Share

Bab 104

Author: Biee
last update publish date: 2026-03-04 12:59:40

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan pintu yang tiba-tiba itu terdengar sangat keras tepat di depan wajah Marissa. Jantung Bara rasanya mau copot saat menyadari bahwa itu adalah suara Keyla. Di balik pintu kayu jati yang tebal ini, adik tirinya itu rupanya sudah bangun dan berdiri sangat dekat.

"Ma? Mama sudah bangun? Kok tadi aku dengar suara gedebuk-gedebuk di dalam?" tanya Keyla dengan suara khas orang bangun tidur.

Bara mematung seketika, tapi dia tidak menarik miliknya
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 229

    Keesokan harinya pukul 11.30 WIB, suasana di dalam rumah mewah Handoko terasa begitu sepi. Handoko sudah berangkat ke kantor sejak pagi buta untuk mengurus rapat kelanjutan proyek, sedangkan Keyla belum pulang dari kegiatan sekolahnya.Bara melangkah keluar dari kamarnya di pojok belakang lantai satu. Dia hanya mengenakan celana jins ketat hitam tanpa selembar benang pun yang menutupi dada bidang dan perut kotak-kotaknya yang kokoh. Efek mandi air dingin membuat sisa-sisa air masih berkilat halus di atas otot lengannya yang kekar.Langkah kaki yang terburu-buru terdengar dari arah tangga tengah. Sosok Marissa muncul dengan penampilan yang jauh lebih berani.Ibu tirinya itu hanya mengenakan kimono tidur sutra tipis berwarna merah menyala yang ikat pinggangnya sengaja dilonggarkan. Penampilan Marissa dari depan tampak begitu ranum dan menggoda. Kimono yang terbuka lebar itu mengekspos leher jenjang hingga sepasang gundukan dadanya yang montok dan putih gembul, berguncang hebat seirama

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 228

    Bara melangkah masuk melalui pintu samping rumah megah Handoko. Jam di dinding menunjukkan pukul 21.30 WIB ketika dia tiba di ruang tengah berlantai marmer.Handoko langsung menatapnya tajam dari atas sofa kulit, lalu meletakkan berkas bisnisnya ke meja kaca. Di sofa tunggal, Keyla menurunkan ponselnya sambil memasang tampang jijik. Marissa yang memakai daster sutra tipis toska berpotongan dada rendah buru-buru berdiri, membuat sepasang gundukan dadanya yang padat berguncang pelan."Bara, sini kamu. Ada yang mau Bapak bicarakan," panggil Handoko tegas, suaranya berat menahan dongkol."Ih, Papa lihat tuh. Jam segini baru pulang. Bajunya bau keringat gym, celananya dekil begitu. Bikin kotor sofa kita aja kalau dia lewat," nyinyir Keyla sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan hidung.Marissa melirik Bara dengan mata sayunya, lalu tersenyum manis di depan suaminya. "Sudah, Mas, Keyla, jangan galak-galak begitu sama Bara. Dia kan baru pulang kerja mencari uang. Bara, kamu sudah makan

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 227

    Bara mengendarai motor tuanya kembali menuju tempat gym dengan kecepatan tinggi. Suara knalpotnya yang bocor kembali meletup-letup di sepanjang jalanan Jakarta Selatan. Tepat pukul 14.50 WIB, Bara memarkirkan kembali kendaraannya di pojok area parkir, bersembunyi di balik keteduhan pohon pelindung.Asap hitam tipis menyembur dari knalpot bututnya saat mesin dimatikan. Bara merapikan kaos polo hitam ketatnya sebelum melangkah lebar memasuki lobi kaca ber-AC sejuk itu.Di balik konter resepsionis, Bang Jaka masih sibuk dengan beberapa lembar brosur keanggotaan baru. Begitu mendengar langkah sepatu bot Bara, instruktur senior itu mendongak dan menyeringai lebar."Waduh, cepet amat lu balik, Bar? Urusan lu udah kelar?" tanya Bang Jaka dengan logat Betawi cadasnya. Dia melipat kedua lengan tatonya di atas meja konter."Sudah, Bang. Urusan singkat saja," jawab Bara tenang. Wajah rahang tegasnya kembali ke mode kaku tanpa ekspresi."Bagus dah. Oh iya, entu si bos gede yang mukanya galak tadi

