LOGINKang Yura tiba-tiba masuk ke dalam dunia novel setiap malam dan menjelma menjadi seorang Putri yang dicintai oleh dua orang pria sekaligus. Yura menemukan sebuah novel ajaib di Toko Buku Yeokhwa berjudul ''Seperti Yang Kau Inginkan". Kehidupannya yang serba biasa, bahkan seakan penuh kegagalan, mulai berubah semenjak ia membuka halaman pertamanya. Novel itu membawanya ke dunia yang lain, kembali ke zaman Kerajaan Silla pada masa Korea Kuno. Ia menjelma menjadi seorang Putri bernama Yoohye dan memiliki kisah cinta yang terjalin indah dengan seorang Jenderal Muda bernama Kim Wonjin. Kisahnya dalam dunia imaji ini benar-benar mempengaruhi kehidupannya sampai akhirnya ia pun menemukan bahwa tokoh-tokoh lain dalam novel tersebut juga berasal dari dunia nyata! Pertemuan para tokoh novel dalam dunia nyata ini mengubah hidup masing-masing dari mereka. Namun kehadiran seorang rakyat biasa bernama Jiseok yang tiba-tiba muncul dalam novel membuat hatinya terpaksa mengkhianati cintanya pada Sang Jenderal. Tanpa diketahuinya, Jiseok merupakan seorang Pangeran dari Kerajaan Baekje yang berada dalam sebuah pelarian. Kisah cinta terlarang mereka terjalin sangat indah namun harus melalui banyak luka dan derita karena mereka berdua berasal dari dua kerajaan berbeda yang saling berseteru. Ternyata tak hanya mereka yang menderita karena cinta. Kisah cinta segitiga ini pun membawa banyak hati yang terluka melintasi dua dunia... Akankah Yura juga bertemu dengan Pangeran yang ia cintai di dunia nyata ataukah tokoh itu murni hanya ciptaan Sang Penulis? "Prince from Another World" akan membawamu memasuki dunia yang lain dan terhanyut di dalamnya.
View More"Om, sakit ...."
Namira Rashid, gadis yatim piatu yang bersedia menikah dengan papa sahabatnya, Daniel Bragastara 45 tahun. "Lubang cincinnya sangat kecil. Tahan!" Daniel berusaha melepaskan cincin pada jari istrinya. "Om, pelan-pelan ...." Namira meringis kesakitan. "Ini udah pelan-pelan. Tahan sebentar!" "Aduh, Om. Sakit banget. Lagian cincinnya aneh, bisa masuk kok susah keluar?" Daniel menghentikan gerakan memutar, ia menatap iba gadis yang baru dinikahinya tiga jam lalu. "Pake sabun ya biar licin." "Hah? Pake sabun? Emang kalau pake sabun cincinnya keluar?" Namira terkejut, kedua bola matanya membulat. "Insya Allah keluar. Ayok, ikut ke toilet." Bibir Namira cemberut, menahan rasa sakit dan perih pada jari manisnya. Semua ini gara-gara Bianca, sahabat sekaligus anak sambungnya. Ia membelikan cincin untuk Namira kekecilan. "Mana jarimu? Sini biar Om sabunin!" Namira pasrah, membiarkan suami yang usianya jauh lebih tua mengeluarkan cincin dari jari manisnya. "Nah, bisa kan? Alhamdulillah ...." Bibir Daniel mengembangkan senyum, bernapas lega. "Lagian si Bian kenapa beliin cincinnya kekecilan sih? Dia kan tau ukuran jariku," gerutu Namira sambil mengusap jari manisnya. Daniel mengulum senyum, membasuh lembut jari mungil istri kecilnya. Daniel Bragastara sudah lama menduda, hampir delapan tahun ia tak menikah lagi sejak bercerai dengan istrinya. "Besok kita beli lagi cincinnya. Sekarang kamu istirahat." "Om, mau kemana?" "Mau ke ruang kerja." "Dih, kok malah ke ruang kerja. Emang ... hm ... Om gak mau malam pertama gitu?" tanya Namira tersipu malu. Sebenarnya Namira sudah lama mengenal keluarga Bianca. Dirinya dan Bianca bersahabat sejak masuk sekolah SMP. Papanya dan Daniel merupakan sahabat atau partner bisnis. Namira juga sering menginap