แชร์

BAB II : Untuk Pandangan Pertama

ผู้เขียน: Essenick
last update วันที่เผยแพร่: 2025-04-08 20:26:05

Malam pun tiba. Dila berjalan gontai pulang ke rumah, tubuhnya terasa lelah setelah seharian berjaga di stand bazar ditambah pulangnya dia juga harus bekerja di kafe dan bersama Daren lagi. Ia mendesah pelan, menyesali kesempatan yang terlewat begitu saja. Seharian ini, ia tidak sempat berbicara lagi dengan Vero karena standnya mendadak ramai.

Saat akhirnya ia punya waktu luang, laki-laki itu sudah pergi entah ke mana. Dila hanya bisa berharap besok, di hari terakhir bazar, ia bisa kembali bertemu dengan cinta pandangan pertamanya itu.

Begitu sampai di rumah, Dila langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur dengan dramatis. Senyum bodoh terukir di wajahnya saat mengingat betapa tampannya Vero. Setiap detail wajahnya, suara baritonnya yang terdengar tenang, bahkan ekspresi bingungnya saat Dila menatapnya terlalu lama—semuanya membuatnya semakin yakin dia harus mengenal laki-laki itu lebih dalam!

Ada kalanya jodoh musti dijemput.

Setelah beberapa saat berkhayal, Dila mengeluarkan ponselnya. Ada satu orang yang harus pertama kali tahu soal ini. Tanpa ragu, ia menekan nama Laura di daftar kontak dan segera melakukan panggilan.

“Halo?” suara Laura terdengar sedikit malas dari seberang.

“Laura, kali ini gue jangan dijodohin lagi!” seru Dila penuh semangat. “Jodoh gue udah datang sendiri ke stand bazar!”

Hening sebentar.

“…Lo ngomong apa sih, Dil?” suara Laura terdengar waspada, seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

Dila terkikik sendiri. Dengan percaya diri, ia membayangkan masa depannya yang cerah bersama Vero. “Udah ya, kali ini kalau gue dikenalin ke Mama juga langsung yes si Mama teh!” katanya sok yakin.

“...Sumpah! Lo udah gila kelamaan jomblo, ya?”

Dila hanya tertawa, tidak terpengaruh sedikit pun. “Nggak, ini jodoh yang udah Tuhan tunjukin ke gue. Serius, Lau! Gue yakin banget!”

Di seberang telepon, Laura terdengar menghela napas panjang. Lalu, dengan nada yang sulit ditebak, ia bergumam, “Gue takut, jujur aja.”

Dila tertawa kecil, hampir terdengar jahat, sambil membayangkan bagaimana hidupnya jika bisa mengenal Vero lebih dalam. Seorang presiden BEM, tampan, anak Fakultas Kedokteran. Paket lengkap.

Dia membayangkan berjalan berdampingan dengan Vero di kampus, semua orang menoleh penuh iri. Gak akan ada yang meremehkan dia lagi! Siapa yang bakal menyesal kalau punya pacar sekeren itu? Jelas bukan Dila!

Sementara di seberang telepon, Laura hanya bisa menghela napas panjang. Mendengar suara tawa Dila yang semakin lama semakin mengerikan, ia pun memilih untuk langsung menutup panggilan.

"Horor." batin Laura.

"Aneh seperti biasa."

Namun, sebagai sahabat Dila, ia hanya bisa memaklumi kelakuan perempuan itu yang memang sering kali tidak bisa ditebak.

Tapi Dila tidak berhenti sampai di situ. Ia segera membuka ponselnya dan mengirim pesan ke satu orang yang kemungkinan besar bisa membantunya.

Dila: Daren, gue mau minta nomornya pres BEM dong.

Dila tersenyum puas. Menyerahkan soal jodoh ke takdir? Tidak ada dalam kamus hidupnya! Menjemput jodoh lebih dulu itu bukan tindakan kriminal, kan?

Tak butuh waktu lama, ponselnya bergetar. Bukan balasan chat, tapi panggilan masuk dari Daren.

Tanpa ragu, Dila langsung mengangkatnya. “Halo?”

Dari seberang sana, suara Daren terdengar waspada. “Dila, lo sehat?”

Dila mengerutkan kening. “Apaan sih?”

“Gue ulang ya, lo sehat gak, Dil? Atau ini efek kelamaan jomblo?”

