Compartir

Bab 4

Autor: Momo
Wajah kakakku menegang.

Aku tidak ingin mendengar apa pun lagi, jadi aku mengambil piringku dan pergi.

Kembali ke kamar asrama, aku menutup tirai dan tidur siang.

Entah berapa lama aku tidur, sampai getaran terus-menerus dari ponselku membangunkanku.

Setelah membukanya, ternyata itu notifikasi dari obrolan grup keluarga.

Natalia lebih dulu mengunggah permintaan maaf yang panjang.

[Kak, maaf.]

[Aku nggak seharusnya mengambil paha ayammu. Aku nggak tahu kamu akan begitu marah.]

Ibuku segera keluar untuk menghiburnya.

[Natalia, jangan diambil hati. Kakakmu memang pelit dari kecil.]

Ayahku juga ikut menandaiku di grup.

[Stefany, cuma paha ayam saja. Apa perlu marah sama adikmu sendiri seperti itu?]

Kakakku lebih lugas.

[Egois, jahat, dan licik. Kamu makin parah sekarang.]

Andry juga menyalahkanku.

[Stefany, kamu dulu nggak sesulit ini untuk diajak bergaul.]

Komentar-komentar kasar yang bahkan ragu untuk diucapkan pada orang luar, semuanya dilontarkan keluargaku dan juga orang yang kusukai selama bertahun-tahun kepadaku.

Setelah beberapa saat, Andry mengirim pesan lagi.

[Natalia, jangan salahkan dirimu lagi. Sini aku bagi kabar yang menyenangkan.]

[Bukankah kamu selalu ingin pergi ke pulau? Aku sudah reservasi tiga studio pemotretan untuk liburan nanti.]

Orang tuaku dan kakakku dengan cepat setuju. Mereka sepakat untuk membayar biaya hotel dan tiket pesawat.

Natalia dengan senang hati menandaiku di grup.

[Kakak juga ikut ya! Kebetulan kita bisa jalan-jalan berempat.]

Ayahku juga membalas sambil tersenyum, "Tentu saja ikut. Keluarga kita selalu memperlakukan semua orang secara adil. Stefany pasti akan ikut bersamamu.]

Namun, ketika aku mengklik tangkapan layar pesanan yang mereka kirim.

Tiga studio pemotretan tersebut menyatakan bahwa reservasi hanya untuk satu orang saja.

Dalam tiket pesawat kelas satu hanya tercantum nama tiga orang: kakakku, Andry, dan Natalia.

Sedangkan untuk hotel, mereka memesan suite yang hanya punya tiga kamar tidur.

Dari awal sampai akhir, sama sekali tidak ada tempat untukku.

Aku tidak ingin lagi menjaga citra terhormat.

[Reservasi studio foto untuk satu orang, tiket pesawat untuk tiga orang, dan hanya ada tiga kamar di suite.]

[Bagaimana aku bisa ikut? Kalau aku ikut, aku tidur di mana?]

Pesan itu baru saja terkirim ketika pesan suara dari kakakku muncul.

Suaranya dipenuhi amarah yang terpendam.

"Stefany, diladeni malah nggak habis-habis ya kamu."

"Natalia berbaik hati mengajakmu. Kamu bukan hanya nggak menghargainya, tapi juga bersikap sarkastik di sini."

Andry juga ikut mengirim pesan.

[Natalia telah diperlakukan nggak adil hari ini, jadi ini termasuk penebusan dari kami untuknya.]

[Mengenai bagianmu, bukankah Om dan Tante sudah memberimu uang untuk perjalanan liburan? Kamu bisa beli tiket sendiri dan pesan hotel sendiri.]

Karena sudah menjelaskannya sekali, dan tidak ingin mengulanginya lagi, aku pun hanya membalas.

[Aku nggak ikut.]

Namun sore harinya, kakakku dan Andry sama-sama mengirim pesan pribadi kepadaku.

Mereka bilang Natalia merasa bersalah atas kejadian siang tadi, dan bersikeras agar aku ikut dengannya.

Mereka bertiga mengumpulkan uang dan memesan tiket pesawat serta hotel untukku.

Kakakku juga mengirimkan tangkapan layar pesanan dengan informasi penting yang disamarkan.

Namun, dia mungkin lupa.

Aku akan menerima pesan jika dia memasukkan nomor telepon dan alamat email sewaktu membeli tiket.

Saat aku membuka pesan notifikasi dari pihak kereta api, aku menyadari bahwa mereka tidak membelikanku tiket pesawat, melainkan tiket kereta kelas ekonomi untuk perjalanan yang memakan tiga belas jam.

Hotel juga telah dipesan.

Sebuah hotel kecil yang harganya 140 ribu per malam, di dekat hotel bintang lima tempat mereka menginap.

Bahkan, harganya bisa serendah itu selama musim liburan. Bisa dibayangkan, betapa buruknya lingkungan di sana.

