Share

Bab 21

Penulis: Kayla Sango
Kakeknya Adriel persis seperti yang kubayangkan, dia berperawakan tinggi dan berwibawa dengan rambut perak yang dipangkas rapi dan tatapan menusuk yang terasa bisa nembus topeng siapa pun. Damar Mahendra punya aura yang buat orang otomatis menghormatinya. Dia tipe pria yang tidak perlu meninggikan suara untuk didengar.

Saat kami mendekat, aku lihat beberapa tamu dengan sopan menyingkir seolah memberi jalan pada kehadiran yang luar biasa. Dia dikelilingi sekelompok pebisnis, tapi begitu lihat Adr
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 276

    Sudut pandang Nathaniel.Cahaya lembut dari lilin-lilin yang Anna letakkan di sekitar ruang tamu membungkus seluruh ruangan dengan suasana hangat dan nyaman, terasa seperti penyeimbang sempurna untuk dinginnya Desember di luar sana. Kami tenggelam di sofa miliknya, masing-masing memegang secangkir cokelat panas sambil menonton salah satu film Natal yang alurnya benar-benar bisa ditebak dan diputar tanpa henti setiap tahun.Di layar, sang tokoh pria sedang berlari melintasi bandara demi mengejar wanita yang membuatnya jatuh cinta setengah mati hanya dalam waktu … dua minggu? Musik dramatis mengalun mengiringinya. Anna tertawa sampai hampir tersedak minumannya."Kamu sadar tidak sih kalau semua pasangan di film-film ini jatuh cinta dalam waktu super cepat?" tanyaku sambil merangkul bahunya dan menariknya lebih dekat. "Baru dua minggu, tapi mereka sudah siap pindah negara demi satu sama lain."Anna bersandar di dadaku, dan masih tersenyum."Mungkin karena mereka tahu waktunya tidak banyak

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 275

    Sudut Pandang Nathaniel.Sore itu terasa sangat produktif ketika aku mendengar ketukan di pintu kantorku. Melalui dinding kaca, aku melihat Aurelia masuk dengan sebuah map di tangan dan postur profesional yang sempurna, yang biasa dia pakai saat berpura-pura tidak datang karena urusan pribadi."Masuk," kataku sambil menyimpan dokumen yang sedang kutinjau dan bersandar di kursi."Aku membawa laporan performa yang kamu minta," katanya, sambil menutup pintu di belakangnya saat mendekat. "Angka kuartal terakhir lebih baik dari yang diperkirakan."Aku mengambil map itu dan membukanya sekilas, tapi aku sudah tahu ada hal lain di balik kunjungannya. Aku sudah cukup lama mengenal Aurelia untuk tahu kapan dia hanya menjalankan prosedur dan kapan dia membawa sesuatu yang benar-benar penting."Kerja bagus," kataku, lalu meletakkan kertas-kertas itu. "Tim terus melampaui ekspektasi.""Iya, mereka memang begitu," jawabnya tapi dia tidak menunjukkan tanda-tanda akan pergi. Sebaliknya, dia berdiri di

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 274

    "Ada sesuatu yang perlu aku ceritakan ke kamu," kataku sambil memainkan cangkir kopi seolah itu bisa menyelamatkanku. "Tapi ini rahasia, ya."Aurelia langsung mengangkat alis, dengan ekspresi menggoda khasnya saat dia tahu pengakuan menarik akan segera keluar. Dia sedikit condong ke depan di atas meja kafe kecil itu, lalu memberiku senyum penuh konspirasi."Kamu sama atasanmu, kan?"Wajahku langsung memanas, dan aku tidak bisa menahan tawa. Tidak ada yang bisa disembunyikan dari Aurelia terlalu lama, dia punya kemampuan hampir menyeramkan untuk membaca orang dan situasi."Iya." Aku ngaku, dan tidak bisa menahan senyum yang selalu muncul setiap kali memikirkan Nate. "Kami … sedang mencoba. Hanya belum siap untuk terbuka ke publik. Terutama karena aku masih di bawah pengawasannya langsung.""Dan bagaimana sejauh ini?" tanyanya benar-benar penasaran tanpa sedikit pun nada menghakimi."Lebih baik dari yang kubayangkan," kataku yang teringat akhir pekan yang kami habiskan bersama. "Dia … ti