Dila mendengus. “Halah, lo kebanyakan bacot. Kasih aja nomornya.”

Daren tertawa pelan, tapi ada nada takut di balik tawanya. “Lo serius mau nomor Mas Vero? Lo mau apain?!”

“Ya kenalan lah, Daaar…” jawab Dila dengan nada manja yang malah bikin Daren semakin curiga.

“Lo yakin bukan buat jual ke calo?”

“Ya enggak lah, goblok!”

Daren terdiam sebentar. Lalu mendesah panjang. “Sumpah, Dil. Gue makin takut ama kelakuan lo.”

Dila hanya cengengesan. “Udah buruan kasih, Daren. Jangan pelit. Gue ini calon pacarnya loh!”

Hening sejenak. Seolah Daren masih ragu dengan keputusannya. Tapi pada akhirnya, sebuah pesan masuk ke ponsel Dila.

Daren: 0812XXXXXXX – Jangan lo apa-apain, Dil. Sumpah, gue gak mau kena getahnya kalau lo ngelakuin hal aneh.

Dila tersenyum penuh kemenangan. Langkah pertama sukses!

Dila langsung mengetik pesan ke nomor yang diberikan Daren.

Tidak ada waktu untuk ragu.

Jangan harap dia bakal menunggu kesempatan datang sendiri—kalau bisa dikejar, kenapa harus menunggu? Dila percaya, kalau dia tak segera bergerak, bisa-bisa kesempatan untuk mengenal Vero hilang begitu saja.

Jarinya lincah menari di atas layar, menyusun kata-kata dengan hati-hati.

Harus terdengar santai, tapi tetap meninggalkan kesan.

Dila:

Tak kenal maka tak sayang, habis kenal maka harus disayang. Mas Vero masih inget nggak sama aku? Cewek yang tadi di bazar sama Mas. Kenalin, nama aku Ardila, orang-orang manggilnya Dila. Kalau kamu sayang, juga boleh~

Dila membaca ulang pesannya, lalu tersenyum simpul. Udah pas.

Tanpa pikir panjang, ia langsung menekan tombol kirim.

Tak butuh waktu lama, tanda centang dua segera muncul. Dibaca.

Dila menahan napas, menunggu dengan jantung berdebar. Dan dalam hitungan detik, balasan datang.

Mas Vero: Kamu dapat nomor saya dari siapa?

Dila mengangguk pelan. Wajar sih dia nanya begitu. Tapi kalau langsung dijawab jujur, kayaknya nggak seru. Maka, dengan cekatan, dia mengetik balasan.

Dila: Rahasia~

Terkirim.

Dila menunggu, dan lagi-lagi Vero langsung membalas.

Mas Vero: Ada perlu apa sama saya?

Dila tersenyum penuh kemenangan. Masih dibales, berarti ada harapan.

Tanpa ragu, dia membalas dengan nada santai.

Dila: Bakal ada banyak perlu, jadi Mas jangan bosen-bosen bales chat aku ya~

Setelah mengirim pesan itu, Dila meletakkan ponselnya di samping kepala, masih tersenyum sendiri.

“Awal yang bagus,” gumamnya.

Merasa puas dengan interaksi singkat itu, Dila akhirnya bangkit dari kasur dan berjalan ke kamar mandi. Hari ini menyenangkan, tapi besok harus lebih baik lagi.

.

Pagi tiba, dan Dila sudah berkutat di dapur bahkan sebelum matahari menampakkan diri. Tangannya cekatan menata lauk satu per satu ke dalam kotak bekal, memastikan semuanya tersusun rapi. Bukan bekal biasa, ini untuk orang spesial.

Dari tadi senyumnya tak luntur. Bayangan tentang ekspresi Vero saat menerima bekal darinya terus berputar di kepalanya. Kira-kira dia akan senang? Gak nyangka? Atau malah langsung mau jadian, ya?

"Hitung-hitung simulasi berumah tangga," gumamnya sambil terkikik sendiri.

Setelah memastikan semuanya sempurna, Dila menyeka tangannya dan mengambil ponsel. Jarinya dengan cepat mengetik pesan.

Dila:

Mas Vero, pagi ini aku bawain sarapan buat kamu. Aku anter ke ormawa ya~

Dila menekan tombol kirim dengan penuh percaya diri. Hari ini pasti akan jadi hari yang menyenangkan.

