Share

Telfon Pertama

Author: nababy
last update publish date: 2026-05-21 14:59:38

Wajah Arabella terlihat masih kelelahan saat ia baru saja masuk dalam rumah. Ia ingin cepat-cepat untuk membersihkan badannya dari sisa semalam. Saat ia menaiki tangga, tiba-tiba suara Kyle terdengar dari arah dapur.

“Darimana saja kamu?” Pria itu sudah berdiri berkacak pinggang di ruang tengah.

Mendengar suaranya, Arabella langsung teringat kejadian semalam, dimana ia memergoki suaminya tengah berselingkuh dan itu membuat dadanya kembali sesak.

Arabella berbalik malas, lalu menatap wajah Kyle yang terlihat tidak senang.

“Bukan urusanmu,” jawabnya datar.

Pria itu langsung berjalan mendekat dan berdiri di depannya. Ekspresinya terlihat menahan emosi, namun Arabella terlihat tidak peduli.

“Apa kau ingin balas dendam padaku karena telah selingkuh di belakangmu? Asal kau tahu, aku tidak pernah mencintaimu dan…” Mendadak kalimat Kyle terpotong saat Arabella langsung menyelanya.

“Iya, iya… pernikahan kita hanyalah sebuah bisnis. Kau mencintai wanita lain dan hanya menganggapku istri yang tidak berguna,” potong Arabella cepat.

Mimik wajahnya sudah terlihat jengah. Mendengar jawaban istrinya, rahang Kyle mengeras. Ia mendecih kesal.

“Ingat! Kau itu tidak punya kuasa apapun dalam pernikahan ini. Jadi jangan sekali coba-coba untuk melawanku dan jadilah istri yang penurut!” Kyle mencoba memberi intimidasi.

Namun Arabella sudah muak. Dia tidak melakukan kesalahan apapun, bahkan yang terus-terusan mencoreng janji suci mereka adalah Kyle, bukan dirinya.

Sorot mata Arabella terlihat dingin. Dan itu membuat dada Kyle berdesir sejenak. Karena baru kali ini saat ia melayangkan ancaman pada istrinya malah dibalas dengan tatapan yang tak memperlihatkan ketakutan sama sekali.

“Sudah bicaranya? Aku lelah, ingin istirahat. Bukankah kau harus segera ke kantor? Pergilah. Lakukan semua yang kamu mau. Sekarang aku sudah tidak peduli.” Arabella segera menaiki anak tangga menuju kamarnya.

Kyle mengepalkan tangannya. Baru kali ini Arabella menunjukan sikap yang dingin. Biasanya wanita itu selalu menuruti setiap ucapannya bahkan langsung menangis setiap kali ia mengancamnya sedikit.

“Arabella! Cepat kemari!” teriaknya keras.

Namun sang istri tak mengindahkan perintahnya. Arabella terus naik menuju lantai dua dan terdengar suara pintu tertutup keras dari bawah.

Sejenak Kyle langsung terdiam. Ia tertegun memikirkan bagaimana Arabella langsung berubah dalam waktu semalam?

“Apa tadi malam aku benar-benar menyakiti hatinya?” gumamnya lirih.

Di dalam kamar Arabella langsung duduk di lantai dan bersandar di pintu setelah sesaat mendengar teriakan Kyle.

Dadanya kembali sesak mengingat kejadian semalam tentang perselingkuhan Kyle yang masih segar dalam ingatannya.

Arabella perlahan memukuli dadanya yang makin sakit. Ia menahan suara isak tangis miliknya agar tidak terdengar siapapun. Namun satu atau dua isakan itu lolos karena dirinya tak mampu mengendalikan emosi lebih lama lagi.

“Kenapa hidupku harus seperti ini?” suaranya parau di sela tangisannya.

Dia sadar jika dirinya sangat mencintai Kyle. Pria yang sudah menjadi crush saat ia masih kecil. Sejak kecil wanita itu selalu bermimpi untuk menjadi istri seorang Kyle Adisurya dan mimpi itu terwujud juga.

Namun dalam satu tahun pernikahannya dengan sang pujaan hati, sama sekali tak berjalan harmonis. Semuanya tak pernah Kyle hargai.

Mendadak ada satu panggilan masuk di ponselnya. Arabella melihat nomor tak dikenal, namun ia segera mengangkatnya.

“Halo… ini siapa?” ucapnya pelan sambil menghapus air mata.

