공유

Salah paham

last update 게시일: 2021-10-31 05:24:24

WARNING!! 21+ ADULT CONTENT. HARAP BIJAK DALAM MEMBACA.

Senyum kemenangan terukir di bibir Ana. Jiwa Reta Sidney dalam raga Alana ini rupanya masih memiliki taring yang mematikan. Begitu kartu akses tipis itu berpindah tangan, Ana segera melangkah menuju elevator. Tujuannya hanya satu, lantai tertinggi, kamar 450.

Ting!

Pintu terbuka. Ana menarik napas panjang sebelum menempelkan kartu. Suara kunci elektronik yang terbuka terdengar memuaskan di telinganya.

"Kosong. Bagus," gumam Ana saat mendapati suite mewah itu tampak sunyi. Ia menyusuri ruangan, mencoba menenangkan debar jantungnya yang kian liar.

CEKLEK.

Suara pintu utama yang terbuka mengejutkan Ana. Panik, ia segera melesat dan meringkuk di balik bayangan ranjang king-size.

"Sial, baru lima belas menit. Kenapa dia sudah kembali?" batinnya kalut. Langkah kaki terdengar mendekat. Ana menahan napas, matanya tertuju pada sepasang sepatu yang melintas.

"Huft... pelayan rupanya." Ana mengembuskan napas lega saat menyadari itu hanya staf hotel yang meletakkan teko kaca dan gelas di atas meja.

Tiga puluh menit berlalu dalam kesunyian yang mencekam. Ana yang tengah mengotak-atik ponselnya kembali tersentak saat mendengar langkah kaki berat dari arah koridor. Kali ini, auranya berbeda. Jauh lebih dominan.

CEKLEK.

Seorang pria tinggi tegap dengan setelan jas hitam yang memeluk tubuh atletisnya melangkah masuk. Ia melemparkan berkas ke meja, lalu jemari panjangnya mulai melepas kancing kemeja satu per satu, menanggalkan dasi yang terasa mencekik.

Ana menelan ludah. "Kenapa aku malah bersembunyi? Niatku kemari adalah untuk mengungkap kebusukan Ryan pada om Maxime!"

Memaksakan keberanian yang nyaris runtuh, Ana bangkit berdiri. Ia melangkah berjinjit di atas karpet tebal, mencoba mendekati punggung lebar yang kokoh di depannya. Tangannya gemetar, perlahan terulur hendak menyentuh bahu pria itu.

GREP!

"Aw...!"

Belum sempat jemarinya mendarat, sebuah gerakan secepat kilat menyambar pergelangan tangannya. Tubuh Ana ditarik paksa hingga dadanya membentur punggung keras pria itu. Genggaman itu begitu kuat, seolah hendak meremukkan tulangnya.

"Siapa yang membiarkan jalang sepertimu masuk ke kamarku?" cibir Maxime Laksmana, dengan suara bariton yang dingin dan mematikan.

Maxime berbalik, matanya yang tajam bak elang menatap Ana dengan sinis. Rahangnya mengeras, gigi-giginya terkatup rapat menahan emosi yang meledak. Sorot matanya begitu dingin hingga mampu membekukan aliran darah Ana.

"T-tidak... kamu salah paham," sanggah Ana terbata.

"Ck!" Maxime berdecak. Tiba-tiba, hawa panas yang tidak wajar mulai membakar aliran darahnya. Entah bagaimana, sentuhan fisik dengan gadis asing ini memicu reaksi yang tidak terkendali di bagian bawah tubuhnya.

Napas Maxime mulai memburu. Hasrat liar yang tak masuk akal mendadak menguasai akal sehatnya. Dengan satu sentakan kasar, ia mencengkeram kerah baju Ana dan melempar tubuh ramping itu ke atas ranjang.

"Aku sudah muak dengan rencana licik murahan seperti ini," geram Maxime. Matanya menggelap, dipenuhi gairah gelap yang mengerikan.

"Tunggu! Maxime, dengarkan aku!" Ana berusaha bangkit, namun Maxime sudah lebih dulu menindihnya.

