LOGINKediaman keluarga Pratama terasa tenang. Meski tak semegah rumah keluarga Sidney, perabotan di sini tertata rapi. Areta, yang kini menghuni tubuh Arana, teringat bahwa keluarga ini terpaksa memecat pelayan demi membiayai pengobatannya.
"Biar Leo saja yang mengantar Ana ke atas," tawar Leo sigap. Citra tersenyum, mengusap lembut kepala putrinya. "Ya sudah, Mama siapkan makan malam dulu untuk kita semua." Arana melangkah di samping pria yang kini menjadi kakaknya. Mereka menaiki tangga menuju sebuah kamar yang pintunya sudah terbuka lebar. Ruangan itu didominasi warna nude yang menyejukkan mata. Meski tak seluas kamar lamanya, atmosfer di sini terasa jauh lebih hangat. Setidaknya, semua ini disiapkan dengan ketulusan, bukan kepalsuan. "Bagaimana? Suka, kan?" tanya Leo, menatap adiknya dengan penuh harap. "Dari dulu kamu selalu mengeluh ingin punya kamar yang tidak bau obat." Arana mengangguk pasti, lalu berlari kecil menjelajahi setiap sudut. Leo tertegun, matanya berkaca-kaca melihat adiknya yang dulu layu kini bisa bergerak lincah. "Istirahatlah dulu. Nanti Kakak jemput untuk makan malam di bawah," ujar Leo lembut sembari mengacak rambut Arana sebelum beranjak pergi. Begitu langkah kaki Leo menjauh, Arana segera mengunci pintu. Ia bergegas ke depan cermin besar, menatap pantulan dirinya dengan lekat. Kulit seputih porselen, rambut hitam legam yang jatuh dengan sempurna, dan lesung pipi yang menawan. "Luar biasa... wajah ini benar-benar anugerah," gumamnya takjub. Namun, saat tatapannya turun ke bagian dada, ia mendesah kecewa melihat tubuhnya yang terlalu kurus. "Ck, sayang sekali. Aku harus menaikkan berat badan agar lekuk tubuh ini lebih terlihat." Setelah puas mengamati diri, Arana keluar kamar karena merasa haus. Di koridor, ia berpapasan dengan Leo yang sudah rapi mengenakan kemeja hitam. "Kakak mau ke mana?" tanya Arana. "Mau ke pemakaman... Areta." "Ikut!" celetuk Arana antusias. Ia menghadang langkah Leo dengan tangan terentang. "Boleh ya? Please..." Leo mengernyit, menatap adiknya dengan teliti. Ia merasakan perubahan drastis, Arana yang biasanya kalem dan pendiam kini tampak begitu ekspresif. "Kamu yakin kuat?" "Yakin!" Tiga puluh menit kemudian, mereka sampai di depan gerbang pemakaman yang basah oleh sisa hujan. "Hei!" teriak seorang gadis dari kejauhan. "Lia..." batin Arana bergetar. Sahabatnya itu berdiri di sana, mengenakan kacamata hitam untuk menyembunyikan mata sembabnya. "Maaf telat, tadi agak macet," dusta Leo. Lia menyodorkan keranjang penuh kelopak bunga, lalu melirik gadis di samping Leo. "Siapa dia?" "Arana, adikku. Dia baru saja sembuh," jelas Leo bangga. DUK! Lia memukul kepala Leo dengan kepalan tangannya. "Dasar bego! Adikmu masih pucat begini malah diajak ke kuburan. Tololnya nggak hilang-hilang!" Arana terkekeh spontan. Interaksi ini mengingatkannya pada masa-masa SMA mereka. Tawa Arana membuat Leo dan Lia terpaku sejenak, mengagumi keceriaan yang jarang terlihat dari gadis itu. "Ya sudah, cepat masuk. Biar adikmu di sini saja denganku," tegas Lia, merangkul bahu Arana. Keheningan menyergap saat Leo berjalan menjauh. Arana melirik Lia yang tampak melamun dalam kesedihan yang dalam. Padahal, Lia biasanya adalah sosok yang paling cerewet. "Kak Lia... pasti sangat sedih, ya?" tanya Arana hati-hati. Lia menoleh, tersenyum getir. "Nggak kok. Aku justru senang karena sekarang sudah tidak ada saingan cinta lagi." Arana tersentak. "Jangan bilang Lia juga mengkhianatiku?" "Aku, kakakmu, dan Areta berteman sejak SMP. Aku dan Leo sempat pacaran, tapi aku yang minta putus," Lia bercerita dengan tatapan kosong. "Sebab aku tahu, wanita yang sebenarnya dicintai kakakmu adalah Areta." "Apa? Leo mencintaiku?" Arana membeku. "Sejak saat itu, aku justru membantu Leo mendapatkan Areta. Tapi Areta tidak peka dan malah menikahi pria bajingan itu," lanjut Lia. "Sekarang Areta sudah tidak ada. Artinya, aku bisa kembali dengan kakakmu, kan?" Tiba-tiba, setetes air mata jatuh membasahi punggung tangan Arana. Lia menangis sesenggukan meski bibirnya mencoba tersenyum. "Entahlah... kenapa aku menangis? Padahal aku senang... karena..." Kalimat Lia terputus saat Arana menariknya ke dalam pelukan hangat. Lia akhirnya