Dila melirik jam di dinding dan terkejut—ternyata sudah siang! Astaga, keterusan masak!

Hari ini, bekal yang ia siapkan punya banyak varian menu. Mungkin itu sebabnya waktu terasa begitu cepat berlalu. Tapi tak ada penyesalan, yang penting Vero dapat makanan terbaik.

Namun, ada masalah lain. Ia juga punya kelas pagi! Jika terlalu lama, bisa-bisa ia tak sempat mengantarkan bekal itu sendiri.

Tanpa berpikir panjang, Dila segera bergegas ke kamar mandi. Setelah ini, ia harus bersiap secepat mungkin agar semuanya tetap berjalan sesuai rencana.

Tak butuh waktu lama bagi Dila untuk bersiap. Dengan cekatan, ia menyelesaikan semuanya lalu berangkat tepat sesuai rencananya.

Sepanjang perjalanan, pikirannya dipenuhi berbagai pertimbangan—pintu ORMAWA bakal dibuka jam berapa? Kalau seperti kemarin, setelah acara besar, biasanya ada yang menginap di sana untuk persiapan esok harinya.

Dila tersenyum puas. Rencananya berjalan lancar.

Setibanya di kampus, ia langsung menuju ruang BEM. Dari kejauhan, terlihat beberapa laki-laki anggota BEM tengah sibuk mempersiapkan beberapa barang. Tanpa ragu, ia melangkah masuk, membawa kotak bekal di tangannya dengan hati-hati.

Dila membayangkan ekspresi Vero saat menerimanya. Harusnya senang, kan?

“Permisi, Mas Vero ada?” tanyanya sambil mengintip dari balik pintu.

Beberapa pasang mata menoleh ke arahnya. Salah seorang anggota BEM yang tengah duduk di dekat meja menatapnya heran.

“Dila?”

Dila menoleh ke arah suara itu, ternyata sosok yang bicara bukan yang tadi ia tanyai.

“Ngapain di sini?”

Dila tersenyum lebar, lalu mengangkat kotak bekalnya tinggi-tinggi. “Ngantar bekalnya Mas Vero.”

Laki-laki itu menaikkan alis, lalu menoleh ke teman-temannya yang mulai bersiul kecil, menggoda suasana.

“Kayaknya Vero masih sibuk, sini buat gue aja,” ujarnya, nyengir.

Dila langsung menggeleng kuat. “Gue buatin ini buat Mas Vero, bukan buat satwa liar.”

Sontak ruangan itu riuh dengan tawa.

“Sialan lo!” ujar laki-laki itu sambil berjalan mendekati Dila, tapi gadis itu segera mundur selangkah, masih mempertahankan bekalnya erat-erat.

“Sini, nanti gue sampaiin.”

Akhirnya, salah satu anggota BEM menengahi mereka. Ia menerima kotak bekal dari tangan Dila, lalu meletakkannya di atas etalase dengan santai.

Dila mengangguk sambil tersenyum puas. Misi mengantar bekal sukses!

Tanpa berlama-lama, ia berbalik meninggalkan ruangan. Namun, sebelum benar-benar pergi, ia sempat melirik ke arah laki-laki yang tadi sok akrab dengannya.

“Dadah, monyet,” ujarnya santai, lalu melenggang keluar dengan langkah ringan.

Di belakangnya, terdengar suara tawa serta protes dari laki-laki itu. “Awas ya lo, gak gue jodohin sama Vero!”

Tapi Dila malah menjulurkan lidahnya mengejek.

TO BE CONTINUED —

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Presiden BEM Itu Kekasihku   BAB XXXV : HOME 2

    Dila berdiri diam. Tangannya mengepal di sisi tubuh, kukunya menekan kulit sendiri, tapi rasa itu kalah jauh dari yang baru saja ia dengar. “Aku…” suaranya tertahan. Serak. “Aku kerja.” “Iya kan ngelayani cowok tadi, kan.” Ayahnya tertawa lagi. Pendek. Sinis. Dila menunduk. Kecewa dengan seluruh dugaan ayahnya. Dadanya semakin sesak tiap ayahnya melengkapi kalimat jahat itu. “Itu temen kampus.” “Teman?” ulangnya, kali ini lebih pelan tapi jauh lebih tajam. “Jangan naif, Dila.” Langkahnya mendekat. Satu. Dua. Jarak di antara mereka semakin sempit. “Cewek kalau udah biasa pulang sama cowok malam-malam, ujungnya ke mana gue juga tahu.” Kalimat itu diucapkan keras. Tanpa jeda. Dan cukup untuk menghancurkan. Dila menggeleng kuat. Napasnya berat, tapi kali ini ia tidak mundur. Dengan sisa keberanian yang entah datan