“Halo tuan putri. Padahal kita baru saja berpisah, tapi aku sudah mulai merindukanmu.”

Suara itu tidak asing di telinga Arabella. Suara pria asing yang sudah merebut keperawanannya semalam.

“Ren?”

“Hahaha… ternyata kau langsung tahu ya.”

Suara Ren terdengar santai dari seberang sana. Bahkan hanya dengan mendengar tawanya saja, Arabella langsung teringat bagaimana pria itu memeluknya semalaman.

Entah kenapa jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

“Ada apa menelponku?” tanya Arabella pelan sambil berusaha menormalkan suaranya.

Ren bersandar santai di balkon apartemennya sambil memainkan korek api di tangan.

“Tidak boleh?”

Arabella terdiam sesaat. Tidak pernah ada seseorang yang mencarinya hanya karena ingin mendengar suaranya. Kyle bahkan jarang meneleponnya kecuali ada urusan penting.

“Aku hanya heran,” jawab Arabella jujur.

Ren tersenyum kecil. “Kalau begitu mulai sekarang kau harus membiasakannya.” Kalimat sederhana itu entah kenapa membuat dada Arabella terasa hangat.

Namun sedetik kemudian ia langsung mengingat status mereka. Ren hanyalah pria penghibur. Dan dirinya hanyalah pelanggan yang mabuk semalam.

Arabella menunduk pelan. “Ren… tentang semalam…” Kalimatnya terhenti.

“Aku tidak menyesalinya,” potong Ren tiba-tiba.

Arabella membeku. Ren melanjutkan dengan suara rendah yang terdengar begitu serius.

“Aku harap kau tidak menyesalinya.”

Wanita itu menggigit bibir bawahnya pelan. Jika dipikir-pikir, ia seharusnya merasa bersalah. Namun anehnya saat bersama Ren semalam, untuk pertama kalinya ia merasa diinginkan. Merasa diperhatikan. Sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan selama menikah dengan Kyle.

“Aku tidak tahu harus merasa bagaimana,” bisik Arabella jujur.

Ren tersenyum tipis mendengar kejujuran itu.

“Kalau begitu jangan dipikirkan dulu.”

“Semudah itu?”

“Hm.” Ren menatap langit siang di depan apartemennya.

“Kadang manusia terlalu sibuk memikirkan benar atau salah sampai lupa caranya bahagia," lanjutnya.

Arabella terdiam. Pria ini terdengar sangat santai, namun setiap kata-katanya selalu berhasil mengusik pikirannya.

“Dan lagi…” suara Ren kembali terdengar menggoda. “Aku cukup yakin semalam kau menikmatinya.”

Wajah Arabella langsung memanas.

“Ren!”

Tawa pria itu langsung pecah. “Nah, itu lebih baik. Setidaknya sekarang kau terdengar tidak sedang menangis.”

Arabella baru sadar sedari tadi Ren terus mencoba mengalihkan suasana hatinya.

Dadanya kembali terasa aneh.

“Tuan putri.”

“Hm?”

“Apa suamimu ada di rumah?”

Pertanyaan itu membuat Arabella refleks membuka pintu kamarnya sedikit. Ia teringat Kyle yang tadi berdiri dengan wajah penuh amarah di bawah.

“Ada,” jawabnya pelan.

Ren mendecih kecil. “Kalau begitu jangan menangis lagi karena pria tidak tahu diri itu.”

Arabella menunduk sambil menggenggam ponselnya erat.

“Aku tidak bisa semudah itu melupakan seseorang yang sudah aku cintai sejak kecil,” suara Arabella terdengar lirih.

Untuk beberapa detik, Ren terdiam. Lalu ia terkekeh pelan.

“Kalau begitu aku harus bekerja lebih keras.”

Arabella mengernyit bingung. “Bekerja keras apa?”

“Membuatmu melupakan dia.”

Kemudian terdengar suara renyah dari ujung sana.

Jantung Arabella kembali berdebar. Pria itu terlalu pandai bermain dengan kata-kata.

“Ren…” Arabella menghela nafas kecil. “Kau selalu bicara seperti itu pada semua wanita ya?”

“Tidak.”

“Bohong.”

“Hm… baiklah.” Ren tertawa kecil. “Mungkin aku memang sering menggoda wanita.”

“Nah kan.” Mendadak Arabella manyun.

“Tapi aku tidak pernah menelepon mereka setelah semalaman bersama.”

