diri untuk hidup mengikuti kata hatiku sendiri.Namun, orang tuaku dan kakakku belum menyerah sepenuhn

  • Porsi Cinta yang Berbeda   Bab 9

    Ibuku menatap kosong ke layar untuk waktu lama sebelum akhirnya bisa bersuara kembali."Tapi melakukan penelitian sangat melelahkan."Ayahku juga mengerutkan kening. Wajahnya tampak tidak puas."Menghasilkan uang melalui media sosial memang lebih cepat, tapi penurunan popularitas akun juga cepat. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk memanfaatkan kesempatan ini."Kakakku juga membujukku."Stefany, kami melakukan ini demi kamu juga. Jangan selalu berpikir buruk tentang keluargamu."Aku menatap mereka dan tiba-tiba tersenyum."Bagiku, menjadi putri kalian lebih menyakitkan daripada melakukan penelitian."Begitu kata-kata itu dilontarkan, ekspresi mereka semua langsung berubah.Aku tidak melihat mereka lagi, dan mendorong koperku keluar dari bandara.Namun, begitu sampai di pintu, Andry mengejarku dari belakang dan menghalangi jalanku."Stefany, aku nggak sama dengan mereka.""Mereka datang ke sini demi akun media sosialmu, tapi aku datang ke sini demi kamu."Aku berhenti dan menatap waj

  • Porsi Cinta yang Berbeda   Bab 8

    Saat program pertukaran mahasiswa selama setahun hampir berakhir, koperku jauh lebih berat daripada saat aku baru tiba.Di dalamnya terdapat album kenangan dari laboratorium, surat rekomendasi yang ditulis oleh profesor, dan undangan untuk proyek penelitian yang baru saja kuterima.Akun media sosialku telah melampaui satu juta pengikut, dan pendapatan iklan telah mencapai angka yang mencengangkan.Pesawat mendarat pada malam hari di hari kepulanganku.Saat aku mendorong koperku keluar dari gerbang kedatangan, mataku langsung menangkap empat sosok yang berdiri di tengah kerumunan.Ibuku memegang buket bunga yang besar.Ayahku membawa kotak hadiah.Ada beberapa tas belanja diletakkan di samping kakakku, dan Andry juga membawa banyak barang.Ibuku lebih dulu menghampiriku, dan menyelipkan bunga itu ke pelukanku."Stefany, kamu kurusan, tapi juga jadi cantik."Aku melirik ke bawah.Itu mawar merah muda kesukaan Natalia.Aku tidak mengambilnya, dan hanya berkata, "Aku alergi terhadap serbuk

  • Porsi Cinta yang Berbeda   Bab 7

    Beberapa bulan berlalu dengan cepat.Di luar dugaan, aku bisa beradaptasi dengan cepat.Saat baru mengikuti kelas, aku tidak begitu memahami banyak istilah teknis, jadi aku harus meninjau materi terlebih dahulu dan mendengarkan rekaman kelas berulang kali hingga larut malam.Suatu kali di kelas fisika, profesor menuliskan rumus-rumus di seluruh papan tulis dan kemudian berbalik untuk bertanya apa ada yang bisa menyimpulkan langkah terakhirnya.Ruang kelas hening selama beberapa detik.Aku mengangkat tangan dan menjawab dengan bahasa Ingis yang terbata-bata. Dia menatapku, lalu tertawa."Stefany, tetaplah di sini usai kelas."Setelah kelas berakhir, dia menyerahkan formulir lamaran asisten laboratorium kepadaku."Penyimpulanmu tentang rumus sangat bagus. Apa kamu tertarik untuk bekerja di laboratoriumku?"Hatiku kegirangan, tetapi aku berpura-pura tenang dan mengangguk."Aku tertarik."Beasiswa dan tunjangan laboratorium disetujui dengan cepat.Namun, biaya hidup di luar negeri sangat t

  • Porsi Cinta yang Berbeda   Bab 6

    Tidak perlu menjawab pertanyaan yang sama untuk kedua kalinya.Karena orang yang mengajukan pertanyaan ini mungkin sudah memiliki jawaban di dalam hatinya.Jadi, aku langsung menutup telepon.Tak lama kemudian, Andry mengirim pesan.[Aku sudah tanya. Ternyata kamu sungguh nggak menerima sepeser pun.]Tak lama kemudian, pesan dari Natalia juga masuk.[Apa yang kamu katakan pada Kak Andry?][Dia tadi marah besar. Padahal, semua orang keluar untuk bersenang-senang, tapi sekarang semuanya telah rusak gara-gara kamu.]Tak lama kemudian, ibuku juga menanyaiku.[Stefany, kenapa kamu begitu nggak pengertian?][Mentang-mentang kamu di luar negeri sekarang, kamu pun membuat kekacauan seperti itu di rumah?]Kakakku tidak pernah sabar denganku, jadi dia langsung mengirimiku pesan suara.Setelah mengkliknya, aku mendengar suara tertahannya keluar."Stefany, kamu hebat ya sekarang.""Andry barusan mengamuk. Dia ngotot ingin memeriksa aplikasi bank-ku, dan bahkan ingin meminta riwayat transaksi pada

  • Porsi Cinta yang Berbeda   Bab 5

    Saat pesawat mendarat, waktu sudah menunjukkan pagi di luar negeri.Setelah melewati imigrasi bersama guru, aku menempuh perjalanan bus selama satu jam menuju kampus sebelum akhirnya aku punya waktu untuk menyalakan ponselku.Puluhan pesan yang belum dibaca menumpuk di obrolan grup keluarga.Dimulai dari pesan dari kakakku.[Stefany, bukankah keretamu sudah sampai sejak lama?]Beberapa menit kemudian, dia bertanya lagi: [Resepsionis hotel bilang mereka nggak melihatmu. Kamu kabur ke mana lagi?]Pesan dari Andry menyusul tak lama kemudian.[Stefany, jangan marah-marah lagi. Semua orang menunggumu makan. Jangan merusak suasana.]Orang tuaku keluar satu per satu.[Adikmu mengkhawatirkanmu sepanjang perjalanan. Jangan membuatnya khawatir.][Kita semua satu keluarga, kenapa nggak bisa dibicarakan baik-baik?]Aku yang membaca pesan-pesan itu, mendadak merasa sangat lelah.Seolah-olah rasa kantuk akibat lebih dari sepuluh jam di pesawat telah hilang sepenuhnya di saat ini.Aku bersandar di pi

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status