LOGINAku semakin terkejut mendengarnya. Freza berkata manis dan romantis? Setan apa yang telah merasukinya?
Freza menatapku sambil tersenyum. Sial! Mengapa dia terlihat sangat tampan sekarang!? Aku hampir jatuh dalam pesonanya.
Kedua pipiku merona merah, membuatku memalingkan wajah ke arah lain enggan menatap Freza. Hingga saat kurasakan sebuah tangan meraih tanganku, mataku menatapnya.
Freza tersenyum kembali dan segera menarik tanganku. Aku terjatuh dalam pangkuannya, wajah kami begitu dekat.
Aku tertegun cukup lama, kupandangi wajah tampan Freza membuat pria itu berbicara. "Gue tahu gue tampan tapi gak usah ditatap gitu juga."
Freza sialan! Dia berkali-kali membuatku malu, dan sekarang aku terduduk diam di pangkuannya.
"Kok diem?" tanya Freza. "Enak ya duduk diem di pangkuan orang ganteng?" imbuhnya kemudian membuatku meringis. Fiks, Freza minta dihajar.
Aku berniat untuk bangkit dan pergi, tetapi dengan segera Freza memeluk pinggang ku. Menahan agar aku tak pergi dan tetap diam.
"Lepas!" Bukan diriku namanya jika tidak keras kepala. Aku sudah terlalu malu karena Freza yang mengejekku daritadi. Untuk kali ini saja, biarkan aku membantah ucapannya.
Aku tak bisa membiarkannya terlalu jauh. Diri ini terlalu takut jatuh dan terbuai, dalam kelembutan Freza.
"Jangan pergi, ayo ikut! Kita kan mau bulan madu," ajak Freza lagi-lagi membuatku tersipu malu.
Tidak tahu jika Freza ternyata bisa romantis juga, dari pertama menikah belum pernah Freza berkata seperti ini padaku.
Batinku terus mengutuk Freza. Pria menyebalkan itu kini telah berubah menjadi pria romantis. Dan aku tidak menginginkannya!
Freza membawaku ke sebuah kamar yang terletak di lantai paling atas. Terbukti kami yang cukup lama menunggu di lift.
Kedua mataku berbinar takjub, kamar ini begitu luas dan megah. Satu tempat tidur diletakkan di tengah kamar.
Sebuah figura yang seukuran dengan tinggi badanku membuat kaget saja. Pasalnya figura itu menampakkan jelas foto pernikahan kami. Sejak kapan foto itu di sini? Ukurannya begitu besar, aku sempat tak percaya dengan penglihatanku.
Sulit dipercaya jika Freza benar-benar merencanakan hal ini. Ada apa dengan pria itu? Bertingkah sangat berbeda dari biasanya. Membuat orang lain kebingungan saja.
Apakah Freza tengah mempermainkanku? Ntahlah. Aku masih merasa Freza tak benar-benar serius. Walaupun bukti nyata sudah kulihat, aku tak bisa mempercayainya 100%.
"Enak banget ya duduk di pangkuan gue? Ya sebenernya boleh aja sih tapi kaki gue ntar pegel," Kulayangkan tatapan tajam untuk Freza. Lihatlah si pelaku hanya tertawa.
Segera aku bangkit kemudian berjalan menjauh, dia masih mempertahankan tawanya membuatku kesal saja. Aku pergi dari tempatku berdiri, meninggalkan Freza yang lantas berbincang dengan asistennya.
Kakiku melangkah menuju balkon, tepat saat pintu kaca ini dibuka, tiupan angin membelai lembut wajah serta tubuhku.
Kedua mataku membulat sempurna, pemandangan di depan mata sangatlah indah. Tak heran mengapa villa ini begitu terkenal, banyak sekali orang yang beramai-ramai datang dan menginap di sini.
Pepohonan yang rimbun dan hijau, serta langit biru yang membentang luas. Pemandangan ini benar-benar menyejukkan mata, semua beban di pundak seketika menghilang kala melihatnya.