menyerah, tangisnya pecah menggelegar di sunyinya pemakaman. Arana sadar, semua ucapan Lia tentang senang hanyalah tameng. Sahabatnya itu hancur. Bagi Lia, Areta jauh lebih berharga daripada cintanya pada Leo. "Maafkan aku, Lia. Aku masih di sini... Tapi aku belum bisa cerita sebelum balas dendamku berhasil," batin Arana sembari mengeratkan pelukannya. Setengah jam kemudian... Hembusan angin menerpa dedaunan, mengiringi langkah kaki yang bersahutan di jalanan setapak pemakaman. Leo baru saja selesai memanjatkan doa terakhir di pusara Reta. Begitu berbalik, ia terkejut mendapati dua gadis di hadapannya memiliki hidung yang memerah serupa tomat. "Ana! Kamu diapakan oleh Lia?" pekiknya cemas. Leo menghambur, membelai lembut pipi Ana dan memaksa wajah mungil itu mendongak. "Aku tidak apa-apa, Kak. Hanya kedinginan, sepertinya mau flu," dusta Ana sembari mengusap ujung hidungnya yang berair. "Ya sudah, ayo pulang! Kalau Mama tahu kamu kedinginan begini, bisa gawat," ujar Leo sembari menggandeng tangan adiknya. Baru beberapa langkah, Ana menahan lengan Leo. Ia menoleh ke arah Lia. "Ayo, pulang bareng kami saja," ajaknya dengan wajah polos. Leo mengerutkan dahi. Ia tak menyangka kedua gadis ini bisa akrab dalam waktu sesingkat itu. "Tidak usah. Kalian duluan saja, aku masih menunggu seseorang," jawab Lia sembari mengedarkan pandangan ke sekeliling. "Ah, itu dia! Aku pergi dulu!" Lia berlari kecil menuju sisi lain gerbang. Ana mengamati dengan tajam. Di seberang jalan, seorang pria bersetelan jas mahal berdiri di samping mobil mewah yang sangat ia kenali. "Tuan Maxime? Untuk apa Lia menemuinya di tempat seperti ini?" batin Ana. Ia mengenali sosok itu, Neil Maxime, paman tirinya. Neil adalah pebisnis sukses yang jarang menginjakkan kaki di tanah air karena seleranya yang terlalu tinggi. Namanya hanya dikenal oleh segelintir elit bisnis. "Tuan Maxime itu... siapa, Kak?" tanya Ana berbasa-basi. "Dia pengusaha besar," jawab Leo singkat sembari membukakan pintu mobil untuk adiknya. Sepanjang perjalanan, Ana terus termenung. "Kenapa Leo bisa tahu wajah om Neil?" "Apa Kakak mengenalnya?" tanya Ana lagi, memancing. "Hanya sekadar tahu, belum akrab. Kebetulan nanti malam Kakak ada janji temu dengannya di Hotel Value." "Hotel Value?" Jantung Ana berdegup kencang. Ia lupa bahwa Leo juga seorang pengusaha muda yang ambisius. Berhasil mendapatkan waktu luang dari seorang Neil Maxime yang angkuh dan perfeksionis adalah prestasi besar. "Aku harus ke sana. Neil adalah satu-satunya orang yang bisa membantuku," tegas Ana dalam hati. Pukul 19.00 Di meja makan, makan malam baru saja usai. Arana melirik tangga dengan gelisah. "Kak Leo belum turun juga," batinnya. "Masih ada waktu!" "Ma, Pa, Ana sudah kenyang dan sangat mengantuk. Ana tidur duluan, ya?" Tanpa menunggu jawaban, ia segera berlari menaiki tangga. Begitu masuk kamar, ia menjalankan rencana nekatnya. Ana menata bantal dan guling di bawah selimut agar terlihat seperti seseorang yang sedang tertidur lelap. Setelah itu, ia segera berdandan. Ia menggunakan riasan milik mamanya secara berlebihan, ia butuh wajah yang tampak jauh lebih dewasa agar tidak dicegat petugas keamanan hotel. Dengan pakaian yang tertutup rapat, ia menyelinap keluar rumah dan merayap masuk ke kursi belakang mobil Leo yang tidak terkunci. BRAK! Pintu pengemudi tertutup. Leo masuk tanpa menyadari ada penyusup yang meringkuk di sela kursi belakang. Selama perjalanan, Ana harus menahan mual. Guncangan mobil dan udara pengap di bawah sana membuatnya nyaris muntah. "Sial! Kalau aku sudah punya uang nanti, aku akan membelikanmu mobil yang lebih nyaman, Kak!" gerutunya dalam hati. Begitu mobil terparkir di basement Hotel Value, Ana menunggu saat yang tepat. Saat Leo sibuk melepas sabuk pengaman dan membuka pintu, Ana bergerak secepat kilat. Ia membuka pintu sisi lain dan berlari keluar sebelum Leo sempat menoleh sepenuhnya. "Ng...?" Leo mematung sejenak. Ia merasa ada bayangan yang melesat keluar dari mobilnya. "Apa perasaanku saja? Tadi seperti ada suara pintu terbuka..." Karena terburu-buru untuk pertemuan penting, Leo mengabaikan kecurigaannya dan segera masuk ke dalam gedung. Ana melangkah masuk ke lobi hotel dengan kepercayaan