Home / Romansa / Priaku di Kursi Roda / Mendadak Romantis

Share

Mendadak Romantis

last update Huling Na-update: 2022-02-13 08:23:02

Aku terdiam sesaat sebelum tawaku pecah memenuhi ruangan. Bahkan, Freza pun sampai menutup kedua telinganya. Kuusap kedua mataku lembut, lihatlah mataku sampai berair dibuatnya.

"Haduh, sakit pipi gue, lagian kenapa juga lo mau nikah ama gue?" tanyaku untuk ke sekian kalinya. Berusaha mencari tahu tujuan sebenarnya Freza menikahiku.

Freza hanya menatapku datar kemudian melanjutkan aktivitasnya. Dia tak sedikit pun menggubris perkataanku. Freza benar-benar menyebalkan, lihat saja aku akan membalasnya nanti.

Aku berbalik dan berjalan menjauhi Freza, untuk saat ini aku tak mau menganggunya. Sekarang aku harus mengerjakan pekerjaanku. Ya, pernikahan kemarin telah membuatku menjadi miliader dalam sekejap. 

Tugasku sebagai seorang isteri yang baik adalah menghabiskan harta suami. Akan kuhabiskan dengan cara baik pula, hoho aku akan membelanjakan semua keinginanku yang sempat tertunda.

Kan kuhabiskan hartanya, walaupun tubuhku di sini, tetap saja hatiku tengah melayang ke sebuah butik. Tanganku terus bergerak dengan cepat, menelusuri setiap jenis pakaian yang terbaru. 

Kedua mataku berbinar bahagia, rasanya ingin berteriak kegirangan karena berhasil mendapatkan apa yang kumau. Tiba-tiba aku merasakan aura aneh berasal dari samping kiri. 

Segera aku menatap ke samping dan menemukan Freza tepat duduk di sana. "Woi, lo ngagetin tau!? Apaan si, tiba-tiba muncul di sini," sungutku geram. 

Freza benar-benar mengagetkanku, tidak tahu sejak kapan dia sudah duduk di sampingku. Jantungku hampir dibuat jatuh ke angan oleh Freza. 

"Biasa aja dong tu muka, kek gak pernah liat cowok cakep aja," ejek Freza membuatku semakin kesal.

Aku merenggut, "Emang susah kalo ngomong sama orang gila, lo mau ngapain ke sini? Gue gak ganggu ya, lo yang dateng ke sini nyamperin gue duluan," ucapku membuat Freza menutup telinga.

Sangat jelas jika aku berbicara dengan sedikit teriak, aku terkekeh geli. Karena kesal dikejutkan Freza, aku sampai berteriak. Padahal jarak kami begitu dekat, pantas saja Freza menutup telinganya.

"Jadi lo ngapain di sini?" tanyaku netral. Tak seperti sebelumnya berteriak.

"Bosen, kerjaan dah beres semua," balas Freza singkat. Aku terdiam cukup lama, walau demikian hatiku terus merutuki Freza yang bodoh.

Sejak pernikahanku dengan Freza, aku tak pernah ingin tahu tentangnya. Bagaimana pekerjaannya, kesibukannya, atau apapun itu. Namun, sekarang Freza mengatakannya tanpa kuminta. 

Ekspresi wajahku begitu datar, mood-ku hancur seketika saat Freza datang. "Maaf nih ya, gue gak peduli sama kerjaan lo. Ya kalau dah beres bagus dong, gue bisa pulang berarti," ucapku santai yang mendapat pelototan Freza.

Aku mengernyit heran, ada apa dengan Freza? Mengapa dia melayangkan pelototan padaku? Kuingat kembali kata-kataku, tidak ada yang salah atau pun menyinggungnya. Lalu kenapa Freza seperti marah padaku?

"Jadi, lo mau apa?" tanyaku akhirnya karena takkunjung mengerti apa yang Freza inginkan.

Freza tersenyum smirk, "Mau ikut gue nggak? Gue mau nunjukin sesuatu sama lo," ucapnya berhasil membuatku tertawa.