Arabella langsung terdiam kembali. Untuk pertama kalinya sejak percakapan dimulai, Ren terdengar jujur. Dan itu justru membuatnya semakin bingung.

Tiba-tiba terdengar suara ketukan keras dari luar kamar.

“Arabella! Buka pintunya!” Suara Kyle terdengar dingin dari balik pintu.

Tubuh Arabella langsung menegang.

Ren yang mendengar suara samar itu langsung menyipitkan matanya.

“Itu suamimu?”

Arabella tidak menjawab. Ketukan di pintu kembali terdengar lebih keras.

“Aku tahu kau ada di dalam!”

Nafas Arabella mulai memburu. Entah kenapa ia merasa takut jika Kyle mengetahui dirinya mengobrol dengan pria lain.

Arabella memejamkan mata sesaat sambil mencoba mengatur nafasnya. Namun sebelum ia sempat berbicara lagi, suara Ren kembali terdengar rendah di telinganya.

“Ara… kalau suatu hari nanti kau benar-benar lelah dengan pernikahanmu… datang padaku lagi,” bisiknya pelan.

Kemudian panggilan mereka langsung terputus.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pria Penghibur Itu Adalah Simpananku   Serigala Berbulu Domba

    “Baiklah, temui aku di tempat pertama kita bertemu, sayangku…” Akhirnya Ren menutup telepon dengan senyum sombongnya yang ditujukan pada Damar.Seketika Damar langsung angkat tangan seolah menyerah dengan keahlian Ren dalam merayu para wanita.“Kau memang yang terbaik Ren Arka. Kau pasti akan mendapatkan mobil baru dari wanita kaya itu.” Damar mengakui kekalahan.“Baiklah, aku harus membeli baju dan parfum baru untuk memuaskan clientku besok malam. Sampai jumpa, Damar.” ​Malam selanjutnya telah datang. Suara musik berdentum keras memenuhi seisi diskotik, membaur dengan kilauan lampu neon yang berkedip dinamis. Di dekat pintu masuk, Ren berdiri santai dengan sebelah tangan menyelinap di saku celananya. Sepasang matanya yang tajam terus mengawasi setiap pengunjung yang datang, hingga akhirnya pandangannya terkunci pada satu sosok. ​Arabella.​Wanita itu melangkah masuk dengan gaun elegan yang tampak kontras dengan atmosfer liar di sekitarnya. Langkahnya ragu-ragu, wajahnya terlihat b

  • Pria Penghibur Itu Adalah Simpananku   Maksud Tersembunyi

    “Jadi semalam kau mendapat mangsa yang kaya raya?” Damar memicingkan mata pada Ren yang sudah duduk di meja bar miliknya hampir setengah jam yang lalu.Ren hanya meneguk minuman yang sudah dibuat Damar hingga habis dan meletakkannya kembali ke atas meja.Senyumnya mengembang tipis, saat melihat layar ponselnya yang terlihat ada beberapa pesan dari Arabella. Wanita yang sudah dipuaskannya semalam.“Tentu. Kau lihat ini?” Ren memperlihatkan layar ponselnya yang masih menyala.“Wanita yang aku bawa semalam adalah wanita kaya raya. Dan kau tahu? Dia sama sekali belum disentuh oleh suaminya.”Tangannya memukul meja seolah baru saja memenangkan sebuah lotre dengan hadiah besar. Sementara Damar hanya menggelengkan kepala, tak habis pikir bagaimana lelaki ini bisa mendapat mangsa yang sangat ideal untuk diperas nantinya.“Dan kau memakai trik yang sama?” Mata Damar mendelik menunggu jawaban Ren.“Tentu saja,” jawabnya spontan.

  • Pria Penghibur Itu Adalah Simpananku   Jika Dia Bisa Selingkuh, Mengapa Aku Tidak?

    “Arabella cepat buka pintunya!” Kyle terus menggedor pintu kamar kencang. Pintu langsung terbuka dan memperlihatkan Arabella yang terlihat sudah jengah dengannya. “Kamu mau apa lagi sih?!” bentak Arabella keras. Membuat Kyle langsung mundur selangkah karena terkejut. Baru pertama kali ini Arabella membentaknya kencang. Kyle terdiam beberapa detik, sedangkan wanita itu menatapnya tajam. “Kau… kau berani membentakku?” Kyle balik memelototi Arabella meski berpura-pura memberanikan diri. Badan besarnya maju, mencoba mengintimidasi sekali lagi. Namun tatapan Arabella tetap sama. Ekspresi penuh kebencian tanpa rasa takut sama sekali. “Dengar, kamu itu tidak ada apa-apanya dibanding denganku.” Kyle mulai menunjuk-nunjuk wajah Arabella dengan jarinya. “Lalu kenapa?! Kalau semua itu benar kenapa?! Kau mau menindasku lagi?! Hah?!” Bentakan demi bentakan terus Arabella tujukan pada suaminya. Kyle langsung mengepalkan tangannya kuat-kuat. Rahangnya mengeras melihat Arabella yang kini bera

