Share

Bersama Pria Asing

Author: nababy
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-20 16:54:43

“Selamat pagi, Tuan Putri,” sapa Ren sambil tersenyum di sampingnya.

Pria itu menopang kepalanya dengan satu tangan, siku bertumpu santai di atas kasur. Tatapannya tak lepas dari wanita di sampingnya yang mulai terbangun perlahan. Rambut wanita itu sedikit berantakan, beberapa helainya menutupi wajah yang masih dipenuhi sisa kantuk.

“Pagi…” Arabella mengucek matanya pelan.

Ren tersenyum melihat tubuh mungil Arabella yang masih terbungkus selimutnya dan menampilkan bagian tubuh atasnya.

Pria itu langsung mendekat dan kembali memeluk tubuh mungil itu. Kenikmatan yang dirasakannya semalam sangat membekas dalam hatinya.

“Ssshhh… sakit,” rintih Arabella saat menggerakkan tubuh bagian bawahnya.

Ren langsung terkekeh pelan sambil mempererat pelukannya dari belakang.

“Maaf,” bisiknya rendah di dekat telinga Arabella.

“Tapi kau juga sangat sulit dihentikan semalam.”

Wajah Arabella langsung memanas mengingat potongan-potongan kejadian tadi malam yang mulai kembali memenuhi kepalanya.

Mulai dari ciuman panas mereka, lalu pelukan hangat Ren. Dan bagaimana pria itu terus membuatnya lupa pada rasa sakit yang diberikan Kyle.

Arabella buru-buru menarik selimut hingga menutupi wajahnya untuk menutupi pipinya yang mulai memerah. Ren tertawa kecil melihat reaksinya.

“Ternyata kau pemalu juga, hm?”

“Jangan menggodaku…” gerutu Arabella malu.

Ren tersenyum tipis lalu perlahan bangkit dari ranjang. Tubuh tingginya hanya dibalut celana training hitam, memperlihatkan tubuh atletis yang membuat Arabella refleks mengalihkan pandangan.

“Duduk dulu pelan-pelan,” ucap Ren lebih lembut kali ini.

“Tubuhmu pasti masih pegal.”

Entah kenapa, perhatian kecil itu membuat dada Arabella terasa aneh. Selama menikah dengan Kyle, pria itu bahkan tidak pernah memperhatikannya sedetail ini.

Ren mengambil segelas air di meja samping ranjang lalu memberikannya pada Arabella.

“Minumlah, kamu pasti haus.” Ren memberikannya pada Arabella.

Arabella menerimanya perlahan. “Terima kasih…” Suaranya pelan. Wanita itu langsung meneguk air itu hingga habis.

Ren menatapnya beberapa detik sebelum mengusap rambut Arabella yang berantakan dengan lembut.

“Setidaknya sekarang kau terlihat sedikit lebih hidup dibanding semalam.” Ren lagi-lagi tersenyum.

Arabella terdiam. Semalam ia benar-benar datang dalam keadaan hancur. Dan anehnya, setelah bertemu pria asing ini sakit hatinya hilang seketika. Justru dia menemukan sebuah perlakuan yang jauh lebih baik dibanding suaminya sendiri.

Ren kemudian mengambil pakaian Arabella yang berserakan di lantai lalu meletakkannya di atas ranjang.

“Aku akan keluar sebentar. Pakai bajumu perlahan.”

Namun baru beberapa langkah, Arabella tiba-tiba memanggilnya.

“Ren.”

Pria itu menoleh.

Arabella menggigit bibir bawahnya pelan sebelum berkata lirih, “Berapa bayaranmu?”

Ruangan mendadak hening beberapa detik. Meski Ren begitu baik padanya, tapi Arabella tidak lupa jika pria yang tengah berada di depannya sekarang hanyalah seorang pria penghibur.

Ren tertawa pelan sambil kembali mendekati ranjang. Ia mencondongkan tubuhnya hingga wajah mereka sangat dekat.

“Bayaran?” ulangnya sambil tersenyum miring.

Arabella mengangguk pelan.

“Kau bekerja sebagai pria penghibur, kan? Maka dari itu aku ingin membayar jasamu yang semalam.” Wanita itu sedikit tertunduk.