Entah sudah berapa kali aku menghembuskan napas lega. Rasa-rasanya aku ingin tinggal di sini lebih lama. Menghabiskan waktu hanya untuk mengagumi ciptaan-Nya.
Lamunanku buyar ketika aku mendengar suara Freza di belakang. Dengan malas aku berbalik dan menatap datar pria di depanku.
"Lo seneng gak sama tempat ini?" Bukannya menjawab aku memilih diam. Iya, aku lebih memilih menelaah wajah Freza. Pikiranku melayang, masih menjadi misteri mengapa sikap Freza berubah drastis.
"Gue tahu gue ganteng. Lo jangan natep gue kek gitu juga kali, " sungut Freza tak suka aku menatapnya.
Aku berdecak kesal mendengarnya, Freza memiliki kepercayaan diri yang begitu tinggi. Bagus sih, tetapi ya gak terlalu tinggi juga. Kan aneh orang muji dirinya sendiri.
"Ya iyalah ganteng, lo kan cowok. Kali gue panggil cantik, waria dong!" Ucapanku berhasil membuat Freza terbungkam diam.
Aku berhasil membalaskan dendam., siapa suruh mengangguk kan kena batunya! Aku terkekeh geli melihat Freza yang melipat wajahnya tak terima.
Freza mendorong kursi rodanya mendekatiku, dia memilih bersanding denganku di samping kiri tubuhku. Terdiam cukup lama sebelum berkata, "Jadi ya kita bulan madu,"
Aku terke siap, "Lo yakin? Serius deh gue gak paham sama kode lo, Za. Sebenernya lo mau ngomong apa sih?" Jujur saja aku tak mengerti dengan sikap Freza. Lebih tepatnya, aku berusaha menyangkal jika Freza sudah berubah.
Diri ini masih tidak percaya dengan semua tingkah laku Freza. Si pelaku hanya tertawa renyah sebelum sorot matanya menatapku lembut. Fiks, Freza ingin membuatku gila.
"Iya gue serius lah. Malam ini kita bakal berbulan madu, lo jangan kaget kayak gitu, emang aneh apa pengantin baru berbulan madu, hm? Reaksi lo seakan gue pria hidung belang," tutur Freza membuatku menganga.
Sungguh di luar dugaan Freza mengatakan hal ini. Rasanya seperti mimpi, pria yang menolakku mentah-mentah saat malam pertama, kini mengajakku berbulan madu romantis?
Kupijat pelipis kepalaku lembut, rasanya sangat pusing karena memikirkan Freza. "Iya tapi kenapa? Maksud gue kenapa tiba-tiba kek gini? Kalau gue nggak amnesia, lo tuh nolak nyentuh gue dulu, tahu? Kok sekarang ngajak?"
Kugaruk tengkukku yang tidak gatal, aku merasa ambigu menanyakan hal ini pada Freza. Diri ini masih belum terbiasa dengan perubahan sikap Freza.
Freza bersecak kesal, sepertinya dia kewalahan dengan kebodohanku. Ya itu konsekuensinya, karena bermain teka-teki denganku. "Kalau gue bilang gue suka lo, percaya kagak?"
Bagai disambar petir di siang hari, aku terdiam. Setelahnya tawahku pecah, pernyataan Freza sangatlah gila. Dia mengatakan hal yang tidak masuk akal, jangan sampai aku gila dibuatnya.
Kugelengkan kepala menolak, "Gak! Lo bohong kan, Za? Hahh iya lo bohong, sumpah gak lucu, tahu gak!"
Freza menggelengkan kepala tak mau kalah, dia menggeser posisi tubuhnya agar bisa berhadapan denganku. Tangannya yang kekar meraih tanganku, kemudian menggenggamnya lembut.
Tatapan Freza kian melembutkan, dia tersenyum menatapku. "Kalau gue bohong, gak mungkin gue ajak lo ke sini, Na. Gak mungkin juga gue siapin semuanya kalau gak serius," ucap Freza.
Aku terdiam cukup lama sebelum kesadaranku kembali. Dengan segera kulepas tangan Freza yang menggenggam tanganku. Kuputuskan untuk pergi dari sana, meninggalkan Freza-pria sejuta misteri.