  • Presiden BEM Itu Kekasihku   BAB XXXIV : HOME

    Malam turun lebih cepat dari yang Dila sadari. Lampu jalan memantul di kaca etalase, membentuk garis-garis panjang yang berlari bersama waktu. Ramainya pelanggan sepanjang hari menyita hampir seluruh tenaganya, sampai ia baru benar-benar sadar jam pulang sudah di depan mata. “Closing sekarang aja,” ujar Daren dari ujung ruangan. “Biar nggak terlalu telat pulang.” Dila mengangguk kecil. Tanpa banyak bicara, ia mulai membereskan meja kasir, merapikan nota, dan menutup laci satu per satu. Sesekali matanya melirik ke arah laki-laki dengan secangkir kopi di meja pojok, tangannya sibuk dengan ponsel, tapi jelas menunggu. Beberapa menit kemudian, semua selesai. Dila menghela napas pelan, lalu menjatuhkan diri ke kursi di depan mesin kasir. “Capek?” tanya Daren singkat. Dila mengangkat alis. “Menurut lo?” Daren terkekeh pelan, “Ya kali gue nanya kalau lo kelihatan seger.” Tanpa menunggu

  • Presiden BEM Itu Kekasihku   BAB XXXIII: Sisa Cahaya, Sisa Ragu

    Beberapa menit berlalu dalam hening yang nyaman. Hanya suara mesin dan lagu dari radio yang mengisi ruang di antara mereka. Dila mulai bisa bernapas lega sepertinya Vero sudah tidak menyinggung soal lukanya lagi. Begitu mobil memasuki area kampus, Vero memperlambat laju kendaraan. “Nanti makan siang pakai apa?” tanyanya tiba-tiba, nadanya santai tapi tetap penuh perhatian. Dila melirik, sedikit terkejut dengan pertanyaan itu. “Gak tahu,” jawabnya singkat. Vero mengangkat alis, lalu tersenyum kecil mendengar jawaban ambigu itu. “Berarti saya harus pastiin kamu beneran makan,” ujarnya ringan. Dila terkekeh. Hubungannya dengan Vero memang sering diwarnai hal-hal kecil seperti ini—menggemaskan, sekaligus menenangkan. “Aku yang pastiin aku makan, Mas. Aku bisa,” katanya sambil menatapnya sekilas. Vero mengangguk pelan. “Iya, iya… yang bisa,” balasnya cepat. “Tapi kamu tuh sering lupa makan.” Ia berhenti sejenak sebelum menambahkan, “Nanti sore saya jemput, ya? Sekalian makan bareng.

  • Presiden BEM Itu Kekasihku   BAB XXXII: Still Standing

    Kampus sudah ramai bahkan sebelum jam pertama dimulai. Motor Daren berhenti di parkiran fakultas, berderet di antara kendaraan lain yang tampak sama lelahnya. Dila turun, melepas helm, lalu menghembuskan napas pelan, seolah baru sekarang paru-parunya benar-benar bekerja. “Jangan ngelamun,” kata Daren sambil mengunci stang. “Nanti ditabrak scopus.” Dila mendecak pelan, malas menanggapi tuturan tak penting Daren yang selalu berhasil menyebalkan. Ia melangkah menuju gedung fakultas, Daren menyusul di belakang dengan langkah santai. Baru beberapa meter, suara seseorang memanggil dari arah depan. “Dila?” Langkah Dila terhenti. Ia mendongak. Seorang laki-laki berdiri di bawah pohon ketapang, kemeja putih digulung sampai siku, tas selempang disampirkan rapi. “Oh,” ucap Dila ragu. “Kenapa Mas?” Vero mendekat beberapa langkah. “Gue mau minta tolong, kan lay out-nya udah jadi, nanti setelah matkul bisa kan kamu yang aturin?” Dila mengangguk kecil. "Bisa Mas, habis matkul aku langsung

