LOGINAdam baru saja menutup pintu ketika suara Areta menggelegar dari ruang tengah.
“Dari mana saja kamu? Malam keluar gitu aja?” Areta berdiri dengan tangan terlipat, alis terangkat tinggi. Rambutnya masih dikuncir berantakan karena bekerja, tapi tatapannya menusuk seperti biasa.
Adam mematung sejenak. “Tadi … ada urusan sebentar.”
“Urusan apa?” Areta mendekat selangkah. “Jangan-jangan kamu punya rahasia ya?”
Adam menelan ludah. “Aku cuma keluar sebentar, Are. Beneran.”
“Apa kamu ke rumah orang tuaku? Kamu laporan sama papaku?” tanya Areta dengan tatapan curiga.
Adam menaikkan bingkai kacamatanya yang sebenarnya tidak melorot. Ia lega karena kecurigaan sang istri bukan mengarah ke jati diri aslinya. “Oh, tidak. Apa juga yang harus dilaporkan. Kita baru hitungan hari menjalani pernikahan. Aku hanya butuh udara segar saja. Itu sudah jadi kebiasaanku tiap malam. Jika jenuh, aku motoran tanpa tujuan.”
Areta mendengus. “Aneh,” cicitnya. “Lain kali bilang kalau mau keluar. Aku panggil kamu berkali-kali, nggak ada jawaban. Rumah tiba-tiba kosong. Aku bukannya takut di rumah sendiri, tapi kalau ada maling, dan aku gak tahu kamu gak ada di rumah, aku bakal ngira maling itu kamu.”
Adam menggaruk tengkuknya, gugup seperti biasa saat memainkan perannya sebagai suami culun. “Iya, lain kali aku akan izin sama kamu. Maaf ya. Aku nggak sengaja bikin kamu khawatir.”
“Aku bukan khawatir!” kilah Areta cepat. “Jangan GR! Aku cuma… ya, nggak nyaman aja, belum terbiasa sendiri di rumah kampungan seperti ini. Beneran loh, lain kali kalau mau keluar, bilang dulu! Jangan bikin rumah kayak horor.”
Adam mengangguk rendah. “Iya.”
Areta menghela napas keras. “Sudah, ikut aku.”
Adam mengerutkan dahi. “Kemana?”
Areta memutar badan menuju dapur. “Ngaku dulu. Kamuuu—” Ia berhenti di ambang dapur dan menatap tajam ke piring yang tadi ia kosongi. “… kamu masak ini kan?”
Adam hampir tersedak ludahnya sendiri, kaget karena tertangkap basah. “E-eh… iya. Maaf kalau nggak enak.”
Areta menatapnya lama. “Siapa bilang nggak enak?”
Adam mengerjap. “Hah?”
“Ya… maksudku….” Areta memalingkan wajah, jelas berusaha menyembunyikan senyum kecil di balik sikap juteknya. “Sambalnya… lumayan. Sedikit. Dikit aja. Jangan GR!”
Adam diam, tapi sudut bibirnya terangkat pelan, menahan tawa.
Areta meraih gelas, minum air, pura-pura santai. “Terus ikannyaaa … ya, bukan level restoran sih. Tapi nggak bikin aku keracunan. Itu prestasi besar, tau.”
Adam menahan tawa. “Syukurlah.”
Areta meliriknya dengan sinis, tapi pipinya memerah samar. “Tapi …,” lanjut Areta sambil menunjuk wajah Adam, “aku gak bisa cuci piring. Terakhir kali aku coba cuci piring, kelas satu SMP, dan porselen mama aku pecahin, aku gak mau piringmu yang sedikit itu makin berkurang gara-gara aku.”
Adam mengangguk cepat. “Iya, nggak apa-apa. Biar aku saja yang mencucinya. Sekalian nanti cuci alat masak lainnya. Itu bukan kewajiban kamu, kok.”
