LOGINSudut pandang Nathaniel.Aku sudah duduk di kantorku selama dua puluh menit sambil menatap ponselku seolah-olah benda itu bisa secara ajaib memberikan solusi untuk kekacauan yang kini menjadi hidupku. Pesan Anna baru masuk beberapa jam setelah aku memberitahunya tentang penangguhan itu, dan setiap katanya menghantam dengan tajam.Anna berkata, [Saat aku memilih untuk percaya .... Karena aku rasa kerentanan itu seperti mempercayakan seseorang untuk menyelamatkan … dan menyadari bahwa mereka memilih untuk pergi di saat keruntuhanku. Itu berlaku untuk cinta, persahabatan, bahkan pekerjaan. Karena pada akhirnya, semuanya terasa sama. Bagian yang "lucu" adalah semua orang selalu bilang bahwa menjadi rentan itu berani. Tapi tidak ada yang memperingatkanmu bahwa kadang keberanian datang dengan hati yang hancur atau surat penangguhan.]Aku membaca pesan itu untuk kelima kalinya, dan merasakan berat pada setiap barisnya. Dia menulisnya dengan mengira dia sedang membuka diri kepada orang asing y
Sudut pandang Nathaniel.Peter menelepon jam dua siang pada hari Selasa yang awalnya terasa biasa saja. Aku sedang meninjau angka kuartal keempat ketika Margaret menyambungkannya, dan hanya menyebut bahwa pria Eldranic itu terdengar sangat serius hari ini."Nathaniel, kita perlu bicara." Suara Peter langsung kehilangan formalitas sopannya. "Kita punya masalah."Ada rasa tegang yang langsung mengikat di dalam diriku. Peter tidak pernah setegas ini kecuali terjadi sesuatu benar-benar buruk."Apa yang terjadi?""Rincian kontrak suplai kita bocor," katanya langsung. "Informasi spesifik tentang margin keuntungan, ketentuan eksklusif, klausul performa. Hal-hal yang bisa merusak kita kalau sampai jatuh ke kompetitor atau mitra lain."Darahku seakan membeku."Informasi seperti apa, tepatnya?""Cukup untuk seseorang memetakan strategi harga kita dua tahun ke depan." Peter menghela napas berat. "Nathaniel, kamu tahu aku percaya pada Grup Mahendra. Makanya aku menghubungimu langsung, bukan meliba
Aku sampai di kantor pukul tujuh tiga puluh, jauh lebih awal dari biasanya. Bukan karena aku tidur nyenyak. Sepanjang malam aku hanya bolak-balik di tempat tidur, memutar ulang setiap kata dari percakapanku dengan Nate di kantornya."Aku akan tetap menunggu."Kalimat itu bergema di kepalaku seperti mantra yang keras kepala. Menunggu apa sebenarnya? Menunggu percakapan yang tidak sempat kami lakukan di taman? Menunggu keputusanku? Menunggu keberanian yang jelas-jelas tidak aku punya?Aku duduk di mejaku dan menyalakan komputer mencoba fokus pada laporan yang harus kuselesaikan sebelum siang. Tapi setiap gerakan di lorong membuatku menoleh, mencari sosok yang familiar, rambut cokelat gelap, dan mata hijau yang selalu terasa seperti bisa melihat ke dalam diriku.Menyedihkan.Saat akhirnya aku melihatnya berjalan ke arah lift, membawa map dan sedang berbicara di ponsel, dadaku langsung terasa bergejolak. Dia tidak melirik ke arahku. Dia sepenuhnya tenggelam dalam percakapan, tapi tubuhku b
Kantor Nate terasa sunyi, hanya diisi suara ketikan halus dan dengungan aktivitas dari luar. Kami sudah bekerja hampir dua jam meninjau proyek penting untuk rapat investor minggu depan. Fokus yang dibutuhkan seharusnya membuat semuanya tetap rapi dan profesional.Seharusnya begitu.Tapi udara di antara kami membawa ketegangan yang tidak kami akui. Rasanya seperti pesta Grup Mahendra telah memicu arus tidak kelihatan, mengubah setiap tatapan yang tidak sengaja, dan setiap momen saat tangan kami hampir bersentuhan ketika saling menyerahkan dokumen menjadi sesuatu yang penuh makna.Dinding kaca juga tidak membantu. Aku bisa melihat orang-orang berjalan di lorong, dan beberapa melirik dengan rasa penasaran seolah mencoba menebak apa yang terjadi di dalam sini. Sejak pesta itu, rasanya seluruh kantor kembali mengamatiku dengan rasa ingin tahu yang nyaris tidak disembunyikan. Seolah aku ini semacam tontonan."Angka kuartal ketiga perlu disesuaikan di sini," gumamku sambil menunjuk bagian di
