Home / Romansa / Presiden BEM Itu Kekasihku / BAB I : Pandangan pertama

Share

Presiden BEM Itu Kekasihku
Presiden BEM Itu Kekasihku
Author: Essenick

BAB I : Pandangan pertama

Author: Essenick
last update Last Updated: 2025-04-08 20:01:09

“Sumpah, kalo lo kasih nomor gue lagi, Laura, gue bakar sepatu Converse lo!”

Teriakan itu menggema di lorong fakultas, diiringi suara langkah cepat Dila mengejar Laura yang tertawa sambil lari kencang. Beberapa mahasiswa yang lewat menoleh, bingung—sekaligus terhibur melihat dua gadis itu berkejaran.

“Dila!!!”

Teriakan itu kembali terdengar dari gadis yang sekarang sudah bersembunyi di balik tiang, ngos-ngosan dengan tas ransel di punggungnya.

Laura akhirnya berhenti, menunduk sambil tertawa, lalu menyodorkan layar ponselnya ke Dila yang masih mengejarnya dengan napas memburu.

Tring—

Dila mendengar suara notifikasi ponselnya berbunyi.

Tring—Tring—Tring—

Semakin lama, semakin banyak pesan masuk. Dila mengerutkan keningnya, lalu mengambil ponselnya dengan ekspresi kesal.

“Apa sih? Berisik banget!” gumamnya, marah.

Ketika melihat layarnya, amarahnya langsung meledak.

“LAURA!!!”

Ternyata, si anomali bernama Laura itu sudah seenaknya memberikan nomor Dila ke laki-laki yang katanya “teman.”

Dengan wajah merah padam, Dila menatap tajam ke arah Laura—yang tentu saja sudah bersiap melarikan diri lagi.

“SINI LO!!!”

Laura hanya tertawa sambil berlari menjauh, sesekali menoleh dan melempar ekspresi mengejek.

Dila mengepalkan tangan. Sayangnya, anak menyebalkan itu adalah sahabat terdekatnya.

Tiba-tiba, ponselnya berdering. Melihat nomor tak dikenal, Dila langsung memblokirnya. Sudah bisa ditebak, itu pasti teman Laura yang terlalu agresif ingin mengenalnya—sampai-sampai langsung menelepon.

Namun, belum sempat ia menghela napas, ponselnya kembali berdering. Kali ini, nama ‘Aning’ tertera di layar. Dengan cepat, Dila menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya.

“Halo, Kenapa?”

Alih-alih langsung menjawab, suara dari seberang malah terdengar bercakap dengan orang lain. “Loh, ini loh aku dijawab, Gal.”

Kemudian tiba-tiba, suara lain berteriak dari kejauhan, “Ardila bokem!!! Kurang ajar lo blokir nomor gue, ya?!”

Dila menjauhkan ponselnya dari telinga. “Apaan sih?” tanyanya bingung.

“Lo blokir Galen?

“Hah? Nggak.” Jawabnya kemudian mengecek daftar blokirannya yang ternyata sudah menumpuk banyak.

“Udah, ke Ormawa aja sini.” Suara Aning mengalihkan fokusnya.

“Ngapain?”

“Rapat, buruan.”

“Ya.”

Dila mendesah, menyesali keputusannya menjawab telepon tadi. Dengan malas, ia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju ruang organisasi mahasiswa.

Begitu membuka pintu, suara riuh langsung menyambutnya. Ruangan itu sudah dipenuhi anggota organisasi yang tengah bercanda satu sama lain.

“Nah, ini dia bintangnya!” seru seorang laki-laki berambut short curly crop.

Dila mengerutkan kening. “Ada apa?”

Aning dan Laura, yang duduk di sudut ruangan, hanya menggeleng pelan. Tatapan mereka seolah berkata, Lo bakal kena nih.

“Gue tebak, lo nggak ngesave nomor gue,” tembak Galen dengan nada serius, tatapan permusuhannya tertuju langsung pada Dila.

