Share

Bab 5 : Dicegat preman

Taksi itu tak langsung pergi dari terminal itu. Namun, menunggu beberapa orang yang sepertinya sudah menghubungi taksi itu. Setelah tiga orang yang masuk ke dalam taksi, taksi langsung berangkat meninggalkan terminal itu.

Supir taksi itu memilih jalur alternatif yang jarang dilalui orang agar bisa lebih cepat sampai ke tempat tujuan. Jalur itu melewati beberapa kampung dan tempat sepi yang tak berpenghuni. Keheningan malam menjadi teman perjalan mereka saat itu. Malam sudah menujukkan pukul 22.00, Amat merasa kantuk datang padanya. Dia menghela napas panjang dan menutup matanya. Namun, lima belas menit kemudian, taksi yang mereka tumpangi mendadak berhenti. Amat membuka matanya dan melihat beberapa orang mencegat taksi mereka. Para pencegat itu menyuruh Amat dan Kamal untuk keluar. Tanpa rasa takut Amat keluar dari taksi itu. Sedangkan, Kamal sebenarnya tidak ingin keluar karena merasa sedikit takut, tetapi karena tidak ingin meninggalkan sahabatnya sendirian, dia terpaksa keluar.

Setelah mereka keluar, pencegat itu menyuruh supir taksi itu untuk pergi. Karena saking takutnya, supir taksi itu bergegas injak gas dan pergi dari sana bersama tas Amat dan Kamal yang tertinggal di taksi itu. Amat terus memperhatikan ke sepuluh orang yang mencegatnya itu. Dan salah satu orang dari mereka seperti familiar bagi Amat dan Kamal.

Dengan lantang Amat berkata, "Ternyata kamu lagi, bukankah dulu pernah ku katakan untuk tidak mengganggu kami lagi ... kali ini ku jamin kamu akan menyesalinya."

Orang itu menjawab dengan marah, "Ini adalah malam di mana kamu akan mati!, karena kamu telah mencampuri urusanku dengan dia." Sambil menunjuk ke arah Kamal.

Kamal yang ditunjuk semakin merasa ketakutan.

Lalu Amat berkata, "Itu seharusnya kata-kata untukmu!" Sambil bergerak maju.

Kemudian, teriakkan lantang bergema, "Serang!" Diiringi suara langkah kaki yang berderu.

Para preman itu menyerang secara bersamaan ke arah Amat dan Kamal. Delapan orang preman menyerang Amat dan sisanya menyerang Kamal. Kamal yang terdesak terpasak melawan. Para preman yang kali ini menyerang mereka memiliki ilmu bela diri yang bagus. Sehingga, Amat tampak kesusahan menghadapi mereka. Pertempuran kali ini memang brutal. Suara tinju yang bersahutan dan tendangan-tendangan ganas yang menyakitkan terdengar hampir disetiap bagian tubuh Amat. Amat sampai terdorong mundur beberapa langkah.

Karena melihat pertarungan yang semakin tak terkendali dan melihat sahabatnya juga kewalahan. Anang bersiap mengeluarkan ilmu tenaga dalamnya. Namun sebelum sebelum itu terjadi datang seseorang yang membantunya. Orang itu menyerang para preman yang ingin menendang ke arah Amat. Dengan sigap dia juga menolong Kamal yang kewalahan. Orang itu menyapa Amat dan meminta izin untuk bertarung. Dengan senang hati, Amat mengizinkannya untuk bergabung. Kini mereka bertiga di kelilingi sepuluh orang yang siap mengkroyok mereka. Salah satu dari mereka mengeluarkan pisau dari sakunya. Perkelahian kembali dimulai ketika preman yang memegang pisau itu menyerang. Dengan tendangan kerasnya Amat berhasil melepaskan pisau itu dari genggaman pemiliknya. Dan kemudian, dia bertarung dengan yang lain.

Mereka terus dihajar dan Amat sebisa mungkin menghindari dan membalasnya serangan dari lawan-lawannya itu. Namun, karena jumlah lawan yang cukup besar dan mereka juga ahli bela diri, itu membuat Amat beberapa kali terpojok. Begitu juga dengan seseorang yang membantu mereka tadi. Kamal disamping mereka sudah terlihat babak belur.

Dengan mata yang membiru, Kamal berkata kepada Amat "Sudahi ini semua!".

Namun, belum sempat Amat menjawab, Kamal berteriak histeris melihat perutnya ditusuk dengan sebuah pisau. Amat yang melihat itu berteriak dan langsung menendang pelakunya.

Setelah itu, Kamal roboh dan sekali lagi berkata "Sudahi ini semuaaa!".

Melihat sahabatnya roboh, Amat berteriak sejadi-jadinya. Dan tenaga dalamnya kini melonjak keluar. Dia terus maju ke arah lawan sendirian. Satu persatu lawan dipukul dan di tendangnya dengan keras. Setiap dia memukul atau menendang pasti ada suara seperti tulang patah. Krek!

Hanya dengan sepuluh pukulan dan tendangan semua lawan tumbang berserakan.

Kemudian, dia mendekati orang yang telah menusuk Kamal. Dia melihat orang itu seperti harimau yang sedang bersiap menerkam mangsanya. Orang yang dipandangnya tampak ketakutan. Air mata dan keringatnya jatuh menyatu di antara mukanya yang terlihat garang.

Dengan singkat Anang berkata, "Ini kamu yang minta!".

Namun, belum sempat Amat melakukan sesuatu, polisi telah datang dan mengepung mereka. Mereka berdua dibawa ke kantor polisi, dan sisanya ke rumah sakit.

Malam itu di kantor polisi, Amat dan seseorang yang membantunya diintrogasi perihal kejadian tadi. Amat menjelaskan bahwa, dia dan temannya tidak bersalah, karena mereka hanya membela diri. Dan sepuluh preman itulah yang menyerang mereka duluan, saat mereka ingin pulang kampung.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status