LOGIN"Apa kamu benar-benar mencintaiku?"Suara Sari memecah keheningan kamar yang remang. Entah sudah berapa kali ia melontarkan pertanyaan yang sama malam ini. Matanya terpaku pada sosok pria yang terbaring di sampingnya. Di bawah temaram lampu tidur, bahu kokoh Wira yang bertelanjang dada tampak berkilau samar oleh keringat.Mereka hanya dibatasi selembar selimut tebal, menyembunyikan kulit yang saling bersentuhan."Jawab, Wira. Apa kamu mencintaiku?" desak Sari lagi.Wira menghela napas panjang, sedikit risih karena sang istri terus berkutat pada topik yang sama. Ia menoleh, lalu melingkarkan lengannya di pinggang ramping Sari, menarik wanita itu hingga tak ada lagi jarak di antara mereka."Iya, aku mencintaimu," bisik Wira berat."Sejak kapan?" Sari mendongak, menatapnya dengan binar polos yang menuntut penjelasan."Sejak pandangan pertama," jawab Wira lembut. Ia mendaratkan kecupan singkat di pipi Sari. "Aku sudah jatuh
Padahal, Sari sudah merasa ada sesuatu yang menggelitik perut, membayangkan kejadian panas yang akan menyusul, tapi Wira justru seolah bermain aman."Kenapa tidak dilanjutkan?" pikir Sari geram.Hilang sudah rasa malunya. Jiwa aslinya, seorang wanita dewasa berusia 30 tahun, akhirnya mengambil alih kendali. Pengalaman hidupnya membuat Sari tahu persis apa yang harus dilakukan. Ia tidak mau digantung seperti ini.Sari merangkulkan jemarinya pada punggung Wira, menarik pria itu mendekat. Kepalanya sedikit terangkat, berusaha mengendus dan mendaratkan kecupan-kecupan menuntut pada leher suaminya.Kali ini, giliran Wira yang tersentak kaget. Ia tak menyangka Sari akan berubah agresif dalam sekejap. Sentuhan gadis itu terasa intens dan mendominasi."Aku akan menuruti kemauanmu," bisik Sari dengan mata sayu penuh gairah.Ia membuang jauh rasa malunya demi memenuhi panggilan nafsu yang sudah di ubun-ubun. "Lepaskan bajumu," perintah Sar
"Tidak, Sari. Kamu mendapatkan pekerjaan itu murni karena usahamu sendiri," jawab Wira tegas sembari menggeleng."Tapi tetap saja! Kamu terlalu banyak membantuku. Kenapa? Kenapa harus melakukan semua itu?" tanya Sari dengan bibir mengerucut kesal. Ia merasa bodoh karena selama ini membanggakan kemandiriannya, tanpa tahu ada tangan kuat yang menyokongnya dari belakang."Entahlah. Sepertinya... aku sudah mencintaimu sejak lama," jawab Wira gamblang, tanpa ragu sedikit pun.Pengakuan yang meluncur begitu saja itu bagaikan panah asmara yang menghujam tepat ke jantung Sari. Wajahnya seketika memanas. Karena merasa sangat malu, Sari buru-buru menunduk, berusaha menyembunyikan rona merah yang menjalar di pipinya."Curang sekali! Bisa-bisanya dia menyatakan cinta dengan wajah sedatar itu?!" batin Sari dongkol, meski hatinya bersorak kegirangan.Wira ikut menunduk, mencoba mengikuti ke mana arah pandangan Sari. "Kenapa diam saja?""Pipimu
"Mentang-mentang kaya, dia mau memamerkan uangnya padaku?" gerutu Sari dalam hati."Tuan Wira secara khusus memesan tas dan aksesori yang bahkan belum rilis di pasaran hanya untuk Anda," tambah Gilang, berusaha memperbaiki citra bosnya.Namun, Sari tetap bergeming. "Terserah apa katamu, tapi aku tetap tidak mau menerima barang-barang ini. Jadi silakan, bawa pulang!"Gilang tertegun, bingung harus melakukan apa lagi. "Saya mohon, terimalah, Nyonya. Jika saya membawanya kembali, Tuan pasti akan sangat kecewa."Sejenak Sari terdiam. Ia menatap para pekerja wanita yang memegang kotak-kotak hadiah itu. Gadis-gadis muda itu tampak panik dan kebingungan mendengar penolakan Sari. Ia teringat masa-masanya saat masih menjadi karyawan serabutan yang takut akan amarah atasan.Hatinya luluh sedikit. Sari menghela napas panjang sebelum akhirnya menyerah. "Ya sudah. Letakkan saja di sana."Gilang tersenyum lega, segera memberi isyarat, dan dala
"Kenapa diam, Paman? Tunjukkan buktinya. Jangan bilang Paman menghilangkan dokumen sepenting itu," timpal Wira. Nada bicaranya santai, namun sarat akan provokasi."Dasar keparat..." Lembang menggertakkan gigi, urat lehernya menegang. "Kalian sengaja bersekongkol untuk menjebakku, kan?!"Lembang baru menyadari bahwa semua kebetulan ini terlalu sempurna. Gilang datang tepat saat Wira menyudutkannya, membawa bukti penggelapan dana yang selama ini ia sembunyikan dengan rapi."Apa maksud Anda?" Gilang terkekeh pelan. "Sejak awal, saya hanyalah seorang bawahan. Dan pimpinan Line Group yang Anda maksud itu..." Gilang berdiri, lalu membungkuk hormat ke arah pria di sampingnya. "Adalah Tuan Wira."Identitas itu menghantam ruangan seperti badai. Kasak-kusuk pecah seketika."Apa?! Line Group milik Wira?""Bagaimana mungkin kita tidak tahu selama ini?""Itu berarti... Cakra dan Line Group sebenarnya berada di bawah naungan satu kelu
"Kalau begitu, bisakah kamu ke sini sekarang sebagai perwakilan Line Group? Para dewan direksi Cakra sedang mengamuk menuntut kepastian. Aku butuh seseorang dari pihak kalian untuk menjelaskan kerja sama ini!" pinta Lingga setengah memohon."Kamu tidak sedang merencanakan sesuatu yang licik, kan?" Sari bertanya dengan nada curiga."Tidak! Aku bersumpah, Sari. Ini masalah hidup dan mati perusahaan!"Sari menghela napas panjang, suaranya terdengar berat. "Ya sudah. Aku ke sana sekarang." Sari terpaksa setuju. Bagaimanapun, sebagai perwakilan yang ditunjuk langsung sebelumnya, ia merasa memiliki tanggung jawab moral atas kerja sama tersebut.Keputusan itu cukup untuk menyuntikkan sedikit rasa percaya diri pada Lingga. Ia kembali ke dalam ruang rapat, mencoba menenangkan para dewan yang sudah mulai berteriak histeris."Tenang semuanya! Sebentar lagi perwakilan resmi dari Line Group akan datang ke sini!" seru Lingga dengan suara lantang.