Dila tak langsung menjawab. Ia malah berpura-pura mengalihkan pandangan ke segala arah. “Tapi gue tahu nomor lo kok,” ujarnya santai.

“Kalau tahu, kenapa lo blokir gue?”

Dila terdiam. “Nggak” bantahnya kemudian Ia buru-buru membuka daftar blokiran di ponselnya, ingin menunjukkan nomor siapa saja yang dia blokir, dan… matilah dia. Ada nomor yang tidak asing di sana.

Gadis itu langsung gelagapan, lalu—dengan cepat—mematikan ponselnya. “Nggak sengaja,” jawabnya penuh harap.

Terdengar helaan napas panjang dari arah Galen, tanda ia sedang menahan emosi. Dila buru-buru menunduk sedikit, memasang ekspresi paling menyedihkan yang bisa ia buat.

“Lo emang minta di sentil nadinya, ya.”

Galen berkata dengan nada geram, yang langsung disambut riuh seluruh isi ruangan.

Dila mengerucutkan bibirnya. “Maaf, Galen…” ujarnya dengan nada sesedih mungkin.

“Tipuan anak kentut itu! Jangan percaya, Galen!” seru Leo, si laki-laki berambut curly yang sedari tadi menahan tawanya melihat Dila terpojokkan.

“Diam lo!” balas Dila sengit.

Leo malah tertawa terbahak-bahak. “Saking semangatnya blokir orang ya, La?”

Dila mendesah, menundukkan kepalanya dengan pasrah.

“Dila menurut ulama,” sela seseorang di tengah ruangan.

“Haram!” sahut yang lain kompak.

Dila menatap sekeliling, mendengus. “Ini udah termasuk pembulian, nggak sih?”

“Bisa-bisanya nomor ketum nggak di-save,” ujar Aning dengan nada menyindir. “Dari bulan berapa dia menjabat, Dila?”

Dila memutar bola matanya. “Emang isinya anak anj semua!” gumamnya pelan. Namun, begitu melihat tatapan tajam dari beberapa arah, gadis itu langsung menunduk kikuk.

“Save nomor gue, Dila. Gue ini orang penting,” kata Galen dengan penuh percaya diri.

Dila menatapnya lekat-lekat, lalu menghela napas panjang.

“Gak pernah semuak ini.”

—•§•—

Seminggu kemudian.

“Tiga hotdog, Mbak.”

Dila mencatat pesanan dengan teliti. Sudah jadi tugasnya menulis dan menelaah pengeluaran serta pemasukan stand bazar tahun ini.

Saat sedang sibuk dengan catatannya, tiba-tiba matanya menangkap sosok laki-laki yang duduk di salah satu kursi depan stand mereka. Wajahnya serius menatap layar laptop, sesekali menggigit hotdog dengan tenang.

Senyum kecil terukir di wajah Dila. Ia menoleh ke arah temannya yang berdiri tak jauh darinya. “Daren!” panggilnya sambil menatap si pemilik nama.

“Apa?”

Hening sejenak, lalu Dila menunjuk dengan dagunya. “Lo tahu cowok itu nggak?”

“Mana?” Daren mengerutkan kening, penasaran. Jarang-jarang melihat Ardila tertarik dengan seorang laki-laki.

“Itu tuh, yang lagi makan hotdog kita sambil hadap laptop.”

“Oh, Mas Vero?” sahut suara lain sebelum Daren sempat menjawab.

Dila langsung menoleh ke sumber suara. “Lo tahu dari mana namanya Vero?” tanyanya curiga.

Temannya itu menatapnya dengan ekspresi ‘serius lo nanya gitu?’. “Lo nolep apa gimana sih? Dia Presiden BEM, njir.”

Dila makin bingung. Ini dia yang kurang info, atau kurang teman, sih? Masa Presiden BEM aja dia nggak tahu?