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 273

    Cahaya lembut di ruang tamu menciptakan suasana hangat yang kontras sempurna dengan hiruk-pikuk Londoria di luar. Aku memutar daftar lagu rock klasik yang tenang sambil membuat teh untuk kami berdua, dan masih berusaha memperpanjang rasa damai yang kubawa dari perjalanan kami ke pedesaan tadi."Gelas ini … menarik." Nate tertawa sambil mengangkat cangkir yang kuberikan padanya.Aku melirik desainnya dan ikut tertawa. Itu salah satu favoritku, ilustrasi kucing malas dengan tulisan besar: [Jangan ajak bicara sebelum kopi ketigaku.]"Hadiah dari Vivian," jelasku, duduk di sofa di sampingnya sambil melipat kaki. "Katanya itu sangat cocok denganku.""Kakakmu mengenalmu dengan baik," katanya sambil menyeruput teh yang kubuat. "Tiga cangkir kopi, serius?""Di hari buruk, bisa empat." Aku mengaku sambil tertawa. "Kadang lima, kalau hari Senin dan hujan.""Aku sempat kira ketergantungan kafeinku sudah parah," godanya, lalu menarikku sedikit lebih dekat di sofa. "Jadi kenapa si malang ini digant

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 272

    Pemandangan di luar jendela mobil perlahan berubah, meninggalkan abu-abu khas kota Londoria dan berganti dengan nuansa hijau yang lebih lembut dari pedesaan Aldmere. Ada sesuatu yang terasa menghipnotis dari perbukitan bergelombang yang dihiasi rumah-rumah batu dan ladang yang membentang sejauh mata memandang."Jadi kita sebenarnya mau ke mana?" tanyaku untuk ketiga kalinya sambil menoleh ke arah Nate yang mengemudi dengan ketenangan yang sangat kontras dengan rasa penasaranku yang semakin besar."Aku sudah bilang … ini kejutan," jawabnya sambil melirikku sekilas dengan senyum jahil sebelum kembali fokus ke jalan. "Percaya saja padaku.""Itu sih sering jadi kata-kata terakhir sebelum kejadian," godaku, tapi aku tetap bersandar di kursi, dan memutuskan menikmati misteri ini.Ada sesuatu yang terasa berbeda dari Nate hari ini. Sejak dia menjemputku pagi tadi, dia terlihat lebih santai, tidak setegang beberapa hari terakhir. Seolah untuk sementara dia meninggalkan beban kantor dan semua k

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 271

    Anna: [Menurutmu kita selalu tahu bagaimana mengenali momen yang tepat … atau kita baru menyadarinya saat semuanya sudah terlambat?]Wanderer: [Mungkin momen yang tepat itu tidak ada. Yang ada hanya orang yang tepat. Dan apa yang kita lakukan, atau gagal kita lakukan saat mereka muncul.]Wanderer: [Yang membawaku ke pertanyaan kedelapanku, apakah kamu akan memaafkan seseorang yang membuat kesalahan … saat dia sebenarnya sedang berusaha melakukan hal yang benar?]Anna: [Kurasa kadang kita melakukan hal yang benar … tapi di waktu yang salah. Dan semesta tidak selalu beri kesempatan kedua. Jadi … ya. Aku akan memaafkannya. Tapi aku tidak tahu apakah aku bisa kembali ke titik yang sama. Karena momen yang tepat … mungkin satu-satunya hal yang tidak bisa diciptakan ulang.]Anna: [Dan ngomong-ngomong soal momen yang tepat … kamu akan membenciku kalau aku mengaku bahwa menurutku … kita tidak cocok?]Wanderer: [Itu pertanyaan kesembilanmu?]Anna: [Kurasa aku ingin membiarkan pertanyaan kesepulu

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 64

    Matahari Valentia sudah tinggi saat aku membuka mata, dan sinar keemasan menembus tirai yang setengah terbuka. Tanganku otomatis mencari sisi lain tempat tidur, tapi yang kutemukan hanya seprai dingin. Adriel sudah pergi.Di atas meja samping tempat tidur ada selembar kertas yang rapi menarik perhat

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 57

    Tatapan Adriel tak pernah lepas dariku saat aku melangkah menyusuri lorong dengan ayah di sisiku. Campuran emosi di wajahnya sulit dijelaskan, antara terkejut, kagum, dan sesuatu yang lebih dalam yang tak mampu kujelaskan. Saat akhirnya aku tiba di hadapannya, ayahku memberi genggaman terakhir di ta

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 59

    Aku terbangun ketika sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui tirai yang setengah terbuka, kepalaku masih terasa berat akibat anggur semalam. Butuh beberapa detik bagiku untuk benar-benar sadar di mana aku berada dan yang lebih penting lagi adalah bersama siapa aku terbangun.Adriel masih tertid

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 58

    Perayaan pernikahan berlangsung hingga malam, saat gelas-gelas sampanye terakhir habis dan para tamu mulai berpamitan. Kakiku pegal karena memakai sepatu hak tinggi berjam-jam, dan pipiku sakit karena tersenyum untuk foto yang tak ada habisnya."Sepertinya kita berhasil melewatinya," ujar Adriel saa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status