LOGIN"Takkan ada wanita yang mau menikahinya. Dia itu hanya parasit yang hidup dari sisa makanan keluarga Cakra." Sepuluh tahun dalam pengasingan, Wira kembali dengan satu tujuan, pembalasan dendam. Ia berpura-pura lemah dan tak berdaya, membiarkan dunia meludahi harga dirinya demi bisa mengungkap dalang yang telah merebut kebahagian keluarga. "Siapa bilang?! Aku calon istri dari pria yang kalian bicarakan." Di saat semua orang mencaci Wira sebagai pria buta yang tak berguna, keberanian naif Sari justru memancing seringai di balik kacamata hitam Wira. Gadis liar itu adalah tameng hidup yang ideal untuk memperkuat sandiwaranya sebagai pria lemah.
View More"Apa kamu benar-benar mencintaiku?"Suara Sari memecah keheningan kamar yang remang. Entah sudah berapa kali ia melontarkan pertanyaan yang sama malam ini. Matanya terpaku pada sosok pria yang terbaring di sampingnya. Di bawah temaram lampu tidur, bahu kokoh Wira yang bertelanjang dada tampak berkilau samar oleh keringat.Mereka hanya dibatasi selembar selimut tebal, menyembunyikan kulit yang saling bersentuhan."Jawab, Wira. Apa kamu mencintaiku?" desak Sari lagi.Wira menghela napas panjang, sedikit risih karena sang istri terus berkutat pada topik yang sama. Ia menoleh, lalu melingkarkan lengannya di pinggang ramping Sari, menarik wanita itu hingga tak ada lagi jarak di antara mereka."Iya, aku mencintaimu," bisik Wira berat."Sejak kapan?" Sari mendongak, menatapnya dengan binar polos yang menuntut penjelasan."Sejak pandangan pertama," jawab Wira lembut. Ia mendaratkan kecupan singkat di pipi Sari. "Aku sudah jatuh
Padahal, Sari sudah merasa ada sesuatu yang menggelitik perut, membayangkan kejadian panas yang akan menyusul, tapi Wira justru seolah bermain aman."Kenapa tidak dilanjutkan?" pikir Sari geram.Hilang sudah rasa malunya. Jiwa aslinya, seorang wanita dewasa berusia 30 tahun, akhirnya mengambil alih kendali. Pengalaman hidupnya membuat Sari tahu persis apa yang harus dilakukan. Ia tidak mau digantung seperti ini.Sari merangkulkan jemarinya pada punggung Wira, menarik pria itu mendekat. Kepalanya sedikit terangkat, berusaha mengendus dan mendaratkan kecupan-kecupan menuntut pada leher suaminya.Kali ini, giliran Wira yang tersentak kaget. Ia tak menyangka Sari akan berubah agresif dalam sekejap. Sentuhan gadis itu terasa intens dan mendominasi."Aku akan menuruti kemauanmu," bisik Sari dengan mata sayu penuh gairah.Ia membuang jauh rasa malunya demi memenuhi panggilan nafsu yang sudah di ubun-ubun. "Lepaskan bajumu," perintah Sar
"Tidak, Sari. Kamu mendapatkan pekerjaan itu murni karena usahamu sendiri," jawab Wira tegas sembari menggeleng."Tapi tetap saja! Kamu terlalu banyak membantuku. Kenapa? Kenapa harus melakukan semua itu?" tanya Sari dengan bibir mengerucut kesal. Ia merasa bodoh karena selama ini membanggakan kemandiriannya, tanpa tahu ada tangan kuat yang menyokongnya dari belakang."Entahlah. Sepertinya... aku sudah mencintaimu sejak lama," jawab Wira gamblang, tanpa ragu sedikit pun.Pengakuan yang meluncur begitu saja itu bagaikan panah asmara yang menghujam tepat ke jantung Sari. Wajahnya seketika memanas. Karena merasa sangat malu, Sari buru-buru menunduk, berusaha menyembunyikan rona merah yang menjalar di pipinya."Curang sekali! Bisa-bisanya dia menyatakan cinta dengan wajah sedatar itu?!" batin Sari dongkol, meski hatinya bersorak kegirangan.Wira ikut menunduk, mencoba mengikuti ke mana arah pandangan Sari. "Kenapa diam saja?""Pipimu
"Mentang-mentang kaya, dia mau memamerkan uangnya padaku?" gerutu Sari dalam hati."Tuan Wira secara khusus memesan tas dan aksesori yang bahkan belum rilis di pasaran hanya untuk Anda," tambah Gilang, berusaha memperbaiki citra bosnya.Namun, Sari tetap bergeming. "Terserah apa katamu, tapi aku tetap tidak mau menerima barang-barang ini. Jadi silakan, bawa pulang!"Gilang tertegun, bingung harus melakukan apa lagi. "Saya mohon, terimalah, Nyonya. Jika saya membawanya kembali, Tuan pasti akan sangat kecewa."Sejenak Sari terdiam. Ia menatap para pekerja wanita yang memegang kotak-kotak hadiah itu. Gadis-gadis muda itu tampak panik dan kebingungan mendengar penolakan Sari. Ia teringat masa-masanya saat masih menjadi karyawan serabutan yang takut akan amarah atasan.Hatinya luluh sedikit. Sari menghela napas panjang sebelum akhirnya menyerah. "Ya sudah. Letakkan saja di sana."Gilang tersenyum lega, segera memberi isyarat, dan dala












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews