Compartir

Bab 2

Autor: Momo
Sendok yang kupegang membeku di udara.

Daging panggang berkilauan itu tepat di depanku, tetapi nafsu makanku tiba-tiba hilang.

Aku perlahan meletakkan sendokku.

"Kalau begitu, aku nggak makan lagi. Kalian makan saja."

Natalia dengan cepat meraihku.

"Kak, jangan pergi! Kita sudah sepakat kalau aku yang traktir, jadi nggak perlu bagi tagihan."

Begitu dia selesai berbicara, wajah kakakku langsung muram.

"Nggak boleh traktir."

Usai berbicara, dia menatapku.

"Pas Natalia bilang mau traktir, kamu langsung datang. Tapi begitu dengar mau bagi tagihan, kamu langsung kabur."

"Kamu hanya ingin mengambil keuntungan dari adikmu, dan menumpang makan?"

Andry juga mengerutkan kening.

"Stefany, jangan merusak suasana."

"Asalkan kamu nggak sering beli teh boba, bukankah kamu bisa menghemat uang untuk makan?"

Aku ingin tertawa ketika mendengar itu.

Aku bahkan tidak punya cukup uang untuk makan kenyang setiap hari, jadi dari mana aku bisa punya uang untuk membeli teh boba?

Aku berdiri, lalu berkata dengan tenang, "Uangku pas-pasan saja, dan aku nggak punya uang lebih untuk membagi tagihan."

Selesai berbicara, aku langsung meninggalkan restoran itu.

Saat menuruni tangga, Andry mengejarku.

"Apa maksudmu?"

"Limit kartu kredit tambahan yang kuberikan pada Natalia 10 juta per bulan. Kudengar, Om dan Tante juga memberinya 10 juta sebagai biaya hidup."

Dia menatapku, lalu bertanya dengan bingung, "Kamu juga menerima jumlah yang sama sepertinya, 'kan? Ke mana kamu habiskan semua uangmu?"

Kecurigaan di wajahnya tidak tampak seperti pura-pura. Dia benar-benar percaya bahwa aku telah menerima uang itu.

Berpegang pada secercah harapan terakhir, aku dengan sabar menjelaskan kepadanya.

"Orang tuaku memberikan dua bagian biaya hidup pada Natalia, lalu kartu kredit tambahan yang kamu dan kakakku buka juga ada pada dirinya."

"Aku nggak mendapatkan sepeser pun."

Mendengar itu, Andry perlahan melonggarkan cengkeramannya pada tanganku.

Alisnya makin berkerut.

"Kamu hanya perlu jujur kalau kamu sudah habiskan semua uang itu. Nggak perlu berbohong seperti ini."

Aku tertegun.

Nada suaranya makin yakin.

"Teddy jelas-jelas bilang padaku kalau dia sudah membukakan kartu kredit untukmu."

"Natalia juga bilang dia hanya menerima kartu dariku saja."

"Om dan Tante selalu bersikap adil. Mana mungkin mereka memberikan biaya hidupmu pada Natalia?"

Secercah harapan terakhirku sirna. Aku memaksakan senyum.

"Ya sudah kalau nggak percaya."

Dalam perjalanan kembali ke kantin sekolah, perutku berbunyi karena lapar.

Aku sudah terbiasa kelaparan, tetapi malam ini aku tiba-tiba merasa teraniaya.

Angin malam terasa sejuk di wajahku. Aku baru menyadari bahwa wajahku telah berlinangkan air mata.

Andry jelas tidak seperti ini sebelumnya.

Sewaktu kecil dulu, meski usianya beberapa tahun lebih tua dariku, tubuhnya kurus dan kecil, jadi anak-anak lain di lingkungan sekitar tidak suka bermain dengannya.

Natalia selalu mengikuti kakakku, dan sama sekali mengabaikannya.

Hanya aku, yang juga tidak ditemani siapa pun, yang akan pergi menemuinya setiap hari.

Kemudian, dia dan kakakku diterima di universitas yang sama.

Hubungan keduanya makin dekat, dan bahkan merintis bisnis bersama.

Dia mulai memiliki banyak teman, dan sering datang ke rumahku selama liburan.

Meski aku sempat kecewa waktu itu, aku juga ikut senang untuknya.

Karena orang yang dulunya hanya ditemani olehku, kini makin disukai banyak orang.

Sebelum aku masuk universitas, Andry berjanji padaku.

Begitu aku masuk kuliah nanti, kami akan resmi berpacaran.

Namun kemudian, Andry juga yang berinisiatif bercerita pada kakakku.

"Keluarga kalian selalu adil. Kalau Stefany pacaran, tapi Natalia nggak, dia pasti akan merasa nggak nyaman."

"Kalau begitu, masalah aku dan Stefany pacaran lebih baik ditunda dulu."

Namun, apa benar keluarga kami selalu adil?

