Se connecter“Aku ingin melupakan semuanya malam ini.”
Arabella menatap sayu pada pria yang baru saja berdiri di hadapannya. Tatapannya kabur oleh alkohol, namun ia bisa merasakan aura memikat yang kuat dari sosok pria itu. Ren tersenyum. Tanpa ragu, ia meraih jemari lentik Arabella, membawanya ke depan bibir, dan mengecup punggung tangannya dengan kelembutan yang disengaja. “Dengan senang hati aku akan membuatmu melupakan semuanya, Tuan Putri,” bisik Ren. Tanpa membuang waktu, Ren menuntun Arabella keluar dari riuhnya musik diskotik. Langkah Arabella yang sudah mabuk berat limbung dan sempoyongan. Melihat wanita itu hampir terjatuh, Ren dengan sigap menyelipkan satu lengannya di bawah lutut dan lengan lainnya di punggung Arabella. Di sudut ruangan, beberapa rekan kerja Ren hanya bisa berdecak kagum. “Padahal dia datang paling terakhir, tapi dia yang pulang duluan,” gumam seorang pria sambil menggelengkan kepala. “Dia memang terlahir dengan bakat itu. Pria penghibur kelas atas,” sahut yang lain dengan nada iri yang kentara. Di area parkir, Arabella mengangkat tangannya yang terkulai, menunjuk satu unit Mercedes Benz S-Class mewah yang terparkir. Melihat mobil itu, sudut bibir Ren terangkat. Sorak kemenangan bergema di dalam hatinya. Wanita di pelukannya ini benar-benar wanita kaya. Ren mendudukkan Arabella di kursi penumpang. Ia memasangkan sabuk pengaman hingga wajah mereka nyaris bersentuhan. Ren menutup pintu, memutari mobil, dan langsung mengambil alih kemudi menuju apartemennya. Setelah lima belas menit perjalanan, mobil itu berhenti di basement apartemen milik Ren. Kembali, ia mengangkat tubuh Arabella ke dalam dekapannya. Di dalam lift yang bergerak naik, keheningan terasa begitu pekat dan intim. “Sekarang... aku di mana?” gumam Arabella, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Ren yang hangat. “Kau bersamaku. Dan seperti janjiku tadi, aku akan memuaskanmu malam ini,” bisik Ren. “Suamiku... dia selingkuh,” racau Arabella tiba-tiba. “Kalau begitu,” Ren merendahkan tubuhnya, berbisik tepat di depan bibir Arabella yang basah, “kenapa kau tidak membalasnya saja dengan tidur bersamaku?” Arabella mendongak, senyuman mabuknya tampak begitu polos sekaligus miris. “Hehehe... kau benar. Aku tidak butuh suami yang bahkan tidak pernah melihatku ada.” Ekspresi rapuh itu seketika menyulut sesuatu yang panas di dalam darah Ren. Ia tidak sabar lagi untuk mengunci wanita ini di bawah kuasanya. Klik. Pintu apartemen terbuka. Ren melangkah masuk dan langsung menendang pintu hingga tertutup rapat. Ren membawa Arabella ke kamar utama dan merebahkannya dengan hati-hati di atas ranjang. Dress hitam ketat yang dikenakan Arabella sedikit terangkat ke atas, mengekspos paha putih mulusnya yang kontras dengan seprai gelap. Pandangan Ren menggelap seketika. “Kau... tampan sekali,” gumamnya lirih, jemari tangannya meraba pipi Ren. Ren terkekeh rendah, menangkap tangan itu dan mengecup telapak tangannya. “Baru sadar, hm?” Sebelum Ren sempat bergerak menjauh, Arabella dengan nekat menarik kerah kemeja Ren, membawa tubuh kekar pria itu jatuh menabraknya. “Tolong... buat aku lupa pada rasa sakit ini....” Permintaan itu terdengar seperti perintah sekaligus rintihan frustasi. Tatapan Ren berubah total. Pria mana yang sanggup menolak kepasrahan seindah ini? Jemari Ren bergerak mengusap air mata yang mengalir di pelipis Arabella. “Jangan menangis.” Suara Ren begitu berat dan dalam. Kyle tidak pernah berbicara selembut ini. Tidak pernah