diri yang dipaksakan. Ia tahu kebiasaan pamannya yang selalu menyewa private suite untuk pertemuan bisnis. Ia segera menghampiri meja resepsionis. "Selamat malam, ada yang bisa saya bantu?" sapa resepsionis itu dengan senyum ramah yang dibuat-buat. "Saya ingin bertemu Tuan Maxime. Di kamar mana beliau menginap?" Resepsionis itu mengamati penampilan Ana yang mencolok, riasannya terlalu tebal untuk gadis seusianya. "Maaf, Anda siapa?" "Reta. Saya keponakannya," jawab Ana, berusaha tetap tenang meski jantungnya berdebar. Ia baru sadar, mengaku sebagai keponakan dengan dandanan menor seperti ini adalah ide yang buruk. "Pfft... keponakan?" Resepsionis itu tertawa remeh. "Iya! Apa kamu tidak percaya?" Ana melotot, mengeluarkan aura dominan yang dulu ia miliki sebagai bos Sidney Group. "Apa perlu aku meneleponnya agar dia memecatmu sekarang juga?" Gebrakan itu berhasil. Resepsionis itu tersentak. "Ti-tidak, Nona. Maafkan saya. Beliau ada di kamar 450." "Berikan kuncinya." "Maaf, Nona, itu melanggar prosedur hotel---" "Tuan Maxime sendiri yang menyuruhku ke sini. Dia pasti lupa mencantumkan namaku di reservasi karena jadwalnya yang padat. Apa kamu mau menanggung risiko jika aku dibiarkan menunggu di lorong?" potong Ana sinis. Melihat tatapan tajam Ana yang tidak seperti gadis biasa, resepsionis itu akhirnya goyah. Dengan tangan gemetar, ia menyerahkan kartu akses tambahan. "I-ini, Nona. Kamar 450." Ana mengambil kartu itu dengan angkuh. "Pilihan cerdas."Kesadaran menghantam Ana seperti siraman air es.Matanya terbelalak,Di sela napas yang terengah, logika mulai mengambil alih, mengingatkan dirinya yang nyaris melewati batas."Sial! Ada apa denganku? Kenapa tubuhku selemah ini," batin Ana menjerit kesal."Bisa-bisanya aku tergoda dan menikmati setiap sentuhannya. Sadar! Dia ini ommu sendiri! Walau sudah ada di tubuh berbeda, tidak etis rasanya menjalin hubungan dengan dia.""Sadarlah Ana!"Ana meronta, tangannya yang tadi meremas kemeja Max, kini berubah menjadi dorongan keras demi menjauhkan dada pria itu.Ia terus berusaha memundurkan tubuh dari himpitan Max, namun sudah terlambat.Lengan kekar Max terlalu kuat mencengkram dua paha Ana sampai tak berkutik."Lepaskan...saya mohon. Cukup!" pinta Ana memukulkan kepalan tangannya,Seberapa keras dia berteriak, kata-katanya tertelan oleh dominasi Max.Max malah mempererat cengkraman, tak
Cahaya berlian memantul ke setiap mata, menciptakan rasa iri di hati Sarah.Di tengah keramaian, perhatian para tamu tertuju pada satu titik, Ana dan kalung berlian yang baru saja melingkar di lehernya.Sarah meremas gelas sampanye di tangan. Matanya tak lepas dari kilau batu mulia itu, hadiah dari Ryan.Direktur perusahaan besar yang selama ini berhasil menduduki peringkat teratas di negara."Bagaimana bisa?" batin Sarah bergejolak."Apa hebatnya Ana? Dia cuma wanita penyakitan yang tidak pernah keluar rumah.""Tidak tahu pergaulan, tidak ada kelas. Kenapa pria seperti Ryan bisa kenal dengannya?"Sarah menarik napas dalam, membetulkan letak gaun satinnya yang mengembang, lalu melangkah maju dengan dagu terangkat. Ia memahat senyum paling menawan yang dimiliki,"Tuan Ryan! Tidak menyangka bisa bertemu dengan pria terhormat seperti anda," sapa Sarah, suaranya mengalun manis, berusaha seperti teman lama yang sanga
Cahaya lampu kristal memantul sempurna pada lantai marmer kediaman Ana yang biasanya tenang.Malam ini, rumah mereka bertransformasi. Karangan bunga lili putih dan peony merah muda menghiasi setiap sudut guna merayakan dua peristiwa penting.Keberhasilan proyek besar pertama Leo dan hari bertambahnya usia sang putri, Ana.Wangi aromaterapi mahal bercampur dengan aroma hidangan fine dining yang tersaji apik. Namun, di balik keramaian ini, ada ketegangan yang merayap di antara denting gelas sampanye.Hampir seluruh keluarga besar hadir, kecuali sang paman yang telah melaporkan ayahnya atas insiden penggelapan uang.Meski sang paman absen, para putrinya tetap ada di sana. Para sepupu Ana yang bermuka dua,"Oh, sayang...malam ini kamu cantik sekali." puji Citra tersenyum membelai pipi putrinya,Ana tersenyum, dia berdiri di dekat meja dekorasi, mengenakan gaun sutra berwarna champagne yang membalut tubuh rampingnya.