Mana mungkin Andry yang begitu cerdas tidak menyadarinya?

Dia hanya memilih untuk memercayai jawaban yang ingin dia percayai.

Aku pergi ke kantin, dan membeli makanan paling murah, menyantapnya sambil berlinangkan air mata.

Sudah hampir jam 10 ketika aku kembali ke asrama.

Saat mencuci muka, odol gigiku sudah hampir habis.

Aku meremas sekuat tenaga selama beberapa menit sebelum akhirnya bisa keluar sedikit.

Teman sekamarku sedang mengobrol di luar. Nada bicaranya dipenuhi rasa iri.

"Kalian lihat grup obrolan asrama nggak? Ada orang yang menjual satu set sampo dan kondisioner baru. Sepertinya orang tuanya nggak memberitahunya sebelumnya, jadi mereka masing-masing membelikan satu set, lalu mengirimkan dua set yang sama kepadanya."

Langkahku terhenti.

Saat melewatinya dari belakang, aku dengan santai melirik layar ponselnya.

Orang yang menerima dua set sampo itu memang Natalia.

Aku kembali ke tempat dudukku dalam diam.

Aku membuka lemari dan menuangkan sisa lotion terakhir dari botol sampel.

Kemudian, dengan terampil aku membuka aplikasi belanja dan memesan sebotol krim bayi seharga 54 ribu.

Tak lama kemudian, teman sekamarku kembali sambil membawa tas besar.

"Kalian cepat lihat!"

Dia dengan antusias mengeluarkan satu per satu barang-barang.

"Harga losion ini mulanya ratusan ribu."

"Masker wajah dan juga pembersih wajah ini semuanya masih baru."

Air mata kembali menggenang di mataku.

Aku segera menundukkan kepala, berpura-pura menelusuri ponselku.

Tiba-tiba, sebuah pesan yang sama sekali tidak aku ingat pernah muncul di hadapanku, malah ditandai sebagai sudah dibaca.

[Stefany, kampus mengadakan program pertukaran mahasiswa ke luar negeri yang akan berangkat selama liburan nanti. Apa kamu tertarik untuk berpartisipasi?]

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Porsi Cinta yang Berbeda   Bab 10

    Setelah kembali ke kampus, aku memfokuskan seluruh energiku kembali pada fisika.Akun media sosialku masih diperbarui, tetapi frekuensinya lebih jarang.Para penggemar mendesakku untuk memberikan kabar terbaru, jadi aku menggunggah foto laboratorium.[Belakangan ini sibuk dengan sebuah proyek, jadi nggak bisa sering-sering unggah video lagi.]Kotak masukku penuh dengan permintaan kolaborasi bisnis, tetapi aku hanya menerima beberapa yang sesuai.Aku menghabiskan sebagian besar waktuku di laboratorium, bekerja dengan para profesor mengolah data dan mempersiapkan diri untuk mendaftar studi lebih lanjut.Ketika guru bertanya jalur mana yang ingin aku tempuh di masa depan, untuk pertama kalinya aku tidak ragu-ragu."Aku ingin melakukan penelitian."Di paruh hidup pertamaku, aku bekerja mati-matian untuk mendapatkan uang agar bisa bertahan hidup.Sekarang, akhirnya aku memiliki kepercayaan diri untuk hidup mengikuti kata hatiku sendiri.Namun, orang tuaku dan kakakku belum menyerah sepenuhn

  • Porsi Cinta yang Berbeda   Bab 9

    Ibuku menatap kosong ke layar untuk waktu lama sebelum akhirnya bisa bersuara kembali."Tapi melakukan penelitian sangat melelahkan."Ayahku juga mengerutkan kening. Wajahnya tampak tidak puas."Menghasilkan uang melalui media sosial memang lebih cepat, tapi penurunan popularitas akun juga cepat. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk memanfaatkan kesempatan ini."Kakakku juga membujukku."Stefany, kami melakukan ini demi kamu juga. Jangan selalu berpikir buruk tentang keluargamu."Aku menatap mereka dan tiba-tiba tersenyum."Bagiku, menjadi putri kalian lebih menyakitkan daripada melakukan penelitian."Begitu kata-kata itu dilontarkan, ekspresi mereka semua langsung berubah.Aku tidak melihat mereka lagi, dan mendorong koperku keluar dari bandara.Namun, begitu sampai di pintu, Andry mengejarku dari belakang dan menghalangi jalanku."Stefany, aku nggak sama dengan mereka.""Mereka datang ke sini demi akun media sosialmu, tapi aku datang ke sini demi kamu."Aku berhenti dan menatap waj

