Share

Bab 217

Author: Biee
last update publish date: 2026-06-12 09:13:32

Drrt... Drrt... Drrt...

Ponsel Marissa yang tergeletak di atas nakal kayu mendadak bergetar nyaring, memecah suara decapan basah di dalam kamar. Layar pintarnya menyala terang, menampilkan nama kontak: Suamiku.

Marissa seketika menghentikan gerakan pinggulnya. Wajah matangnya yang tadi merona merah mendadak kaku. "Bara, gila... Bapakmu menelepon!" bisiknya panik dengan napas yang masih memburu pendek.

Bara ikut menahan napas, rahang tegasnya mengetat keras. Kejantanan beruratnya yang basah kuyu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 221

    Bara menekan pinggul Sandra ke bawah dengan telapak tangannya, menahan posisi menungging itu agar tetap stabil. Dada bidang Bara berada tepat di belakang punggung Sandra, menjaga keseimbangan tubuh gadis itu."Bara! Gak usah pegang-pegang pinggul gue juga kali," ketus Sandra. Matanya melirik tajam ke arah Bara lewat pantulan cermin besar di depan mereka."Diam, Sandra. Ini posisi squat yang benar. Kalau pinggulmu goyah, otot pahamu tidak akan terlatih dengan maksimal," ucap Bara tenang.Bara mengetuk bagian samping paha Sandra dengan ujung jarinya. "Jarak kakimu terlalu lebar. Sejajarkan dengan bahu. Coba geser sedikit ke dalam."Sandra mendengus kencang, namun tetap menggeser kaki kanannya ke dalam sesuai instruksi Bara. "Sok tahu banget sih lo jadi instruktur. Gue udah biasa latihan kayak gini ya di tempat lain.""Kalau sudah biasa, kenapa posisi punggungmu masih membungkuk begitu? Tegakkan sedikit dadamu," tuntut Bara tegas.Sandra menarik napas panjang, menegakkan punggungnya hing

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 220

    Bara melangkah masuk ke dalam lobi tempat gym yang ber-AC sejuk, diikuti oleh Sandra yang masih berjalan dengan wajah cemberut di belakangnya. Di balik meja resepsionis yang melingkar, seorang pria berbadan tegap dengan kaos dalam ketat warna hitam sedang sibuk menyusun berkas keanggotaan.Pria itu adalah Bang Jaka, instruktur senior sekaligus kepala pengawas di pusat kebugaran mewah tersebut.Begitu mendengar suara langkah kaki mendekat, Bang Jaka mendongak. Alis tebalnya bertaut heran saat melihat sosok Bara yang sudah berdiri di depan meja konter siang-siang begini."Lah, Bara? Tumben amat lu jam segini udah nongol di mari?" tanya Bang Jaka dengan logat Betawi cadasnya yang khas. Dia meletakkan pulpennya ke meja, lalu melipat kedua lengannya yang kekar penuh tato di atas pembatas konter. "Kaga salah jadwal lu? Bukannya kelas lu baru mulai entar sore, ya? Lu kaga lagi sibuk kuliah apa pegimana?"Bara menghentikan langkahnya, lalu mengangguk hormat dengan sikap yang tetap sopan kepad

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 219

    Bara melangkah keluar dari gerbang kompleks perumahan elite dengan motor tuanya. Suara mesin yang knalpotnya bocor itu meletup-letup, membuat beberapa satpam yang berjaga di pos depan menoleh sambil menutup hidung karena asap hitamnya mengepul.Bara memarkirkan motornya di depan sebuah warung makan tegal yang bertembok cat hijau cerah.Perutnya kembali berbunyi, bergemuruh cukup keras sampai membuat seorang ibu-ibu yang sedang memilih lauk di etalase kaca menoleh kaget. Ibu itu memeluk tas belanjanya lebih erat, mengira ada suara guntur di siang bolong."Mbak, nasi rames pakai tongkol balado, telur dadar, sama usus ayam. Nasinya dibuat menggunung ya. Lapar sekali," ucap Bara kepada pelayan warung.Pelayan warung itu, seorang gadis muda dengan kaus oblong ketat bertuliskan merek semen, sempat bengong menatap rahang tegas Bara. Dia buru-buru menyendok nasi sampai tiga kali munjung hingga piringnya penuh sesak.Bara membawa piringnya ke meja pojok. Dia makan dengan lahap, menyuap nasi de