Ya, aku tak mau terbuai akan kelembutan dan sikap romantisnya. Sejak malam itu aku sudah berjanji pada diriku sendiri, untuk tidak jatuh dalam sebuah perasaan.
Aku tidak mau jika kesalahan yang sama harus terulang kembali. Tak ada sesiapun yang dapat kupercaya selain diri sendiri.
Aku memilih untuk pergi ke taman, merenung atau sekedar melamun. Saat Freza mengatakan hal tadi, jujur aku nyaris mempercayainya. Jika saja ingatan kelam itu tidak muncul, aku akan mempercayai ucapan Freza.
Kupijat dengan lembut, hatiku berdebar tidak karuan. Ucapan Freza benar-benar membuatku gila, terus berputar dalam kepalaku. Ingatan di malam itu pun muncul, membuat tanganku bergemetar ketakutan karenanya.
Aku sangat takut sekarang, bagaimana aku mengatakan pada Freza jika diriku sudah tak suci lagi. Reaksi seperti apa yang akan diberikannya nanti? Apakah Freza akan membenciku? Atau apakah dia akan menceraikan ku?
Freza menatapku dengan tajam, beberapa orang berdiri di belakangnya membuat semua warga di sini memperhatikan mereka. "Siapa dia?" Putra bertanya padaku, wajahnya begitu serius. Aku bingung harus menjawabnya seperti apa, kuputuskan untuk menghampiri Freza dan menghiraukan pertanyaan Putra. "Ngapain lo di sini?" Aku bertanya berbisik pada Freza yang menarikku pada pangkuannya. "Gini ya kelakuan lo, malah kabur. Lo pikir lo bisa kabur dari gue gitu aja?" Aku muak mendengar ocehan Freza, gigiku menggertak. Segera kutarik badanku dan langsung berdiri. Rasanya aku ingin menampar Freza. "Surat perceraian kita udah gue simpen di meja kerja lo, jadi bukan urusan lo lagi gue harus kemana." Aku bergegas pergi, tetapi Freza kembali menarik lenganku. "Lo ga bisa kabur dari gue!" Aku tersenyum sinis menatap Freza yang terlalu yakin dengan ucapannya. "Satu hal yang lo lupa, Za. Ini bukan tempat lo dan gak ada kuasa lo yang bisa dilakuin di sini." Freza terdiam sesaat, seperti mencerna ka
Aku terbangun dari tidurku, dan kutatap sekeliling. Nafasku tidak karuan, mimpi ini benar-benar gila. Bagaimana mungkin aku bermimpi jika Freza menangis untukku dan Ardi yang bunuh diri. "Tenanglah Fiona, ini hanya mimpi." Mataku menatap sekitar yang sudah gelap, segera aku menyalakan lilin dan lampu minyak. Kehidupan di sini jauh dari teknologi, bahkan untuk pencahayaan pun mereka masih memakai manual tanpa listrik. Aku keluar dari rumah dan menatap lurus ke depan. Kuputuskan untuk menuju sisi pantai dan ketika menemukan sebuah batu besar, lantas aku duduk di sana. Suara ombak yang menabrak batu karang, diiringi dengan angin malam yang sejuk benar-benar membuatku menjadi segar. Rasanya sudah lama aku tidak mendengar suara ini, karena seringnya aku mendengar sebuah kendaraan. Kuusap perutku yang masih rata. "Nak, apa kau senang berada di sini?" tanyaku sambil melihat perutku sendiri. "Fiona?" Kepalaku menoleh ke kanan dan menemukan seorang pria seumuran denganku menatapku de