Aku tidak membalas mereka, jadi mereka menganggap aku telah setuju, seperti yang selalu aku lakukan.

Selama dua minggu berikutnya, mereka terus mengirimkan pesan kepadaku tentang barang-barang yang harus kubeli.

[Stefany, ingat beli dua botol obat nyamuk.]

[Bawa juga beberapa botol tabir surya semprot, karena matahari di pantai sangat terik.]

[Oh ya, jangan lupa beli handuk mandi sekali pakai, dan obat mabuk perjalanan.]

Setiap kali aku terlambat membalas pesan itu, kakakku akan membalas: [Kami bahkan sudah menanggung biaya tiket kereta dan hotelmu, jadi nggak berlebihan kan kalau menyuruhmu mengeluarkan sedikit uang ini?]

Andry juga menganggap hal itu sebagai keharusan.

[Toh, kamu sendiri juga butuh barang-barang itu.]

Aku melihat jumlah barang di keranjang belanjaku, dan berhenti berdebat seperti biasanya.

Lagi pula, aku akan berangkat dalam beberapa hari lagi.

Aku akan menyetujui apa pun yang mereka inginkan.

Beli atau tidak, itu adalah hal yang berbeda.

Di hari liburan, mereka bertiga pergi ke bandara pagi-pagi sekali.

Natalia mengunggah foto boarding di grup.

[Berangkat!]

Kakakku membalas: [Setelah mendarat, kami akan beristirahat di hotel dulu. Setelah Stefany naik kereta sampai nanti, kami baru akan pergi makan sama-sama.]

Andry membalas dengan 'oke'.

Tidak ada seorang pun yang menanyakan jam berapa aku tiba setelah perjalanan tiga belas jam dengan tempat duduk yang tidak nyaman.

Jadi, tidak ada yang tahu bahwa aku sedang menyeret koper, mengikuti di belakang guru dan mahasiswa pertukaran lainnya untuk melakukan check-in.

Setelah pesawat mereka lepas landas dua jam kemudian.

Di landasan pacu lain di bandara, sebuah pesawat yang menuju tujuan luar negeri perlahan membawaku meluncur ke belahan langit.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Porsi Cinta yang Berbeda   Bab 10

    Setelah kembali ke kampus, aku memfokuskan seluruh energiku kembali pada fisika.Akun media sosialku masih diperbarui, tetapi frekuensinya lebih jarang.Para penggemar mendesakku untuk memberikan kabar terbaru, jadi aku menggunggah foto laboratorium.[Belakangan ini sibuk dengan sebuah proyek, jadi nggak bisa sering-sering unggah video lagi.]Kotak masukku penuh dengan permintaan kolaborasi bisnis, tetapi aku hanya menerima beberapa yang sesuai.Aku menghabiskan sebagian besar waktuku di laboratorium, bekerja dengan para profesor mengolah data dan mempersiapkan diri untuk mendaftar studi lebih lanjut.Ketika guru bertanya jalur mana yang ingin aku tempuh di masa depan, untuk pertama kalinya aku tidak ragu-ragu."Aku ingin melakukan penelitian."Di paruh hidup pertamaku, aku bekerja mati-matian untuk mendapatkan uang agar bisa bertahan hidup.Sekarang, akhirnya aku memiliki kepercayaan diri untuk hidup mengikuti kata hatiku sendiri.Namun, orang tuaku dan kakakku belum menyerah sepenuhn

  • Porsi Cinta yang Berbeda   Bab 9

    Ibuku menatap kosong ke layar untuk waktu lama sebelum akhirnya bisa bersuara kembali."Tapi melakukan penelitian sangat melelahkan."Ayahku juga mengerutkan kening. Wajahnya tampak tidak puas."Menghasilkan uang melalui media sosial memang lebih cepat, tapi penurunan popularitas akun juga cepat. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk memanfaatkan kesempatan ini."Kakakku juga membujukku."Stefany, kami melakukan ini demi kamu juga. Jangan selalu berpikir buruk tentang keluargamu."Aku menatap mereka dan tiba-tiba tersenyum."Bagiku, menjadi putri kalian lebih menyakitkan daripada melakukan penelitian."Begitu kata-kata itu dilontarkan, ekspresi mereka semua langsung berubah.Aku tidak melihat mereka lagi, dan mendorong koperku keluar dari bandara.Namun, begitu sampai di pintu, Andry mengejarku dari belakang dan menghalangi jalanku."Stefany, aku nggak sama dengan mereka.""Mereka datang ke sini demi akun media sosialmu, tapi aku datang ke sini demi kamu."Aku berhenti dan menatap waj