  • Presiden BEM Itu Kekasihku   BAB XXXI : D-DAY

    Matahari meninggi seperti seharusnya.Dila bangun sebelum alarm, lebih karena suara langkah kaki seseorang di dapur daripada kesiapan tubuhnya sendiri. Rumah yang biasanya sepi menjadi sedikit menakutkan jika laki-laki itu menemukannya.Benar. Dia seharusnya tidak pernah pulang. Ia tidak langsung bangun. Napasnya ditahan, telinga menangkap suara gelas diletakkan terlalu keras, kursi yang ditarik tanpa sabar. Bau kopi pahit merayap masuk ke kamar, membawa serta perasaan yang tidak pernah benar-benar pergi.Ponselnya bergetar di atas kasur.Pesan dari nama kontak Daren. “Kelas jam berapa?”Alih alih membalas, Dila justru meletakkan ponsel itu kembali. Ia bergeser pelan, meringkuk di sisi ranjang dekat nakas, menahan suara apa pun yang bisa mengkhianatinya. Seolah dengan diam, ia bisa membuat dirinya tak terlihat.Langkah kaki itu mendekat.Berhenti tepat di depan pintu kamarnya.Dila menutup mata.Beberapa detik terasa seperti menit. Pegan

  • Presiden BEM Itu Kekasihku   BAB XXX : NEW

    “Kamu udah pulang? Saya pengen ketemu sebentar.”Dila menatap layar ponsel itu lama, sampai lampunya meredup sendiri. Ia menghela napas pendek, lalu bangkit berdiri.“Iya Mas, udah di rumah” balasnya akhirnya.Dila berakhir duduk di ruang tamu menunggu suara mobil yang menyenangkan. Tak sampai lima menit, bunyi mobil yang familiar berhenti di depan pagar. Dila meraih jaket tipis, menyampirkan asal, lalu keluar rumah tanpa benar-benar menyiapkan diri.Vero berdiri di luar pagar dengan senyum yang selalu berhasil membuat Dila lupa setengah dari masalahnya. Rambutnya rapi, kemeja sampai siku, wangi sabun bercampur tipis menyapa sebelum kata apapun keluar.“Ganggu istirahat kamu ya?” tanyanya, nada suaranya lembut, nyaris hati-hati.Dila menggeleng. “Enggak. Masuk aja.”Mereka duduk di teras. Jaraknya cukup dekat untuk saling dengar napas, cukup jauh untuk pura-pura aman. Vero memainkan kunci motornya, memutar-mutarnya di jari, seolah sedang mencari

  • Presiden BEM Itu Kekasihku   BAB XIX: SUNYI

    Hari itu berjalan seperti biasanya, meski dada Dila masih terasa sesak membawa sisa-sisa malam kemarin. Nada suara Ayahnya, tatapan tajam itu, tuduhan yang menusuk… semuanya masih menggantung seperti kabut yang enggan pergi. Kepalanya penuh. Bahkan saat rapat sekalipun, pikirannya masih sibuk mem

  • Presiden BEM Itu Kekasihku   BAB XVII: TAK TENANG

    Setelah menyelesaikan makan siang, mereka langsung berniat pulang. Mobil melaju pelan menuju rumah Dila. Hujan rintik mulai reda, meninggalkan udara lembap yang menempel di kaca jendela. Dila duduk di samping Vero, tangannya refleks menutupi perban yang terlihat dari balik jaket tebalnya. Begitu m

  • Presiden BEM Itu Kekasihku   BAB XIV : The Night She Went Home

    Dila sebenarnya berbohong. Dia tak benar-benar lembur. Begitu praktikum selesai, dia buru-buru pulang karena harus menggantikan shift Raka di kafe—rekan kerjanya itu terpaksa pulang lebih awal karena sakit. Sebagai bentuk tanggung jawab atas keterlambatannya kemarin, Dila tak bisa menolak ketika

  • Presiden BEM Itu Kekasihku   BAB XIII : Another day

    Pagi itu Dila membuka matanya perlahan. Tubuhnya terasa berat, seperti habis dihantam dunia. Setiap gerakan menimbulkan rasa nyeri. Tubuh dan pikirannya sudah terlalu terbiasa dengan rasa sakit. Dengan pelan, ia bangkit dari kasur dan melangkah ke dapur. Matahari belum t

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status