Ren mengusap pipi Arabella perlahan. Matanya terlihat teduh kala melihat ada sepercik kesedihan di wajah Arabella.

“Aku tidak mau menerima bayaran darimu,” jawabnya pelan.

Arabella mendongak, wajahnya terlihat bingung.

“Kenapa?”

“Anggap saja…” Ren menatapnya lekat-lekat.

“Aku sedang berinvestasi.”

“Investasi?”

Arabella mengerutkan dahi.

Pria itu tersenyum penuh arti. “Kau bisa membayarku nanti saat memakai jasaku untuk kedua kalinya.”

Jantung Arabella berdetak aneh. Itu artinya ada hari lain dimana dia akan tidur bersama pria itu lagi.

“Tapi aku belum bilang akan datang lagi kan.”

Ren terkekeh kecil. Tangannya membelai rambut wanita itu pelan, namun gerakannya seolah memikat dengan kelembutan yang ia berikan.

“Tapi aku memiliki firasat lain. Kau pasti akan memikirkanku. Bagaimanapun semalam adalah pengalaman pertamamu bukan?” Ren membawa beberapa helai rambut Arabella menuju bibirnya dan menciumnya.

Tatapan pria itu terlalu tajam dan percaya diri hingga membuat Arabella salah tingkah sendiri.

Arabella langsung mendorong Ren untuk menjauh. Lagi-lagi jantungnya berdebar setiap pria itu memandangnya lekat-lekat.

“Aku harus pulang sekarang.” Arabella langsung mengambil bajunya yang sudah ada di sudut ranjang.

Ren hanya bisa diam dan tersenyum. Perlahan ia membantu Arabella bersiap.

“Kemarilah, aku akan membantumu memakai baju,” ujarnya.

“Tidak usah.” Arabella langsung menolak.

“Tidak usah malu. Aku sudah melihat semuanya tadi malam.” Suara Ren membuat Arabella merinding kala pemuda itu berbisik di telinganya.

Mau tak mau Arabella hanya menurut, karena saat ini dia sangat lemah pada setiap tindakan yang Ren berikan.

Wanita itu diam saat Ren memakaikan bajunya satu persatu. Pria itu bahkan berlutut di depan Arabella untuk memakaikan heels dengan hati-hati.

Arabella hanya bisa menatap pria itu diam-diam. Sulit dipercaya seorang gigolo bisa bersikap semanis ini. Setelah itu, Ren berdiri di belakang Arabella sambil menyisir rambut panjang wanita itu perlahan.

“Cantik,” gumamnya pelan.

Arabella menatap pantulan mereka di cermin sesaat. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa seperti seorang wanita yang benar-benar dihargai. Bukan sekadar istri pajangan.

“Terima kasih. Ini adalah kartu namaku. Kau bisa menghubungiku saat meminta bayaran semalam.” Arabella menyodorkan sebuah kartu nama.

Ren mengambilnya dengan senang hati.

“Terima kasih. Baiklah, mari aku antar sampai mobilmu.”

Keduanya langsung menuju basement apartemen. Disana masih cukup sepi saat mereka tiba. Ren berjalan sambil membuka pintu mobil Arabella seperti seorang pria terhormat.

“Terima kasih sudah mengantarku,” ucap Arabella pelan.

Ren hanya tersenyum. Namun tepat saat Arabella hendak masuk ke dalam mobil, pria itu tiba-tiba menahan pintu dan mencondongkan tubuhnya mendekat. Membuat Arabella membeku.

“Ren?”

Pria itu tidak menjawab. Ia hanya mengangkat dagu Arabella pelan lalu mencium bibir wanita itu singkat namun lembut.

Ciuman itu sangat berbeda dibanding ciuman panas mereka semalam. Ciuman itu terasa pelan dan manis. Membuat jantung Arabella berdegup jauh lebih kencang.

Saat Ren menjauh, Arabella bahkan masih mematung karena terkejut.

“Ka..kau… apa yang kau lakukan?” Pipi Arabella kembali merona.

Ren tersenyum malas sambil mengusap bibir bawah Arabella dengan ibu jarinya.

“Jangan terlihat seperti itu.”