“Lo beneran nggak tahu, La?” tanya Daren memastikan.

Dila menggeleng polos. “Nggak…”

Daren hanya bisa menghela napas panjang melihat kelakuan Dila.

Dila masih terus menatap ke arah Vero, matanya berbinar seolah menemukan hal baru yang menarik. “Dia pesen lagi nggak tadi?” tanyanya tiba-tiba.

Daren menatap Dila dengan ekspresi tak percaya. “Lo nanya gue? Gak tahu, Dila, kan yang nerima pesenan lo, dongo!”

Tapi Dila tak mendengarkan. Ia masih sibuk mengamati laki-laki itu. Jadi namanya Vero, ya? Dia terlihat… spesial.

“Bikinin hotdog gih,” titahnya ke Daren tanpa mengalihkan pandangan.

“Dih, enak lo! Bikin sendiri lah.”

Lagi-lagi, Dila tak menjawab. Senyumnya semakin lebar.

Kemudian, tanpa aba-aba, ia berdiri dan berjalan menuju meja tempat Vero duduk. Ia berhenti tepat di depannya, diam cukup lama sampai laki-laki itu akhirnya mengangkat kepalanya.

“Kenapa, Mbak?” tanyanya ramah.

Dila tersenyum, senang mendengar suara laki-laki itu lebih dekat. “Gimana hotdognya, Mas? Enak, nggak?”

Vero melirik hotdog di tangannya, lalu kembali menatap Dila bergantian. “Enak kok, Mbak,” jawabnya sambil tersenyum.

“Mau lagi?” tawar Dila penuh harap.

Vero menggeleng cepat, jelas menolak tawaran yang datang tiba-tiba itu. “Nggak, makasih, Mbak.”

Dila tak kehabisan akal. “Aku boleh duduk sini, Mas?” tanyanya, tanpa menunggu jawaban, ia sudah menarik kursi di samping Vero.

Vero mengernyit. “Nggak jaga stand, Mbak?”

Dila menoleh sekilas ke standnya. Masih sepi, dan Daren sepertinya masih bisa menanganinya sendiri. Ia tersenyum santai.

“Gampang itu. Aku temenin Mas-nya aja di sini, ya?” katanya riang, lalu duduk tepat di samping laki-laki itu.

Dila menatap Vero dengan mata berbinar, seolah laki-laki itu adalah penemuan paling menarik sepanjang hidupnya. Ia menopang dagu dengan kedua tangan, masih tersenyum lebar.

Vero, yang awalnya sibuk dengan laptopnya, mulai merasa sedikit risih. Ia melirik Dila sekilas, lalu mengalihkan pandangannya ke layar, mencoba fokus kembali. Namun, tatapan gadis di sampingnya terasa begitu intens.

“…Mbak, kenapa liatin saya gitu?” akhirnya Vero bertanya, merasa tidak nyaman.

Dila hanya mengedip polos. “Nggak apa-apa. Mas-nya enak dilihat.”

Vero mengerjapkan mata, tak tahu harus merespons seperti apa. Namun, sebelum ia bisa berkata apa-apa...

“Dila, woy!!!”

Teriakan Daren dari arah stand membuat Dila menoleh dengan malas.

“Apa sih?” balasnya sebal, enggan beranjak.

“Lo ngapain duduk-duduk di situ?! Ini pesenan makin numpuk, goblok!” teriak Daren lagi.

Vero menahan tawa kecil melihat interaksi mereka, sementara Dila mendengus. “Gue kerja rodi di sini!” gerutunya pelan sebelum akhirnya bangkit berdiri.

Sebelum pergi, ia sempat menatap Vero sekali lagi. “Nanti aku ke sini lagi, ya, Mas~” katanya sambil tersenyum jahil.

Vero hanya mengangguk sambil menampilkan senyumnya, sementara Dila berbalik menuju stand dengan langkah santai.

