Mag-log in"Kamu suka gaya seperti itu?" Tanya Bimo sambil tangannya memainkan kedua pucuk dada Nindy."Suka sekali, apalagi punya kamu panjang dan besar."Bimo menarik Nindy kembali masuk ke dalam pelukannya. Sentuhannya dimulai dari elusan lembut dan kecupan-kecupan singkat."Aku akan sambil menelpon Rossa," ucap Nindy.Bimo mengangguk, baginya tidak masalah yang penting adalah mendapatkan izin dan tidak membayar denda. Sebab, Nyonya Rossa mengancamnya dengan memintanya membayar denda kalau neka pulang.Orang-orang kaya itu, hanya berpikir kalau semuanya akan selesai dengan uang./ Bagi mereka, Bimo cukup mengirimkan uang ke desa, dan tidak perlu pulang."Ada apa?" Tanya Nyonya Rossa diujung telepon setelah panggilan itu terhubung.Nindy bahkan sengaja mendesah di telepon agar Nyonya Rossa mendengarnya."Biarkan Bimo pulang selama dua hari, kerugiannya mu aku akan membayarnya," jawab Nindy dengan tegas.Ternyata, dibalik wajah lembut yang kadang kekanak-kanakan itu dan paling muda, itu memilik
"Bimo, kau sungguh hebat." Nindy terus memuji Bimo yang sedang meliuk-liuk di atas tubuhnya, di dalam kamar hotel yang hangat. Hanya ada dua insan tanpa busana, saling berbagi peluh dan kenikmatan. Bimo baru saja menemani Nindy, dan sekarang keduanya sudah berada di dalam kamar yang disewa oleh Nindy untuk mereka. Tubuh Nindy yang putih bersih tampak berkilau penuh dengan keringat berada dibawah tubuh Bimo. Dua tangan Bmo tampak meremas dan memilin dua gunung kembar Nindy. Wanita itu berkali-kali merintih nikmat. Tangannya mencengkeram bahu Bimo, kedua kakinya terangkat dan pinggul Bimo bergerak liar, menekan miliknya ke dalam tubuh Nindy hingga masuk sepenuhnya. "Ahhh..." Nindy mendesah hebat ketika Bimo menaikkan ritmenya. Dada Nindy sudah penuh dengan tanda merah yang ditinggalkan oleh Bimo, dan tidak berapa lama, Nindy semakin mencengkram punggung Bimo semakin kencang diikuti dengan rintihan nikmat. "Aku mau keluar," ucap Bimo semakin mempercepat memompa tubuh Nindy.
"Kamu itu kenapa sih hari ini ngeselin banget?" tanya Adiba kepada Bimo. Tatapan matanya begitu tajam."Aku memang seperti ini, Adiba.""Tapi kemarin kamu tidak begini.""Karena kemarin adalah hari perkenalan. Pastinya kita harus saling mengenal dulu satu sama lain. Aku harus melihat dulu bagaimana sifat kamu," jawab Bimo jujur."Nyesal aku kemarin sempat berpikir kalau kamu itu orang baik.""Baik tidaknya seseorang itu tergantung bagaimana cara kamu memandangnya. Aku seperti ini agar kamu banyak belajar. Mungkin di rumah kamu mendapat tuntutan yang begitu banyak, tapi aku ingin kamu tidak melupakan rasa empati."Adiba tidak menjawab. Ia hanya mendengus kesal dan kembali menyalakan mobil.Kali ini gadis itu begitu emosi sehingga ia mengemudikan mobil itu dengan kecepatan sangat tinggi, membuat Bimo sampai berpegang pada pegangan tangan di sampingnya."Adiba, hati-hati! Kamu baru belajar mengemudi, jangan langsung mau jadi pembalap," ucap Bimo."Berarti aku sudah bisa, kan? Dan besok k
"Siapa?" gumam Bimo. Bimo dan Wina salah tingkah. Mereka kebingungan. Satu sisi, hasrat sudah di ujung tanduk, sudah sampai ke ubun-ubun. Jika tidak dilampiaskan, maka efeknya akan menimbulkan pusing, bahkan sampai mual muntah. Tapi kalau mengabaikan panggilan tersebut juga mungkin membuat orang yang berada di luar semakin curiga. Motor Bimo ada di depan pintu dan juga sandal mereka terletak di teras. Ketukan pintu kembali terdengar. "Siapa?" tanya Bimo akhirnya, memberanikan diri mengeluarkan suaranya, namun keduanya masih tetap di posisi semula. Wina masih polos dengan hasrat yang menggebu-gebu, dan Bimo bagian bawah sudah tidak mengenakan celana lagi, hanya ada kaos oblong yang masih menempel. "Ini kami dari showroom yang tadi. Ada dokumen yang terlupa Bapak tanda tangan, nih," jawab suara lembut di depan. Bimo menghela napas lega. Setidaknya itu bukanlah orang yang dikenalnya. "Tunggu di kamar," bisik Bimo kepada Wina sebelum ia mengenakan kembali celananya dan membuka pi
"Maksud Mbak Wina apa?" tanya Bimo yang pura-pura tidak mengerti.Padahal, Bimo sangat paham dengan maksud yang disampaikan oleh Wina. Wanita itu sepertinya salah satu dari sekian banyak wanita kesepian di kota ini yang butuh sentuhan lelaki seperti Bimo.Tubuh Bimo merinding ketika merasakan napas Wina yang begitu dekat dengan telinganya.Aliran darahnya terasa hangat."Bimo, kamu pasti tahu apa yang aku maksud. Sawahku perlu digarap karena kalau tidak segera digarap, lumutnya akan semakin banyak dan nanti akan mengeras," jawab Wina yang kini sudah melingkarkan tangannya di leher Bimo."Tapi bagaimana nantinya kalau Pak Tua tahu jika sawahnya sudah digarap orang lain?" tanya Bimo.Wajah keduanya begitu dekat, bahkan Bimo bisa merasakan embusan napas Wina yang begitu lembut dan wangi.Bau sampo Wina menguar lembut masuk ke hidung Bimo, meningkatkan hasratnya pada wanita itu."Pak tua tidak akan tahu, dan juga dia memiliki dua sawah, jadi dia tidak akan memperhatikan secara detail sawa
"Saya belum bertanya harga, Mbak. Saya masih mau melihat-lihat dulu," ucap Bimo.Pelayan showroom tersebut tampak mengerling dan tersenyum sinis ke arah Bimo. "Kalau hanya lihat-lihat, mending tidak usah, karena nantinya takutnya ketika ada yang sesuai kamu malah tidak mampu membayarnya. Semua harga di sini mahal."Seorang wanita cantik dengan pakaian cukup seksi berbicara dengan nada merendahkan kepada Bimo.Dan diikuti gelak tawa oleh yang lainnya.Bimo dengan wajah gelap, kaos oblong bukan baju baru, dan celana pendek agak lusuh, mungkin di mata mereka itu adalah orang yang tidak mampu membeli motor yang mereka jual."Oh begitu," ucap Bimo yang mulai kesal karena merasa direndahkan."Iya, karena kami tidak mau menghabiskan energi dan tenaga kami untuk menjelaskan kepada orang yang belum tentu membeli.""Memangnya berapa harga yang paling mahal di sini?" tanya Bimo."Ada harga diatas tiga puluh juta."Bimo dengan sengaja membuka tasnya, yang kebetulan di dalam situ ada uang cash beb