Tengah malam aku baru sampai di rumah, sengaja aku pergi ke sebuah taman dan merenung cukup lama di sana. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi saja, baik dari Freza maupun Ardi. Aku hanya ingin menikmati hidupku, dan membesarkan anakku sendirian. Ketika di rumah aku tidak bertemu dengan Freza. Mungkin pria itu sudah tertidur, tadinya aku ingin mengobrol dengan dia sebentar. Ada sesuatu hal yang harus aku tanyakan padanya. Namun, aku mengurungkan niatku, sepertinya aku pergi pun Freza tidak akan peduli. Saat melewati ruang kerja Freza aku mendengar percakapan dari dalam sana. Langkahku terhenti dan bersembunyi di balik pintu, aku begitu penasaran karena ternyata Freza masih belum tidur. "Tuan, saya sudah datang ke tempat yang Anda perintahkan, tetapi tidak ada hal yang bisa saya dapatkan." "Kemana lagi aku harus mencarinya! Dia mungkin sekarang tengah mengandung anakku." "Aku tidak mau tahu, kau harus mendapatkan informasi tentang wanita malam itu, karena dia sangat berharga, yan
"Apa yang kau katakan!?" Segera kulepas genggaman tangannya.Aku tidak mengerti dengan Ardi yang tiba-tiba mengatakan seperti itu.Ardi menarik nafas panjang, dia menatapku dengan tatapan yang serius."Dengarkan aku dulu Fiona.""Aku benar mencintaimu, aku bahkan siap dengan masalalumu. Aku akan membesarkan anak yang tengah kau kandung dan mengatakan pada dunia jika dia adalah anakku.""Ardi cukup! Kau sudah gila apa!? Kita baru bertemu beberapa kali, aku mengikuti keinginanmu bukan berarti aku akan selalu setuju dengan apa yang kau katakan!""Aku memang sudah gila, apa kau lupa Fiona? Di restaurant ini adalah pertemuan pertama kita?" Ardi bertanya membuat dahiku mengernyit.Kutatap sekitar, perasaan familiar ini datang. Tiba-tiba aku teringat dengan masa laluku.Saat itu merupakan
Tatapanku menatap kosong ke depan. Pikiranku melayang kemana-mana, hari-hari yang begitu indah kini sudah terganti dengan hari kelam.Satu jam yang lalu Ardi mengantarkanku pulang. Kupikir aku akan diusir dari rumah, tetapi yang mengejutkan Freza menungguku.Dan seperti biasa dia memarahiku, tetapi diriku sudah kebal dengan amarahnya. Jadi aku sekarang bisa menganggapnya angin lalu.Ucapan Ardi waktu itu benar-benar membuatku membuka mataku dengan lebar."Dunia sangat kejam jika kita tidak menikmatinya. Ayolah, tidak semua ucapan orang harus kita dengar, karena untuk mereka kita adalah tokoh sampingan, pun sama dengan kita."Aku tersenyum ketika mengingat Ardi mengatakannya dengan penuh percaya diri. Sulit untuk kupercaya, melihat dirinya sudah memiliki banyak skandal. Dan mungkin aku akan menjadi salah satu bagian dari skandalnya itu.&
Freza menatapku dengan tersenyum picik, dia berdiri kemudian mendorong kursi rodanya mendekat padaku. "Apa maksud lo, hah?" Kulempar koran tadi tepat mengenai wajahnya. Aku benar-benar muak, memangnya tidak cukup jika aku hanya digunjing oleh orang-orang di sekitar kita? Kenapa harus melibatkan media juga? "Emang kenyataannya kan? Kalau lo selingkuh dari gue! Kenapa lo harus marah?" Aku terdiam, benar-benar Freza sudah melampaui batasnya. Namun, aku tidak bisa melakukan apa-apa karena aku tidak memiliki apapun. Lebih baik aku memilih pergi, enggan untuk berdebat dengan Freza. Akan tetapi Freza segera menarik tanganku, hingga aku menatap ke belakang."Lepas!" Kulempar tangan Freza yang mengenggam tanganku erat. "Bener ya kalau tampang baik gak selamanya baik. Kayak lo, yang sering main di belakang gue!" tutur Freza dengan rahang yang menegas. Aku tersenyum mendengarnya, "Gue gak peduli sama yang lo pikirin. Dan satu hal lagi, lo gak perlu nyewa anak buah buat gertak gue. Gak ada







