MasukBegitu Areta membuka pintu rumah, pemandangan pertama yang menyambutnya adalah Adam yang duduk di lantai ruang tengah dengan kacamata tebal bertengger di hidungnya. Kemeja kantornya sudah dilepas, menyisakan kaos oblong yang sedikit terkena noda kuah sayur.Di depannya, Arkadia menutup mulut rapat-rapat, menolak suapan dari sendok kecil jika Adam tidak mengenakan kacamata “culun” tersebut.“Are, syukurlah kamu pulang!” seru Adam dengan nada memelas. “Aku sudah mencoba segala cara—berakting jadi robot, pesawat terbang, bahkan jadi direktur perusahaan lawan—tapi dia tetap tidak mau buka mulut kalau aku tidak pakai kacamata ini. Aku sudah hampir kehabisan ide!”Areta tertawa geli melihat suaminya yang berwibawa di ruang rapat, kini tak berdaya di hadapan balita yang keras kepala. “Itu karena kacamata itu membuatmu terlihat seperti ‘Papa’, bukan ‘Tuan Adam’ yang kaku. Arkadia tahu mana yang asli.”Keesokan harinya, suasana di apartemen Luna berubah menjadi pusat kendali mode. Areta da
Areta mengajak Luna beranjak dari butik menuju sebuah toko bunga mungil di sudut jalan yang tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan. Toko itu milik seorang wanita tua yang sudah menjadi langganan Areta sejak awal ia merintis karier. Aroma segar tanah basah dan keharuman berbagai jenis bunga langsung menyambut mereka begitu pintu kayu toko itu terbuka."Bunga pengantin bukan sekadar pelengkap foto, Luna," ujar Areta sambil menyisir deretan bunga-bunga segar yang baru saja tiba. "Buket ini harus bercerita siapa kamu. Pierre mungkin ingin sesuatu yang megah, tapi aku ingin sesuatu yang... benar-benar Luna."Luna berjalan perlahan, jemarinya menyentuh kelopak bunga mawar putih yang sempurna, lalu beralih ke bunga Lily of the Valley. "Aku suka yang putih, Kak. Tapi aku merasa ada yang kurang kalau hanya putih."Areta mengambil setangkai Calla Lily putih yang jenjang dan kokoh, lalu memadukannya dengan beberapa kuntum Eustoma (Lisianthus) berwarna ungu muda yang sangat lembut dan kelopa
Setelah perdebatan panjang soal garis pinggang dan pola payet mereda, Pierre tiba-tiba menghentikan gerakannya. Ia memasang wajah misterius, lalu melirik ke arah tas jinjing kulit besar yang ia letakkan di pojok butik sejak tadi."Luna, sebelum Areta melepaskan kain percobaan ini dari tubuhmu, aku punya satu hal lagi," ujar Pierre dengan nada suara yang tiba-tiba merendah dan penuh perasaan.Ia melangkah perlahan, mengambil sebuah kotak beludru berwarna biru gelap dari dalam tasnya. Dengan gerakan perlahan layaknya sedang melakukan ritual suci, Pierre membukanya di hadapan Luna dan Areta.Areta spontan menutup mulut dengan tangannya, matanya membelalak kagum. Di dalam kotak itu, terdapat sepasang sepatu hak tinggi dengan desain yang sangat artistik. Bagian tumitnya terbuat dari logam tipis berwarna perak yang meliuk indah, sementara bagian badannya dilapisi kain sutra transparan yang dihiasi sulaman bunga melati kecil, bunga favorit Luna, yang dibuat dari kerajinan tangan yang luar
Energi Arkadia akhirnya habis juga. Setelah berkali-kali meluncur di perosotan barunya, bocah mungil itu mulai mengucek mata dan bersandar di kaki kursi kebesaran Papanya. Dengan sisa tenaga, ia merangkak naik ke atas kursi kulit yang luas itu, kursi yang bagi orang lain adalah simbol kekuasaan, namun bagi Arkadia tak lebih dari tempat tidur yang empuk.Hanya dalam hitungan menit, Arkadia sudah tertidur pulas. Kepalanya bersandar pada bantal kecil yang sengaja diletakkan Areta di sana. Tubuh kecilnya terlihat sangat kontras dengan kursi CEO yang megah, menciptakan pemandangan yang sanggup meluluhkan hati siapa pun.Adam yang baru saja akan kembali ke mejanya terhenti. Ia memberikan isyarat telunjuk di depan bibir kepada Luna yang baru saja mau masuk membawa map."Jangan berisik," bisik Adam pelan. "Jagoan kecilku sedang menguasai singgasananya."Areta tersenyum simpul melihat suaminya yang rela "terusir" dari meja kerjanya sendiri. Tanpa keluhan, Adam memindahkan laptop dan bebera