Pria itu menanggalkan jasnya dengan kasar, memperlihatkan kemeja putih yang kini transparan karena keringat. Maxime bukan sekadar pria tampan, ia adalah pemangsa. Disebut pembunuh berdarah dingin karena ia tak pernah menyisakan ampun bagi siapa pun yang menjebaknya. Dan malam ini, ia merasa dijebak.

"Bukankah ini yang kamu inginkan?" desis Maxime tepat di telinga Ana.

Tangan kekarnya bergerak liar melepas ikat pinggang dan ritsleting celana. Ana terbelalak saat dada bidang yang keras menghimpit tubuhnya. Otot-otot perut yang tegas dan lengan yang kuat menekan setiap inci kulitnya.

"Hentikan! Aku bukan wanita seperti itu!" teriak Ana, tangannya berusaha mendorong dada Maxime yang terasa seperti tembok baja.

"Riasan tebal, baju seksi, dan parfum yang memuakkan ini... apa lagi yang kamu jual jika bukan tubuhmu?" Maxime menatapnya penuh kebencian sekaligus nafsu yang berkobar.

Obat perangsang yang tanpa sengaja ia tenggak dari gelas di meja tadi benar-benar telah mencapai puncaknya. Seluruh sarafnya berteriak meminta pelepasan, dan gadis di bawahnya ini terasa begitu dingin dan menggoda seperti penawar dahaga.

"Jangan! Lepaskan!" pekik Ana saat tangan Maxime mulai merayap liar di bawah gaun tanpa lengannya.

"Berhenti bermain tarik ulur denganku!" gertak Maxime. Keringat membanjiri keningnya. Suara rintihan Ana di telinganya terdengar seperti simfoni yang mengundang hasrat lebih dalam.

Tangan Maxime merogoh paha putih Ana, menyentuh kulit halusnya dengan rakus. KesaMaximennya habis. Dengan kekuatan yang mengerikan, ia merobek long dress biru itu hingga hancur, menyisakan Ana dalam balutan pakaian dalam yang minim.

"DASAR MESUM!" Ana menjerit, memeluk tubuhnya sendiri berusaha menutupi gumpalan kenyal yang kini terekspos di depan mata Maxime.

Maxime tidak peduli. Ia mencengkeram rahang kecil Ana, memaksa gadis itu menatap matanya yang merah karena gairah. Tanpa peringatan, ia meraup bibir Ana dengan brutal.

"Mmph...!"

Ana membelalak saat lidah Maxime menerobos masuk, menginvasi mulutnya dengan rakus. Lumatan itu begitu panas dan menuntut, menyalurkan saliva dan aroma maskulin yang memabukkan. Tangan Maxime yang lain sibuk mencari pengait bra di belakang punggung Ana.

Ana menggeliat liar, kuku-kukunya mencakar punggung Maxime hingga meninggalkan bekas merah yang dalam. Namun, Maxime seolah tak merasakan sakit. 

Maxime melepaskan lumatan kasarnya, menyisakan napas Ana yang tersengal sebelum dengan kasar merenggut kain yang menutupi dada gadis itu. Tatapan Maxime berubah liar, matanya menggelap penuh nafsu saat memandangi sepasang gundukan kenyal yang kini terekspos tanpa perlahan di depannya.

Tanpa peringatan, tangan kekarnya meremas kuat.

"Ah..." Sebuah desahan tertahan lolos dari bibir Ana. Meski otaknya berteriak menolak, tubuh muda itu bereaksi khianat terhadap setiap sentuhan panas yang diberikan Maxime.

"Tu-tunggu! Ini salah paham!" Alana terbata, mencoba mencari sisa kewarasannya. "A-aku adik Leo Prawira. Pria yang baru saja kamu temui!"

Maxime menyeringai sinis, tatapannya meremehkan. "Oh? Jadi pria itu mengirim jalang kecil untuk menyuapku agar setuju?"

"Bukan! Kamu salah paham. Aku ke sini untuk menjelaskan sesuatu," tegas Ana sembari menggigit bibir bawahnya. Perutnya terasa mulas, tergelitik oleh sensasi aneh saat jemari Maxime mulai bermain dengan puncak dadanya, memilin dan memutar dengan ritme yang menyiksa.