Ya, aku menertawakan sikap Freza yang berubah drastis. Hantu apa yang merasukinya sehingga dia bersikap romantis seperti ini? Freza hanya terdiam menatapku datar.

"Gue serius, lo mau ikut nggak?" tanya Freza lagi membuatku membungkam.

Aku menatap wajahnya intens, kutelusuri apakah dia tengah berbohong apa serius padaku. Dan sedikit pun aku tak menemukan celah jika Freza hanya bercanda.

"Lo, lo bener ngajak gue jalan gitu? Tumben, ada apa emang? Mama kan gak ada, gak perlu sok romantis di hadapan gue. Aneh tau lihat lo yang beda gini, berasa kek bukan lo," sungutku berusaha untuk tidak percaya dengan perubahan sikap Freza.

Freza tampak berdecak kesal membuatku semakin bingung. Apakah aku yang bodoh atau Freza yang gila? Ntahlah, menurutku keduanya benar. 

"Tadi lo tanya gue soal alasan gue nikahin lo, kan? Nah gue akan jawab tapi sebelum itu, gue mau tunjukin sesuatu ke lo," tutur Freza.

Aku mengangguk mengerti, ternyata ini toh yang ingin Freza katakan. Mengapa dia mengatakan hal itu saja sangat susah sih. Membuatku merana saja karena ucapannya.

"Lo mau nggak?" Freza menatapku kesal. Aku terkekeh geli, Freza sangat tidak sabaran sekali. Aku kan tengah asyik berdialog dengan hati.

Aku mengangguk pelan, "Boleh, lagian gue juga gak ada kerjaan sih," balasku santai.

Kubantu Freza naik ke kursi roda, lalu kudorong keluar untuk pergi. Dari perjalanan ke kantor sampai ke tempat yang dimaksud Freza, tidak ada percakapan antara kami.

Freza dan aku sama-sama menikmati ramainya jalan kota. Namun, ada satu yang menganggu pikiranku. Mengapa mobil ini terus berjalan? Kemana Freza akan membawaku? 

"Za, lo mau bawa gue kemana?" tanyaku khawatir. Tidak tahu mengapa aku berpikir yang aneh-aneh sekarang. 

"Kenapa? Lo takut?" tanya Freza balik membuatku berdecak kesal. 

"Ck, tinggal jawab aja malah balik nanya," sungutku emosi. Namun, Freza hanya terkekeh geli, setelah itu tak ada percakapan lagi.

Sungguh aku tersiksa dengan keadaan canggung seperti ini, mengapa juga aku mau diajak pergi oleh Freza. Sesaat aku merutuki sifat kepoku sendiri, termyata benar terlalu peduli itu tidak baik.

Mobil terus berjalan hingga sampai perbatasan kota, aku terheran-heran. Janutungku sudah berdegup dengan kencang, hatiku tak tenang karena tidak tahu diri ini akan dibawa kemana.

Kuusahakan untuk tetap tenang, aku tidak mau jika terus berpikiran buruk tentang Freza. Dia pasti tidak akan melukaiku, aku yakin itu. Namun, setelah memasuki daerah pedesaan, aku semakin tak yakin dengan keyakinanku sebelumnya.

Pasalnya, tempat ini adalah tempat di mana masa lalu terburukku terjadi. Kutatap Freza yang tampak biasa saja menatap lurus ke depan. 

Apa yang tengah direncanakan Freza? Aku takbisa menahannya kembali. Tanganku sudah bergetar ketakutan, malam kelam itu terus menghujani ingatanku. Tak membiarkan aku menarik napas lega sebentar saja.

Tuhan, apa yang akan terjadi padaku nanti, kucoba untuk berusaha tenang. Ya, aku tak mau Freza tahu aku gelisah sekarang, jika tidak rahasiaku akan terbongkar.

Mobil kami berhenti tepat di depan sebuah villa mewah. Freza menyuruhku untuk keluar begitu juga dengan dirinya. 

Hatiku sudah merasa tak nyaman, bagaimana bisa aku datang kembali ke tempat masa lalumu yang suram ini. 

