Short
Porsi Cinta yang Berbeda

Porsi Cinta yang Berbeda

By:  MomoKumpleto
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
10Mga Kabanata
6views
Basahin
Idagdag sa library

Share:  

Iulat
Buod
katalogo
I-scan ang code para mabasa sa App

Menjelang liburan, sebuah pengumuman hadiah tiba-tiba menjadi viral di situs kampus. [Hadiah satu juta! Butuh rencana perjalanan selama tujuh hari dengan anggaran 40 juta.] Pengunggah juga menambahkan: [Nggak perlu terlalu menghemat bujet. Kalau nggak, nanti orang tuaku, kakak laki-lakiku, dan teman masa kecilku akan mengira aku nggak bersenang-senang.] Ada orang bertanya mengapa keempat orang itu bisa kompak mengatur perjalanannya. Dia mengunggah empat tangkapan layar transfer bank: [Karena mereka nggak saling beri tahu sebelumnya, masing-masing dari mereka memberiku 10 juta.] Kolom komentar seketika dipenuhi dengan rasa iri. Aku menatap foto profil yang familier itu, dan langsung mengenalinya sebagai adik perempuanku. Yang lebih kebetulan lagi, satu juta yang dia tawarkan sebagai hadiah untuk panduan rencana perjalanan tersebut. Adalah gaji kerja paruh waktuku yang dijanjikan oleh pemilik toko serba selama liburan. Aku tertawa getir. Keluarga kami selalu menerapkan apa yang dikenal sebagai 'sistem pembagian tugas' dalam rumah tangga. Orang tuaku, kakak laki-lakiku, dan teman masa kecilku—empat orang itu dibagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok bertanggung jawab atas biaya hidup dan kartu kredit tambahan adik perempuanku, dan kelompok yang satunya lagi bertanggung jawab atas diriku. Dengan begitu, semuanya akan adil, dan tidak akan ada yang terkucilkan.

view more

Kabanata 1

Bab 1

Namun ketika mulai masuk kuliah, aku baru menyadari bahwa aku tidak menerima biaya hidup ataupun kartu kredit tambahan.

Aku menanyakan hal itu pada ayahku, tetapi dia mengerutkan kening. "Bukannya ibumu sudah kirim ke kamu?"

Aku mencari ibuku, tetapi dia malah balik bertanya, "Bukannya itu tugas ayahmu?"

Aku tidak pilihan lain selain meminta kakak laki-lakiku agar membuka kartu kredit tambahan untukku.

Kakak laki-lakiku terkejut. "Bukannya Andry sudah membukanya untukmu?"

Namun, ketika aku mencari teman masa kecilku, dia justru berkata, "Kakakmu sudah lama membukakan satu untukmu, 'kan?"

Mulanya aku mengira itu karena mereka belum berunding untuk menyamakan cerita.

Sampai aku menyadarinya hari ini.

Bukan karena mereka belum berunding.

Melainkan mereka semuanya memilih adik perempuanku, tanpa membuat kesepakatan sebelumnya.

Setelah berpikir sejenak, aku meninggalkan komentar di bawah unggahan tersebut:

[Kepada adik yang mengunggah: Aku lebih butuh panduan bertahan hidup untuk melewati liburan selama seminggu dengan anggaran 64 ribu.]

....

Tidak sampai sepuluh detik setelah komentar tersebut diunggah.

Kolom komentar yang mulanya dipenuhi dengan kalimat-kalimat 'Kak, angkat aku jadi adikmu', dan 'definisi keluarga impian', seketika menjadi senyap.

Dalam sekejap, layar dipenuhi dengan tanda tanya.

[???]

[Kakaknya? Yang benar saja?]

[Adiknya dapat 40 juta untuk liburan seminggu, sedangkan kakaknya dapat 64 ribu untuk seminggu? Bukankah sikap pilih kasih ini sudah kelewat batas?]

Beberapa orang bahkan menandai si pengunggah, memintanya untuk muncul dan menjelaskan.

Aku sedang asyik membaca ketika unggahan itu tiba-tiba dimuat ulang.

Ketika mengkliknya lagi, jelas bahwa konten itu telah dihapus.

Dalam waktu dua menit, lebih dari belasan pesan baru muncul di obrolan grup keluarga.

Natalia Salim lebih dulu mengirimkan pesan.

[Kak, aku nggak jadi jalan-jalan. Kakak jangan marah lagi.]

Setelah itu, empat tangkapan layar pengembalian saldo dikirim ke grup.

Dia mengembalikan masing-masing lima juta kepada orang tua kami, kakak laki-laki, dan juga Andri Gunadi, tanpa kurang sepeser pun.

Makin bijaksana dirinya, makin banyak orang dalam grup tersebut yang kasihan padanya.

Ibuku langsung menanggapi dan menandaiku di grup secara langsung.

[Gadis nakal, omong kosong apa yang kamu ucapkan di luar sana!]

[64 ribu untuk seminggu? Kamu membuat kami seakan-akan telah memperlakukanmu dengan buruk!]

[Kami memberimu biaya hidup, bahkan membukakan kartu kredit tambahan untukmu. Mahasiswi mana lagi yang hidupnya senyaman dirimu?]

Dulu, ketika aku menanyakan hal itu pada mereka secara terpisah, mereka akan selalu saling lempar tanggung jawab.