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 226

    Marissa tersentak mendengar permintaan itu. Langkah kakinya refleks mundur setengah undakan. Sepasang gundukan dadanya yang montok berguncang hebat di balik gaun hitam berpotongan rendahnya. Wajah matangnya yang tadi merah padam oleh gairah, mendadak berubah agak pucat."D-dokumen proyek HDK Group? Kamu gila, Bara? Itu dokumen rahasia perusahaan Mas Handoko. Kalau Mas Handoko sampai tahu dokumen itu hilang dari meja kerjanya, dia bisa mengamuk besar," cicit Marissa dengan suara parau yang bergetar.Bara tidak bergerak sedikit pun dari posisinya bersandar di pintu. Rahang tegasnya mengunci rapat, memberikan tatapan mata yang dingin dan menusuk lurus ke manik mata wanita matang di depannya."Tante takut?" tanya Bara datar, suara beratnya terdengar sangat dominan memenuhi ruangan remang itu."Bukan takut, Bara... tapi itu terlalu berisiko. Hubungan kita ini saja sudah sangat berbahaya kalau sampai tercium oleh Mas Handoko," cetus Marissa. Kedua tangan lentiknya bergerak memilin ujung gau

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 225

    Bara mengalihkan pandangannya dari lorong VIP kembali ke layar monitor komputer. Jari-jarinya yang besar kembali mengetuk papan ketik dengan ritme yang lambat dan teratur, menyelesaikan rekap data anggota baru."Buset dah, Bar. Lu kenal ama entu bos gede? Galak bener mukanya, mana anak ceweknya songong amat lagi nyindir-nyindir lu," celetuk Bang Jaka dari sebelah meja konter. Pria berotot itu menggeleng-gelengkan kepalanya sambil merapikan tumpukan handuk bersih.Bara tidak menoleh, wajah rahang tegasnya tetap tenang. "Tidak, Bang. Hanya pengunjung biasa yang kebetulan lewat.""Halah, orang kaya mah emang begitu, Bar. Sukanya mandang sebelah mata sama kita-kita yang nyari duit pakai keringat. Kagak usah lu masukin ke ati omongan cewek ingusan tadi," hibur Bang Jaka sambil menepuk bahu kokoh Bara sekilas sebelum melangkah masuk ke dalam ruang staf.Bara hanya tersenyum tipis. Di dalam hatinya, sebuah skenario besar untuk menghancurkan harga diri Handoko dan membuat Keyla bertekuk lutut

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 224

    "Gimana Neng Sandra? Puas kagak dilatih sama si Bara? Kalo kurang mantep, entar gua suruh dia tambahin set-nya.""Tau ah, Bang Jaka! Tanya aja sendiri sama anak kampung itu! Gue mau balik, gerah di mari lama-lama!" pekik Sandra ketus dengan wajah merah padam sampai ke telinga.Sandra buru-buru melangkah lebar keluar dari lobi, mendorong pintu kaca otomatis dengan kasar tanpa menoleh lagi ke belakang.Bang Jaka tertawa renyah, menepuk bahu kokoh Bara dengan tangannya yang besar. "Gokil lu, Bar. Cewek sekota dan seangkuh si Sandra bisa lu bikin mati kutu begitu. Lu apain sih di atas tadi?"Bara hanya tersenyum tipis, merapikan letak kaos polo hitam ketatnya. "Hanya latihan biasa, Bang. Sandra saja yang terlalu banyak mengeluh.""Ya udah, Bar. Keperluannya lu cek dulu di komputer, ada rekap data member baru VIP dua," sahut Bang Jaka.Bara mengangguk sopan. "Baik, Bang. Saya periksa sekarang."Bara menggeser kursi di balik meja konter, lalu mulai fokus menatap layar monitor. Jari-jarinya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status