FAZER LOGIN"Dasar pria buta, dia cuma hidup dari sumbangan keluarga Cakra!" cibir seorang wanita. Sepertinya kehadiran Wira telah menjadi tontonan bagi mereka. Semua orang mengatainya sebagai pria tak berguna, "Aku calon istri dari pria yang kalian bicarakan." Entah naif atau bodoh, ucapan Sari berhasil menarik perhatian Wira. Setelah kecelakaan 10 tahun lalu, pria itu kembali dari pengasingan panjang. Diam-diam bertingkah lemah demi membalaskan dendam, Namun siapa sangka? Di tengah sandiwara dia justru bertemu seorang gadis liar yang membuat hidupnya berubah.
Ver mais"Sudah kubilang, aku tidak mau!" teriak seorang gadis dari balik pintu kamarnya.
Sari bersandar dalam posisi jongkok, tubuh kurusnya gemetar menahan beban pintu yang didorong paksa dari luar. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Di sisi lain, sang ayah terus menggedor kayu itu dengan keras. "Sari, buka pintunya! Ayah mau bicara!" "Tidak mau! Kenapa sih, Ayah keras kepala sekali?" Sari menggertakkan gigi, mengeratkan kepalan tangannya hingga memutih. Ia mengubah posisi, membalikkan tubuh dan mendorong pintu itu sekuat tenaga dengan bahunya. "Cepat buka!" perintah sang ayah, suaranya naik satu oktav menunjukkan kekesalan yang memuncak. BRAK! Setelah pergulatan yang cukup lama, pintu kayu itu akhirnya menyerah. Ayah Sari berhasil masuk dengan napas memburu. Alisnya bertaut, menatap Sari dengan sorot mata geram. "Sari, kamu bukan anak kecil lagi!" tegurnya keras. Sari tertunduk, napasnya tersengal. "Ya lagian, Ayah terus-terusan memaksaku menikah. Sudah kukatakan berulang kali, aku belum mau." Sari mendengus pelan, memalingkan wajah. Pria tua itu menghela napas panjang, mencoba meredam emosi yang meluap. Ia memijit pangkal hidungnya yang terasa berdenyut nyeri. "Kamu lupa atau pura-pura tidak ingat berapa umurmu sekarang?" Sari mengerucutkan bibir, memandang sudut kamar dengan tatapan risih. "Kenapa harus bawa-bawa umur?" "Tentu saja harus! Bulan ini umurmu injak tiga puluh tahun dan kamu masih melajang. Pacar saja tidak punya! Lihat teman seusiamu, anak mereka sudah mulai sekolah," pekik sang ayah yang mulai kehilangan kesabaran. "Aku juga mau punya pacar, Yah! Tapi jodohnya memang belum ketemu, aku harus bagaimana?" Sari mencibir santai, sebuah reaksi yang justru menyiram bensin ke api kemarahan ayahnya. "Makanya dicari! Kalau kamu malas mencari, biar Ayah yang menjodohkanmu supaya cepat dapat suami!" "Tidak mau! Aku sudah lelah!" Sari berseru tegas. "Coba hitung berapa kali Ayah menjodohkanku? Semuanya tidak ada yang beres." Sari teringat rentetan pengalaman buruknya. Entah kenapa, belakangan ini ayahnya terlihat cemas dan bertingkah aneh. Hampir setiap hari pria itu membahas pentingnya memiliki pasangan dan membangun keluarga. Bukannya Sari tidak mau, tapi hatinya masih tertutup rapat. Luka dari masa lalu---sebuah pengkhianatan dari mantan kekasihnya, masih menyisakan trauma mendalam yang sulit disembuhkan. Dulu, ia sempat menuruti keinginan ayahnya untuk bertemu beberapa pria. Ia hanya ingin menyenangkan hati satu-satunya orang tua yang ia miliki. Namun, semua rencana itu berantakan. Mungkin karena umur Sari yang tak lagi muda, ayahnya hanya fokus mencari pria yang bersedia menikah tanpa memikirkan kecocokan. Terakhir kali, ia dijodohkan dengan pemilik tambak di kota mereka. Orangnya memang terkenal sopan dan dermawan, kabarnya sering memberi santunan bagi warga lansia. Namun, Sari tidak bisa memaksakan hati. "Minimal cari yang tinggi dan giginya rapi," gumam Sari dalam hati sambil bergidik ngeri jika mengingat fisik pria itu. Walau orang-orang melabelinya perawan tua, Sari tetap memiliki standar. Ia