Kali ini, aku langsung bertanya di obrolan grup.

[Oh ya? Terus, mana biaya hidupku? Dan mana kartu kreditnya?]

Obrolan grup sempat hening sesaat.

Ayahku segera mengirim pesan suara.

"Sudah kasih kamu uang, tapi masih saja buat onar di sini?"

"Pokoknya, kami sudah kasih uangnya. Salahmu sendiri menghabiskan semuanya, dan sekarang kamu malah menyalahkan orang tuamu?"

Aku masih ingin berdebat, tetapi kakakku keluar dan menasihatiku.

[Sudahlah, nggak perlu memperdebatkan masalah sepele.]

[40 juta itu kami berikan pada Natalia sebagai hadiah atas kerja kerasnya dalam Latihan Dasar Kepemimpinan, dan penghargaan Siswa Berprestasi yang diraihnya. Itu sebabnya, kami ingin dia pergi bersantai selama liburan nanti.]

Teman masa kecilku, Andry, juga membujukku.

[Stefany, Om dan Tante selalu adil.]

[Kali ini, Natalia dapat hadiah karena dia menjadi siswa berprestasi. Kelak kalau kamu punya prestasi, mereka pasti akan beri kamu hadiah juga.]

Ibuku langsung menimpali.

[Benar, kapan kami pernah pilih kasih?]

[Kalau kamu dapat penghargaan Siswa Berprestasi, Ibu juga akan kasih kamu hadiah.]

[Tapi jelas-jelas kamu nggak dapat!]

Kata-katanya dirangkai dengan begitu indah.

Namun, dia sepertinya lupa kalau aku bahkan tidak memiliki kesempatan untuk mengikuti Latihan Dasar Kepemimpinan.

Sebelum semester dimulai, orang tua kami yang katanya 'tidak pilih kasih' itu mendaftarkan Natalia dan aku ke kursus mengemudi.

Hanya saja, biaya kursus mengemudi yang diambil Natalia sebesar sembilan juta.

Sebaliknya, biaya kursusku hanya satu juta.

Mobil-mobil milik kursus mengemudiku sudah usang dan reyot, seolah-olah akan hancur kapan saja.

Saat ketiga kali naik mobil, rem tiba-tiba blong, dan bagian depan mobil hampir menabrak tembok.

Kaki kananku patah di tempat kejadian.

Gipsnya bahkan masih belum dibuka ketika kampus dibuka kembali.

Yang lebih menggelikan lagi, karena biaya pengobatanku menghabiskan 10 juta, orang tuaku malah menebus Natalia 10 juta agar dianggap 'adil'.

Keempat transfer yang dikirim Natalia dikembalikan oleh mereka.

Andry turun tangan untuk meredakan situasi.

[Begini saja.]

[Biar Natalia simpan uang itu dulu, terus suruh dia traktir kita makan malam untuk merayakannya. Dengan begitu, anggap saja masalah ini telah berlalu, oke?]

Aku mulanya tidak ingin ikut.

Namun, teringat diriku yang hanya makan sayur selama lebih dari seminggu ini, aku berpikir bahwa Natalia pasti akan mentraktir makan malam mewah di restoran kelas atas.

Jadi, aku dengan tidak tahu malu membalas.

[Oke.]

Keesokan harinya, aku sengaja melewatkan makan siang.

Mengingat ini bukan hanya memungkinkanku untuk makan lebih banyak di malam hari, tetapi juga menghemat biaya makan, aku diam-diam merasa senang.

Ketika tiba di restoran, kakakku dan Andry sudah ada di sana.

Mereka masing-masing memegang kotak hadiah yang dikemas dengan sangat indah.

Mata Natalia berbinar saat membuka hadiah itu.

"Kak, dari mana kamu tahu aku suka ini?"

"Andry, ini sudah lama masuk dalam daftar keinginanku!"

Aku duduk diam di samping, dengan penuh harap menantikan makan malam. Namun, Andry tiba-tiba memanggilku.

"Stefany, Teddy dan aku tadinya mau masing-masing belikan hadiah untuk kalian, tapi karena nggak berunding, kami nggak sengaja membelikan semua hadiah untuk Natalia."

"Lain kali baru beli kasih kamu, ya?"

Dulu juga seperti ini.

Selalu mengatakan mereka tidak berunding, dan semua hadiah berakhir dibeli untuk Natalia.

Awalnya, aku masih percaya mereka tidak berunding sebelumnya.

Setelah terulang berkali-kali, aku akhirnya mengerti.

Sama seperti biaya hidup dan kartu kredit tambahan, tidak ada seorang pun yang berniat memberikannya padaku.

Aku mengangguk.

"Ya."

Toh, aku tidak menginginkan hadiah apa pun saat ini.

Aku hanya ingin makan saja.

Tak lama kemudian, daging panggang disajikan.

Aku menelan ludah, bersiap mengambil sepotong daging panggang, dan menikmatinya dengan lahap.

Andry justru angkat bicara di saat ini, dan merusak suasana sekali lagi.

"Oh ya, nanti kita berempat bagi tagihannya saja."

"Makanan di sini nggak murah, dan Natalia paling muda di sini, mana mungkin kita biarkan dia yang bayar?"

Palawakin
Susunod na Kabanata
I-download

Pinakabagong kabanata

Higit pang Kabanata

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Walang Komento
10 Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status