MasukAdriel masih mengancingkan kancing terakhir kemejanya saat aku membuka pintu dan mendapati Anna serta Rivan di luar. Adikku langsung masuk seperti badai dengan penuh energi dan antusiasme tentang berita pentingnya, sementara Rivan menyusul di belakangnya dengan wajah yang sangat serius sampai terasa kontras dengan suasana hati Anna. Tidak butuh waktu lama untuk menyadari ketegangan di antara mereka. Mereka menjaga jarak sopan, dan ini sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ada."Hai, Kak!" sapa Anna dan mengecup pipiku sebelum tiba-tiba berhenti. Matanya berpindah cepat antara aku dan Adriel, alisnya langsung terangkat. "Kenapa kalian berdua kelihatan seperti habis lari maraton? Dan kenapa Adriel kelihatan seperti kalah berantem sama sisir?"Wajahku langsung panas saat aku buru-buru merapikan rambut."Anna," gumamku yang malu setengah mati."Ohhh," katanya sambil tertawa saat melihat ekspresi Adriel. "Ngerti. Maaf soal waktunya, tapi sumpah ini penting!""Sebaiknya memang penting," gumam
Sudut pandang Vivian.Cahaya lembut dari TV berkedip di wajah kami saat kami menonton film konyol tentang alien yang jatuh cinta dengan manusia. Adriel bersikeras kami butuh sesuatu yang santai dan tanpa stres, jujur saja, dia benar. Setelah semua yang kami lewati beberapa minggu terakhir ini, malam tenang di rumah memang tepat seperti yang kami butuhkan.Aku meringkuk di dadanya di atas sofa, sambil memegang mangkuk di pangkuanku yang berisi ngidam terbaruku yaitu es krim vanila dengan irisan acar dan mustar. Aku tahu ini terdengar menjijikkan, tapi entah kenapa aku tidak bisa berhenti memakannya."Vivian," kata Adriel sambil memperhatikanku mencelupkan acar lagi ke dalam es krim. "Itu mungkin hal paling aneh yang pernah kulihat kamu makan.""Bukan salahku," kataku sambil mengambil suapan besar. "Ini gara-gara hormon. Itu bikin aku ngidam hal-hal paling aneh.""Itu bahkan lebih dari sekedar aneh," godanya sambil mengecup puncak kepalaku. "Minggu lalu cokelat dan sarden. Sekarang ini.
Sudut pandang Anna.Aku tidak pernah menyangka bakal duduk di kafe murah di pusat kota sambil membahas percobaan pembunuhan dan konspirasi perusahaan. Tapi dengan Vivian yang sedang hamil dan Adriel masih dalam masa pemulihan setelah kecelakaan, aku dan Rivan jadi satu-satunya yang bisa menggali informasi. Jujur saja, aku mulai sadar kalau aku ternyata cukup jago dalam hal ini."Anna, fokus," kata Rivan tajam sambil mendorong sebuah berkas ke arahku. "Kita punya informasi yang bisa menyelamatkan nyawa Adriel.""Santai, Detektif," godaku sambil tetap mengambil berkas itu. "Kamu terlalu serius. Apa selanjutnya? Kacamata hitam sama nama sandi?"Rivan menatapku datar dan jelas tidak sedang ingin bercanda. Dia terlihat fokus, terkendali dan benar-benar berbeda dari sosok santai yang biasa aku kenal. Situasi ini mengubahnya."Kita mulai saja," katanya dengan nada tenang dan singkat. "Aku sudah mengumpulkan bukti yang cukup kuat. Tiga kamera keamanan yang berbeda menangkap mobil yang sama di
Aroma daging panggang di halaman belakang rumah orang tuaku langsung membawaku kembali ke masa kecil. Minggu-minggu yang hampir terasa sakral, dipenuhi canda keluarga dan daging panggang terkenal ayahku. Hari ini tidak berbeda, kecuali sekarang Adriel duduk di salah satu kursi plastik tua dekat panggangan sambil mendengarkan dengan saksama cerita ayahku.Agak lucu melihatnya di sana, pria yang biasanya hadir di acara berdasi hitam dan restoran bintang lima, begitu santai di halaman belakang kami yang sederhana. Kaos polo, jeans, dan segelas bir di tangan. Dia tampak seperti memang dilahirkan untuk momen ini. Ayah bersikeras Adriel tetap dekat panggangan untuk mengawasi, yang tentu saja berarti terus dikasih cerita dan saran-saran yang nggak diminta tentang cara memberi bumbu."Vivian," panggil ibuku dari pintu dapur sambil membawa nampan berisi salad. "Makanan ibu hamilmu sudah siap. Dan sebelum kamu tanya, ya, aku sudah mencucinya tiga kali."Aku tersenyum dan mengambil nampan darinya
