LOGIN“Ara, bangun…” suara Ren bagai candu yang membuat telinga Arabella merasa tergelitik.
Pria itu terus membubuhi wajah Ara dengan ciuman-ciuman kecil yang memanjakan. Ren bahkan tidak tahu mengapa dirinya setertarik ini dengan mangsanya. Biasanya pria itu langsung pergi setelah malam panas bersama tamu-tamu yang ia puaskan.“Ren… aku masih mengantuk…” gumam Ara mencoba menolak kenikmatan itu, namun tubuhnya tidak bisa. Ia membiarkan pria itu terus menciuminya, karena bagi Arab“Papa, sudah sadar?” Suara Kyle meluncur mulus, terdengar begitu tulus dan sarat akan penyesalan semu. Pria itu berdiri di sisi ranjang rumah sakit dengan postur membungkuk hormat, menampakkan citra seorang menantu teladan yang sedang dilanda rasa bersalah mendalam.Begitu pintu kaca kamar VIP tertutup rapat di belakang punggungnya, atmosfer di dalam ruangan berubah menjadi panggung sandiwara yang memuakkan. Kyle yang sedetik lalu masih menunjukkan seringai arogan di hadapan Ren, kini dengan lihai memutar balik gesturnya menjadi pria penuh iba. Ia bahkan membiarkan matanya sedikit memerah, menciptakan ilusi seolah-olah ia adalah korban dari kesalahpahaman rumah tangga yang hampir menghancurkan hidupnya.“Pa, Kyle disini. Papa tenang saja, aku berjanji tidak akan pernah meninggalkan Ara dan aku akan selalu menjaga perusahaan keluarga ini.”Arabella, yang berdiri tidak jauh dari sudut ruangan, harus menggigit bagian dalam pipinya hingga terasa a
Pintu kaca kamar VIP menutup rapat, memutus segala kebisingan, caci maki, dan ketegangan yang tadi sempat pecah di lorong rumah sakit. Ruangan itu beraroma desinfektan yang tipis, diisi oleh suara monoton dari monitor detak jantung dan alat bantu pernapasan yang terpasang di sisi ranjang.Arabella melangkah pelan dengan lutut yang terasa lemas. Di atas pembaringan rumah sakit itu, Mahendra Adiwangsa, pria paruh baya yang selama ini menjadi pilar terkuat dalam hidupnya terbaring sangat pucat. Wajah sang ayah tampak tirus, dengan mata terpejam rapat dan selang oksigen yang melingkar di hidungnya. Pertahanan diri Arabella yang tadinya dibangun dengan baja seketika runtuh berkeping-keping.Ia duduk di kursi sisi ranjang, menggenggam tangan Mahendra yang terasa dingin dan rapuh. Air mata yang sejak tadi mati-matian ia tahan akhirnya tumpah menderas, membasahi punggung tangan sang ayah."Papa..." cicit Arabella tertahan, suaranya bergetar hebat di
"Sialan kau, Arabella! Berani-beraninya kau datang bersama bajingan ini?!" bentak Kyle dengan suara menggelegar, memecah keheningan koridor.Pria itu melangkah maju dengan kepalan tangan yang bergetar hebat di kedua sisi tubuhnya. Urat-urat di lehernya menegang, dan matanya menyala merah, menatap tajam ke arah Arabella sebelum beralih memindai sosok Ren yang berdiri tepat di samping wanita itu dengan postur santai namun siaga.Arabella menegakkan dagunya. Kelemasan akibat kabar buruk tentang sang ayah seketika tertutup oleh lapisan baja kemarahan yang membakar dadanya. Ia menatap Kyle bukan lagi dengan rasa sakit atau air mata, melainkan dengan tatapan paling dingin yang pernah ia tunjukkan seumur hidupnya."Jaga jarak dariku, Kyle," desis Arabella tajam, suaranya menusuk tanpa gentar. "Dan berhenti berteriak di depan kamar ayahku! Kau tidak punya hak sedikit pun untuk mengatur dengan siapa aku datang, atau dengan siapa aku pergi. Hubungan ki
“Ara, bangun…” suara Ren bagai candu yang membuat telinga Arabella merasa tergelitik.Pria itu terus membubuhi wajah Ara dengan ciuman-ciuman kecil yang memanjakan. Ren bahkan tidak tahu mengapa dirinya setertarik ini dengan mangsanya. Biasanya pria itu langsung pergi setelah malam panas bersama tamu-tamu yang ia puaskan.“Ren… aku masih mengantuk…” gumam Ara mencoba menolak kenikmatan itu, namun tubuhnya tidak bisa. Ia membiarkan pria itu terus menciuminya, karena bagi Arabella ciuman itu terasa seperti candu.“Aku tegang. Aku pengen lanjut lagi.”Ren, semalam kita sudah melakukannya berulang kali, aku lelah Ren…”Tapi Ren tidak berhenti, dia malah terus menggerayangi tubuh Ara dengan ganas. Bahkan sekarang ia meremas-remas dua gunung kenyal milik Ara dan memilin pucuknya.Di atas ranjang king size yang berantakan, sentuhan tangan Ren yang terampil di kulit mulus Arabella kembali memantik bara. Tidak ada lagi keraguan atau sisa
”Ayo buka mulutnya,” ucap Ren sambil meraba-raba bibir bawah Arabella.Wanita itu patuh. Ia langsung duduk. Perlahan ia memajukan kepalanya menuju milik Ren yang sudah setengah tegang.“Kulum, Ara. Ayo…” Suara Ren lirih, bercampur dengan deru nafasnya yang berat.Arabella langsung mengulum ujung milik Ren, membuat pria mendesah nikmat sampai mendongak dengan mata tertutup. Reflek, tangan Ren memegangi kepala Ara dan menggerakkannya pelan.“Ahhh… enak banget mulut kamu. Hisap terus, Ara, aaah…” Ren meracau dengan nafas tertahan.Sedangkan Ara dibawah, melihat Ren yang menunjukkan ekspresi puas. Sekarang, pinggang Ren ikut bergerak, menghujam kerongkongan Arabella hingga membuatnya sulit bernafas.“Agghh!” Suara Ara tertahan oleh hentakan yang Ren berikan.“Enak? Apa kau suka aku memenuhi mulutmu?” Ren menjambak rambut Ara, namun tetap mempertahankan posisi kepalanya agar tak bergeser sedikitpun.“Sial! Aku keluar Ara, aaah!” Sebuah cairan hangat meluncur memenuhi seisi mulut Ara. Ren
”Tolong mainin aku. Sentuh tubuh aku Ren… aku mau dipuasin sama kamu.” “Ren tersenyum tipis. Ia membenarkan posisi duduknya agar lebih leluasa untuk menikmati tubuh Arabella yang sangat molek. “Mau dipuasin? Aku akan buat kamu merasakan kenikmatan sampai kamu lupa semuanya kecuali aku, Ara.” Bisikan bernada rendah itu melayang tepat di samping telinga Arabella, membakar sisa-sisa pertahanan dirinya yang sudah runtuh. Kata-kata Ren bagaikan sihir yang mengikis habis kesadaran logisnya, menggantikannya dengan gelombang gairah yang menuntut untuk dipenuhi. Arabella tidak merespons dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk pasrah seraya makin menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Ren. Nafasnya yang hangat dan memburu menerpa kulit leher pria itu, menjadi sebuah jawaban tanpa suara yang sangat jelas bagi Ren. Ren terkekeh rendah, sebuah tawa penuh kepuasan yang menggetarkan dadanya. Dengan satu gerakan mantap dan penuh dominasi, Ren merengkuh tubuh molek Arabella ke dalam garapan