Keesokan harinya, Areta memutuskan untuk melakukan sesuatu yang berbeda. Setelah menyelesaikan beberapa pesanan di butik, ia menggendong Arkadia dan menyiapkan kotak bekal berisi masakan rumah favorit Adam.“Kita kasih kejutan buat Papa ya, Arkadia,” bisik Areta sambil mencium pipi gembul putranya.Areta memesan taksi online menuju gedung pencakar langit Rajawali Jaya Group.Begitu taksi online berhenti tepat di depan lobi utama gedung Rajawali Jaya, para petugas keamanan yang tadinya berdiri tegak langsung memberikan hormat paling takzim yang pernah Areta lihat. Mereka tidak menyapa dengan “Selamat siang, Bu,” melainkan dengan anggukan dalam seolah menyambut ratu yang pulang ke istananya.Areta melangkah masuk dengan tenang sembari menggendong Arkadia. Di lobi, Luna sudah menunggu dengan wajah sumringah.“Kak Areta! Akhirnya Pangeran Kecil mampir ke sini,” seru Luna riang. Ia langsung mengambil alih tas perlengkapan bayi Areta. “Tuan Adam ada di atas. Beliau baru saja menyelesai
Pagi ini, butik terasa lebih tenang. Setelah mengantar Areta ke butik, dan Arkadia ke rumah mama Veronica, Adam langsung berangkat ke kantor.Saat Areta sedang menyusun sketsa di meja kerjanya, pintu butik terbuka. Luna melangkah masuk dengan senyum formal yang biasa ia tunjukkan di kantor pusat."Selamat pagi, Nyonya Areta," sapa Luna dengan takzim, membungkukkan kepalanya sedikit.Areta meletakkan pensilnya, lalu menatap Luna dengan senyum tipis yang penuh arti. "Luna, sudahlah. Berhenti memanggilku 'Nyonya' dengan nada sekaku itu. Kita sedang di butik, bukan di ruang rapat Rajawali Jaya."Luna sedikit tersentak, matanya membelalak kecil. "Jadi ... saya harus panggil apa, nyonya? Sis?” kekeh Luna.“Boleh. Kakak ... aku lebih suka. Aku ingin seorang adik perempuan. Kamu bukan hal yang buruk. Mau?”“Tentu, Nyonya. Eh ... maksud saya, Kakak Areta.”Areta mengangguk diiringi senyuman. “Luna, kudengar kamu ke sini bukan untuk urusan kantor pusat?"Luna tersenyum tulus, kali ini le
Jean-Pierre bergegas menghampiri Areta yang terduduk lemas. Saat ia menarik lengan Areta untuk membantunya berdiri, sebuah benda plastik kecil terjatuh dari saku mantel yang tersampir di kursi. Jean-Pierre tertegun sejenak saat melihat dua garis merah yang sangat jelas di atas lantai studio yang di
Areta sudah memutar tubuhnya, langkah kakinya yang cepat dan tegas menggema di lantai marmer yang mengkilap menuju lift. Namun, sebelum jemarinya sempat menyentuh sensor pintu, sebuah lengan kokoh menghadang jalannya.Adam berdiri tegak di depan pintu lift. Tidak ada lagi bahu yang membungkuk lesu
Salah satu orang suruhan di belakang Renata berbisik dengan suara gemetar, "Nona ... sebaiknya kita pergi. Pria ini ....""Diam kamu!" bentak Renata pada orang suruhannya, lalu kembali menatap Adam. "Adam, aku akan bayar berapa pun! Kamu mau uang? Aku kasih! Tapi tolong bilang pada bosmu untuk ber
Areta menunggu momen yang tepat. Begitu ia mendengar suara gemericik air dan denting piring dari arah dapur, pertanda Adam sedang sibuk membereskan bekas sarapan mereka, ia segera bangkit dari kursinya. Dengan langkah berjinjit dan jantung yang masih berdegup kencang, ia menyelinap masuk ke dalam ka