Sudut Pandang Vivian.Dua hari setelah pengungkapan tentang Elisa dan mobil Alex, aku masih berusaha mencerna semua yang sudah kami temukan. Adriel menghabiskan pagi hari di telepon bersama Rivan membahas langkah selanjutnya dalam penyelidikan, sementara aku mencoba mempertahankan semacam rutinitas normal atau setidaknya berusaha.Dari ambang pintu, aku memperhatikannya bergerak di dalam ruangan, menyadari betapa dia terlihat jauh lebih kuat dan stabil. Kekakuan yang sempat tersisa dalam gerakannya setelah kecelakaan hampir sepenuhnya hilang. Memar di wajahnya sudah memudar menjadi bayangan samar, dan dia kembali memiliki energi tenang yang sempat aku khawatirkan tidak akan pernah kembali.Saat dia mengakhiri panggilan, aku bersandar di kusen pintu, dan mencoba menyembunyikan rasa gugup di balik senyum menggoda."Kalau kamu sudah cukup sehat sampai bisa menyelinap ke dalam mobil saat penyelidikan," kataku sambil menyilangkan tangan. "Aku rasa mungkin kamu mau ikut denganku ke janji te
Sudut Pandang Adriel.Aku sudah menyesuaikan alat komunikasi di telinga kecil itu untuk ketiga kalinya dalam lima menit terakhir saat duduk di kursi belakang mobil Rivan. Suaranya jelas dan aku bisa mendengar setiap kata dari percakapan Vivian dan Alex lewat alat perekam yang tersembunyi di dalam tasnya. Tapi itu sama sekali tidak membuatku tenang."Santai saja, bro," gumam Rivan dari kursi pengemudi sambil mengamatiku lewat kaca spion. "Kamu kelihatan seperti penguntit obsesif.""Diam, Rivan," geramku. Mataku terpaku pada jendela kafe tempat aku bisa melihat bayangan Vivian dan Alex."Dia tidak salah," kata Anna dari kursi penumpang dengan senyum yang menggoda di bibirnya. "Kamu itu sudah hampir habis menggigit kuku sendiri. Lumayan lucu, sebenarnya."Suara Alex terdengar lewat alat komunikasi di telinga, halus dan penuh percaya diri dengan cara yang otomatis membuat tanganku mengepal."Vivian, kamu kelihatan luar biasa. Kamu memang selalu tahu cara bikin aku hilang kendali, ya?"Anna
Sudut Pandang Adriel.Vivian menatap tangannya beberapa detik, seolah mengumpulkan keberanian. Akhirnya dia menatapku."Aku rasa iya," bisiknya sembari melangkah menuju kamar mandi. "Kamu benar. Kita harus tahu."Aku mengambil tes dari meja, sekilas membaca petunjuk di kotaknya. Tampak mudah dilakuk
Ruang utama tampak semakin ramai ketika Anna dan aku turun. Musik biola kuartet telah diganti dengan daftar lagu yang lebih riang, dan beberapa tamu bergerak di lantai dansa. Damar dikelilingi sekelompok pria tua, gesturnya hidup saat menceritakan sebuah kisah yang pasti lucu, dapat terlihat dari ta
Anthony berdiri hanya beberapa langkah dariku, sosoknya yang elegan langsung mencolok di antara para tamu. Dengan senyum palsunya, dia mengulurkan salah satu dari dua gelas sampanye yang dipegangnya ke arahku."Seorang wanita sepertimu seharusnya tidak sendirian di pesta seperti ini," komentarnya de
Jet pribadi Keluarga Mahendra melayang di atas perbukitan Gravona, dan aku masih belum bisa membiasakan diri dengan gagasan bahwa, setidaknya secara teknis, pesawat ini juga milikku. Anna, di sisi lain, sudah tampak benar-benar nyaman dengan kenyataan baru ini."Jelaskan lagi ke aku, kenapa kamu mas