"Lalu? Jelaskan lah," bisik Maxime dengan nada licik. Lidahnya membasahi bibir, sementara jarinya terus menuntut reaksi dari tubuh Ana hingga gadis itu membeku.

"A-aku... s-sebenarnya..."

"Ah!"

"Cukup. Waktumu habis," potong Maxime dingin. "Apa pun yang kamu katakan, kamu tetaplah penggoda yang masuk ke ranjangku atas kemauanmu sendiri."

Hasrat yang memuncak membuat Maxime kehilangan kendali. Ia menunduk, menyesap rakus puncak dada Ana sembari tangannya merayap ke bawah, menerobos masuk ke dalam celana gadis itu.

"Tidak! Jangan di sana! Hentikan!" pekik Ana saat merasakan jari-jari besar Maxime mulai menjelajahi lipatan intimnya yang mulai lembap.

Dua jari kekar itu merangsek masuk dengan paksa, menembus pertahanan sempit yang belum pernah tersentuh.

"AAA!" Ana memekik hebat, jemarinya mencengkeram sprei di bawah tubuhnya hingga buku-buku jarinya memutih. Rasanya begitu sesak, seolah tubuhnya dipaksa menerima sesuatu yang terlalu besar. Tubuhnya bergetar hebat saat Maxime mulai menggerakkan jarinya dengan lihai di dalam sana, menciptakan simfoni antara rasa sakit dan kenikmatan yang memuakkan.

"Dasar om bajingan! Aku ini keponakanmu!" jerit Ana dalam hati.

Air mata mulai mengalir deras saat Maxime melepas jarinya yang kini basah oleh cairan bening bercampur bercak kemerahan. Maxime menyeringai puas, ia segera menurunkan ritsleting celananya.

Mata Ana membelalak ngeri saat melihat kejantanan Maxime yang telah menegang sempurna. Begitu besar dan mengancam. Maxime menarik tangan Ana, menguncinya di atas kepala sebelum memposisikan dirinya di antara kedua kaki gadis itu.

Dep.

Ujung kejantanan Maxime yang panas mulai bersentuhan dengan inti milik Ana.

"Tidak! Om Neil! Jangan lakukan itu!" mohon Ana dengan suara parau dan mata berkaca-kaca.

"JANGAN PANGGIL AKU DENGAN NAMA ITU!" gertak Maxime penuh murka. Matanya berkilat marah. "Hanya satu orang yang boleh memanggilku begitu, dan dia sudah mati!"

Maxime tidak peduli lagi. Baginya, gadis di bawahnya hanyalah jalang kecil yang mencoba bermain api. Tanpa peringatan, ia menghujamkan miliknya, menerobos masuk dengan satu dorongan kuat.

"AAA!!!!"

Ana menjerit sekuat tenaga. Rasa sakit yang luar biasa menghujam tubuh mudanya. Sesuatu di dalam sana seolah robek paksa saat kejantanan pria berusia 30 tahun itu mengisi penuh rahimnya. Maxime sempat tertegun saat merasakan hambatan yang begitu ketat, namun ia terlanjur buta oleh nafsu.

"Ck! Kamu berakting sangat baik," geram Maxime, mulai menghentakkan pinggangnya dengan kasar. Setiap guncangan terasa seperti serangan peluru yang menghancurkan pertahanan Ana.

Sakit. Bagai dikoyak berulang kali. Kesadaran Ana mulai menipis, dunianya berputar hingga perlahan pandangannya mengabur. Ia pingsan dalam penderitaan yang tak tertahankan.

Maxime berhenti bergerak saat menyadari tubuh di bawahnya menjadi lemas dan membisu. Ia menarik dirinya keluar, dan seketika ia terpaku.

Bercak merah pekat menodai sprei putih yang mahal itu. Darah perawan.

Maxime tertegun. Ia mengusap air mata yang membasahi wajah pucat Ana. "Kamu... benar-benar masih bersih? Bahkan pingsan sebelum permainan selesai," gumamnya tak percaya.

