Share

Bab 160

Author: Kayla Sango
Hari peluncuran Vintara akhirnya tiba, dan aku terbangun dengan gelombang gugup sekaligus antusias yang mengalir di seluruh tubuhku. Setelah berbulan-bulan perencanaan yang sangat teliti, upaya jebakan, kehamilan berisiko tinggi, dan operasi jantung sang kepala keluarga, akhirnya saatnya menunjukkan kepada dunia apa sebenarnya kemampuan Grup Mahendra.

Acara ini dibagi menjadi dua bagian utama. Hari ini, Sabtu, adalah pertemuan eksklusif untuk keluarga, teman dekat, pers, dan beberapa konten krea
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 198

    Aku kembali ke kantor dalam keadaan benar-benar terkejut. Kaki rasanya lemas seperti tidak bertulang, dan pikiranku kosong total, seolah ada seseorang yang menekan tombol dan mematikan otakku begitu Nathaniel masuk ke kafe itu.Nathaniel adalah atasanku, Direktur Operasional Grup Mahendra di Londoria.Pria yang sama yang pernah berhubungan intim denganku di kamar mandi pesawat dua bulan lalu."Anna?" Suara Aurelia menarikku kembali ke kenyataan. "Kamu tidak apa-apa? Kamu terlihat seperti baru saja melihat hantu."Hantu malah akan lebih mudah dihadapi. Hantu tidak bisa memecatmu. Hantu tidak bisa menghancurkan kariermu. Hantu jelas tidak bisa memberi tahu kakak iparmu betapa tidak profesionalnya kamu."Aku tidak apa-apa," bohongku, menjatuhkan diri ke kursi dan berpura-pura tertarik pada email-email yang menumpuk selama kami istirahat minum kopi."Tidak apa-apa? Anna, kamu memecahkan cangkir kopi di tengah kafe dan tidak mengatakan sepatah kata pun sepanjang perjalanan kembali. Itu buka

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 197

    Sudah tepat dua bulan sejak aku pertama kali menginjakkan kaki di Londoria, dan aku bisa bilang dengan sangat yakin bahwa kota ini mengejutkanku dalam segala hal. Londoria adalah perpaduan menarik antara sejarah dan kehidupan modern, di mana kastil abad pertengahan berdiri berdampingan dengan gedung pencakar langit yang ramping, dan di mana minum teh sore sambil membahas strategi pemasaran digital adalah hal yang sepenuhnya normal.Kantor Grup Mahendra Londoria berada di sebuah gedung elegan di Velora, menghadap Taman Savana. Ukurannya memang lebih kecil dibandingkan kantor pusat di Dermaga Azzura, tapi punya pesona sendiri dengan furnitur mahoni dan jendela-jendela besar yang membanjiri ruangan dengan cahaya keemasan khas sore Londoria yang langka. Tentu saja, saat matahari memutuskan untuk muncul, karena dalam dua bulan ini aku sudah belajar bahwa kabar kota ini selalu hujan memang bukan berlebihan."Anna, kamu melamun lagi," kata Aurelia sambil menyenggolku pelan dengan siku. "Lagi

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 196

    Ternyata, aku tidak mati."Permisi? Ada orang di dalam?" Suara perempuan terdengar dari balik pintu. Jelas itu pramugari."Ah, sial!" desisku pelan tepat sebelum tangan Nathaniel menutup mulutku, sambil berusaha dan gagal menahan tawa."Mohon kembali ke kursi dan kenakan sabuk pengaman Anda," kata pramugari itu dengan nada tegas tapi tetap sopan. "Kami sedang bersiap untuk mendarat.""Tentu, Nona. Kami akan segera keluar," jawab Nathaniel dengan lancar sambil merapikan kemejanya seolah ini hanya hari biasa."Kami?!" Aku nyaris menjerit kecil. Serius? Tidak bisakah dia setidaknya berpura-pura sendirian?"Kamu pikir salah satu dari kita bisa keluar tanpa dia menyadarinya?" katanya santai dan sama sekali tidak terlihat khawatir. "Tenang saja.""Tenang? Tenang? Aku bisa saja dideportasi atau … atau .…""Yah," katanya sambil menyeringai. "Itu masih jauh lebih tidak menakutkan daripada kamu tadi pikir kamu akan mati sepuluh menit lalu, kan? Jujur saja, Anna, kamu memang selalu sedramatis ini