di rumah Daniel. Tepatnya ketika kedua orang tua Namira meninggal dunia. Rashid dan istrinya meninggal dunia karena mengalami kecelakaan tujuh tahun lalu. "Memangnya kamu mau malam pertama? Emang kamu udah siap hamil?" tanya Daniel menahan tawa melihat ekspresi Namira yang malu-malu. "Hm ... enggak apa-apalah aku hamil. Kan udah punya suami. Om, mau tanggung jawab kan kalau aku hamil?" Kedua mata Namira mengerjap. "Tentu saja. Sekarang Om udah jadi suamimu. Kamu udah jadi istriku. Emang kamu gak mau kuliah?" "Enggak mau, ah. Males aku. Lebih baik jadi ibu rumah tangga. Ngurus Om, ngurus anak-anak kita nanti," jawab Namira tersenyum manis. Daniel tertawa sumbang, menggelengkan kepala. Lalu, mengecup puncak kepala Namira. Apakah pernikahan ini terpaksa? Tentu saja tidak. Namira yang telah lama kehilangan sosok ayah, menemukan itu dalam diri Daniel. Ternyata perasaan nyaman dan kasih sayang yang diberikan Daniel padanya membuat Namira jatuh hati. Maka ia tak sungkan-sungkan mengungkapkan perasaan cintanya pada Daniel. Perasaan cinta Namira pun didukung oleh sahabatnya, Bianca. Sang anak sambung. "Dari pada Papah menikah dengan tante Mutiara atau balikan lagi sama mamah, lebih baik sama Namira. Lebih cantik, lebih muda, masih perawan lagi. Dibandingkan tante Muti dan mamah, beuh jauh. Dan yang lebih penting lagi, Namira bisa melahirkan anak. Kalau tante Mutiara, paling juga udah menopause. Papah mau kan punya anak lagi?" Bianca sangat antusias membujuk Daniel agar bersedia menikah dengan sahabatnya. Paling tidak, kalau Daniel menikah dengan Namira, mereka akan punya anak dan tidak terlalu mengekang Bianca yang ingin kuliah di luar kota. Bianca yang sebelumnya mengetahui ada perempuan yang berusia 40 tahunan mendekati Daniel, langsung menyuruh Namira menikah dengan papanya. Saran itu diiyakan oleh Namira. Hanya saja, Daniel tidak langsung setuju. Ia merasa kalau Namira lebih pantas menjadi anaknya ketimbang istrinya. Perlahan tapi pasti, kebaikan dan ketulusan Namira dapat meluluhkan hati Daniel. Barulah ia memutusakan menikahi gadis berusia 19 tahun itu. "Enggak boleh gitu. Pendidikan tetap penting untukmu. Kamu harus tetap melanjutkan kuliah!" timpal Daniel menjawil hidung mancung Namira. Daniel keluar kamar, berjalan menuju ruang kerja. Sementara Namira cemberut, mengitari sekeliling dan melihat jari manisnya yang lecet akibat cincin yang dibelikan Bianca kekecilan. Namira beranjak, keluar kamar sambil membawa cincin tersebut untuk ditunjukkan pada Bianca. "Bi, buka pintunya! Bian!" Namira mengetuk pintu kamar anak sambungnya. Tak berselang lama, wajah cantik Bianca menyembul. "Na, ngapain kamu ke sini? Sana balik lagi ke kamar. Pokoknya kamu harus segera hamil, oke?" Namira mendecih, menghentakkan sebelah kaki. Lalu, mendorong tubuh Bianca agar mempersilakan dirinya masuk ke dalam kamar. "Dih nih anak. Eh, malam pertama malah di sini," tegur Bianca duduk di samping ibu sambungnya. "Nih, cincin yang kamu beliin. Kekecilan tau!" "Hah?" Bianca melihat cincin pernikahan sahabatnya dengan papanya. "Masa kekecilan? Tadi waktu akad masuk kan?" "Bisa masuk, gak bisa keluar. Jariku jadi lecet nih!" Bibir Namira cemberut. Bianca menghela napas berat. "Besok bisa beli lagi. Sekarang keluar kamar, temuin papah." "Temuin di mana? Papahmu lagi di ruang kerja. Dia gak mau malam pertama sama aku." "Apa? Serius?" "Serius. Apa aku gak menarik, Bi?" tanya Namira berdiri, memutar badannya