MasukBimo menatap Selvi dengan tajam, napasnya mulai memberat. "Nyonya yakin mau melakukan ini?" tanyanya dengan suara rendah yang mengintimidasi.
Selvi tersenyum menggoda, menatap tepat ke mata pria itu. "Tentu saja. Apalagi yang kamu tunggu?” Bimo menatap Selvi dengan tajam. Tanpa ragu, ia melepaskan kancing kemejanya dengan cepat, menarik kain itu, dan melemparnya ke lantai. Tubuh Bimo terekspos sepenuhnya. Dada bidangnya, otot perutnya yang tercetak jelas, dan lengannya yang besar memperlihatkan fisik atletis yang keras. Kulit gelap eksotis Bimo tampak mengkilap oleh keringat, memantulkan cahaya lampu tidur di kamar itu. Kejantanan dan aura dominasi pria itu memancar begitu kuat, membuat Selvi seketika terpaku. Matanya menyusuri setiap senti otot Bimo dengan penuh gairah dan kekaguman. "Tubuhmu... menggoda sekali, Bimo…" bisik Selvi. Belum puas memandangi tubuh Bimo yang begitu mencolok, Selvi tidak bisa berdiam diri. Ia melangkah maju, mendekatkan tubuh mereka. Wajahnya menunduk mendekati dada Bimo. Ia menjulurkan lidahnya, lalu memainkannya di permukaan kulit gelap berkeringat milik Bimo. Sentuhan basah dan panas dari Selvi menjalar cepat di saraf Bimo. Kewarasan Bimo langsung hilang. Gairahnya memuncak dan sama sekali tidak bisa ditahan lagi. Bimo segera membalas agresivitas itu. Tangannya yang besar merengkuh pinggang Selvi, menarik wanita itu hingga tubuh mereka merapat sempurna. Bimo mulai meraba dan menyentuh setiap inci kulit Selvi. Ia menelusuri lekuk tubuh client-nya itu yang sangat menggoda. Tangannya bergerak dari punggung, turun ke pinggang yang ramping, lalu meremas pelan pinggul Selvi yang padat. Bentuk tubuh Selvi yang melengkung sempurna benar-benar pas di genggaman Bimo. "Bim... ah, sentuhanmu..." desah Selvi, memejamkan mata menikmati sensasi kasarnya telapak tangan Bimo. Perbedaan fisik mereka terlihat jelas. Bimo memiliki kulit gelap, keras, dan berurat. Sementara itu, kulit Selvi putih bersih, mulus, dan sangat lembut. Saat tangan Bimo membelai kulit putih Selvi, mereka terlihat persis seperti perpaduan kopi pekat dan susu murni. Kontras warna dan tekstur ini membuat suasana semakin memanas. Setiap sentuhan berani dari Bimo langsung disambut dengan desahan dari bibir Selvi. "Sekarang giliranku yang memegang kendali," ucap Bimo. Dengan gerakan cepat dan bertenaga, ia mendorong tubuh Selvi ke atas kasur dan membalikkan posisinya hingga wanita itu telentang. Posisi ini membuat lekuk gundukan bukitnya yang ranum dan paha jenjang Selvi terlihat sepenuhnya. Milik Bimo semakin mengeras melihat pemandangan menggoda di bawahnya. Namun, saat Bimo menahan posisinya di atas Selvi, matanya menangkap sesuatu yang ganjil. Di sudut langit-langit kamar, tepat di atas ranjang, ada sebuah titik hitam. Benda itu terlihat seperti lensa kecil yang berkedip samar! Tubuh Bimo kaku sejenak. "Tunggu sebentar, Nyonya…" tegur Bimo dengan napas memburu, berusaha menahan laju tubuhnya. "Ada apa?" Selvi membuka matanya dengan sayu, tubuh berisinya menggeliat gelisah di atas seprai karena kehilangan sentuhan Bimo. "Ada sesuatu yang aneh di langit-langit itu. Seperti ada lensa kamera," Bimo menunjuk ke atas dengan dahi berkerut. Selvi membuka matanya. Namun, gairah sudah menutupi akal sehatnya. Tubuh padatnya menggeliat gelisah di atas seprai. Ia sama sekali tidak menoleh ke arah benda yang ditunjuk Bimo. Sebaliknya, kedua tangan Selvi melingkar kuat di leher Bimo. Ia menarik kepala Bimo ke bawah. Bukit kembarnya bergesekan langsung dengan dada bidang Bimo saat ia memaksa tubuh mereka kembali menempel. "Abaikan saja!" bisik Selvi dengan suara serak dan mata sayu. "Lihat aku!" Tangan Selvi kini menarik rambut belakang Bimo dengan kasar, mengarahkan wajah Bimo pada tubuhnya yang telah panas. Melihat tubuh Selvi yang menantang dan mendengar permintaannya, sisa kecurigaan Bimo menghilang. Ia tak dapat lagi menahan gejolak dalam tubuhnya. Bimo mengabaikan langit-langit itu dan kembali menatap wanita di bawahnya. Suasana kamar menjadi sangat