Apa yang harus kulakukan? Aku ingin segera pergi, sedari tadi jantungku berdetak dengan kencang. Ingatan masa lalu kelam itu datang menyelimuti pikiranku. 

"Za, ngapain sih lo bawa gue ke sini?" tanyaku berusaha untuk bersikap baik-baik saja di depan Freza. 

Freza tersenyum, "Apa lagi? Kita bakal bulan madu di sini. Apakah istriku tidak ingin menghabiskan waktu bersama dengan suaminya?" 

Mataku terbelalak tak percaya mendengar penuturan Freza. "Hah?" Kutatap Freza dengan seksama. Menelusuri apakah dia tengah berbohong apa serius. 

Freza terkekeh geli, "Kita akan berbulan madu sayang, makanya ngajak ke sini juga," ucapnya seolah mengerti denganku. 

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Priaku di Kursi Roda   Ayah Angkat?

    Freza menatapku dengan tajam, beberapa orang berdiri di belakangnya membuat semua warga di sini memperhatikan mereka. "Siapa dia?" Putra bertanya padaku, wajahnya begitu serius. Aku bingung harus menjawabnya seperti apa, kuputuskan untuk menghampiri Freza dan menghiraukan pertanyaan Putra. "Ngapain lo di sini?" Aku bertanya berbisik pada Freza yang menarikku pada pangkuannya. "Gini ya kelakuan lo, malah kabur. Lo pikir lo bisa kabur dari gue gitu aja?" Aku muak mendengar ocehan Freza, gigiku menggertak. Segera kutarik badanku dan langsung berdiri. Rasanya aku ingin menampar Freza. "Surat perceraian kita udah gue simpen di meja kerja lo, jadi bukan urusan lo lagi gue harus kemana." Aku bergegas pergi, tetapi Freza kembali menarik lenganku. "Lo ga bisa kabur dari gue!" Aku tersenyum sinis menatap Freza yang terlalu yakin dengan ucapannya. "Satu hal yang lo lupa, Za. Ini bukan tempat lo dan gak ada kuasa lo yang bisa dilakuin di sini." Freza terdiam sesaat, seperti mencerna ka

  • Priaku di Kursi Roda   Kembali?

    Aku terbangun dari tidurku, dan kutatap sekeliling. Nafasku tidak karuan, mimpi ini benar-benar gila. Bagaimana mungkin aku bermimpi jika Freza menangis untukku dan Ardi yang bunuh diri. "Tenanglah Fiona, ini hanya mimpi." Mataku menatap sekitar yang sudah gelap, segera aku menyalakan lilin dan lampu minyak. Kehidupan di sini jauh dari teknologi, bahkan untuk pencahayaan pun mereka masih memakai manual tanpa listrik. Aku keluar dari rumah dan menatap lurus ke depan. Kuputuskan untuk menuju sisi pantai dan ketika menemukan sebuah batu besar, lantas aku duduk di sana. Suara ombak yang menabrak batu karang, diiringi dengan angin malam yang sejuk benar-benar membuatku menjadi segar. Rasanya sudah lama aku tidak mendengar suara ini, karena seringnya aku mendengar sebuah kendaraan. Kuusap perutku yang masih rata. "Nak, apa kau senang berada di sini?" tanyaku sambil melihat perutku sendiri. "Fiona?" Kepalaku menoleh ke kanan dan menemukan seorang pria seumuran denganku menatapku de

  • Priaku di Kursi Roda   Cinta Pertama?