“Hm.” Areta berjalan ke wastafel, membilas tangan. “Dan… kalau kamu masak ikan lagi ….” Ia berhenti, suaranya menurun tanpa sadar. “…sambalnya jangan pelit. Yang tadi itu … ya … pas. Tapi tambahin lah.”
Adam menatapnya lembut. Ada seberkas ketulusan dan kehangatan yang terpancar dari matanya di balik kacamata tebal itu. “Baik.”
Areta memutar badan cepat, seperti sadar dirinya mulai kelewat jujur. “Ya sudah. Aku mau balik ke kamar. Masih banyak desain baju yang belum selesai aku kerjakan. Jangan ganggu aku.”
“Iya. Selamat malam.”
“Hm.” Areta balik badan dan berjalan cepat, menuju ke kamarnya.
Ia lalu menutup pintu kamar dengan hentakan kecil. Begitu suara pintu “klik”, ia langsung mengembuskan napas panjang, lalu bersandar pada daun pintu dengan wajah kusut.
“Aduh … kok aku bisa ngomong begitu sih,” gumamnya, menepuk kening sendiri.
Ia berjalan masuk, mondar-mandir beberapa langkah. Tidak ada rasa manis di dadanya, tidak ada jantung berdebar lebay, yang ada hanya rasa malu, gengsi, dan kesal pada diri sendiri karena memuji orang yang baru saja ia bentak.
“Kenapa tadi sambal itu harus enak?” gerutunya. “Terus kenapa aku harus ngomong begitu depan dia? Ugh … Areta, kamu tuh kenapa sih?”
Ia menjatuhkan diri ke tepi kasur, memeluk bantal. Kepalanya masih penuh dengan kejadian di dapur tadi. Saat ia memuji masakan kampung buatan suami culunnya.
Suami culun yang bahkan tidak bisa bersuara keras kalau lagi ditanya.
“Duh, malu banget.” Areta berguling ke kanan, kemudian ke kiri. “Padahal gara-gara rasa lapar doang. Lapar kenapa bikin orang halu sih. Semua kata-kataku tadi bukan pujian … itu cuma … ya, fakta. Fakta makanannya enak. Titik.”
Ia mengangguk-angguk seperti sedang rapat dengan dirinya sendiri.
“Ini bukan perasaan apa-apa. Serius. Bukan.” Areta bangkit, menunjuk udara seperti sedang menegur makhluk tak kasat mata. “Aku gak suka-suka dia. Gak bakal. Orangnya kaku begitu, cupu begitu, gaya fashionnya old banget. Jadi, stop, ya Areta. Stop malu-malu gak jelas.”
Ia kembali duduk di tepi kasur, menutup wajah.
“Kan jadinya aku yang repot sendiri,” keluhnya. Ia menghela napas dan menatap langit-langit.
“Sudahlah. Besok pasti normal lagi. Harus normal.”
Areta menatap meja kerjanya. Ia menghampiri kertas desainnya yang masih setengah jadi. “Fokusku adalah suksesnya pegelaran. Kumpulin uang banyak lagi. Ah iya, aku belum minta uang ke Adam. Sebagai suami bukankah dia harus memberiku nafkah? Setidaknya ongkos taksi ke butik. Besok pagi, aku akan memintanya.”