Sudut Pandang Anna.Aku sedang tenggelam dalam laporan penjualan kuartal ketiga ketika sesuatu yang lembut jatuh tepat di atas kepalaku. Aku mendongak dan melihat Aurelia berdiri di samping mejaku, dengan tangan di pinggang, dan senyum jahil seolah dia sangat bangga pada dirinya sendiri."Aurelia, apa …?" Aku berkata sambil meraba ke atas dan merasakan kain yang lembut."Topi Natal." Dia mengumumkannya dengan gaya dramatis, seolah sedang mempersembahkan sebuah karya besar. "Cocok banget di kamu."Aku tidak bisa menahan tawa melihat betapa puasnya dia. Aku melepas topi itu dan memperhatikannya. Salah satu topi merah klasik dengan pom-pom putih, mungkin dibeli dari toko terdekat."Bukannya ini agak terlalu cepat?" tanyaku masih tertawa. "Ini baru November.""Anna, coba lihat ke luar!" katanya dengan antusiasme menular yang sudah jadi ciri khasnya. "Seluruh Londoria sudah masuk mode Natal. Ada pohon lampu di setiap sudut, toko-toko sudah dihias penuh, bahkan bus merah pun pakai dekorasi.
Sudut pandang Nathaniel.Aku menatap layar ponselku untuk kesepuluh kalinya dalam lima menit terakhir membaca ulang pesan Anna. Cahaya pagi Minggu masuk perlahan melalui jendela apartemenku, tapi aku hampir tidak bisa fokus pada apa pun selain kata-kata yang kembali menyala di sana.Aku menginstal ulang aplikasi itu setelah tanpa sengaja mendengar Anna mengaku pada Vivian bahwa dia mulai memakainya lagi untuk berbicara denganku. Atau … versi lain dariku. Percakapan itu terjadi di sudut apartemen, tapi aku cukup dekat untuk menangkap beberapa kata kunci. Aku tidak bisa menahan diri begitu menyadari dia menginstal ulang aplikasi itu khusus untuk mencariku. Aku menginstalnya lagi dan menemukan pesan itu sudah menungguku.Anna menjawab: [Mungkin seseorang yang menantangku. Atau mungkin aku hanya suka merusak hidupku sendiri, karena itu yang kamu lakukan. Kamu muncul, hingga pikiranku jadi kacau total, dan aku tidak tahu kenapa. Untuk beberapa menit, aku bahkan bisa melupakan dia … dan itu
Sudut pandang Adriel."Nggak, Adriel. Ini sudah kelewatan!"Aku merasakan jari-jari Vivian lepas dari tanganku, dan sebelum aku sempat bereaksi, dia sudah menarik diri dan lenyap di antara kerumunan. Aku terdiam sesaat, menatap gaun biru itu lenyap, sementara puluhan mata penasaran menatap bolak-bal
Pertanyaan Damar mengambang di udara dan berat bagai bongkahan besi. Apakah kau benar-benar mencintainya? Kata-kata sederhana yang membuatku terengah, seakan tubuhku baru saja menerima pukulan di perut.Pikiranku berputar tanpa henti. Berbohong pada kakeknya Adriel tentang bagaimana kami pertama kal
Lydia Wijaya. Nama yang Adriel ucapkan malam itu saat badai, seperti bekas luka yang masih perih jika tersentuh. Wanita yang telah mengkhianatinya dengan cara terburuk. Dan sekarang dia ada di depan mata, tangannya terulur ke arahku, dan senyum yang tampak sempurna namun penuh perhitungan."Senang b
Adriel menoleh ke arahku, pertanyaan tentang Lydia masih menggantung di antara kami. Lalu tiba-tiba, dia tersenyum dengan senyum miring yang biasanya muncul saat dia memutuskan untuk mengubah aturan permainan."Kalau kamu sendiri?" tanyanya dan tatapannya tidak lepas dari mataku. "Kamu masih peduli