“Seperti apa?” balas Arabella sedikit tinggi.

“Seperti wanita yang baru pertama kali diperlakukan dengan benar oleh seorang pria.”

Kalimat itu menusuk tepat ke jantung Arabella. Ren kemudian mendekat lagi hingga bibirnya hampir menyentuh telinga wanita itu.

“Kalau suamimu terus menyakitimu…” bisiknya rendah penuh godaan.

“Datang saja padaku, tuan putri. Aku akan selalu membuatmu merasa dicintai.”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Pria Penghibur Itu Adalah Simpananku   Amarah Ayah Mertua

    ​“Mama? Mama sama papa ada di rumah kan? Ara mau mampir sebentar ingin membicarakan sesuatu yang penting. Ini soal Ara dan Kyle.”Arabella langsung mematikan ponselnya dan melihat ke depan dengan tatapan tajam. Kali ini dirinya sudah tidak takut lagi. Hatinya penuh tekad untuk mengakhiri hubungan yang sudah memuakkan ini.Mobil taksi yang ditumpangi Arabella berhenti tepat di depan gerbang besi menjulang tinggi milik kediaman utama keluarga Adisurya. Setelah membayar ongkos perjalanan, Arabella melangkah turun. Halaman luas dengan pancuran air di tengahnya terasa begitu dingin, menyambut kedatangannya yang membawa badai besar bagi keluarga konglomerat tersebut.​Seorang pelayan senior yang mengenali Arabella langsung menyambutnya di depan pintu utama dengan senyum hangat. "Selamat siang, Nona Arabella. Tuan Besar dan Nyonya Besar sudah menunggu di ruang keluarga."​Arabella mengangguk pelan. Dengan memeluk amplop coklat tebal di dadanya, ia melangkah masuk membelah lorong mewah berhi

  • Pria Penghibur Itu Adalah Simpananku   Kemarahan Kyle Adisurya

    “Surat ketiga sudah berada di tangan pengacaraku. Sampai jumpa di sidang perdana kita.”Setelah itu Arabella berjalan dengan langkah tegas, membuka pintu yang di baliknya sudah banyak sekali orang. Namun Arabella tidak peduli, ia membanting pintu di belakangnya lalu pergi.Suara pintu tertutup keras bergema di seluruh penjuru ruangan, menyisakan keheningan yang mencekam setelah kepergian Arabella. Serpihan kertas putih dari berkas gugatan perceraian yang telah dicabik-cabik Kyle masih melayang pelan di udara sebelum akhirnya mendarat berantakan di atas karpet tebal.​Kyle berdiri mematung di balik meja kerjanya. Dada pria itu naik turun memburu, menahan amarah yang membakar dan kebingungan masif yang mulai merayapi benaknya. Tatapannya tertuju kosong pada pintu yang kini tertutup rapat, seolah masih tidak percaya bahwa Arabella, wanita yang selama bertahun-tahun selalu bersikap penurut dan mengagungkannya baru saja mengibarkan bendera perang secara terbuka di hadapan publik.​Vaness

  • Pria Penghibur Itu Adalah Simpananku   Surat Cerai, Tandatangani!

    “Kalian! Kalian benar-benar sudah gila ternyata.” Sebuah kalimat langsung keluar dari mulut Arabella kala melihat pemandangan yang ada di depannya.Meski hati Arabella sakit melihat sang suami bersama wanita lain, tapi ia sudah tidak kaget lagi. Bagi Ara, ini adalah waktu yang tepat untuk mengajukan perceraian.Vanessa yang terdorong kasar hingga hampir terjatuh seketika mendengus kesal. Ia membetulkan rok ketatnya, lalu menatap Arabella dengan pandangan sinis yang dipaksakan untuk menutupi rasa terkejutnya.​"Ara? Sayang, ini tidak seperti yang kamu lihat. Aku…" Kyle mencoba mendekat dengan tangan terulur, wajahnya pucat pasi melihat tatapan mata istrinya yang begitu dingin.​"Cukup, Kyle. Jangan buat aku makin jijik denganmu," potong Arabella tajam. Suaranya tidak memekik, namun begitu menekan hingga membuat Kyle membeku di tempat. Arabella melangkah maju beberapa langkah, menghampiri meja kerja megah itu.Dengan gerakan tenang namun penuh keangkuhan, ia melempar amplop coklat teba

