LOGIN"Hamil? Anak aku?" tanya Bimo terkejut. Bagaikan disambar petir di siang hari, ia mendengar pengakuan dari Naya. Entah cobaan apalagi yang harus ia hadapi disaat seperti ini. Wanita itu dengan santainya mengaku kalau ia sedang hamil dan itu kemungkinan anak Bimo. "Iya, karena ini aku merasakan mulai mual muntah setelah kita berhubungan malam itu," jawab Naya. Bimo akui, ia memang pernah khilaf datang ke rumah Naya dan mencicipi tubuh gadis itu, tapi ia tidak yakin kalau anak yang berada di dalam kandungan Naya adalah anaknya. Meskipun belum ada bukti yang jelas anak siapa di dalam kandungan Naya, tapi bagi Bimo itu pasti bukanlah anaknya. "Kamu jangan menjebakku, Naya." "Menjebak bagaimana? Aku tidak pernah menjebak kamu. Anak ini memang anak kamu. Setelah tidak lama kita berhubungan itu, aku merasa mual saat sedang hamil. Aku belum datang bulan, terus ketika aku tes, aku memang positif hamil." Naya menangis. Air matanya berderai. Tangannya masih memegang paha Bimo. Seluruh a
"Lia, apa kamu tidak mau lagi melihat Kakak?" tanya Bimo. "Tapi aku mau sama Ibu, Kak." "Iya, sadarlah. Masa depan kamu itu masih panjang. Ibu akan bahagia dari atas sana ketika melihat kamu itu bahagia dan sukses. Kamu tahu, kamu harus tetap semangat melanjutkan semua ini." Bimo mengguncang tubuh Lia, menahan sesak di dadanya melihat adiknya yang begitu rapuh. "Untuk apa, Kak, kalau tidak ada Ibu?" "Untuk dirimu sendiri, Lia. Kehilangan bukan berarti semuanya harus hilang. Masa depan kamu tidak boleh hilang. Kakak akan mengusahakan apa pun untuk masa depan kamu." Lia tidak lagi menjawab. Dia duduk luruh di depan makam sang ibu dengan air mata yang terus mengalir. Bimo menghela napas berat, menatap langit yang kini mulai kelabu. Hujan masih mau turun. Sepertinya kemarau belum juga tiba tahun ini. "Lia, ayo kita pulang. Mau hujan, nanti kamu sakit," ujar Bimo menarik tangan sang adik. "Aku mau di sini aja, Kak. Aku mau menemani Ibu. Ibu tidak boleh hujan-hujanan sendirian. Ibu
"Bimo, jangan gila!" ujar Nindy. "Kenapa? Apakah kalau tidak kembali lagi aku dianggap gila?" Terdengar helaan napas dari Nindy di ujung telepon. Mungkin ia paham perasaan Bimo, tapi bagaimanapun juga Bimo terikat kontrak dengan mereka, dan Bimo tidak bisa memutuskan kontrak itu semena-mena. "Bukan begitu, Bimo. Maksudku, kamu tahu kan kalau kamu itu memiliki perjanjian kontrak? Kalau kamu tidak kembali lagi ke sini, itu artinya kamu menyalahi aturan dan kamu bisa dituntut." "Tapi aku tidak pernah menginginkan kontrak itu. Kalianlah yang membuat kontrak itu secara sepihak." "Tapi kamu menikmati hasilnya selama beberapa bulan ini." "Iya, karena sudah terlanjur tanda tangan." "Apapun itu alasan yang kamu berikan, tetap saja kamu menandatangani surat perjanjian itu dengan sukarela, Bimo. Jadi, kamu pun harus mematuhinya dengan sukarela." Nindy menjeda kalimatnya sejenak. "Aku tahu saat ini kamu sedang berduka. Kamu sedang bersedih kehilangan ibumu, karena apa yang kamu lakukan s
"Bimo, kau menghina anakku?" tanya Pak Kades marah. "Itulah kenyataannya," jawab Bimo. Pak Kades seperti membangunkan singa yang tertidur. Ia pikir Bimo tidak berani melawan dan tidak berani menolaknya. Namun ternyata, kematian ibunya membuat pemuda itu benar-benar menjadi orang yang baru. Ia tidak segan-segan menolak, bahkan kata-kata yang keluar dari bibirnya cukup menyakitkan. Pak Rahmat sejak tadi berusaha untuk menengahi, tapi Bimo tetap bersikeras untuk melawan. Baginya, sekarang tidak ada gunanya mengalah. Ibunya sudah meninggal. "Aku juga akan menuntut Ninda karena fitnah yang disebarkannya. Ibuku jadi meninggal. Aku akan menuntutnya dengan pasal pembunuhan," sambung Bimo. "Kita carikan jalan tengahnya saja, Bimo," jawab Pak Kades yang akhirnya mulai menurunkan suaranya. Pak Kades paham, memaksa Bimo tidak akan bisa membuatnya menang. "Bersihkan nama baikku di desa ini dan aku tidak akan menuntut." "Baiklah, nanti nama kamu di desa ini akan dibersihkan. Tapi, bisa ya
Plak! Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Bimo. Wajah pamannya memerah menahan amarah kepada sang keponakan yang berbicara sembarangan di tempat umum, apalagi yang dibicarakan itu adalah anak Pak Kades. "Bimo! Jangan sembarangan bicara. Kesalahanmu membuat ibumu mati, jangan kamu mencari-cari kesalahan orang lain!" ucap sang paman. "Aku tidak mengada-ngada. Itulah kenyataannya. Kenapa Ninda menyebarkan cerita tentangku di desa ini? Karena dia tidak bisa menekanku untuk menikahinya yang hamil tanpa suami." Bimo diam. Pamannya yang bernama Wiro itu begitu panik ketika Bimo secara terang-terangan menyebut nama Ninda. "Kenapa? Paman takut?" "Kamu tahu apa yang kamu katakan? Itu bisa menjadi fitnah kalau salah. Jadi jangan sembarangan. Kamu menuduh orang lain seperti itu, kamu bisa dipenjara kalau kamu tidak bisa membuktikannya." "Buktikan saja. Suruh dia tunjukkan mana buktinya aku menjadi gigolo dan mana buktinya kalau dia hamil." "Bimo, kamu tahu siapa yang kamu lawan. Jan
Dokter dan perawat menggelengkan kepala setelah memeriksa kondisi Bu Inah. "Maaf, pasien sudah tiada," ucap dokter dengan lemah. Bimo menggelengkan kepalanya. "Tidak, ini tidak mungkin. Tadi ibuku baik-baik saja, dia tersenyum padaku." "Dokter bilang Ibu sudah stabil. Kenapa Ibu malah pergi untuk selama-lamanya? Lia masih butuh Ibu," ratap Lia dengan air mata yang sudah mengalir deras di pipinya. Adelia memeluk Lia dan menenangkan gadis remaja itu. Ia tahu bagaimana perasaan Lia. Ia pasti sangat kehilangan. "Ibu..." panggil Lia lagi. Sementara itu, Pak Rahmat hanya terdiam memegang tangan sang istri yang perlahan mulai dingin. Beliau bahkan tidak menangis, tetapi tatapannya menerawang dan kosong. "Maaf, Dek. Tadi memang kondisinya sudah stabil, tapi kita tidak bisa menebak apa yang terjadi setelahnya. Ini sudah takdir-Nya," jawab dokter muda itu sambil menepuk pundak Lia. Bahkan mata sang dokter berkaca-kaca, tidak bisa melihat kesedihan yang begitu pilu dari tangisan Lia. "B