memikirkan gen untuk keturunannya kelak. "Jangan terlalu pilih-pilih, Sari. Fisik itu akan berubah seiring usia. Yang penting carilah pria baik yang bertanggung jawab," ucap ayahnya melembut, meski suaranya masih terdengar parau. "Ayah sudah tua. Kalau kamu belum menikah, siapa yang akan menjagamu setelah Ayah meninggal nanti?" Kalimat itu bagai petir di siang bolong. Kening Sari mengernyit dalam, giginya gemertak menahan amarah yang bercampur kesedihan. "Kenapa Ayah bicara begitu?! Itu tidak akan terjadi!" Sari berteriak, suaranya bergetar. "Ayah tidak boleh meninggalkanku!" Suasana menjadi canggung. Sari segera meraih tas pundaknya yang tergeletak di atas kasur. "Sudahlah, aku mau berangkat kerja. Kenapa jadi bahas kematian segala..." Ia melangkah cepat keluar kamar, melewati ayahnya yang berdiri mematung. Sang ayah hanya bisa menatap punggung putrinya yang kian menjauh. Rasa sesal menyelinap di hatinya; tak seharusnya ia melukai Sari dengan perkataan sedrastis itu. "Hah..." Ayah Sari menghela napas panjang sekali lagi. Ia melangkah menuju meja rias di sudut kamar. Di sana, sebuah foto keluarga yang diambil saat kelulusan Sari terpajang rapi. Dengan jemari gemetar, ia mengusap pelan wajah mendiang istrinya yang tersenyum hangat di dalam bingkai. "Bagaimana caranya agar Sari mengerti maksudku, Sayang?" gumamnya lirih. Sepuluh tahun telah berlalu sejak kecelakaan tragis itu merenggut nyawa istrinya. Ayah Sari selamat, namun kedua pundaknya mengalami cedera patah tulang permanen yang membuatnya tak bisa lagi melakukan pekerjaan berat. Sari, yang saat itu baru duduk di bangku kuliah, memilih berhenti demi merawat sang ayah dan menyokong ekonomi keluarga. Mengingat pengorbanan itu, hatinya selalu hancur melihat Sari masih sendiri di usia matangnya. "Padahal dia sangat cantik sepertimu. Andai kamu masih hidup, pasti kamu lebih ahli mencarikan pria hebat untuk anak kita." Di sisi lain... Barisan pria bersetelan jas hitam berdiri tegak di tengah lapangan luas yang sepi. Mereka membusungkan dada, menatap langit saat suara deru helikopter terdengar semakin mendekat. Beberapa dari mereka tampak waspada dengan senjata di tangan, mengawasi setiap sudut area. Angin kencang dari baling-baling helikopter menerbangkan debu dan daun kering, menciptakan gejolak udara yang bising. Begitu helikopter mendarat dengan sempurna, pintu terbuka, menampakkan sesosok pria. Hentakan sepatunya saat menginjak bumi seolah memberikan getaran otoritas yang mutlak. "Akhirnya, setelah sepuluh tahun," bisik seorang pria yang berdiri di paling depan barisan. Senyum bangga terkembang di wajahnya saat sang tuan berjalan mendekat. Pria itu mengenakan setelan jas berwarna krem yang gagah. Raut wajahnya tegas, memancarkan wibawa seorang pemimpin sejati. Ketampanannya sangat mencolok, tipe wajah yang mampu mengintimidasi sekaligus memikat siapa pun dalam sekali pandang. "Karena kecelakaan itu, Tuan terpaksa menetap di luar negeri dengan alasan pengobatan mata," bisik salah satu pengawal di barisan belakang. "Padahal diam-diam beliau membangun kerajaan bisnisnya sendiri, hingga berhasil menduduki peringkat teratas pasar global." Langkah pria itu semakin mantap. Aura kedinginan yang elegan menyelimuti setiap geraknya. Pengasingan itu telah berakhir. Wira Adi Cakra telah kembali.Dua bulan telah berlalu sejak kejadian di hotel itu.Juna mendapatkan hukuman yang setimpal, bukan hanya fisiknya yang babak belur, tetapi masa depannya pun hancur lebur. Wira memastikan pria itu masuk ke dalam daftar hitam sehingga tidak akan bisa bekerja di perusahaan mana pun. Sebenarnya, Wira ingin menjebloskan Juna ke penjara, namun