Share

BAB III : Saingan

Penulis: Essenick
last update Terakhir Diperbarui: 2025-04-08 22:56:08

“Sekian rapat hari ini, ada yang mau ditanyakan?”

Galen, sang ketua umum, bersuara sambil merapikan beberapa kertas di tangannya. Matanya menyapu seluruh ruangan, berharap semua anggota sudah cukup jelas dengan hasil diskusi mereka.

Belum sempat keheningan menyelimuti, Dila dengan percaya diri mengangkat tangannya tinggi-tinggi. “Mau kolaborasi sama siapa?” tanyanya dengan nada penuh semangat.

Laura menoleh dengan alis terangkat. “Tumben lo kepo banget, Dil?” ujarnya curiga.

Dila melipat tangannya di dada. “Gue gak mau ya kolab sama organisasi gak niat kaya kapan hari. Males banget kalau ujung-ujungnya kita doang yang kerja.”

Galen mengangguk, membenarkan kekhawatiran itu. “Tenang, kali ini beda. Kita bakal kolaborasi sama BEM.”

“BEM? BEM kampus?” Dila spontan menegakkan tubuhnya, matanya berbinar penuh antusias.

“Lo kenapa, Dil?” tanya Aning, yang sedari tadi diam, kini ikut penasaran dengan reaksi tak biasa dari Dila.

Galen menghela napas panjang. Ia sudah cukup mengenal Dila untuk tahu bahwa gadis itu punya potensi menghancurkan semua rencana hanya dengan antusiasmenya yang kelewat berlebihan. “Jaga sikap loh Dil,” peringatnya dengan nada tegas.

Dila memasang ekspresi tak terima. “Loh? Emang selama ini lo gak liat gue ini anak baik, sopan, dan rajin menabung?” ujarnya dengan nada penuh pembelaan.

“Muak,” ujar mereka semua serentak, membuat Dila langsung memasang ekspresi marah.

Daren menyandarkan tubuhnya ke kursi, ekspresinya santai tapi nada suaranya menggoda. “Jangan-jangan lo lagi deket sama anak BEM, ya?”

Dila langsung menoleh dengan tatapan mengancam, tetapi sebelum sempat membalas, Leo sudah menimpali dengan ekspresi menyebalkan khasnya. “Jangan deh, Dil. Gue takut anak BEM sawan gara-gara lo.”

“Mau nyobain meninggal gak?” Dila langsung menyipitkan matanya tajam, siap menerjang kapan saja.

Namun, sebelum pertikaian kecil itu berlanjut, Laura justru ikut menimpali dengan santainya. “Jangan gitu, kalian. Dila gak pernah mau dijodohin, udah mau sama cowok tuh bersyukur. Temen lu pada gak lesbi.”

Seketika ruangan hening selama beberapa detik sebelum akhirnya meledak dengan tawa. Dila, yang awalnya hendak marah, kini hanya bisa melongo, lalu menggerutu dengan wajah merengut. “Semakin lama, semakin sialan para barudak ini.”

Galen, yang sudah cukup lelah dengan semua kekacauan ini, memijat pelipisnya dengan ekspresi putus asa. “Kita awalnya bahas apa, ya? Kenapa setiap kali udah gak serius, ujung-ujungnya selalu berakhir begini?”

Mereka semua hanya saling pandang, sebelum akhirnya tertawa lagi.

.

Dila melangkah ringan di lorong kampus, pikirannya masih dipenuhi bayangan proyek kolaborasi dengan BEM. Dia tidak sabar untuk segera memulai dan tentu saja… melihat siapa saja yang bakal terlibat.

Saat dia menoleh ke depan, matanya langsung menangkap sosok tinggi dengan kemeja santai dan ekspresi datar yang tidak asing.

Vero.

“Oh, kiw!” serunya spontan, membuat beberapa mahasiswa di sekitar mereka menoleh. Dila tidak peduli. Dengan langkah cepat, dia menghampiri cowok itu.

“Eh, eh, Mas Vero. Katanya bakal ada proyek kolaborasi sama BEM loh, berarti kita bakal sering ketemu dong! Seru banget ya? Aku yakin ini bakal jadi pengalaman gokil banget.”

Vero menoleh sekilas, ekspresinya tetap datar. “Maksudnya?” tanyanya, lalu kembali memasukkan tangan ke dalam saku celananya.