Rasa sesal mendadak menyusup di celah hatinya. Bagaimana mungkin gadis sekecil dan seberani ini masuk ke kamarnya hanya untuk menyerahkan kesuciannya?

Maxime menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh Alana yang malang, lalu melangkah menuju kamar mandi untuk meredam sisa nafsunya dengan air dingin.

Satu jam kemudian.

Maxime kembali dengan rambut basah dan handuk melilit pinggang. Ia menatap ponselnya, melihat nama Leo Prawira di sana.

"Leo Prawira... aku tertarik dengan bisnismu, tapi apa benar kamu yang mengirim adikmu sendiri untuk menjadi tumbal?" gumamnya dingin.

Ia menoleh ke arah ranjang, menatap wajah Alana yang masih memerah karena sisa tangis. Tangannya terulur, mengusap pipi gadis itu dengan ibu jarinya.

"Ck! Bikin repot saja. Aku benar-benar telah merusak gadis kecil ini."

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Pria milik 'ARANA'   Hadiah utama

    Kesadaran menghantam Ana seperti siraman air es.Matanya terbelalak,Di sela napas yang terengah, logika mulai mengambil alih, mengingatkan dirinya yang nyaris melewati batas."Sial! Ada apa denganku? Kenapa tubuhku selemah ini," batin Ana menjerit kesal."Bisa-bisanya aku tergoda dan menikmati setiap sentuhannya. Sadar! Dia ini ommu sendiri! Walau sudah ada di tubuh berbeda, tidak etis rasanya menjalin hubungan dengan dia.""Sadarlah Ana!"Ana meronta, tangannya yang tadi meremas kemeja Max, kini berubah menjadi dorongan keras demi menjauhkan dada pria itu.Ia terus berusaha memundurkan tubuh dari himpitan Max, namun sudah terlambat.Lengan kekar Max terlalu kuat mencengkram dua paha Ana sampai tak berkutik."Lepaskan...saya mohon. Cukup!" pinta Ana memukulkan kepalan tangannya,Seberapa keras dia berteriak, kata-katanya tertelan oleh dominasi Max.Max malah mempererat cengkraman, tak

  • Pria milik 'ARANA'   Kecemburuan Tuan Maxime

    Cahaya berlian memantul ke setiap mata, menciptakan rasa iri di hati Sarah.Di tengah keramaian, perhatian para tamu tertuju pada satu titik, Ana dan kalung berlian yang baru saja melingkar di lehernya.Sarah meremas gelas sampanye di tangan. Matanya tak lepas dari kilau batu mulia itu, hadiah dari Ryan.Direktur perusahaan besar yang selama ini berhasil menduduki peringkat teratas di negara."Bagaimana bisa?" batin Sarah bergejolak."Apa hebatnya Ana? Dia cuma wanita penyakitan yang tidak pernah keluar rumah.""Tidak tahu pergaulan, tidak ada kelas. Kenapa pria seperti Ryan bisa kenal dengannya?"Sarah menarik napas dalam, membetulkan letak gaun satinnya yang mengembang, lalu melangkah maju dengan dagu terangkat. Ia memahat senyum paling menawan yang dimiliki,"Tuan Ryan! Tidak menyangka bisa bertemu dengan pria terhormat seperti anda," sapa Sarah, suaranya mengalun manis, berusaha seperti teman lama yang sanga

  • Pria milik 'ARANA'   Kilauan pesta

    Cahaya lampu kristal memantul sempurna pada lantai marmer kediaman Ana yang biasanya tenang.Malam ini, rumah mereka bertransformasi. Karangan bunga lili putih dan peony merah muda menghiasi setiap sudut guna merayakan dua peristiwa penting.Keberhasilan proyek besar pertama Leo dan hari bertambahnya usia sang putri, Ana.Wangi aromaterapi mahal bercampur dengan aroma hidangan fine dining yang tersaji apik. Namun, di balik keramaian ini, ada ketegangan yang merayap di antara denting gelas sampanye.Hampir seluruh keluarga besar hadir, kecuali sang paman yang telah melaporkan ayahnya atas insiden penggelapan uang.Meski sang paman absen, para putrinya tetap ada di sana. Para sepupu Ana yang bermuka dua,"Oh, sayang...malam ini kamu cantik sekali." puji Citra tersenyum membelai pipi putrinya,Ana tersenyum, dia berdiri di dekat meja dekorasi, mengenakan gaun sutra berwarna champagne yang membalut tubuh rampingnya.