  • Pria Penghibur Itu Adalah Simpananku   Kedatangan Yang Mendadak

    ​“Sial! Apa yang baru saja aku katakan?!”Kyle termangu di ruang tengah. Sedangkan, di dalam kamar yang terkunci rapat, Arabella duduk di tepi ranjang dengan dada yang masih berguncang pelan. Usai menyapu sisa air matanya, ia meraih ponsel di atas meja dan mencari kontak pengacara kepercayaan keluarganya. Tanpa ragu sedikitpun, Arabella mendial nomor tersebut.​“Halo, Pak Baskara,” sapa Arabella, berusaha membuat suaranya terdengar setenang mungkin meski sedikit serak.​“Selamat siang, Nona Arabella. Ada yang bisa saya bantu?” sahut suara di ujung telepon dengan nada profesional dan hangat.​“Soal dokumen gugatan perceraian yang saya minta kemarin… apakah sudah selesai dibuat?”​“Sudah, Nona. Semua draf dokumen dan berkas pendukungnya sudah selesai disiapkan sejak kemarin sore. Tinggal menunggu tanda tangan dari Nona Arabella saja.”​Arabella menghela nafas lega, seolah beban berat di pundaknya sedikit terangkat. “Terima kasih, Pak Baskara. Bisakah kita bertemu besok pagi di kantor B

  • Pria Penghibur Itu Adalah Simpananku   Mari Kita Bercerai

    “Siapa yang kau bilang pemilik kafe kecil ini? Kau disini cuma pemegang saham ya!” Suara seorang pria langsung membuat Ren berbalik.“Hahaha… Aku hanya bercanda. Lagipula, fakta aku pemilik sebagian kafe ini benar adanya kan.” Ren menepuk pria itu dan langsung mengambil apron karyawan dan memakainya.Pria yang pemilik kafe sebenarnya hanya bisa menggelengkan kepala.Di sisi lain, mobil sedan hitam itu akhirnya berhenti sempurna di depan pekarangan rumah mewah keluarga Adisurya. Belum sempat mesin mobil mati sepenuhnya, Arabella langsung membuka pintu belakang dan melangkah keluar dengan terburu-buru. Ia ingin segera menjauh dari atmosfer mencekam yang menghimpit dada sejak di kafe tadi.​“Arabella, tunggu!” pekik Kyle murka.​Pria itu bergegas menyusul, menjejaki langkah kaki istrinya yang bergerak cepat menuju pintu utama. Begitu Arabella berhasil melangkah masuk ke dalam ruang tamu, Kyle langsung menyambar pergelangan tangan wanita itu dan membanting pintu utama dengan sangat kera

  • Pria Penghibur Itu Adalah Simpananku   Insiden Yang Tak Bisa Dihindari

    ​”Kyle? Kok bisa dia ada di sini? Apa... apa diam-diam dia mengikutiku sejak dari rumah tadi?”Arabella melangkah mendekat dengan cepat, memecah ketegangan yang menggantung di udara. Menerobos kerumunan kecil karyawan kafe yang masih memegangi Kyle, ia langsung berdiri di tengah-tengah mereka.​"Tolong lepaskan dia! Dia suamiku," tegas Arabella pada para karyawan.​Para karyawan yang mendengarnya seketika membelalakkan mata kaget, lalu perlahan melepaskan cengkraman mereka dari tubuh Kyle. Sementara Kyle mendengus kesal dan segera merapikan jasnya yang kusut dengan nafas memburu. Matanya menyipit tajam, langsung mengunci pandangan pada istrinya, Arabella.​"Apa yang kau lakukan disini, Arabella?!" bentak Kyle, suaranya dipenuhi amarah yang tertahan. "Kau bilang ingin mengambil mobil di bengkel, heh? Tapi nyatanya kau malah berduaan dengan pria lain. Kau membohongiku hanya untuk menemui pria bajingan itu di lantai atas, kan?! Kau sudah berselingkuh dibelakangku!" Suara Kyle langsung

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status