intens. Suara napas berat bersahutan. Keringat dari tubuh Bimo menetes dan menyatu dengan keringat di kulit putih Selvi. Gesekan tubuh mereka menimbulkan panas di tubuh mereka. Bimo memposisikan dirinya. Ia sudah siap sepenuhnya untuk menyatukan tubuh mereka. Di bawahnya, Selvi membuka kedua kakinya selebar mungkin, memberikan jalan langsung tanpa keraguan. Detik-detik sebelum mereka menyatu, tubuh mereka menegang. Selvi sudah berada di batas maksimal daya tahannya. Tubuhnya meliuk mencari sentuhan yang lebih dalam. Ia tidak tahan lagi dengan gairah yang menggantung. Selvi merintih keras, meremas seprai sambil mencengkeram lengan berotot Bimo. "Bimo, kumohon..." rengek Selvi, suaranya sarat akan hasrat yang membuncah. "Cepat... lakukan sekarang. Aku sudah tidak tahan." Mendengar rintihan Selvi itu, Bimo tidak sanggup menunda lagi."Apa kamu serius, Bimo?" tanya Pak Rahmat.Bimo menganggukkan kepalanya lalu menunjukkan foto yang ia ambil. Terlihat jelas bekas potongan rapi di tengah besi motor Pak Rahmat."Berarti ini saat Bapak di sawah parkir. Mungkin ada yang diam-diam melakukan ini pakai gergaji besi," ucap Bimo."Siapa yang mau membunuh bapak kamu?" tanya Sulis."Biar aku selesaikan, Bi. Bibi tidak perlu khawatir dan Bibi juga tidak perlu merawat Bapak di sini. Biar aku saja. Aku tidak akan pergi ke mana-mana lagi. Aku akan menetap di sini," ucap Bimo.Pak Rahmat menatap Bimo tidak percaya. Keputusan Bimo tampak terdengar terburu-buru. Tapi jujur dalam hatinya merasa senang akhirnya anaknya mau kembali ke desa.Pun dengan Alena dan Lia, keduanya langsung menatap Bimo tidak berkedip mendengar apa yang dikatakan oleh Bimo.Mereka tidak menyangka kalau akhirnya Bimo memutuskan tidak kembali lagi ke kota."Nah, gitu harusnya. Sejak ibu kamu meninggal tidak usah pergi ke mana-mana. Katanya sudah beli banyak sawa
"Kak Bimo, tunggu!" teriak Lia yang berlari menyusul Bimo, buru-buru masuk ke dalam rumah.Tampak beberapa orang menoleh ketika melihat Bimo dan Lia datang."Bimo, akhirnya kamu pulang," sambut para tetangga melihat kedatangan Bimo."Ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Bimo."Bapak kamu mengalami kecelakaan, Bim. Tadi saat mengangkut gabah dari sawah, motornya tiba-tiba belah dua."Seorang lelaki paruh baya menjelaskan kepada Bimo apa yang terjadi di rumahnya saat ini. Bapaknya Bimo sudah berada di rumah, baru dibawa pulang dari puskesmas.Beliau mengalami luka di beberapa bagian tubuhnya dan tertimpa gabah."Belah dua? Bagaimana?" tanya Bimo heran."Iya, antara kepala dan belakangnya itu belah jadi dua gitu. Nggak tahu kenapa, besinya kayak patah."Bimo mendekat. Bapaknya tampak sudah sadar, tapi menurut beberapa orang kaki dan tangannya mengalami keseleo."Bapak!" panggil Lia yang langsung memeluk Pak Rahmat yang kini terbaring di kasur. Beliau dirawat oleh adik kandungnya yang memang
Alena terkejut bukan main mendengar apa yang dikatakan oleh Bimo, karena yang ia tahu seharusnya hari ini Bimo bertemu dengan ibunya untuk memutus rantai perjanjian yang menjerat itu."Hah? Apa yang terjadi? Dia mengancammu?" tanya Alena.Bimo menghela napas berat dan memegang kepalanya. Rasanya begitu sakit. Ia terbentur antara prinsip dan kenyataan."Nyonya Rossa menggunakan keselamatan Lia untuk menekanku."Alena menggelengkan kepalanya. Ia tahu posisi Bimo pasti serba salah dan kesulitan karena Lia adalah adik kesayangannya. Lia adalah satu-satunya saudara kandungnya.Tapi kalau seperti ini berarti hubungan mereka tidak akan pernah meningkat dan berpacaran secara resmi sebab Bimo masih terikat kontrak dan masih menjadi gigolo.Namun, di sisi lain Alena juga tidak bisa menyalahkan Bimo. Jika berada di posisi Bimo, pastinya sangat berat."Ya sudah, tidak apa-apa. Apa pun yang terjadi, yang pastinya aku mencintaimu," ucap Alena.Bimo tidak menjawab. Ia merasa tidak pantas membalas ra