  • Porsi Cinta yang Berbeda   Bab 8

    Saat program pertukaran mahasiswa selama setahun hampir berakhir, koperku jauh lebih berat daripada saat aku baru tiba.Di dalamnya terdapat album kenangan dari laboratorium, surat rekomendasi yang ditulis oleh profesor, dan undangan untuk proyek penelitian yang baru saja kuterima.Akun media sosialku telah melampaui satu juta pengikut, dan pendapatan iklan telah mencapai angka yang mencengangkan.Pesawat mendarat pada malam hari di hari kepulanganku.Saat aku mendorong koperku keluar dari gerbang kedatangan, mataku langsung menangkap empat sosok yang berdiri di tengah kerumunan.Ibuku memegang buket bunga yang besar.Ayahku membawa kotak hadiah.Ada beberapa tas belanja diletakkan di samping kakakku, dan Andry juga membawa banyak barang.Ibuku lebih dulu menghampiriku, dan menyelipkan bunga itu ke pelukanku."Stefany, kamu kurusan, tapi juga jadi cantik."Aku melirik ke bawah.Itu mawar merah muda kesukaan Natalia.Aku tidak mengambilnya, dan hanya berkata, "Aku alergi terhadap serbuk

  • Porsi Cinta yang Berbeda   Bab 7

    Beberapa bulan berlalu dengan cepat.Di luar dugaan, aku bisa beradaptasi dengan cepat.Saat baru mengikuti kelas, aku tidak begitu memahami banyak istilah teknis, jadi aku harus meninjau materi terlebih dahulu dan mendengarkan rekaman kelas berulang kali hingga larut malam.Suatu kali di kelas fisika, profesor menuliskan rumus-rumus di seluruh papan tulis dan kemudian berbalik untuk bertanya apa ada yang bisa menyimpulkan langkah terakhirnya.Ruang kelas hening selama beberapa detik.Aku mengangkat tangan dan menjawab dengan bahasa Ingis yang terbata-bata. Dia menatapku, lalu tertawa."Stefany, tetaplah di sini usai kelas."Setelah kelas berakhir, dia menyerahkan formulir lamaran asisten laboratorium kepadaku."Penyimpulanmu tentang rumus sangat bagus. Apa kamu tertarik untuk bekerja di laboratoriumku?"Hatiku kegirangan, tetapi aku berpura-pura tenang dan mengangguk."Aku tertarik."Beasiswa dan tunjangan laboratorium disetujui dengan cepat.Namun, biaya hidup di luar negeri sangat t

  • Porsi Cinta yang Berbeda   Bab 6

    Tidak perlu menjawab pertanyaan yang sama untuk kedua kalinya.Karena orang yang mengajukan pertanyaan ini mungkin sudah memiliki jawaban di dalam hatinya.Jadi, aku langsung menutup telepon.Tak lama kemudian, Andry mengirim pesan.[Aku sudah tanya. Ternyata kamu sungguh nggak menerima sepeser pun.]Tak lama kemudian, pesan dari Natalia juga masuk.[Apa yang kamu katakan pada Kak Andry?][Dia tadi marah besar. Padahal, semua orang keluar untuk bersenang-senang, tapi sekarang semuanya telah rusak gara-gara kamu.]Tak lama kemudian, ibuku juga menanyaiku.[Stefany, kenapa kamu begitu nggak pengertian?][Mentang-mentang kamu di luar negeri sekarang, kamu pun membuat kekacauan seperti itu di rumah?]Kakakku tidak pernah sabar denganku, jadi dia langsung mengirimiku pesan suara.Setelah mengkliknya, aku mendengar suara tertahannya keluar."Stefany, kamu hebat ya sekarang.""Andry barusan mengamuk. Dia ngotot ingin memeriksa aplikasi bank-ku, dan bahkan ingin meminta riwayat transaksi pada

  • Porsi Cinta yang Berbeda   Bab 5

    Saat pesawat mendarat, waktu sudah menunjukkan pagi di luar negeri.Setelah melewati imigrasi bersama guru, aku menempuh perjalanan bus selama satu jam menuju kampus sebelum akhirnya aku punya waktu untuk menyalakan ponselku.Puluhan pesan yang belum dibaca menumpuk di obrolan grup keluarga.Dimulai dari pesan dari kakakku.[Stefany, bukankah keretamu sudah sampai sejak lama?]Beberapa menit kemudian, dia bertanya lagi: [Resepsionis hotel bilang mereka nggak melihatmu. Kamu kabur ke mana lagi?]Pesan dari Andry menyusul tak lama kemudian.[Stefany, jangan marah-marah lagi. Semua orang menunggumu makan. Jangan merusak suasana.]Orang tuaku keluar satu per satu.[Adikmu mengkhawatirkanmu sepanjang perjalanan. Jangan membuatnya khawatir.][Kita semua satu keluarga, kenapa nggak bisa dibicarakan baik-baik?]Aku yang membaca pesan-pesan itu, mendadak merasa sangat lelah.Seolah-olah rasa kantuk akibat lebih dari sepuluh jam di pesawat telah hilang sepenuhnya di saat ini.Aku bersandar di pi

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status