menatapnya seolah ia adalah istri yang berharga. Kehangatan asing itu membuat Arabella egois. Ia menarik tengkuk Ren dan mempertemukan bibir mereka terlebih dahulu. Ren tertegun sepersekian detik. Namun, insting liarnya langsung mengambil alih. Ia membalas ciuman Arabella. Ciuman mereka terasa panas, berantakan, dan menuntut. Rasa alkohol, amarah, dan luka batin Arabella melebur jadi satu dalam pagutan bibir yang semakin dalam. “Ren... ahh...” rintih Arabella tanpa sadar saat gigi Ren memberi gigitan kecil yang sensual di kulit lehernya. Mendengar namanya disebut dengan nada sepasrah itu, Ren menjauhkan wajahnya sedikit. Nafasnya sendiri sudah memburu. Tangannya yang hangat menyusup ke balik dress Arabella, membelai kulit pinggangnya yang halus. “Jika kau belum siap... kita bisa berhenti sekarang, Arabella,” bisik Ren. Arabella menatap Ren yang berkilat penuh gairah. Ia menggeleng tegas, matanya berkaca-kaca namun penuh keyakinan. “Aku tidak ingin berhenti.” Pertahanan Ren runtuh. Dengan gerakan cepat, ia menanggalkan pakaian mereka satu per satu hingga tidak ada lagi penghalang yang memisahkan kulit mereka. “Kau begitu indah, Arabella,” bisik Ren, suaranya serak menahan gairah yang membakar. Ren memposisikan dirinya di atas Arabella, merasakan dada mereka yang naik turun bersentuhan. Kulit mereka yang lembab oleh keringat tipis, menciptakan sensasi panas yang membuat Arabella semakin pasrah. Namun, saat Ren hendak menyatukan tubuh mereka, Arabella tiba-tiba memegang kedua bahu kekar Ren. Matanya bergetar, seperti ada keraguan disana. “Ini... ini pengalaman pertamaku,” bisik Arabella dengan wajah yang merona merah padam hingga ke leher. “Bisakah... kau melakukannya perlahan?” Ren tertegun. Pikiran bahwa wanita yang sudah bersuami ini ternyata masih suci, membuat dada Ren bergemuruh aneh. Rasa posesif yang belum pernah ia rasakan sebelumnya mendadak bangkit. Senyum Ren mengembang. “Tentu, Sayang. Aku akan pelan-pelan,” bisik Ren penuh janji. Perlahan dan penuh kehati-hatian, Ren mulai menyatukan miliknya dengan Arabella. Rasa sesak dan perih yang asing seketika membuat Arabella membelalak tegang. Air matanya menetes saat benteng pertahanannya ditembus. “Sakit... Ren, sakit...” rintih Arabella sambil mencengkram erat bahu Ren. Ren tidak membiarkan rasa sakit itu. Ia langsung merunduk, membungkam bibir Arabella dengan ciuman yang dalam dan penuh kehangatan, mengalihkan fokus wanita itu dari rasa perih di bawah sana. Ia menahan tubuhnya sendiri, membiarkan Arabella terbiasa dengan ukurannya. “Bertahanlah... milikmu begitu sempit dan menjepitku dengan nikmat. Hnghh...” Ren mengerang berat saat seluruh dirinya telah menyatu sempurna di dalam kehangatan Arabella. Sebagai pria yang terbiasa mengendalikan permainan, malam ini Ren merasa dirinya kalah telak. Sensasi pekat dan murni dari tubuh Arabella membuatnya hampir kehilangan kendali dan kewarasan. “Sial... suamimu benar-benar pria paling bodoh karena melewatkan kenikmatan ini,” umpat Ren rendah, sebelum akhirnya ia mulai bergerak dalam ritme yang lambat namun menghujam dalam. Arabella menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan desahan-desahan yang ingin lolos dari tenggorokannya. Ia menarik selimut untuk menutupi wajahnya, namun Ren dengan cepat menangkap kedua pergelangan tangan Arabella, menguncinya di sisi kepala wanita itu, menyatukan jari-jari mereka. “Jangan ditahan. Biarkan aku mendengar suaramu, Arabella. Hhnghh...” Ren mempercepat temponya, mendesak