LOGINTamparan Ning Yuan menggema di pasar yang tiba-tiba hening. Semua orang berhenti. Dan seperti biasa, jika ada yang wah seperti ini maka semua mata pasti tertuju pada mereka. "KAU!! BERANINYA KAU MENAMPARKU?!" Seru Liu Meiling terhuyung ke samping, tangannya meraih pipinya yang memerah. Matanya membulat karena terkejut dan marah.Tapi Ning Yuan sama sekali tidak gentar dengan seruan Liu Meiling yang penuh amarah. Yang ada, dia malah menatapnya dengan dingin."Tentu saja berani! Kau tahu, tamparan barusan untuk kereta kudamu yang hampir menabrakku."Balas Ning Yuan, dengan tangan yang masih terangkat. Ya barang kali aja, Liu Meiling ingin merasakan tamparan dari Ning Yuan sekali lagi."AKU TIDAK MELIHATMU—""Kau tidak melihatku?" Ning Yuan memotong dengan suara tajam. "Kau berada di dalam kereta terbuka, Liu Meiling. Jalanan pasar ini ramai. Kau harusnya melihat ke depan, bukan sibuk bergosip dengan kedua ular betina di sampingmu!""Aku—kau—" Liu Meiling tergagap, wajahnya merah padam k
Ning Yuan masih bersandar di dinding ketika pintu di depannya terbuka. Dia bingung saat melihat Lou Yu sudah berpakaian rapi. Jubah sutra berwarna abu-abu muda membungkus tubuhnya dengan sempurna, rambutnya ditata basah tapi rapi, dan tidak lupa! Topeng yang menutupi sebagian wajahnya tetap nangkring indah di sana. Seperti biasa, dia terlihat tenang, anggun, seolah tidak ada yang terjadi beberapa menit lalu.Ning Yuan mengerjap. "Kenapa dia sudah berpakaian? Bukankah tadi dia bilang aku harus mengukur ukuran tubuhnya?" Karena penasaran, Ning Yuan reflek bertanya. "Bukannya kita...?" tanyanya terputus sebab Lou Yu sudah lebih dulu memberikan jawabannya."Tidak," jawab Lou Yu dengan tegas, memotong kalimat Ning Yuan sebelum Ning Yuan selesaikan."Tapi—""Lain kali saja," sambung Lou Yu, seakan tahu persis apa yang akan ditanyakan Ning Yuan. Matanya di balik topeng menatap Ning Yuan dengan senyum tipis. "Aku ingin kau menemani ke toko kain dulu. Aku ingin memilih beberapa kain. Setelah
"Kau serius? Kau benar-benar berpikir aku masih mencintaimu?"Wang Yichen terdiam. Matanya menatap Ning Yuan dengan tatapan yang sulit diartikan. Entah itu perasaan marah, bingung, atau yang lain, kini semua seakan menjadi satu. Satu perasaan yang bahkan dia sendiri tidak mengerti. Perlahan, senyum sinis mengembang di bibir Wang Yichen.."Baik!" ucapnya dengan suara keras, hampir berteriak. "Jika kau memang masih ingin meneruskan sandiwara ini, Ning Yuan! Akan aku ladeni sandiwaramu ini!" Dia menunjuk ke arah Ning Yuan dengan jari gemetar. "Aku mau lihat, sampai kapan kau akan sanggup bertahan dengan sandiwaramu!"Ning Yuan membuka mulut ingin membantah, tapi Wang Yichen sudah berbalik dan melangkah keluar dengan langkah lebar dan penuh amarah. Pintu kamarnya dibanting hingga berguncang.Ning Yuan hanya bisa berdiri di sana, tercengang. Pria itu benar-benar gila!Dia menghela napas panjang dan duduk di tepi tempat tidur. Tangannya menggenggam erat ujung selimut. "Sudahlah. Aku tidak
"Maaf..." Ning Yuan mengalihkan pandangannya ke arah lain, tidak berani menatap mata Lou Yu lagi. "Hanya saja aku merasa kau mirip dengan seseorang."Lou Yu terdiam sejenak. Di balik topengnya, matanya menyipit. Bukan karena curiga, tapi karena ada sesuatu yang berdesir di dadanya. Dia merasakannya?"Kekasihmu?" tebak Lou Yu dengan nada main-main, berusaha menyembunyikan getaran di hatinya.Ning Yuan tersentak. Wajahnya memerah. "A-apa? T-tidak! Bukan!" Dia menggeleng dengan cepat, terlalu cepat, membuatnya terlihat semakin mencurigakan. "Dia bukan kekasihku! Dia hanya... seseorang yang kukenal dulu. Sudah lama. Sangat lama."Lou Yu menahan senyum di balik topengnya. "Kau berbohong, Ning Yuan. Aku tahu kau tidak akan pernah bisa melupakanku.""Tuan Muda Lou," Ning Yuan segera mengalihkan topik, suaranya berusaha terdengar tenang meskipun jantungnya berdebar kencang. "Kembali ke topik pembicaraan kita tadi tentang gaun pengantin itu. Apakah kau benar-benar tidak bisa melepaskannya untu
Dengan tangan yang mantap, Tuan Besar Wang mengambil kuas dan tinta emas. Dia membuka halaman terakhir buku silsilah keluarga Wang, lalu dengan tulisan yang indah dan rapi, lalu menuliskan nama Ning Yuan di dalam buku silsilah keluarga Wang. "Dengan ini, kau resmi menjadi putri dari keluarga Wang. Seluruh hak dan kewajiban sebagai anggota keluarga Wang berlaku bagimu mulai hari ini.""Terima kasih, Ayahanda." ucap Ning Yuan, puas.Saat senyum puas Ning Yuan masih mengembang, tiba-tiba tangan Wang Yichen yang kasar menggenggam pergelangan tangannya dengan erat dan menariknya keluar dari paviliun."Apa perlu sampai sejauh ini kau bersandiwara, Yuan?"Ning Yuan terkejut. "Kak—""Apa kau tidak tahu prosesi seperti hari ini sangat sakral dan tidak bisa kau jadikan bagian dari rencana licikmu?" suara Wang Yichen meninggi, mata merahnya menatap Ning Yuan dengan penuh amarah dan... sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak bisa dia pahami. "Cukup, Yuan! Cukupkan semua sandiwaramu sebelum kau men
Seharian ini Wang Yichen tidak tenang. Dia bolak-balik melihat ke luar jendela kamarnya yang tidak jauh dari paviliun neneknya. Langkahnya mondar-mandir di atas lantai kayu, menciptakan suara berdecit yang mengganggu ketenangan ruangan."Kak, kau kenapa?" tanya Liu Meiling dari kursi di sudut ruangan, matanya mengamati tunangannya dengan cermat.Wang Yichen berhenti sejenak, lalu kembali melangkah. "Tidak. Aku tidak kenapa-napa."Liu Meiling mengerutkan kening. Dia bangkit dan berjalan mendekat. "Kak, kau yakin tidak kenapa-napa? Kau terlihat gelisah. Dari tadi pagi kau bolak-balik melihat ke luar jendela seperti sedang menunggu sesuatu."Wang Yichen menghela napas. Di satu sisi, ada keyakinan keras dalam dirinya bahwa Ning Yuan pasti sedang merencanakan sesuatu yang besar hari ini untuk membatalkan prosesi pengangkatannya sebagai anak keluarga Wang. Itu pasti! "Tidak mungkin gadis keras kepala itu tiba-tiba menyerah begitu saja. Pasti ada akal-akalan di balik semua ini." Batin Wang Y