Perusahaan Sidney, bangunan megah yang terletak di pusat kota dengan arsitektur modern dan desain elegan.Gedung ini adalah simbol kesuksesan keluarga Sidney yang telah membangun kerajaan bisnis mereka dari nol.Di sana Max dan Ana datang memenuhi undangan, membahas sebuah proyek bersama direktur perusahaan lain."Rasanya sudah lama sekali. Tidak ada yang berubah, tapi aku merasa suasananya tidak sehening dulu." batin Ana mengamati sekitar,Sedikit gugup tapi mencoba untuk tidak menunjukkannya.Dia berjalan mengikuti Max melewati lorong, namun rasa penasaran membuat Ana tak bisa duduk dan diam saja."Anu, Pak---saya mau ke toilet sebentar.""Ya sudah, toiletnya ada---" suara Max tercekat, tak dihiraukan.Gadis itu langsung pergi begitu saja, anehnya dia berjalan ke arah yang benar. Menyisakan tanda tanya besar,Max terheran, padahal Ana pertama kali ke sini lalu bagaimana dia tahu letak toiletnya?
Ana menatap Max. "Saya sudah dengar, katanya seminarnya mau dimulai.""Bapak bisa pergi duluan. Saya bisa ganti baju sendiri," Ana menambahkan, suaranya terdengar canggung.Max nampak enggan pergi, tapi tak ada pilihan lain. Sejenak dia menatap tajam ke arah Ana, lalu berbalik pergi."Lain kali, kamu tidak akan lolos dariku."Ana tercengang merasakan jantungnya berdegup kencang, perkataan Max benar-benar terasa seperti ancaman.Perlahan punggung lebar itu menghilang dari pandangan,"Huft..." Ana menghela nafas lega, bergegas berganti pakaian.Memakai baju yang telah disiapkan untuknya. Sebuah dress lengan pendek sederhana warna pastel dengan desain minimalis yang terlihat elegan,Sedikit mengejutkan sebab dress itu memiliki potongan yang sangat pas di tubuh Ana. Menekan bentuk tubuh rampingnya,Bahan dress yang begitu ringan dan nyaman, membuatnya merasa bebas bergerak.Max bahkan menyiapkan sepatu hak senada berwarna pastel, yang membuat kaki jenjang Ana semakin tinggi."Seleranya ba
Suasana mendadak mati kutu di dalam ruang transit khusus tamu yang disediakan oleh kampus. Tidak ada suara, tidak ada pergerakan. Hanya ada keheningan yang mencekam dan mengintimidasi. Gorden tebal yang sengaja ditutup rapat menghalangi cahaya luar, membuat atmosfer di dalam ruangan terasa semakin temaram dan sunyi. Max berdiri tegap di depan Ana. Wajah tampannya mengeras, memancarkan kegeraman yang kentara. Sementara itu, Ana hanya bisa duduk diam di atas sofa dengan kepala tertunduk dalam, jemarinya meremas kuat jas pria itu yang mengalung di bahunya. "Bukankah kamu sudah punya banyak uang? Kenapa tidak membeli pakaian yang lebih layak?" tanya Max, nada suaranya meninggi satu oktav. Mata tajam pria itu menatap dingin pada blus tipis Ana yang basah kuyup. Kain yang melekat ketat itu kini mencetak jelas lekuk tubuh, bahkan menjelma transparan hingga memperlihatkan pakaian dalam Ana yang berwarna kontras. "Tid