Arabella hingga ke batas akhir. “Aaahh! Ren... lebih... pelan... ahh!” Tangisan Arabella berubah menjadi desahan penuh gairah saat rasa sakit itu bergeser menjadi kenikmatan yang luar biasa. Tubuhnya melengkung di atas kasur, menerima setiap hantaman penuh gairah dari Ren yang terus membawanya terbang tinggi menembus awan. Malam semakin larut, gerakan mereka semakin panas dan penuh peluh yang menyatu. Di balik kuasa alkohol yang perlahan menipis, Arabella tidak tahu lagi apakah yang ia lakukan ini dosa atau penyelamatan. Ketika puncak kenikmatan itu akhirnya mereka rasakan, Ren mengerang keras di leher Arabella, sementara Arabella mendesah pasrah, mencengkram punggung Ren. Ren ambruk di samping Arabella, menarik wanita itu ke dalam dekapannya, lalu menarik selimut tebal untuk membungkus tubuh mereka yang polos yang penuh peluh. Ren mengecup puncak kepala Arabella yang kini tampak tertidur pulas karena kelelahan, menyisakan senyum penuh arti di bibir pria itu. “Terima kasih sudah memberikan pengalaman pertamamu padaku, Tuan Putri.”“Kau pernah bilang ingin tidur denganku kan? Ayo kita lakukan sekarang. Aku akan membuatmu melupakan segalanya, termasuk pria busuk itu.”Sebelum Arabella sempat membalas dengan satu kata pun untuk protes, Kyle sudah lebih dulu menyergapnya. Kali ini, ciumannya tidak sekasar tadi. Ada kelembutan yang menuntut dan rasa frustasi di sana, seolah Kyle sedang berusaha keras menghapus jejak pria lain yang mungkin tertinggal di tubuh istrinya."Kyle... mmhhh…lepaskan..." Arabella melenguh lirih, mencoba mendorong dada bidang Kyle saat ciuman itu turun ke lehernya.Namun, sentuhan Kyle di pinggangnya justru semakin mengunci pergerakannya. Arabella masih meronta, berharap bisa melepaskan diri.“Jika kau menjadi gadis yang baik untuk sekarang, mungkin aku bisa menjadi suami yang lebih memperhatikanmu, Ara…” Kyle kembali menciumi garis rahang Arabella hingga ke telinga.Mendengar kalimat itu, bukannya luluh, Arabella justru merasa harga dirinya diinjak-injak hingga ke dasar bumi. Ia merasa Ky
“Kita sudah sampai,” ucap Kyle lembut, memecah keheningan sembari menoleh pada Arabella.Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit yang diiringi keheningan mencekam, Kyle akhirnya membelokkan mobilnya memasuki gerbang sebuah rumah mewah bergaya modern klasik.Rumah yang seharusnya menjadi tempat yang hangat bagi sepasang suami istri, namun bagi Arabella, tempat ini tidak lebih dari sekedar penjara yang sunyi. Kyle mematikan mesin mobil. Di luar, langit pagi mulai bergradasi dari biru gelap menjadi jingga yang samar.Arabella tidak merespons ucapan Kyle. Ia langsung melepas sabuk pengamannya dengan gerakan cepat, membuka pintu mobil, dan melangkah keluar tanpa menunggu suaminya. Tubuhnya yang terasa pegal akibat luapan gairah semalam bersama Ren kian terasa berat karena beban pikiran yang terus menumpuk.“Kau masih tidak ingin bicara padaku?” Kyle berdiri disamping mobil menatap Arabella yang masuk lebih dulu.Begitu pintu utama rumah terbuka, Arabella segera melangkah l