    Tengah malam aku baru sampai di rumah, sengaja aku pergi ke sebuah taman dan merenung cukup lama di sana. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi saja, baik dari Freza maupun Ardi. Aku hanya ingin menikmati hidupku, dan membesarkan anakku sendirian. Ketika di rumah aku tidak bertemu dengan Freza. Mungkin pria itu sudah tertidur, tadinya aku ingin mengobrol dengan dia sebentar. Ada sesuatu hal yang harus aku tanyakan padanya. Namun, aku mengurungkan niatku, sepertinya aku pergi pun Freza tidak akan peduli. Saat melewati ruang kerja Freza aku mendengar percakapan dari dalam sana. Langkahku terhenti dan bersembunyi di balik pintu, aku begitu penasaran karena ternyata Freza masih belum tidur. "Tuan, saya sudah datang ke tempat yang Anda perintahkan, tetapi tidak ada hal yang bisa saya dapatkan." "Kemana lagi aku harus mencarinya! Dia mungkin sekarang tengah mengandung anakku." "Aku tidak mau tahu, kau harus mendapatkan informasi tentang wanita malam itu, karena dia sangat berharga, yan

  • Priaku di Kursi Roda   Terungkapnya Masa Lalu

    "Apa yang kau katakan!?" Segera kulepas genggaman tangannya.Aku tidak mengerti dengan Ardi yang tiba-tiba mengatakan seperti itu.Ardi menarik nafas panjang, dia menatapku dengan tatapan yang serius."Dengarkan aku dulu Fiona.""Aku benar mencintaimu, aku bahkan siap dengan masalalumu. Aku akan membesarkan anak yang tengah kau kandung dan mengatakan pada dunia jika dia adalah anakku.""Ardi cukup! Kau sudah gila apa!? Kita baru bertemu beberapa kali, aku mengikuti keinginanmu bukan berarti aku akan selalu setuju dengan apa yang kau katakan!""Aku memang sudah gila, apa kau lupa Fiona? Di restaurant ini adalah pertemuan pertama kita?" Ardi bertanya membuat dahiku mengernyit.Kutatap sekitar, perasaan familiar ini datang. Tiba-tiba aku teringat dengan masa laluku.Saat itu merupakan

  • Priaku di Kursi Roda   Pengakuan

    Tatapanku menatap kosong ke depan. Pikiranku melayang kemana-mana, hari-hari yang begitu indah kini sudah terganti dengan hari kelam.Satu jam yang lalu Ardi mengantarkanku pulang. Kupikir aku akan diusir dari rumah, tetapi yang mengejutkan Freza menungguku.Dan seperti biasa dia memarahiku, tetapi diriku sudah kebal dengan amarahnya. Jadi aku sekarang bisa menganggapnya angin lalu.Ucapan Ardi waktu itu benar-benar membuatku membuka mataku dengan lebar."Dunia sangat kejam jika kita tidak menikmatinya. Ayolah, tidak semua ucapan orang harus kita dengar, karena untuk mereka kita adalah tokoh sampingan, pun sama dengan kita."Aku tersenyum ketika mengingat Ardi mengatakannya dengan penuh percaya diri. Sulit untuk kupercaya, melihat dirinya sudah memiliki banyak skandal. Dan mungkin aku akan menjadi salah satu bagian dari skandalnya itu.&

  • Priaku di Kursi Roda   Balas Dendam Terbaik

    Freza menatapku dengan tersenyum picik, dia berdiri kemudian mendorong kursi rodanya mendekat padaku. "Apa maksud lo, hah?" Kulempar koran tadi tepat mengenai wajahnya. Aku benar-benar muak, memangnya tidak cukup jika aku hanya digunjing oleh orang-orang di sekitar kita? Kenapa harus melibatkan media juga? "Emang kenyataannya kan? Kalau lo selingkuh dari gue! Kenapa lo harus marah?" Aku terdiam, benar-benar Freza sudah melampaui batasnya. Namun, aku tidak bisa melakukan apa-apa karena aku tidak memiliki apapun. Lebih baik aku memilih pergi, enggan untuk berdebat dengan Freza. Akan tetapi Freza segera menarik tanganku, hingga aku menatap ke belakang."Lepas!" Kulempar tangan Freza yang mengenggam tanganku erat. "Bener ya kalau tampang baik gak selamanya baik. Kayak lo, yang sering main di belakang gue!" tutur Freza dengan rahang yang menegas. Aku tersenyum mendengarnya, "Gue gak peduli sama yang lo pikirin. Dan satu hal lagi, lo gak perlu nyewa anak buah buat gertak gue. Gak ada

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status