Satu bulan setelah hiruk-pikuk pernikahan Luna dan Pierre berlalu, hari yang tak kalah istimewa pun tiba. Hari itu adalah hari ulang tahun pernikahan Adam dan Areta.Sejak pagi, Adam bersikap sangat misterius. Ia pulang dari kantor jauh lebih awal dari biasanya, bahkan sebelum pukul dua siang, dan langsung meminta Areta bersiap-siap untuk makan malam romantis di luar.Malamnya, Adam membawa Areta ke sebuah restoran privat berkonsep rumah kaca di dataran tinggi yang menghadap ke lampu-lampu kota. Di tengah ruangan yang hanya diisi oleh mereka berdua, sebuah manekin tertutup kain beludru hitam berdiri tegak di dekat meja makan.Areta menatap manekin itu dengan dahi berkerut, lalu beralih menatap suaminya. "Adam ... apa itu?"Adam tidak menjawab dengan kata-kata. Ia berjalan mendekat, lalu dengan satu gerakan pelan, ia menarik kain beludru tersebut.Areta seketika menahan napas. Matanya membelalak tak percaya.Di atas manekin itu terpasang sebuah gaun malam berwarna biru safir gela
Setelah dasi biru dongker terpasang sempurna dan kecemasan Adam mereda, sebuah ketukan pelan terdengar di pintu ruang tunggu. Protokoler acara melongongkan kepala dengan ekspresi sangat sopap.“Mohon maaf, Tuan Adam, Nyonya Areta ... lima menit lagi prosesi akan dimulai. Pengantin wanita sudah siap di posisinya,” lapor petugas tersebut.Adam menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan, lalu menatap Areta dengan senyum yang jauh lebih rileks. Ia menurunkan Arkadia dari gendongannya dan menyerahkannya kembali ke pelukan Areta.“Aku ke depan duluan, ya. Jaga jagoan kita,” ucap Adam sambil merapikan ujung jas hitamnya yang berpotongan tegas.“Semangat, Mas. Kamu pasti bisa,” bisik Areta memberikan dorongan moral.RAlunan musik instrumental lembut mulai mengalun, memenuhi ruang aula pernikahan yang didekorasi dengan sangat elegan, perpaduan antara selera seni Pierre yang megah dan sentuhan minimalis kesukaan Luna. Di ujung altar, Pierre sudah berdiri tegak. Wajahnya yang bia
Begitu Areta membuka pintu rumah, pemandangan pertama yang menyambutnya adalah Adam yang duduk di lantai ruang tengah dengan kacamata tebal bertengger di hidungnya. Kemeja kantornya sudah dilepas, menyisakan kaos oblong yang sedikit terkena noda kuah sayur.Di depannya, Arkadia menutup mulut rapat-rapat, menolak suapan dari sendok kecil jika Adam tidak mengenakan kacamata “culun” tersebut.“Are, syukurlah kamu pulang!” seru Adam dengan nada memelas. “Aku sudah mencoba segala cara—berakting jadi robot, pesawat terbang, bahkan jadi direktur perusahaan lawan—tapi dia tetap tidak mau buka mulut kalau aku tidak pakai kacamata ini. Aku sudah hampir kehabisan ide!”Areta tertawa geli melihat suaminya yang berwibawa di ruang rapat, kini tak berdaya di hadapan balita yang keras kepala. “Itu karena kacamata itu membuatmu terlihat seperti ‘Papa’, bukan ‘Tuan Adam’ yang kaku. Arkadia tahu mana yang asli.”Keesokan harinya, suasana di apartemen Luna berubah menjadi pusat kendali mode. Areta da
Areta mengajak Luna beranjak dari butik menuju sebuah toko bunga mungil di sudut jalan yang tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan. Toko itu milik seorang wanita tua yang sudah menjadi langganan Areta sejak awal ia merintis karier. Aroma segar tanah basah dan keharuman berbagai jenis bunga langsung menyambut mereka begitu pintu kayu toko itu terbuka."Bunga pengantin bukan sekadar pelengkap foto, Luna," ujar Areta sambil menyisir deretan bunga-bunga segar yang baru saja tiba. "Buket ini harus bercerita siapa kamu. Pierre mungkin ingin sesuatu yang megah, tapi aku ingin sesuatu yang... benar-benar Luna."Luna berjalan perlahan, jemarinya menyentuh kelopak bunga mawar putih yang sempurna, lalu beralih ke bunga Lily of the Valley. "Aku suka yang putih, Kak. Tapi aku merasa ada yang kurang kalau hanya putih."Areta mengambil setangkai Calla Lily putih yang jenjang dan kokoh, lalu memadukannya dengan beberapa kuntum Eustoma (Lisianthus) berwarna ungu muda yang sangat lembut dan kelopa