TO BE CONTINUED —

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Presiden BEM Itu Kekasihku   BAB XXIV : Sunyi yang Tidak Mencari Saksi

    Gedung sekretariat masih menyala ketika Dila tiba. Lampunya temaram, pintunya setengah terbuka. Dari dalam terdengar suara kursi digeser dan langkah kaki yang ia kenal.“Kok lama?” suara itu menyapa santai. “Gue kira gak jadi.”Dila mengangkat bahu. “Motoran macet.”Ia duduk tanpa diminta. Meletakkan tas di lantai. Gerakannya rapi, terlalu rapi untuk seseorang yang kepalanya sedang berisik.Ketua Himpunan menatapnya sekilas. Tidak lama. Tidak menusuk.“Tadi ada orang nyarin lo,” katanya sambil menuang air ke gelas plastik. “Ngaku dari luar kampus. Gayanya gak enak.”Dila mengangguk kecil. Tidak kaget. Tidak menyangkal.“Udah gue suruh balik,” lanjutnya. “Bilang urusan pribadi gak boleh dibawa ke sini.”“Thanks,” jawab Dila cepat. Terlalu cepat. Seolah takut topik itu berkembang.Ketua Himpunan tersenyum tipis. “Masalah lo apa sih?”“Bukan masalah,” potong Dila. “Cuma repot sebentar.”Selalu saja tak jauh dari alasan itu. Dila memang paling ahli menangani masalahnya sendiri, memendam s

  • Presiden BEM Itu Kekasihku   BAB XXIII : Silent Liability

    ‘Ardila, lo kejerat hutang apaan, La?! Ada orang hubungi ketua Himpunan nagih hutang lo.’ Sendok terlepas dari tangannya. Bunyinya kecil. Tapi di telinga Dila, itu terdengar seperti sesuatu yang runtuh. Nyaring. Memalukan. Dan tak bisa ditarik kembali. Dunia Dila berhenti. Kata hutang berputar-putar di kepalanya, saling menabrak, menghantam pelipisnya berkali-kali. Napasnya mendadak pendek, terputus-putus. Perutnya mengempis, jauh lebih kosong daripada sebelum ia makan. Ia kenal rasa ini. Rasa saat namanya dipakai tanpa izin. Rasa saat kesalahan orang lain mendarat tepat di dadanya. Vero menoleh cepat. “Kenapa?” Dila tersentak. Tangannya gemetar saat ia mengunci layar ponsel terlalu cepat, terlalu panik, seperti menutup luka dengan tangan kosong. “Mas…” suaranya pecah di tengah kata. Ia menelan ludah, tapi tenggorokannya terasa dicekik dari dalam. “Mas bisa pulang dulu nggak?” Kalimat itu keluar dengan susah payah. Tipis. Rapuh. Kepalanya berputar liar. Hutang a

  • Presiden BEM Itu Kekasihku   BAB XXII : Hidden Hurts

    Hari semakin siang. Matahari naik perlahan, cahayanya menembus cela jendela yang sudah lama jarang dibuka. Dila selesai membersihkan rumah. Lantainya bersih, meja rapi, seolah keadaan ini telah menutupi kehancurannya semalam.Di kamar mandi, ia duduk di lantai dingin. Kotak P3K terbuka di samping. Tangan Dila bergerak pelan, hampir tanpa suara, seperti takut mengganggu rumah itu sendiri. Kapas dibasahi, ditempelkan ke kulit yang memar. Rasa perih membuat rahangnya mengeras, tapi tidak ada keluar yang keluar. Ia terlalu terbiasa dengan perasaan itu.Perih yang dia rasa tak lebih ketimbang kesunyian sehari-hari.Rumah ini dulu penuh suara. Bahkan teriakan Bunda memanggilnya untuk bangun masih sering menjadi alarm paginya dalam mimpi. Tawa yang sesekali pecah. Nada marah yang cepat reda. Bau masakan Bunda di pagi hari.Sekarang, rumah ini hanya tinggal bangunan.Ayahnya punya hidup lain. Bundanya juga. Keluarga baru. Meja makan lain. Tawa lain. Dan tak sat