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 195

    Aku baru saja mulai merasa sedikit tenang lagi, terbuai oleh suara Nathaniel yang tenang dan ritme percakapan kami yang mengalir, ketika pesawat tiba-tiba terguncang lebih keras dari sebelumnya. Jantungku serasa jatuh seolah kami baru saja terjun ratusan meter dalam sekejap. Rasa aman palsu yang sempat kubangun langsung lenyap begitu saja."Aku tidak mau mati!" seruku sambil mencengkeram lengan Nathaniel sekuat tenaga. Dan ya, aku tak bisa tidak menyadari bahwa dugaanku soal ototnya memang benar."Kamu tidak akan mati," katanya tegas dengan nadanya yang tidak memberi ruang untuk keraguan."Bagaimana kamu bisa tahu?" bisikku panik."Aku punya pertemuan bisnis yang sangat penting minggu depan," katanya tetap serius. "Jadi aku tidak berencana mati di pesawat ini. Yang berarti, secara tidak langsung, kamu juga tidak boleh mati. Lihat wanita di sana?" Dia mengangguk ke arah pasangan yang duduk tidak jauh dari kami. "Dia bilang ke suaminya saat naik tadi bahwa dia sedang hamil anak kembar. M

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 194

    Sudut Pandang Anna."Para penumpang yang terhormat, karena kondisi cuaca, kami belum mendapatkan izin untuk mendarat dan akan dialihkan ke bandara lain. Mohon tetap duduk dengan sabuk pengaman terpasang, karena kita akan melewati area dengan turbulensi yang cukup kuat. Terima kasih telah terbang bersama kami."Aku benci terbang. Selalu begitu. Aku sudah lama percaya bahwa jika burung diberi sayap dan manusia tidak, pasti ada alasannya dan alasannya adalah kita memang seharusnya tetap berpijak di tanah. Dan tolong, jangan mulai dengan omongan soal pesawat adalah cara perjalanan paling aman secara statistik. Orang terakhir yang mencoba meyakinkanku bahwa aku lebih mungkin mati karena kecelakaan lift daripada kecelakaan pesawat malah berhasil membuatku takut lift juga. Dan itu sangat merepotkan ketika aku akan mulai bekerja di lantai paling atas gedung pencakar langit perusahaan.Aku menutup jendela kecil pesawat, berusaha sebaik mungkin mengabaikan kekacauan di luar sambil mencoba fokus

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 193

    Gereja Kasih Anugerah belum pernah terlihat seindah pagi Minggu yang cerah itu. Sinar keemasan menembus jendela kaca patri, memantulkan warna-warni ke bangku kayu gelap tempat keluarga dan sahabat terdekat kami berkumpul.Elio terlihat sempurna dalam pelukanku, mengenakan pakaian pembaptisan khas Keluarga Mahendra, dengan setelan linen putih dengan bordir tangan, sama seperti yang pernah dikenakan Adriel saat masih bayi. Matanya begitu mirip dengan ayahnya, menatap lilin-lilin yang berkelip dan bunga putih yang menghiasi altar dengan rasa penasaran yang polos."Dia seperti malaikat kecil," bisik ibuku di sampingku dengan suaranya yang penuh kebanggaan. Dia terus merapikan lipatan yang nyaris tak terlihat di pakaian Elio, dan memastikan semuanya sempurna untuk momen sakral ini.Di sisi lainku, ayahku duduk dengan ekspresi emosional yang selalu dia coba sembunyikan. Tangan besarnya yang kasar karena kerja, kontras dengan kelembutan gerakannya saat diam-diam menyeka mata yang basah dengan

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 17

    Keheningan Adriel menghantamku seperti tamparan."Aku nggak yakin dia akan datang langsung, tapi...""Tentu saja dia akan datang," potongku dan berdiri dengan tiba tiba. "Dia bilang akan kirim tim terbaik. Tentu saja itu termasuk dia, Elisa nggak akan pernah lewatkan kesempatan tampil di sorotan unt

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 11

    Aku menelan ludah dan mencoba merapikan pikiranku."Aku nggak mau keluargaku tahu kalau aku lakukan ini demi uang."Ekspresinya masih susah ditebak, tapi matanya sempat menunjukkan kalau dia paham."Jadi kamu mau perjanjian ini dirahasiakan.""Tepat. Buat mereka, semua ini harus terlihat nyata." Aku

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 12

    Aku menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan semua keberanian yang kumiliki."Hubungan badan nggak termasuk dalam kesepakatan ini."Sesaat, Adriel terlihat benar-benar terkejut. Matanya melebar sedikit, dan topeng kepercayaan dirinya yang tak tergoyahkan sempat runtuh. Tapi kemudian dengan cepat

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 13

    Bel rumah berbunyi pukul delapan pagi di hari Senin, membangunkanku dari tidur yang tidak tenang sejak tadi malam. Sejak Adriel pergi dari rumahku kemarin, pikiranku tidak berhenti sama sekali. Ciuman itu, kesepakatan itu, dan perjalanan itu terus berputar di kepalaku seperti sesuatu yang tidak mau

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status