Teilen

Menemui kakek

last update Veröffentlichungsdatum: 28.02.2026 22:35:36

"Tenang saja. Walau cuma sebentar... selama satu tahun ke depan, aku yang akan bertanggung jawab dan merawatmu dengan baik," ucap Sari bersungguh-sungguh.

"Bertanggung jawab? Hah! Yang benar saja," dengus Wira dalam hati. Ia tak habis pikir dengan sikap gadis di sampingnya yang ia nilai terlalu sok pahlawan.

"Kalian sudah sampai?" sapa Surya menyambut kedatangan cucunya dengan senyum hangat.

Keduanya melangkah masuk, mendapati pria tua itu telah menunggu di sofa ruang tamu. Minuman dingin dan b
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Pria BUTA itu suamiku   Kemarahan seorang istri

    "Mentang-mentang kaya, dia mau memamerkan uangnya padaku?" gerutu Sari dalam hati."Tuan Wira secara khusus memesan tas dan aksesori yang bahkan belum rilis di pasaran hanya untuk Anda," tambah Gilang, berusaha memperbaiki citra bosnya.Namun, Sari tetap bergeming. "Terserah apa katamu, tapi aku tetap tidak mau menerima barang-barang ini. Jadi silakan, bawa pulang!"Gilang tertegun, bingung harus melakukan apa lagi. "Saya mohon, terimalah, Nyonya. Jika saya membawanya kembali, Tuan pasti akan sangat kecewa."Sejenak Sari terdiam. Ia menatap para pekerja wanita yang memegang kotak-kotak hadiah itu. Gadis-gadis muda itu tampak panik dan kebingungan mendengar penolakan Sari. Ia teringat masa-masanya saat masih menjadi karyawan serabutan yang takut akan amarah atasan.Hatinya luluh sedikit. Sari menghela napas panjang sebelum akhirnya menyerah. "Ya sudah. Letakkan saja di sana."Gilang tersenyum lega, segera memberi isyarat, dan dala

  • Pria BUTA itu suamiku   Aku tidak buta

    "Kenapa diam, Paman? Tunjukkan buktinya. Jangan bilang Paman menghilangkan dokumen sepenting itu," timpal Wira. Nada bicaranya santai, namun sarat akan provokasi."Dasar keparat..." Lembang menggertakkan gigi, urat lehernya menegang. "Kalian sengaja bersekongkol untuk menjebakku, kan?!"Lembang baru menyadari bahwa semua kebetulan ini terlalu sempurna. Gilang datang tepat saat Wira menyudutkannya, membawa bukti penggelapan dana yang selama ini ia sembunyikan dengan rapi."Apa maksud Anda?" Gilang terkekeh pelan. "Sejak awal, saya hanyalah seorang bawahan. Dan pimpinan Line Group yang Anda maksud itu..." Gilang berdiri, lalu membungkuk hormat ke arah pria di sampingnya. "Adalah Tuan Wira."Identitas itu menghantam ruangan seperti badai. Kasak-kusuk pecah seketika."Apa?! Line Group milik Wira?""Bagaimana mungkin kita tidak tahu selama ini?""Itu berarti... Cakra dan Line Group sebenarnya berada di bawah naungan satu kelu

  • Pria BUTA itu suamiku   Runtuhnya tahta

    "Kalau begitu, bisakah kamu ke sini sekarang sebagai perwakilan Line Group? Para dewan direksi Cakra sedang mengamuk menuntut kepastian. Aku butuh seseorang dari pihak kalian untuk menjelaskan kerja sama ini!" pinta Lingga setengah memohon."Kamu tidak sedang merencanakan sesuatu yang licik, kan?" Sari bertanya dengan nada curiga."Tidak! Aku bersumpah, Sari. Ini masalah hidup dan mati perusahaan!"Sari menghela napas panjang, suaranya terdengar berat. "Ya sudah. Aku ke sana sekarang." Sari terpaksa setuju. Bagaimanapun, sebagai perwakilan yang ditunjuk langsung sebelumnya, ia merasa memiliki tanggung jawab moral atas kerja sama tersebut.Keputusan itu cukup untuk menyuntikkan sedikit rasa percaya diri pada Lingga. Ia kembali ke dalam ruang rapat, mencoba menenangkan para dewan yang sudah mulai berteriak histeris."Tenang semuanya! Sebentar lagi perwakilan resmi dari Line Group akan datang ke sini!" seru Lingga dengan suara lantang.