lalu berdiri di depan cermin meja rias. "Kayaknya iya sih." Jawaban disampaikan Bianca membuat mulut Namira menganga. "Terus, aku gimana dong?" "Ya udah sabar. Masih ada besok." "Kalau besok bukan malam pertama, malam kedua, Bi." "Ya elah, mau malam pertama atau malam kesepuluh gak apa-apa kali. Yang penting kan papahku menanam benih di rahim kamu." Namira tercenung, melihat dirinya sendiri. Ia tidak mau kalau melakukan itu besok malam. Maunya malam sekarang. "Ya udah deh, aku balik kamar dulu." "Oke, Mamih!" "Idih! Berasa aku tua banget!" "Ya emang kamu Mamih aku 'kan? Mamih Namira." Bianca tertawa melihat ekspresi wajah sahabatnya. Namira tak menanggapi ia tetap keluar kamar, berjalan ke ruang kerja Daniel. Mengetuk pintu, lalu terdengar suara Daniel yang menyuruhnya masuk. "Namira? Ada apa?" tanya Daniel membuka kaca mata tebalnya. Gadis itu masih berdiri di depan pintu. Bingung, harus memulai dari mana. Ia ingin segera melakukan hubungan suami istri tapi, malu dan ragu. Namira berdehem, berjalan sembari tersenyum. Daniel meski kaya raya dan berlimpah harta tidak ingin melakukan itu bersama wanita panggilan, menjaga diri dari penyakit dan dosa tentunya. "Namira, ada apa?" Namira mengalungkan kedua tangan di leher suaminya. "Na-Namira ... a-apa maumu?" Namira tersenyum, mendengar suara suaminya yang bergetar. "Apa aku tidak cantik?" "Ca-cantik." "Kalau gitu ---" Kalimat Namira terhenti saat handphone Daniel terdengar. "Ada yang telepon, aku angkat dulu!"Jenderal Wonjin dan Jenderal Philsung menunggangi kuda mereka menuju ke arah perkemahan militer yang terletak di dekat tembok gerbang Ibukota Seorabeol. Sesampainya di sana, mereka langsung masuk ke sebuah kemah terbesar di situ. Di dalamnya sudah ada para Jenderal, seorang Pungwolju (sebutan untuk pemimpin utama para Hwarang), serta beberapa Hwarang senior sedang berdiri mengelilingi berbaris dengan dipimpin oleh Jenderal Besar Yushin yang berdiri di depan. Jenderal Wonjin dan Jenderal Philsung segera bergabung bersama mereka."Pasukan Baekje menyerang perbatasan Barat. Jumlahnya sekitar 100 orang. Mereka menuju ke benteng Gajam tapi mata-mata kita di sana sudah mengetahuinya terlebih dahulu dan melaporkannya pada Wonsanghwa regional Barat," terang Jenderal Besar Yushin membuka pertemuan mereka siang itu. Wonsanghwa adalah sebutan untuk Hwarang senior, yang di bawahnya terdapat para Hwarang dan pasukan Hwarang yang disebut Nangdo."Berapakah jumlah pasukan kita di san
Malam itu, dengan keikhlasan hatinya Yura pun memutuskan untuk pasrah mengikuti apapun yang akan terjadi padanya. Ia akan mengikuti ke mana alur membawanya di dunia novel sesuai dengan takdir yang ditentukan oleh sang Penulis. Ia tidak ingin berpikir terlalu keras karena kehidupannya sendiri sudah sangatlah berat. Mulai malam itu, ia berniat melakukan "pelarian" dari dunia nyata dan mulai menikmatinya setiap malamnya.Setelah mandi dan berganti pakaian, ia beranjak ke atas tempat tidurnya dengan novel ajaib itu ada di tangannya. Ia pun memandangi sampul novel itu dalam posisinya yang sedang berbaring. Dirabanya gambar mahkota di sampul novel itu, memikirkan seandainya semua yang ia miliki di dalam dunia novel juga bisa ia miliki di dunia nyata.Ia meletakkan novel itu di atas bantal sebelah kepalanya. Badannya dimiringkan ke arah kanan, di mana novel tersebut diletakkan, lalu ia pun perlahan-lahan menutup matanya. Tak butuh waktu lama, ia pun tertidur...Jam 12.
Sore itu, Yura pulang berjalan kaki sendirian. Youngjo dan Sua tidak mampir ke tempatnya bekerja karena hari itu Sua libur, jadi Youngjo langsung menuju rumah Sua sepulang ia bekerja. Yura berjalan menyusuri trotoar yang cukup ramai, tapi pikirannya tidak berada di sana. Ia masih saja memikirkan lelaki tua tadi. Menurutnya hal yang dialaminya hari itu benar-benar aneh.Mungkinkah itu hanya kebetulan? Ah... sudahlah. Aku bisa benar-benar gila memikirkan banyak hal sekaligus, batinnya.Saat ia mengembalikan fokusnya ke jalanan, saat itu pulalah ia berpapasan dengan seorang lelaki muda berbadan tinggi dan tegap. Ia hanya sekilas saja melihat wajah lelaki itu dan terus melanjutkan langkahnya. Tapi tiba-tiba ia berhenti melangkah dan sejenak berpikir. Sepintas wajah lelaki yang baru saja berpapasan dengannya itu terasa tak asing, apa ia mengenalnya? Ia memang tak melihat wajah lelaki tadi dengan jelas, tapi entah mengapa ia merasa seperti mengenalnya. Ia pun berbalik badan
Yura masuk ke dalam rumahnya kemudian langsung naik ke kamarnya di lantai atas. Ibu dan adiknya pastinya sudah tidur karena waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 pagi. Ia pun sampai di depan pintu kamarnya. Saat hendak membuka pintunya, ia tiba-tiba merasa ragu-ragu. Ia masih merasa takut melihat novel itu lagi. Ia pun mempersiapkan dirinya sebelum akhirnya benar-benar memegang gagang pintu dan membuka pintu kamarnya. Dilihatnya novel ajaib itu masih berada di atas meja dalam posisi terbuka. Yura memang sudah tidak terkejut lagi dengan pemandangan itu. Namun ia masih merasakan ketakutan dalam dirinya. Ia tidak menyangka malam ini ia mengalami kejadian aneh itu lagi, kembali ke dunia novel, bahkan ketika ia sedang berada jauh dari novel itu sekalipun. Ia berjalan menghampiri novel tersebut dengan perlahan. Perlahan pula diraihnya novel tersebut dan diangkatnya, kemudian dibacanya bab terbaru yang tertulis di sana. Kali ini ia tidak seterkejut kemarin karena sudah
Youngjo dan Sua terkejut melihat Yura tiba-tiba tertidur di meja di hadapan mereka. Mereka pun berinisiatif untuk memeriksa keadaan Yura. "Yura? Yura?" panggil Youngjo pada Yura sambil menggoyangkan bahu Yura. Yura masih saja "tertidur". "Kenapa dia tiba-tiba tertidur seperti itu? A
(Dunia Nyata) Yura terbangun dari ketidaksadarannya. Ia perlahan-lahan mengumpulkan kesadarannya kembali dan melihat ke arah jam dinding. Jam 12.30 malam. Kemudian ia mulai tersadar secara penuh dan teringat akan novel ajaib tadi. Ia pun langsung turun dari tempat tidurnya dan berjalan ke
Putri Yoohye melihat Jenderal Besar Yushin dan Raja Muyeol sedang berjalan sambil bercaka-cakap, didampingi oleh beberapa Jenderal senior lainnya di belakang mereka. Saat itu Putri Yoohye sedang berada di taman sendirian, melihat ikan-ikan yang berenang kesana-kemari di dalam kolam. Tiba-t
Yura hari itu pulang sedikit lebih awal dari biasanya. Seperti pesan ibunya, ia harus membereskan semua pekerjaan rumah sebelum ibunya pulang dari rumah Bibi Su. Ia segera mengganti pakaiannya lalu membereskan dapur, mencuci piring-piring kotor, serta membersihkan sisa makanan adiknya. Adiknya ya












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews