Share

Line Properti

last update publish date: 2026-02-28 22:36:33

"Mahal sekali..." Sari membatin sembari menelan ludah. Ia berusaha mempertahankan senyum kaku saat matanya menyapu deretan angka di katalog rumah yang disodorkan. Hampir semua nominal yang tertulis di sana melampaui seluruh isi tabungannya. Namun, Sari tak bergeming. Ia tahu Line Property adalah perusahaan real estat dengan reputasi emas, harga selangit adalah konsekuensi dari kualitas yang ditawarkan.

"Kira-kira rumah seperti apa yang sesuai dengan anggaran Anda?" tanya pegawai kantor pemasar
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pria BUTA itu suamiku   Terlilit hutang

    Dua bulan telah berlalu sejak kejadian di hotel itu.Juna mendapatkan hukuman yang setimpal, bukan hanya fisiknya yang babak belur, tetapi masa depannya pun hancur lebur. Wira memastikan pria itu masuk ke dalam daftar hitam sehingga tidak akan bisa bekerja di perusahaan mana pun. Sebenarnya, Wira ingin menjebloskan Juna ke penjara, namun Gilang menghentikannya karena dianggap terlalu berisiko memicu perhatian publik. Lagi pula, mereka berhasil menyelamatkan Sari sebelum hal buruk terjadi.Sari pun kembali bekerja tanpa gangguan. Dalam waktu singkat, ia berhasil menunjukkan kinerja terbaik hingga naik jabatan menjadi staf senior.Drt... Drt... Drt...Suara getar ponsel di atas meja memecah konsentrasi Sari yang tengah sibuk mengamati berkas. Ia merogoh laci dan segera menerima panggilan tersebut."Ke mana saja kamu? Kenapa tidak pernah pulang ke rumah!" pekik sebuah suara di seberang telepon.Sari mengernyit, telinganya panas mend

  • Pria BUTA itu suamiku   Rumah yang aman

    Sari langsung menangis tersedu-sedu begitu menyentuh tangan Wira. Ia menarik dirinya ke dalam dekapan pria itu. "Aku takut... aku takut sekali," rintihnya dengan tubuh yang dingin dan gemetaran. Wira terdiam, mengeratkan pelukannya. Ia tidak bisa membayangkan betapa menderitanya Sari jika mereka terlambat semenit saja. Beruntung Gilang curiga saat melihat Sari pergi bersama Juna dan segera melapor padanya. "Semuanya sudah baik-baik saja," bisik Wira menenangkan. Sari mendongak dengan mata sembap. "Terima kasih sudah menolongku. Tapi... bagaimana kalian bisa tahu aku di sini?" Gilang cepat-cepat menyusun alibi. "Wira meneleponku karena kamu belum pulang. Kami khawatir, lalu bertanya pada orang kantor dan ada yang melihatmu pergi ke hotel ini." "Pak Juna bilang ada bazar di lantai atas. Katanya ini bagus untuk mencari ide produk. Karena Pak Gilang memberiku waktu satu bulan untuk membuktikan kinerjaku, jadi aku setuju," ucap Sari lirih. Penjelasan itu memicu kemarahan baru di hati

  • Pria BUTA itu suamiku   Nyaris diperkosa

    Keesokan harinya... Mereka tiba di sebuah hotel mewah di ujung kota. Sari tak henti mengamati sekeliling dengan perasaan tidak tenang. "Pak Juna tahu dari mana kalau di sini ada bazar?" tanya Sari. Entah kenapa, firasat buruk mulai merayapi benaknya. Mereka berdua menunggu di sebuah lounge room, fasilitas hotel yang biasanya digunakan untuk pertemuan pribadi yang tenang. Juna menyadari kecurigaan Sari, namun dengan lihai ia berdalih. "Info dari relasi," sahutnya santai. "Di lantai atas ada aula utama, bazarnya diadakan di sana. Setengah jam lagi dimulai, jadi kita tunggu di sini dulu." Juna telah merencanakan segalanya dengan rapi. Ia sengaja memesan ruang ini dan menyiapkan minuman yang telah dicampur obat bius. "Minum dulu airnya, nanti tidak fokus kalau kurang minum," ujar Juna sembari menyodorkan gelas. Agar tidak memicu curiga, ia sendiri mengambil gelas yang tidak diberi obat. Sari menurut. Ia meraih gelas itu lalu meneguknya pelan untuk membasahi tenggorokannya yang keri

  • Pria BUTA itu suamiku   Suamiku cemburu

    "Kalau kamu mau, aku bisa memperkenalkanmu padanya. Mungkin dia bisa membantu," tawar Juna dengan sikap sok pahlawan."Mataku sudah dinyatakan rusak permanen, jadi aku tidak butuh pengobatan apa pun," ketus Wira tegas. Ia mulai merasa muak meneruskan obrolan ini.Sari yang menyadari ketegangan itu segera berusaha menenangkan suaminya. "Kamu pasti kedinginan karena menungguku pulang, kan?" ucapnya lembut sembari menggandeng lengan Wira.Ia kemudian menoleh kembali pada Juna. "Terima kasih atas tawarannya, Pak. Saya sangat menghargai niat baik Bapak.""Ya sudah kalau begitu..." Juna tersenyum sepat, lalu melangkah menuju mobilnya.Sari mengira pria itu akan langsung pulang, namun ternyata Juna kembali sembari membawa buket bunga mawar merah berukuran besar yang entah kapan ia siapkan."Untukmu," ucap Juna sembari menyodorkan rangkaian bunga itu.Sari kebingungan. Ia berusaha menelaah maksud Juna. Kenapa pria ini berani memberikan bunga pada wanita yang jelas-jelas sedang bersama pasanga

  • Pria BUTA itu suamiku   Rekan kerja

    "Argh, lapar sekali. Harusnya tadi aku sarapan dulu," rengek Sari dalam hati sembari meraba perut rampingnya yang mulai berdemo."Kamu baik-baik saja?" tanya Gilang sembari mengangkat alis, menyadari perubahan raut wajah Sari."Iya, tidak apa-apa," sahut Sari dengan anggukan dan senyum yang dipaksakan.Ia berjalan mengikuti Gilang masuk melewati pintu kaca sebuah ruangan luas."Karena ini hari pertamamu, kamu akan menjadi asisten terlebih dahulu sambil mempelajari tugas-tugas dasar, ya," jelas Gilang lugas.Mereka berhenti di depan sebuah meja kosong yang tampak rapi. "Tempat dudukmu di sini, tepat di sebelah Pak Juna. Dia senior yang akan membimbingmu.""Halo, saya Juna. Salam kenal," sapa pria itu ramah. Ia mengulurkan tangan yang segera disambut oleh Sari. "Saya Sari, Pak. Mohon bimbingannya.""Ya sudah kalau begitu. Silakan lanjut bekerja," pamit Gilang singkat."Terima kasih, Pak," ujar Sari sembari mengangguk, menatap sekilas punggung Gilang yang menjauh.Sari mulai meletakkan t

  • Pria BUTA itu suamiku   Bir tanpa alkohol

    "Sudah cukup, jangan minum lagi," tegur Wira saat melihat Sari kembali menenggak minuman anggur di tangannya dengan lahap."Ah! Berikan lagi padaku," pinta Sari sembari mengernyit. Ia menyodorkan gelas kosongnya ke arah sembarang, tak menyadari arah gerakannya sendiri.Tampaknya Sari mulai mabuk berat. Tubuhnya limbung, tak lagi kuasa duduk tegak."Tidak boleh! Kamu sudah tidak kuat, jangan memaksa," cibir Wira sembari merampas gelas itu.Sari merengek, berusaha meraih kembali benda bening tersebut. "Ah! Kembalikan gelasku!"Wira lebih sigap. Ia mengalungkan lengannya di bahu Sari, menarik pelan tubuh gadis itu hingga bersandar pasrah pada sofa."Dasar payah. Gampang mabuk tapi sok-sokan minta sampanye," gumam Wira pada dirinya sendiri."Kata siapa aku mabuk?! Dulu aku dijuluki 'Ratu Minum' oleh teman-temanku!" Sari menoleh dengan tatapan tajam yang terlihat lucu karena matanya yang sayu. "Berikan lagi! Dulu waktu kuliah, setiap hari aku membeli bir di supermarket. Jadi, minuman ini t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status