  • Porsi Cinta yang Berbeda   Bab 8

    Saat program pertukaran mahasiswa selama setahun hampir berakhir, koperku jauh lebih berat daripada saat aku baru tiba.Di dalamnya terdapat album kenangan dari laboratorium, surat rekomendasi yang ditulis oleh profesor, dan undangan untuk proyek penelitian yang baru saja kuterima.Akun media sosialku telah melampaui satu juta pengikut, dan pendapatan iklan telah mencapai angka yang mencengangkan.Pesawat mendarat pada malam hari di hari kepulanganku.Saat aku mendorong koperku keluar dari gerbang kedatangan, mataku langsung menangkap empat sosok yang berdiri di tengah kerumunan.Ibuku memegang buket bunga yang besar.Ayahku membawa kotak hadiah.Ada beberapa tas belanja diletakkan di samping kakakku, dan Andry juga membawa banyak barang.Ibuku lebih dulu menghampiriku, dan menyelipkan bunga itu ke pelukanku."Stefany, kamu kurusan, tapi juga jadi cantik."Aku melirik ke bawah.Itu mawar merah muda kesukaan Natalia.Aku tidak mengambilnya, dan hanya berkata, "Aku alergi terhadap serbuk

  • Porsi Cinta yang Berbeda   Bab 7

    Beberapa bulan berlalu dengan cepat.Di luar dugaan, aku bisa beradaptasi dengan cepat.Saat baru mengikuti kelas, aku tidak begitu memahami banyak istilah teknis, jadi aku harus meninjau materi terlebih dahulu dan mendengarkan rekaman kelas berulang kali hingga larut malam.Suatu kali di kelas fisika, profesor menuliskan rumus-rumus di seluruh papan tulis dan kemudian berbalik untuk bertanya apa ada yang bisa menyimpulkan langkah terakhirnya.Ruang kelas hening selama beberapa detik.Aku mengangkat tangan dan menjawab dengan bahasa Ingis yang terbata-bata. Dia menatapku, lalu tertawa."Stefany, tetaplah di sini usai kelas."Setelah kelas berakhir, dia menyerahkan formulir lamaran asisten laboratorium kepadaku."Penyimpulanmu tentang rumus sangat bagus. Apa kamu tertarik untuk bekerja di laboratoriumku?"Hatiku kegirangan, tetapi aku berpura-pura tenang dan mengangguk."Aku tertarik."Beasiswa dan tunjangan laboratorium disetujui dengan cepat.Namun, biaya hidup di luar negeri sangat t

  • Porsi Cinta yang Berbeda   Bab 6

    Tidak perlu menjawab pertanyaan yang sama untuk kedua kalinya.Karena orang yang mengajukan pertanyaan ini mungkin sudah memiliki jawaban di dalam hatinya.Jadi, aku langsung menutup telepon.Tak lama kemudian, Andry mengirim pesan.[Aku sudah tanya. Ternyata kamu sungguh nggak menerima sepeser pun.]Tak lama kemudian, pesan dari Natalia juga masuk.[Apa yang kamu katakan pada Kak Andry?][Dia tadi marah besar. Padahal, semua orang keluar untuk bersenang-senang, tapi sekarang semuanya telah rusak gara-gara kamu.]Tak lama kemudian, ibuku juga menanyaiku.[Stefany, kenapa kamu begitu nggak pengertian?][Mentang-mentang kamu di luar negeri sekarang, kamu pun membuat kekacauan seperti itu di rumah?]Kakakku tidak pernah sabar denganku, jadi dia langsung mengirimiku pesan suara.Setelah mengkliknya, aku mendengar suara tertahannya keluar."Stefany, kamu hebat ya sekarang.""Andry barusan mengamuk. Dia ngotot ingin memeriksa aplikasi bank-ku, dan bahkan ingin meminta riwayat transaksi pada

  • Porsi Cinta yang Berbeda   Bab 5

    Saat pesawat mendarat, waktu sudah menunjukkan pagi di luar negeri.Setelah melewati imigrasi bersama guru, aku menempuh perjalanan bus selama satu jam menuju kampus sebelum akhirnya aku punya waktu untuk menyalakan ponselku.Puluhan pesan yang belum dibaca menumpuk di obrolan grup keluarga.Dimulai dari pesan dari kakakku.[Stefany, bukankah keretamu sudah sampai sejak lama?]Beberapa menit kemudian, dia bertanya lagi: [Resepsionis hotel bilang mereka nggak melihatmu. Kamu kabur ke mana lagi?]Pesan dari Andry menyusul tak lama kemudian.[Stefany, jangan marah-marah lagi. Semua orang menunggumu makan. Jangan merusak suasana.]Orang tuaku keluar satu per satu.[Adikmu mengkhawatirkanmu sepanjang perjalanan. Jangan membuatnya khawatir.][Kita semua satu keluarga, kenapa nggak bisa dibicarakan baik-baik?]Aku yang membaca pesan-pesan itu, mendadak merasa sangat lelah.Seolah-olah rasa kantuk akibat lebih dari sepuluh jam di pesawat telah hilang sepenuhnya di saat ini.Aku bersandar di pi

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status