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 218

    "Ya sudah, nanti Mas beli dua liter. Sisanya kirim lewat pesan saja, Mas sibuk," suara Handoko terdengar dingin sebelum sambungan telepon mendadak terputus.Pip.Begitu layar ponsel menggelap, Marissa langsung melempar benda itu ke sembarang arah. Dia menarik napas panjang yang tersengal-sengal, mencoba meredakan detak jantungnya yang berdegup kencang karena ketakutan yang luar biasa."Bara... kamu gila! Kalau sampai Bapakmu tahu, kita bisa—""Bisa apa, Tante?" potong Bara cepat, suaranya terdengar sangat rendah, berat, dan sarat akan amarah yang tertahan.Rasa kesal karena ucapan dingin bapaknya di telepon tadi, berbaur dengan ingatan masa lalu tentang bagaimana ibunya ditelantarkan di kampung, seketika membakar habis sisa akal sehat Bara. Keinginan untuk membalas dendam dan menginjak-injak harga diri Handoko melalui wanita di bawah kungkungannya ini membuat matanya berkilat gelap penuh gairah purba yang brutal."B-Bara... ssshh, jangan menatap Tante seperti itu," cicit Marissa, tubu

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 217

    Drrt... Drrt... Drrt...Ponsel Marissa yang tergeletak di atas nakal kayu mendadak bergetar nyaring, memecah suara decapan basah di dalam kamar. Layar pintarnya menyala terang, menampilkan nama kontak: Suamiku.Marissa seketika menghentikan gerakan pinggulnya. Wajah matangnya yang tadi merona merah mendadak kaku. "Bara, gila... Bapakmu menelepon!" bisiknya panik dengan napas yang masih memburu pendek.Bara ikut menahan napas, rahang tegasnya mengetat keras. Kejantanan beruratnya yang basah kuyup masih menempel ketat di celah intim Marissa yang hangat. Mereka berdua mendadak tak berkutik, terpaku di posisi masing-masing seperti patung."Angkat, Tante. Biar tidak curiga," perintah Bara rendah dengan suara serak yang berbisik.Marissa buru-buru meraih ponselnya, berdehem beberapa kali untuk menetralkan suaranya yang parau, lalu menggeser tombol hijau. "I-iya, Pa? Ada apa?"Suara Handoko yang berat, sedingin es, dan berwibawa terdengar jelas dari pelantang suara, "Marissa, catat kebutuhan

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 216

    "Ayo, Bara... balik badanmu. Masa dipijat punggungnya saja?" bisik Marissa, napasnya memburu hangat di tengkuk Bara."Tidak usah, Tante. Sudah cukup. Saya lelah," jawab Bara ketus. Rahang tegasnya mengetat menahan gejolak di perut bawahnya.Marissa terkekeh manja, tidak memedulikan penolakan itu. Kedua tangannya beralih mencengkeram pinggang kokoh Bara, memberikan remasan lembut yang membuat pria itu sedikit tersentak."Tante tahu kamu belum selesai, Sayang. Sini, terlentang. Tante mau pijat bagian depanmu juga biar seimbang," bujuk Marissa dengan nada suara yang dibuat selembut mungkin."Saya bilang tidak perlu, Tante. Turun!" bentak Bara rendah. Dia mencengkeram kasur lecek di bawahnya. Dia malu jika harus berbalik sekarang, karena kejantanan di balik handuk putihnya sudah menegang maksimal dan berurat keras, menuntut ruang yang bebas.Marissa menyeringai tipis melihat kepanikan anak tirinya. Dia sengaja menekan kembali pusat kewanitaannya yang banjir pelumas langsung ke punggung Ba

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status