  • Pria Penghibur Itu Adalah Simpananku   Telfon Pertama

    Wajah Arabella terlihat masih kelelahan saat ia baru saja masuk dalam rumah. Ia ingin cepat-cepat untuk membersihkan badannya dari sisa semalam. Saat ia menaiki tangga, tiba-tiba suara Kyle terdengar dari arah dapur. “Darimana saja kamu?” Pria itu sudah berdiri berkacak pinggang di ruang tengah. Mendengar suaranya, Arabella langsung teringat kejadian semalam, dimana ia memergoki suaminya tengah berselingkuh dan itu membuat dadanya kembali sesak. Arabella berbalik malas, lalu menatap wajah Kyle yang terlihat tidak senang. “Bukan urusanmu,” jawabnya datar. Pria itu langsung berjalan mendekat dan berdiri di depannya. Ekspresinya terlihat menahan emosi, namun Arabella terlihat tidak peduli. “Apa kau ingin balas dendam padaku karena telah selingkuh di belakangmu? Asal kau tahu, aku tidak pernah mencintaimu dan…” Mendadak kalimat Kyle terpotong saat Arabella langsung menyelanya. “Iya, iya… pernikahan kita hanyalah sebuah bisnis. Kau mencintai wanita lain dan hanya menganggapku istri

  • Pria Penghibur Itu Adalah Simpananku   Bersama Pria Asing

    “Selamat pagi, Tuan Putri,” sapa Ren sambil tersenyum di sampingnya. Pria itu menopang kepalanya dengan satu tangan, siku bertumpu santai di atas kasur. Tatapannya tak lepas dari wanita di sampingnya yang mulai terbangun perlahan. Rambut wanita itu sedikit berantakan, beberapa helainya menutupi wajah yang masih dipenuhi sisa kantuk. “Pagi…” Arabella mengucek matanya pelan. Ren tersenyum melihat tubuh mungil Arabella yang masih terbungkus selimutnya dan menampilkan bagian tubuh atasnya. Pria itu langsung mendekat dan kembali memeluk tubuh mungil itu. Kenikmatan yang dirasakannya semalam sangat membekas dalam hatinya. “Ssshhh… sakit,” rintih Arabella saat menggerakkan tubuh bagian bawahnya. Ren langsung terkekeh pelan sambil mempererat pelukannya dari belakang. “Maaf,” bisiknya rendah di dekat telinga Arabella. “Tapi kau juga sangat sulit dihentikan semalam.” Wajah Arabella langsung memanas mengingat potongan-potongan kejadian tadi malam yang mulai kembali memenuhi kepalanya.

  • Pria Penghibur Itu Adalah Simpananku   Malam Yang Panas

    ​“Aku ingin melupakan semuanya malam ini.” ​Arabella menatap sayu pada pria yang baru saja berdiri di hadapannya. Tatapannya kabur oleh alkohol, namun ia bisa merasakan aura memikat yang kuat dari sosok pria itu. ​Ren tersenyum. Tanpa ragu, ia meraih jemari lentik Arabella, membawanya ke depan bibir, dan mengecup punggung tangannya dengan kelembutan yang disengaja. ​“Dengan senang hati aku akan membuatmu melupakan semuanya, Tuan Putri,” bisik Ren. ​Tanpa membuang waktu, Ren menuntun Arabella keluar dari riuhnya musik diskotik. Langkah Arabella yang sudah mabuk berat limbung dan sempoyongan. Melihat wanita itu hampir terjatuh, Ren dengan sigap menyelipkan satu lengannya di bawah lutut dan lengan lainnya di punggung Arabella. ​Di sudut ruangan, beberapa rekan kerja Ren hanya bisa berdecak kagum. ​“Padahal dia datang paling terakhir, tapi dia yang pulang duluan,” gumam seorang pria sambil menggelengkan kepala. ​“Dia memang terlahir dengan bakat itu. Pria penghibur kelas a

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status