Dila melipat tangan di depan dada dan menggeleng kecil, seolah tidak percaya Vero bisa sepolos itu. “Ya maksudnya kita bakal sering interaksi, ngobrol, diskusi, ngerjain sesuatu bareng… gitu loh, Mas.”

Vero mengangguk pelan, masih dengan ekspresi yang sulit ditebak. “Saya belum pernah ACC kolaborasi sama FK loh.”

“ACC aja, Mas! Nanti bakalan sering ketemu aku loh,” ujar Dila dengan mata berbinar.

Vero menatapnya datar. “Benefitnya apa?”

Dila langsung tersenyum penuh percaya diri. “Benefitnya Mas bisa deket sama aku, nanti aku buatin bekel tiap hari.”

Vero mengangkat alis, lalu mendengus ringan. “Gak perlu. Jangan sering-sering bikinin saya bekel, saya bisa cari makan sendiri.”

“Ih, Mas kok gitu? Masakan aku gak enak?” Dila memasang ekspresi memelas, tangannya bahkan sampai mencubit lengan Vero pelan.

“Bukan gitu, Dila…”

“Yaudah berarti bekel aku diterima tiap hari. Wajib, Mas!”

Vero menghela napas panjang, seolah sudah menyerah berdebat dengan Dila. “Iya deh, iya.”

Dila tersenyum puas. “Good! See you, Mas Vero!” katanya ceria sebelum melangkah pergi.

Vero hanya memperhatikan punggung Dila yang menjauh, ekspresinya tetap tenang, datar, tapi tak menunjukkan penolakan. Seolah membiarkan Dila dengan dunianya sendiri, tanpa bermaksud menghambat ataupun menyambut.

.

Ruangan kecil di samping kantin menjadi tujuan Dila pagi itu. Di tangannya, ada sebuah kotak bekal yang baru saja dia buat. Sekalian, dia juga berniat mengambil kotak bekalnya yang kemarin.

Begitu membuka pintu ruangan ORMAWA, dia langsung berseru santai, “Misi…”

Seorang cowok yang sedang duduk di dekat pintu menoleh sekilas. “Ardila FK, ya?”

Dila hanya menyunggingkan senyum tipis sebelum melangkah masuk begitu saja. Ruangan itu tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa orang yang sedang sibuk dengan urusan masing-masing, jadi dia bisa sedikit lebih leluasa bergerak. Pandangannya menyapu meja di sudut ruangan, mencari kotak bekalnya yang sempat dititipkan kemarin.

Setelah menemukannya, dia meletakkan kotak bekal baru di tempat yang sama. “Gue nitip ini buat Mas Vero, ya.”

Namun, sebelum sempat berbalik, sebuah suara menyela dengan nada bercanda.

“Buat gue gak ada?”

Dila menoleh dengan alis terangkat. “Lo siapa?” tanyanya datar.

“Penjaga kotak bekal lo—!” jawab cowok itu dengan ekspresi menyebalkan.

Dila merotasi matanya malas. Dia mengenali laki-laki itu—salah satu kenalan Laura yang dulu sempat dikenalkan padanya. Dia menyebalkan dan miskin, sok akrab dengan semua orang tapi tak bermodal. Mereka pernah jalan berdua dan itu merupakan kali terakhir Dila harus berkenalan dengan teman Laura.

Sebelum Dila sempat membalas, pintu ruangan tiba-tiba terbuka, memperlihatkan seorang gadis muda berdiri di ambang pintu dengan ekspresi kebingungan.

“Misi, Mas Ken. Mas Vero di mana, ya?” tanyanya, suaranya terdengar cukup akrab dengan penghuni ruangan.

“Kayaknya masih di kemahasiswaan,” jawab Ken santai.

Gadis itu mendengus kesal, monolognya terdengar jelas meski pelan. “Gimana sih! Tadi katanya udah selesai!” Setelah itu, dia langsung berbalik pergi tanpa menunggu respon lebih lanjut.

Dila menyipitkan mata, memperhatikan punggung gadis itu sebelum bertanya pada Ken yang masih berdiri di sebelahnya. “Anak tahun kemarin ya, Mas?”

Ken mengangguk, mengonfirmasi. “Iya.”

“Deket banget kayaknya sama anak sini.”