Setelah perdebatan panjang soal garis pinggang dan pola payet mereda, Pierre tiba-tiba menghentikan gerakannya. Ia memasang wajah misterius, lalu melirik ke arah tas jinjing kulit besar yang ia letakkan di pojok butik sejak tadi."Luna, sebelum Areta melepaskan kain percobaan ini dari tubuhmu, aku punya satu hal lagi," ujar Pierre dengan nada suara yang tiba-tiba merendah dan penuh perasaan.Ia melangkah perlahan, mengambil sebuah kotak beludru berwarna biru gelap dari dalam tasnya. Dengan gerakan perlahan layaknya sedang melakukan ritual suci, Pierre membukanya di hadapan Luna dan Areta.Areta spontan menutup mulut dengan tangannya, matanya membelalak kagum. Di dalam kotak itu, terdapat sepasang sepatu hak tinggi dengan desain yang sangat artistik. Bagian tumitnya terbuat dari logam tipis berwarna perak yang meliuk indah, sementara bagian badannya dilapisi kain sutra transparan yang dihiasi sulaman bunga melati kecil, bunga favorit Luna, yang dibuat dari kerajinan tangan yang luar
Energi Arkadia akhirnya habis juga. Setelah berkali-kali meluncur di perosotan barunya, bocah mungil itu mulai mengucek mata dan bersandar di kaki kursi kebesaran Papanya. Dengan sisa tenaga, ia merangkak naik ke atas kursi kulit yang luas itu, kursi yang bagi orang lain adalah simbol kekuasaan, namun bagi Arkadia tak lebih dari tempat tidur yang empuk.Hanya dalam hitungan menit, Arkadia sudah tertidur pulas. Kepalanya bersandar pada bantal kecil yang sengaja diletakkan Areta di sana. Tubuh kecilnya terlihat sangat kontras dengan kursi CEO yang megah, menciptakan pemandangan yang sanggup meluluhkan hati siapa pun.Adam yang baru saja akan kembali ke mejanya terhenti. Ia memberikan isyarat telunjuk di depan bibir kepada Luna yang baru saja mau masuk membawa map."Jangan berisik," bisik Adam pelan. "Jagoan kecilku sedang menguasai singgasananya."Areta tersenyum simpul melihat suaminya yang rela "terusir" dari meja kerjanya sendiri. Tanpa keluhan, Adam memindahkan laptop dan bebera
Pagi itu, Adam berdiri di podium lobi utama Rajawali Jaya Group. Ratusan pegawai dari berbagai divisi berkumpul, menciptakan suasana yang sedikit tegang namun penuh rasa penasaran. Adam tampil rapi, namun aura garang yang sempat terlihat saat kasus Bima kini telah berganti menjadi wibawa seorang pe
Halaman luas kediaman Rajes kini telah berubah menjadi area konstruksi estetik yang sibuk. Truk-truk besar bermuatan bunga segar dan rangka besi dekoratif berjajar di area parkir. Suara denting palu yang bertemu rangka besi dan instruksi kru dekorasi menciptakan suasana yang penuh energi sekaligus
Sinar matahari sore menembus jendela kaca butik Areta Niku, memantulkan kilau pada deretan manekin yang mengenakan koleksi terbarunya. Di dalam, Areta tampak sibuk. Setelah ketegangan soal teror Bima mereda, ia memutuskan untuk menyalurkan energinya dengan merapikan butik.Lengan kemeja putihnya m
Setelah keheningan yang mencekam selama beberapa menit, Adam akhirnya bersuara. Suaranya rendah, serak, namun penuh tekanan yang tidak terbantahkan.“Luna, hubungi tim IT. Saya ingin rekaman CCTV di depan gerbang rumah Papa Rajes dalam satu jam terakhir disisir habis. Cari kurir paket itu. Jika di