Gilang menghentikannya karena dianggap terlalu berisiko memicu perhatian publik. Lagi pula, mereka berhasil menyelamatkan Sari sebelum hal buruk terjadi.Sari pun kembali bekerja tanpa gangguan. Dalam waktu singkat, ia berhasil menunjukkan kinerja terbaik hingga naik jabatan menjadi staf senior.Drt... Drt... Drt...Suara getar ponsel di atas meja memecah konsentrasi Sari yang tengah sibuk mengamati berkas. Ia merogoh laci dan segera menerima panggilan tersebut."Ke mana saja kamu? Kenapa tidak pernah pulang ke rumah!" pekik sebuah suara di seberang telepon.Sari mengernyit, telinganya panas mend
Sari langsung menangis tersedu-sedu begitu menyentuh tangan Wira. Ia menarik dirinya ke dalam dekapan pria itu. "Aku takut... aku takut sekali," rintihnya dengan tubuh yang dingin dan gemetaran. Wira terdiam, mengeratkan pelukannya. Ia tidak bisa membayangkan betapa menderitanya Sari jika mereka terlambat semenit saja. Beruntung Gilang curiga saat melihat Sari pergi bersama Juna dan segera melapor padanya. "Semuanya sudah baik-baik saja," bisik Wira menenangkan. Sari mendongak dengan mata sembap. "Terima kasih sudah menolongku. Tapi... bagaimana kalian bisa tahu aku di sini?" Gilang cepat-cepat menyusun alibi. "Wira meneleponku karena kamu belum pulang. Kami khawatir, lalu bertanya pada orang kantor dan ada yang melihatmu pergi ke hotel ini." "Pak Juna bilang ada bazar di lantai atas. Katanya ini bagus untuk mencari ide produk. Karena Pak Gilang memberiku waktu satu bulan untuk membuktikan kinerjaku, jadi aku setuju," ucap Sari lirih. Penjelasan itu memicu kemarahan baru di hati
Keesokan harinya... Mereka tiba di sebuah hotel mewah di ujung kota. Sari tak henti mengamati sekeliling dengan perasaan tidak tenang. "Pak Juna tahu dari mana kalau di sini ada bazar?" tanya Sari. Entah kenapa, firasat buruk mulai merayapi benaknya. Mereka berdua menunggu di sebuah lounge room, fasilitas hotel yang biasanya digunakan untuk pertemuan pribadi yang tenang. Juna menyadari kecurigaan Sari, namun dengan lihai ia berdalih. "Info dari relasi," sahutnya santai. "Di lantai atas ada aula utama, bazarnya diadakan di sana. Setengah jam lagi dimulai, jadi kita tunggu di sini dulu." Juna telah merencanakan segalanya dengan rapi. Ia sengaja memesan ruang ini dan menyiapkan minuman yang telah dicampur obat bius. "Minum dulu airnya, nanti tidak fokus kalau kurang minum," ujar Juna sembari menyodorkan gelas. Agar tidak memicu curiga, ia sendiri mengambil gelas yang tidak diberi obat. Sari menurut. Ia meraih gelas itu lalu meneguknya pelan untuk membasahi tenggorokannya yang keri
"Kalau kamu mau, aku bisa memperkenalkanmu padanya. Mungkin dia bisa membantu," tawar Juna dengan sikap sok pahlawan."Mataku sudah dinyatakan rusak permanen, jadi aku tidak butuh pengobatan apa pun," ketus Wira tegas. Ia mulai merasa muak meneruskan obrolan ini.Sari yang menyadari ketegangan itu segera berusaha menenangkan suaminya. "Kamu pasti kedinginan karena menungguku pulang, kan?" ucapnya lembut sembari menggandeng lengan Wira.Ia kemudian menoleh kembali pada Juna. "Terima kasih atas tawarannya, Pak. Saya sangat menghargai niat baik Bapak.""Ya sudah kalau begitu..." Juna tersenyum sepat, lalu melangkah menuju mobilnya.Sari mengira pria itu akan langsung pulang, namun ternyata Juna kembali sembari membawa buket bunga mawar merah berukuran besar yang entah kapan ia siapkan."Untukmu," ucap Juna sembari menyodorkan rangkaian bunga itu.Sari kebingungan. Ia berusaha menelaah maksud Juna. Kenapa pria ini berani memberikan bunga pada wanita yang jelas-jelas sedang bersama pasanga












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.