“Vero suka ngajak dia ke sini soalnya.”

Dila mengangguk-angguk, berpura-pura tidak terlalu tertarik meskipun sebenarnya rasa penasaran mulai menggelitik pikirannya. Setelah beberapa detik, dia akhirnya bertanya dengan nada santai, “Siapanya Mas Vero?”

Ken mengangkat bahu sebelum menjawab asal, “Ceweknya kali.”

Tanpa pikir panjang, Dila langsung menjitak kepala belakang cowok itu.

“Gue serius, setan!” gerutunya.

Ken terkekeh, mengusap bagian yang baru saja dipukul. “Gak tahu gue. Tanyain ke Vero sendiri.”

Dila hanya mendengus pelan, menyimpan rasa penasarannya untuk nanti.

TO BE CONTINUED —

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Presiden BEM Itu Kekasihku   BAB XXIV : Sunyi yang Tidak Mencari Saksi

    Gedung sekretariat masih menyala ketika Dila tiba. Lampunya temaram, pintunya setengah terbuka. Dari dalam terdengar suara kursi digeser dan langkah kaki yang ia kenal.“Kok lama?” suara itu menyapa santai. “Gue kira gak jadi.”Dila mengangkat bahu. “Motoran macet.”Ia duduk tanpa diminta. Meletakkan tas di lantai. Gerakannya rapi, terlalu rapi untuk seseorang yang kepalanya sedang berisik.Ketua Himpunan menatapnya sekilas. Tidak lama. Tidak menusuk.“Tadi ada orang nyarin lo,” katanya sambil menuang air ke gelas plastik. “Ngaku dari luar kampus. Gayanya gak enak.”Dila mengangguk kecil. Tidak kaget. Tidak menyangkal.“Udah gue suruh balik,” lanjutnya. “Bilang urusan pribadi gak boleh dibawa ke sini.”“Thanks,” jawab Dila cepat. Terlalu cepat. Seolah takut topik itu berkembang.Ketua Himpunan tersenyum tipis. “Masalah lo apa sih?”“Bukan masalah,” potong Dila. “Cuma repot sebentar.”Selalu saja tak jauh dari alasan itu. Dila memang paling ahli menangani masalahnya sendiri, memendam s

  • Presiden BEM Itu Kekasihku   BAB XXIII : Silent Liability

    ‘Ardila, lo kejerat hutang apaan, La?! Ada orang hubungi ketua Himpunan nagih hutang lo.’ Sendok terlepas dari tangannya. Bunyinya kecil. Tapi di telinga Dila, itu terdengar seperti sesuatu yang runtuh. Nyaring. Memalukan. Dan tak bisa ditarik kembali. Dunia Dila berhenti. Kata hutang berputar-putar di kepalanya, saling menabrak, menghantam pelipisnya berkali-kali. Napasnya mendadak pendek, terputus-putus. Perutnya mengempis, jauh lebih kosong daripada sebelum ia makan. Ia kenal rasa ini. Rasa saat namanya dipakai tanpa izin. Rasa saat kesalahan orang lain mendarat tepat di dadanya. Vero menoleh cepat. “Kenapa?” Dila tersentak. Tangannya gemetar saat ia mengunci layar ponsel terlalu cepat, terlalu panik, seperti menutup luka dengan tangan kosong. “Mas…” suaranya pecah di tengah kata. Ia menelan ludah, tapi tenggorokannya terasa dicekik dari dalam. “Mas bisa pulang dulu nggak?” Kalimat itu keluar dengan susah payah. Tipis. Rapuh. Kepalanya berputar liar. Hutang a

  • Presiden BEM Itu Kekasihku   BAB XXII : Hidden Hurts

    Hari semakin siang. Matahari naik perlahan, cahayanya menembus cela jendela yang sudah lama jarang dibuka. Dila selesai membersihkan rumah. Lantainya bersih, meja rapi, seolah keadaan ini telah menutupi kehancurannya semalam.Di kamar mandi, ia duduk di lantai dingin. Kotak P3K terbuka di samping. Tangan Dila bergerak pelan, hampir tanpa suara, seperti takut mengganggu rumah itu sendiri. Kapas dibasahi, ditempelkan ke kulit yang memar. Rasa perih membuat rahangnya mengeras, tapi tidak ada keluar yang keluar. Ia terlalu terbiasa dengan perasaan itu.Perih yang dia rasa tak lebih ketimbang kesunyian sehari-hari.Rumah ini dulu penuh suara. Bahkan teriakan Bunda memanggilnya untuk bangun masih sering menjadi alarm paginya dalam mimpi. Tawa yang sesekali pecah. Nada marah yang cepat reda. Bau masakan Bunda di pagi hari.Sekarang, rumah ini hanya tinggal bangunan.Ayahnya punya hidup lain. Bundanya juga. Keluarga baru. Meja makan lain. Tawa lain. Dan tak sat