“Laki-laki bajingan? Bukankah dirimu yang bajingan? Sudah punya istri, tapi masih berselingkuh dengan wanita murahan yang levelnya saja jauh dibawah Arabella.” Ren tersenyum sinis menatap kedua orang di depannya. Sedangkan tangannya masih mencengkram erat pinggang Arabella seolah tak ingin melepaskannya.Arabella langsung menatap Ren. Dirinya tak menyangka jika lelaki yang tengah memeluknya bisa mengeluarkan kata-kata setajam ini.“Lepaskan tanganmu dari pinggang istriku,” ancam Kyle. Suaranya pelan, namun penuh penekanan.Melihat reaksi Kyle yang mulai terpancing, Ren tersenyum makin lebar. Dia sangat menikmati momen seperti ini, dimana suami dari clientnya merasa cemburu oleh kedekatan mereka.Ren memang sudah terbiasa dengan situasi semacam ini. Karena dia sudah sering beradu argumen dengan para lelaki yang mana wanita mereka memakai jasanya. Kali ini pun sama, Ren terlihat lebih santai.“Melepaskan pinggang wanita secantik ini? Bukankah itu sebuah kerugian? Lagipula wanita cantik
“Sial, aku melakukannya lagi.” Arabella menghela nafas saat melihat tubuhnya hanya ditutupi selimut bersama Ren yang masih tertidur pulas di sampingnya.Ia perlahan mengangkat tangan Ren yang tergeletak di atas tubuhnya. Wajah pulas Ren terlihat sangat tenang. Pria itu sepertinya kelelahan setelah permainan panas mereka.Arabella tersenyum tipis. Dengan hati-hati, dirinya beranjak dari ranjang ukuran king size itu dan memunguti bajunya yang di lantai. Jam menunjukkan pukul empat pagi. Sekarang ia harus pulang.Setelah selesai memakai bajunya lagi, Arabella menulis sebuah surat yang ditujukan pada Ren yang ia letakkan di atas bantal. Akhirnya ia pergi meninggalkan pria itu sendirian.“Ugh… pinggangku rasanya mau patah. Semalam Ren benar-benar berubah menjadi serigala,” gerutunya di dalam lift sambil memijat-mijat pinggangnya pelan.Pintu lift terbuka. Arabella langsung keluar untuk segera pulang. Ia tak mau melihat wajah suaminya saat ia di rumah nanti, karena seharian ini dia berencan
“Ren… stop… mmhhh…” Arabella mendesah diantara ciuman mereka.Tapi Ren tak menghiraukan ucapan Arabella sama sekali. Justru sebaliknya, lelaki itu membenamkan bibirnya lebih dalam. Bahkan sekarang gerakannya lebih liar. Ia mengurung Arabella di bawah tubuhnya.“Apa kau masih memikirkan suamimu yang bajingan itu?” tanya Ren, ciuman panas terus ia berikan pada Arabella.“Ren… pelan-pelan…”Tubuh Arabella menggeliat tak karuan saat ia merasakan tangan Ren semakin liar saat menjamah tubuhnya. Pria itu tersenyum. Bukannya berhenti, dia malah meningkatkan intensitas gerakannya agar membuat wanita dibawahnya menyerahkan diri sepenuhnya padanya.“Aku tidak akan pela-pelan. Aku sangat membenci wanita yang memikirkan pria lain saat berada disampingku,” ucapnya dengan nafas yang sengaja diarahkan ke rahang Arabella, membuat wanita itu meremang.Sentuhan pria itu perlahan menghapus sisa-sisa keraguan dan luka hati sang wanita, menggantinya dengan gelombang gairah yang asing sekaligus mendebarkan.
“Kita tidak akan berbuat apa-apa. Aku hanya butuh teman sekarang,” balas Arabella datar.Seketika senyuman Ren sirna. Dia mundur selangkah untuk melihat Arabella lebih jelas. Wanita itu terlihat menahan air mata sekuat tenaga. Bibirnya tertutup rapat, seolah menyembunyikan jeritan yang terus meronta dalam dirinya.Ren menghela nafas panjang. Dia coba memberi ruang, agar wanita mangsanya sedikit lebih tenang.Pintu lift terbuka. Arabella keluar lebih dulu, lalu disusul Ren dari belakang. Ren melihat Arabella mengeluarkan kartu akses untuk membuka satu kamar di lantai tersebut. Pintu pun terbuka. Mereka segera masuk satu kamar bertipe presidential suite di hotel tersebut.“Anggap saja rumah sendiri,” ucap Arabella lirih sambil melempar tas bermerk Saint Laurent berwarna beige yang seharga jutaan rupiah miliknya ke sembarang arah.Arabella melangkah gontai mendekati ranjang ukuran king size yang mengisi sebagian ruangan mewah tersebut, lalu