  • Pria milik 'ARANA'   Teguran para dewan

    Perusahaan Sidney, bangunan megah yang terletak di pusat kota dengan arsitektur modern dan desain elegan.Gedung ini adalah simbol kesuksesan keluarga Sidney yang telah membangun kerajaan bisnis mereka dari nol.Di sana Max dan Ana datang memenuhi undangan, membahas sebuah proyek bersama direktur perusahaan lain."Rasanya sudah lama sekali. Tidak ada yang berubah, tapi aku merasa suasananya tidak sehening dulu." batin Ana mengamati sekitar,Sedikit gugup tapi mencoba untuk tidak menunjukkannya.Dia berjalan mengikuti Max melewati lorong, namun rasa penasaran membuat Ana tak bisa duduk dan diam saja."Anu, Pak---saya mau ke toilet sebentar.""Ya sudah, toiletnya ada---" suara Max tercekat, tak dihiraukan.Gadis itu langsung pergi begitu saja, anehnya dia berjalan ke arah yang benar. Menyisakan tanda tanya besar,Max terheran, padahal Ana pertama kali ke sini lalu bagaimana dia tahu letak toiletnya?

  • Pria milik 'ARANA'   Lowongan magang

    Ana menatap Max. "Saya sudah dengar, katanya seminarnya mau dimulai.""Bapak bisa pergi duluan. Saya bisa ganti baju sendiri," Ana menambahkan, suaranya terdengar canggung.Max nampak enggan pergi, tapi tak ada pilihan lain. Sejenak dia menatap tajam ke arah Ana, lalu berbalik pergi."Lain kali, kamu tidak akan lolos dariku."Ana tercengang merasakan jantungnya berdegup kencang, perkataan Max benar-benar terasa seperti ancaman.Perlahan punggung lebar itu menghilang dari pandangan,"Huft..." Ana menghela nafas lega, bergegas berganti pakaian.Memakai baju yang telah disiapkan untuknya. Sebuah dress lengan pendek sederhana warna pastel dengan desain minimalis yang terlihat elegan,Sedikit mengejutkan sebab dress itu memiliki potongan yang sangat pas di tubuh Ana. Menekan bentuk tubuh rampingnya,Bahan dress yang begitu ringan dan nyaman, membuatnya merasa bebas bergerak.Max bahkan menyiapkan sepatu hak senada berwarna pastel, yang membuat kaki jenjang Ana semakin tinggi."Seleranya ba

  • Pria milik 'ARANA'   Kesepakatan yang harus disetujui

    Suasana mendadak mati kutu di dalam ruang transit khusus tamu yang disediakan oleh kampus. Tidak ada suara, tidak ada pergerakan. Hanya ada keheningan yang mencekam dan mengintimidasi. Gorden tebal yang sengaja ditutup rapat menghalangi cahaya luar, membuat atmosfer di dalam ruangan terasa semakin temaram dan sunyi. Max berdiri tegap di depan Ana. Wajah tampannya mengeras, memancarkan kegeraman yang kentara. Sementara itu, Ana hanya bisa duduk diam di atas sofa dengan kepala tertunduk dalam, jemarinya meremas kuat jas pria itu yang mengalung di bahunya. "Bukankah kamu sudah punya banyak uang? Kenapa tidak membeli pakaian yang lebih layak?" tanya Max, nada suaranya meninggi satu oktav. Mata tajam pria itu menatap dingin pada blus tipis Ana yang basah kuyup. Kain yang melekat ketat itu kini mencetak jelas lekuk tubuh, bahkan menjelma transparan hingga memperlihatkan pakaian dalam Ana yang berwarna kontras. "Tid

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status