"Aku nggak apa-apa, Lia," ucap Bimo menenangkan Lia.Bimo yang sakit, tapi Lia yang menangis. Alena malah tampak bingung melihat dua saudara ini.Alena melihat bagaimana rasa sayangnya dan hubungan persaudaraan antara Lia dan Bimo. Lia begitu mengkhawatirkan Bimo. Bahkan melihat Bimo hanya sakit biasa saja, Lia sampai menangis.Tapi dari situ juga Alena sadar kalau Lia itu seperti menyimpan trauma. Ia takut kalau orang yang disayanginya pergi begitu saja untuk selama-lamanya.Pengalaman kehilangan sang ibu ternyata membuat Lia menjadi over ketakutan.Alena memegang tangan Lia."Lia, kakak kamu sepertinya hanya demam biasa. Kamu jangan nangis lagi. Tapi kita akan bawa kakak kamu ke rumah sakit agar ia segera diobati," ucap Alena."Kak Bimo jangan tinggalin aku," ujar Lia menatap Bimo lekat."Lia, kakak cuma pusing, bukan mau mati," jawab Bimo.Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang ke apartemen, dan Alena lah yang akan mengemudikan mobil.Dan ketika mereka sedang berjalan menuju mobil
"Apa aku tidak salah dengar? Kamu menikmatinya?" tanya Bimo heran. "Tentu," jawab Andi. "Kalau begitu, selamat menikmatinya," ucap Bimo akhirnya karena ia tidak bisa berkata-kata lagi. Ia juga tidak kenal Andi. Apakah benar lelaki itu benar-benar menikmati perannya saat ini atau karena tidak punya pilihan lain? "Memangnya kamu tidak menikmatinya? Bahkan yang dibilang dalam beberapa hari kamu bergabung dengan para nyonya sosialita itu, kamu sudah melunaskan utangmu di desa." "Aku ingin melepaskan diri," jawab Bimo. Andi tertawa mendengar jawaban yang diberikan oleh Bimo. Mungkin ia merasa lucu ada seorang gigolo yang sedang galau, yang ingin melepaskan diri dari jerat para wanita. Padahal jelas selama ini ia menikmati uang yang banyak itu. "Kenapa kamu tertawa?" tanya Bimo kesal. "Iya, baru kali ini aku melihat manusia munafik seperti kamu. Ternyata di balik pujian para wanita itu, kamu adalah manusia yang sangat munafik." Bimo membulatkan matanya mendengar apa yang dikatakan o
"Apa kamu sudah berani melawanku, Bimo?" tanya Nyonya Rossa menatap Bimo dengan tajam. Pastinya Nyonya Rossa tidak pernah menyangka kalau Bimo berani menolak permintaannya. Bimo tidak ingin menandatangani surat pembaharuan perjanjian yang ia buat. "Aku tidak melawan. Aku hanya mengemukakan pendapatku. Dan karena kontrak pertama kita sudah berakhir, jadi aku tidak terikat dengan siapapun dan aku berhak menolak," jawab Bimo. "Kamu sudah bosan hidup?" "Hidup dan matiku bukan di tangan manusia, tapi di tangan Tuhan." "Bimo, kamu tahu betapa banyaknya kerugian yang kamu alami kalau menolak kontrak ini. Uang puluhan juta yang kamu terima selama ini akan lenyap. Hidupmu akan kembali sengsara dan miskin." Bimo menghela napas berat. Ia tahu sekali terikat dengan mereka sangat sulit sekali untuk melepaskan diri. Tapi Bimo sudah bertekad, kali ini ia akan lepas. "Kali ini pesertanya bukan lagi yang lama, tapi orang-orang yang baru dan hanya lima orang," ujar Nyonya Rossa kemudian sambil m
Keesokan paginya, Bimo kembali ke kantor. Ini adalah hari kedua ia bekerja sebagai instruktur mengemudi, tapi ia menyebut pekerjaannya adalah uji nyali.“Entah, gebrakan apa lagi yang akan Nyonya Selvi berikan hari ini,” gumam Bimo sambil berjalan santai menuju loker kerjanya.Ia ditugaskan menjadi
“Nyonya…” “Bimo, kasihan dia sudah sangat keras,” bisik Selvi di telinga Bimo. Bimo masih sedikit ragu. Ia tahu, ini salah. Tidak seharusnya seperti ini, dan tugasnya adalah menjadi instruktur, bukan menjadi pemuas nafsu. Tapi, keadaan ini benar-benar diluar kendalinya, apalagi Selvi dengan
“Nyonya maaf, jangan seperti ini,” ujar Bimo menarik kembali tangannya yang gemetar tidak karuan.Ia bisa merasakan pangkal paha Selvi yang lembab itu, dan ia yakin di dalam sana mungkin sudah basah.“Kenapa?”“Saya ditugaskan untuk menjadi instruktur, Nyonya.”“Ini juga bagian dari kursus kok,” ja
“Nak, maafkan bapak dan Ibu ya. Kamu sampai harus kerja merantau demi kami…”Bimo mengusap wajahnya yang berminyak. Tangannya gemetar memegang ponsel, mendengar suara parau ibunya. Di hadapannya kini berdiri rumah mewah bercat putih dengan pagar setinggi dua meter. Bimo tak pernah membayangkan aka