  • Presiden BEM Itu Kekasihku   BAB XXI: DIA VERO

    “Mana wanita itu?” Suara itu datang dari kegelapan. Rendah. Tajam. Dingin. Senyum Dila langsung runtuh. Jantungnya jatuh, seakan ada tangan kasar yang meremasnya tiba-tiba. Hangat yang ia bawa dari luar rumah menguap seketika, digantikan rasa dingin yang merambat cepat ke tulang. Langkahnya terhenti. Udara terasa menipis. Malam yang tadi terasa ramah, kembali menunjukkan wajah aslinya. Dan Dila tahu ia baru saja kembali ke mimpi buruk yang selama ini selalu menunggunya di rumah. Lampu menyala. Cahaya kuning itu tidak memberi rasa aman. Justru memperjelas segalanya. Seorang laki-laki paruh baya berdiri di depannya. Ayahnya. Tatapannya penuh amarah yang belum sempat reda, penuh dendam yang seolah hanya menunggu tubuh kecil di depannya untuk dilampiaskan. Dila menunduk. Ia tak sanggup menahan tatapan itu terlalu lama. Dadanya semakin sesak, napasnya tersendat, seperti ada tangan tak kasa

  • Presiden BEM Itu Kekasihku   BAB XX: HAMPIR SAJA

    Malam semakin larut. Lampu-lampu hangat kafe mulai meredup, tanda waktu kerja hampir selesai. Dila duduk sendirian di sudut meja, laptop terbuka, tab-tab tugas berantakan. Matanya berat, hari ini ia harus mengerjakan tugas berpasangan dengan Daren, tapi pikirannya sudah terlalu penuh untuk fokus. Di luar, hujan turun pelan. Suara rintiknya mengenai kaca seperti ritme nina bobo yang justru membuat kelopak matanya semakin turun. Aroma kopi yang tersisa di udara membuat suasana makin tenang, terlalu tenang… sampai hampir membuatnya tertidur. Kemudian tiba-tiba bel pintu berbunyi. Menandakan ada pelanggan masuk sebelum jam kerjanya habis. Dia mengangkat kepala dengan malas, sedikit kaget karena jam layanan tinggal beberapa menit lagi. Ia menutup laptopnya separuh, menarik napas, lalu bangkit dari kursi. Ia melangkah menuju kasir sambil merapikan apron yang sejak tadi kusut. “Selamat malam, Kak. Mau pesan apa?” Dila tercengat.

  • Presiden BEM Itu Kekasihku   BAB XIX: SUNYI

    Hari itu berjalan seperti biasanya, meski dada Dila masih terasa sesak membawa sisa-sisa malam kemarin. Nada suara Ayahnya, tatapan tajam itu, tuduhan yang menusuk… semuanya masih menggantung seperti kabut yang enggan pergi. Kepalanya penuh. Bahkan saat rapat sekalipun, pikirannya masih sibuk memikirkan bagaimana ia harus menyampaikan maksud Ayah pada Bundanya. Ragu itu menggigit dari dalam. Di ruang BEM, semua anggota sie sponsor berkumpul. Berkas-berkas berserakan, suara diskusi memenuhi ruangan, dan Vero sibuk meninjau proposal. Dila mencoba fokus, padahal jantungnya berdetak tak karuan. “Dila udah makan?” suara Daren tiba-tiba terdengar dari pintu. Seisi ruangan sontak menoleh. Suara Daren memang cukup nyaring, tapi perhatian semua orang justru jatuh pada Dila—yang seketika membeku. Dila reflek menatap Vero. Bukan untuk izin sebenarnya… tapi karena entah kenapa, setiap kali namanya dan nama Daren disebut bersamaan,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status