LOGIN“Mama? Mama sama papa ada di rumah kan? Ara mau mampir sebentar ingin membicarakan sesuatu yang penting. Ini soal Ara dan Kyle.”Arabella langsung mematikan ponselnya dan melihat ke depan dengan tatapan tajam. Kali ini dirinya sudah tidak takut lagi. Hatinya penuh tekad untuk mengakhiri hubungan yang sudah memuakkan ini.Mobil taksi yang ditumpangi Arabella berhenti tepat di depan gerbang besi menjulang tinggi milik kediaman utama keluarga Adisurya. Setelah membayar ongkos perjalanan, Arabella melangkah turun. Halaman luas dengan pancuran air di tengahnya terasa begitu dingin, menyambut kedatangannya yang membawa badai besar bagi keluarga konglomerat tersebut.Seorang pelayan senior yang mengenali Arabella langsung menyambutnya di depan pintu utama dengan senyum hangat. "Selamat siang, Nona Arabella. Tuan Besar dan Nyonya Besar sudah menunggu di ruang keluarga."Arabella mengangguk pelan. Dengan memeluk amplop coklat tebal di dadanya, ia melangkah masuk membelah lorong mewah berhi
“Surat ketiga sudah berada di tangan pengacaraku. Sampai jumpa di sidang perdana kita.”Setelah itu Arabella berjalan dengan langkah tegas, membuka pintu yang di baliknya sudah banyak sekali orang. Namun Arabella tidak peduli, ia membanting pintu di belakangnya lalu pergi.Suara pintu tertutup keras bergema di seluruh penjuru ruangan, menyisakan keheningan yang mencekam setelah kepergian Arabella. Serpihan kertas putih dari berkas gugatan perceraian yang telah dicabik-cabik Kyle masih melayang pelan di udara sebelum akhirnya mendarat berantakan di atas karpet tebal.Kyle berdiri mematung di balik meja kerjanya. Dada pria itu naik turun memburu, menahan amarah yang membakar dan kebingungan masif yang mulai merayapi benaknya. Tatapannya tertuju kosong pada pintu yang kini tertutup rapat, seolah masih tidak percaya bahwa Arabella, wanita yang selama bertahun-tahun selalu bersikap penurut dan mengagungkannya baru saja mengibarkan bendera perang secara terbuka di hadapan publik.Vaness
“Kalian! Kalian benar-benar sudah gila ternyata.” Sebuah kalimat langsung keluar dari mulut Arabella kala melihat pemandangan yang ada di depannya.Meski hati Arabella sakit melihat sang suami bersama wanita lain, tapi ia sudah tidak kaget lagi. Bagi Ara, ini adalah waktu yang tepat untuk mengajukan perceraian.Vanessa yang terdorong kasar hingga hampir terjatuh seketika mendengus kesal. Ia membetulkan rok ketatnya, lalu menatap Arabella dengan pandangan sinis yang dipaksakan untuk menutupi rasa terkejutnya."Ara? Sayang, ini tidak seperti yang kamu lihat. Aku…" Kyle mencoba mendekat dengan tangan terulur, wajahnya pucat pasi melihat tatapan mata istrinya yang begitu dingin."Cukup, Kyle. Jangan buat aku makin jijik denganmu," potong Arabella tajam. Suaranya tidak memekik, namun begitu menekan hingga membuat Kyle membeku di tempat. Arabella melangkah maju beberapa langkah, menghampiri meja kerja megah itu.Dengan gerakan tenang namun penuh keangkuhan, ia melempar amplop coklat teba
“Sial! Apa yang baru saja aku katakan?!”Kyle termangu di ruang tengah. Sedangkan, di dalam kamar yang terkunci rapat, Arabella duduk di tepi ranjang dengan dada yang masih berguncang pelan. Usai menyapu sisa air matanya, ia meraih ponsel di atas meja dan mencari kontak pengacara kepercayaan keluarganya. Tanpa ragu sedikitpun, Arabella mendial nomor tersebut.“Halo, Pak Baskara,” sapa Arabella, berusaha membuat suaranya terdengar setenang mungkin meski sedikit serak.“Selamat siang, Nona Arabella. Ada yang bisa saya bantu?” sahut suara di ujung telepon dengan nada profesional dan hangat.“Soal dokumen gugatan perceraian yang saya minta kemarin… apakah sudah selesai dibuat?”“Sudah, Nona. Semua draf dokumen dan berkas pendukungnya sudah selesai disiapkan sejak kemarin sore. Tinggal menunggu tanda tangan dari Nona Arabella saja.”Arabella menghela nafas lega, seolah beban berat di pundaknya sedikit terangkat. “Terima kasih, Pak Baskara. Bisakah kita bertemu besok pagi di kantor B
“Siapa yang kau bilang pemilik kafe kecil ini? Kau disini cuma pemegang saham ya!” Suara seorang pria langsung membuat Ren berbalik.“Hahaha… Aku hanya bercanda. Lagipula, fakta aku pemilik sebagian kafe ini benar adanya kan.” Ren menepuk pria itu dan langsung mengambil apron karyawan dan memakainya.Pria yang pemilik kafe sebenarnya hanya bisa menggelengkan kepala.Di sisi lain, mobil sedan hitam itu akhirnya berhenti sempurna di depan pekarangan rumah mewah keluarga Adisurya. Belum sempat mesin mobil mati sepenuhnya, Arabella langsung membuka pintu belakang dan melangkah keluar dengan terburu-buru. Ia ingin segera menjauh dari atmosfer mencekam yang menghimpit dada sejak di kafe tadi.“Arabella, tunggu!” pekik Kyle murka.Pria itu bergegas menyusul, menjejaki langkah kaki istrinya yang bergerak cepat menuju pintu utama. Begitu Arabella berhasil melangkah masuk ke dalam ruang tamu, Kyle langsung menyambar pergelangan tangan wanita itu dan membanting pintu utama dengan sangat kera
”Kyle? Kok bisa dia ada di sini? Apa... apa diam-diam dia mengikutiku sejak dari rumah tadi?”Arabella melangkah mendekat dengan cepat, memecah ketegangan yang menggantung di udara. Menerobos kerumunan kecil karyawan kafe yang masih memegangi Kyle, ia langsung berdiri di tengah-tengah mereka."Tolong lepaskan dia! Dia suamiku," tegas Arabella pada para karyawan.Para karyawan yang mendengarnya seketika membelalakkan mata kaget, lalu perlahan melepaskan cengkraman mereka dari tubuh Kyle. Sementara Kyle mendengus kesal dan segera merapikan jasnya yang kusut dengan nafas memburu. Matanya menyipit tajam, langsung mengunci pandangan pada istrinya, Arabella."Apa yang kau lakukan disini, Arabella?!" bentak Kyle, suaranya dipenuhi amarah yang tertahan. "Kau bilang ingin mengambil mobil di bengkel, heh? Tapi nyatanya kau malah berduaan dengan pria lain. Kau membohongiku hanya untuk menemui pria bajingan itu di lantai atas, kan?! Kau sudah berselingkuh dibelakangku!" Suara Kyle langsung