  • Presiden BEM Itu Kekasihku   BAB XXI: DIA VERO

    “Mana wanita itu?” Suara itu datang dari kegelapan. Rendah. Tajam. Dingin. Senyum Dila langsung runtuh. Jantungnya jatuh, seakan ada tangan kasar yang meremasnya tiba-tiba. Hangat yang ia bawa dari luar rumah menguap seketika, digantikan rasa dingin yang merambat cepat ke tulang. Langkahnya terhenti. Udara terasa menipis. Malam yang tadi terasa ramah, kembali menunjukkan wajah aslinya. Dan Dila tahu ia baru saja kembali ke mimpi buruk yang selama ini selalu menunggunya di rumah. Lampu menyala. Cahaya kuning itu tidak memberi rasa aman. Justru memperjelas segalanya. Seorang laki-laki paruh baya berdiri di depannya. Ayahnya. Tatapannya penuh amarah yang belum sempat reda, penuh dendam yang seolah hanya menunggu tubuh kecil di depannya untuk dilampiaskan. Dila menunduk. Ia tak sanggup menahan tatapan itu terlalu lama. Dadanya semakin sesak, napasnya tersendat, seperti ada tangan tak kasa

  • Presiden BEM Itu Kekasihku   BAB XX: HAMPIR SAJA

    Malam semakin larut. Lampu-lampu hangat kafe mulai meredup, tanda waktu kerja hampir selesai. Dila duduk sendirian di sudut meja, laptop terbuka, tab-tab tugas berantakan. Matanya berat, hari ini ia harus mengerjakan tugas berpasangan dengan Daren, tapi pikirannya sudah terlalu penuh untuk fokus. Di luar, hujan turun pelan. Suara rintiknya mengenai kaca seperti ritme nina bobo yang justru membuat kelopak matanya semakin turun. Aroma kopi yang tersisa di udara membuat suasana makin tenang, terlalu tenang… sampai hampir membuatnya tertidur. Kemudian tiba-tiba bel pintu berbunyi. Menandakan ada pelanggan masuk sebelum jam kerjanya habis. Dia mengangkat kepala dengan malas, sedikit kaget karena jam layanan tinggal beberapa menit lagi. Ia menutup laptopnya separuh, menarik napas, lalu bangkit dari kursi. Ia melangkah menuju kasir sambil merapikan apron yang sejak tadi kusut. “Selamat malam, Kak. Mau pesan apa?” Dila tercengat.

  • Presiden BEM Itu Kekasihku   BAB XIX: SUNYI

    Hari itu berjalan seperti biasanya, meski dada Dila masih terasa sesak membawa sisa-sisa malam kemarin. Nada suara Ayahnya, tatapan tajam itu, tuduhan yang menusuk… semuanya masih menggantung seperti kabut yang enggan pergi. Kepalanya penuh. Bahkan saat rapat sekalipun, pikirannya masih sibuk memikirkan bagaimana ia harus menyampaikan maksud Ayah pada Bundanya. Ragu itu menggigit dari dalam. Di ruang BEM, semua anggota sie sponsor berkumpul. Berkas-berkas berserakan, suara diskusi memenuhi ruangan, dan Vero sibuk meninjau proposal. Dila mencoba fokus, padahal jantungnya berdetak tak karuan. “Dila udah makan?” suara Daren tiba-tiba terdengar dari pintu. Seisi ruangan sontak menoleh. Suara Daren memang cukup nyaring, tapi perhatian semua orang justru jatuh pada Dila—yang seketika membeku. Dila reflek menatap Vero. Bukan untuk izin sebenarnya… tapi karena entah kenapa, setiap kali namanya dan nama Daren disebut bersamaan,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status