  • Pria BUTA itu suamiku   Rapat dewan direksi

    "Bagaimana mungkin?! Kenapa tidak ada uang sepeser pun di rekening perusahaan?" pekikan itu menggelegar di dalam ruang rapat yang kedap suara.Pria berjas biru yang duduk di ujung meja menghantamkan telapak tangannya ke permukaan kayu jati hingga menimbulkan bunyi dentuman keras.Ruangan itu didominasi oleh sebuah meja bundar raksasa yang dikelilingi belasan kursi. Semua kursi terisi oleh para anggota dewan direksi, orang-orang yang seharusnya bertanggung jawab atas strategi jangka panjang dan keselamatan finansial Perusahaan Cakra.Sebagian besar dari mereka juga merupakan pemegang saham utama yang mempertaruhkan harta kekayaan mereka di sana."Ke mana perginya semua dana itu? Di buku pengeluaran tidak tercatat transaksi apa pun! Tidak masuk akal jika uang sebanyak itu hilang begitu saja!" sahut anggota direksi lain dengan nada suara gemetar karena panik."Di mana Pak Lembang? Kenapa dia belum menampakkan batang hidungnya?" tanya seorang

  • Pria BUTA itu suamiku   Investasi

    Ruangan VIP itu terasa begitu eksklusif dengan pendingin udara yang berembus halus. Gilang duduk tenang di salah satu kursi kulit yang empuk, dikelilingi jamuan makan siang tertata presisi di atas meja jati.Di belakangnya, dinding kaca raksasa menampilkan siluet hutan beton kota dengan gedung-gedung bertingkat yang seolah saling berebut menyentuh langit."Selamat siang," sebuah suara memecah keheningan.Lingga muncul dengan langkah tergesa, langsung menyalami Gilang yang baru saja beranjak berdiri. "Maaf jika membuat Anda menunggu lama, Pak Gilang. Ada sedikit kendala di perjalanan tadi.""Tidak masalah. Silakan duduk," sahut Gilang dengan senyum profesional yang sulit dibaca. Ia mempersilakan Lingga menempati kursi kosong di hadapannya.Lingga menarik napas panjang, mencoba menetralkan detak jantungnya. Ia tahu posisi ini sangat genting. Beberapa waktu lalu, kerja sama ini nyaris runtuh akibat ulahnya yang lancang menggoda Sari, perwaki

  • Pria BUTA itu suamiku   Sisi lain Tuan Wira

    Wira menoleh cepat, memastikan punggung Sari benar-benar menghilang di balik pintu sebelum ia memulai aksi. Tatapannya yang semula teduh, seketika berubah sedingin es saat beralih pada Lingga. Dengan satu gerakan, ia mendorong pria mabuk itu mundur, lalu membanting pintu rumah hingga tertutup rapat."Hei! Mau ke mana kamu?" Lingga menyipitkan mata, berusaha memfokuskan pandangannya yang ganda.Wira tidak menyahut. Ia berbalik perlahan, mengamati gerak-gerik Lingga dengan saksama. Pria di depannya itu berjalan limbung, kesulitan hanya untuk sekadar berdiri tegak. Entah berapa botol alkohol yang telah ditenggak pria itu hingga kesadarannya terkikis habis."Dasar keparat," desis Wira sembari mengepalkan tangan. "Gara-gara kamu, Sari harus melewati mimpi buruk dalam hidupnya."BUK!Satu pukulan mentah mendarat telak di pipi kiri Lingga. Kekuatan hantaman itu cukup untuk membuat Lingga tersungkur ke lantai tanpa sempat memberikan perlawanan se

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status