LOGINPernikahan yang terlihat sempurna ternyata menyimpan lubang yang begitu besar. Apa kurangnya dengan pernikahan Halwa? Ia memiliki suami yang baik, bertanggung jawab dan sudah dikarunia anak laki-laki yang cerdas. Ekonomi? Lebih dari cukup untuk kehidupan tiga orang, suami dan istri bekerja, ekonomi tidak pernah kurang. Jika dilihat dari kaca orang lain pernikahan mereka adalah mimpi bagi sebagian wanita, pernikahan yang terlihat sempurna tanpa cacat. Namun, ternyata ada hal yang tidak bisa di dapat, yaitu: 'Cinta' Pernikahan Halwa dan Rian, meski sudah di habiskan dalam waktu 8 tahun dengan buah hati mereka tidak bisa menutupi lubang cinta dari hati laki-laki itu. Cinta dalam hatinya tetap kosong, meski ia mengakui istrinya begitu baik dengan buah hati mereka yang cerdas. Kebaikan Halwa selama 8 tahun ini tidak bisa menggeser posisi Riana_wanita pertama yang dicintai suaminya. Pernikahan yang dia anggap baik-baik saja, ternyata menyimpan lubang yang besar. Sedangkan Riana setelah 8 tahun menghilang akhirnya kembali. Membalas pesan e-mail yang selalu dikirimkan Rian selama ini. Apa yang akan terjadi dengan pernikahan tanpa cinta ini? Ikuti kisahnya ya ....
View More"Sudah bersih aja nih pengantin baru," goda Ibu saat aku menghampirinya di dapur.Aku hanya tersenyum kecut alias asem. Malam pertama yang gagal maning itu membuatku sedikit kurang mood."Ibu, pagi-pagi udah sibuk di dapur, nggak lelah?" tanyaku, sembari mengambil apel dan memotongnya dadu."Sudah biasa ibu menyiapkan makan sendiri, Hal," jawabnya sembari menyodorkan hasil masakannya pagi ini.Aku melihat banyak makanan yang sudah ibu siapkan, menunya persis sama seperti yang sering dimasak Radit. Buah kelapa jatuh tidak jauh dari pohonnya, keahlian memasak Radit sudah pasti di turunkan dari Ibu."Pagi semua?" sapa Radit bersama anak laki-lakinya.Aku dan ibu saling melirik dan menyipitkan mata. Lihatlah mereka, dari mulai gaya rambut sampai gaya pakaian hampir sama, udah kaya kembar beda usia."Berdoa nggak keramasnya?" tanya ibu tiba-tiba.Aku yang masih memotong buah-buahan hampir saja terpeleset pisau. Lalu, berbalik ke arah ibu.Ibu berdiri di depan Radit sekarang, saat kuperhat
Brugh! Aku menoleh, Bian menjatuhkan tubuhnya di atas kasur, tangan dan kakinya terlentang berusaha memenuhi ranjang."Bian mau bobo di sini," ujarnya.Aku menyipitkan mata, entah apa maksudnya karena dari pertama pindah ke rumah ini, tidak pernah sekali pun Bian meminta tidur di kamar ini.Tanganku yang sedang mengganti popok Khawla segera berhenti, meminta suster untuk meneruskannya."Apakah Bian lelah?" tanyaku.Dia mengangguk. Ini sudah pukul 21.00 namun tamu yang datang ke pernikahan kami masih saja ada. Radit bahkan belum terlihat, ia masih sibuk melayani tamu."Kenapa Bian mau tidur di kamar Mamah?" tanyaku penasaran."Papah, pasti tidur di sini kan Mah? jadi Bian mau tidur sama Papah," jawabnya polos."Ouh ...." Aku mengangguk.Ikut duduk di samping ranjang dan menatap bola mata Bian yang memandangku tanpa berkedip."Jadi, bukan mau tidur sama Mamah ya?" tanyaku lagi.Wajahnya menggeleng cepat."Baiklah," ucapku, hendak beranjak.Brugh! Suara itu membuatku terkejut.Saat meno
Ayah menatap kami sesaat, lalu berjalan mendekat.Hatiku sudah tidak karuan, keringat dingin menjalar ke tangan. Radit memegang tanganku yang bergetar."Tenanglah," ucapnya pelan.Ayah berhenti di hadapanku sekarang, berdiri dan menatap. Aku dan Radit ikut berdiri untuk menghormatinya. Mata itu menatap lekat, mencoba menyelami perasaanku saat ini."Nak," sapanya.Hatiku bergemuruh, entah kapan sapaan itu terucap dari bibirnya. Bahkan ketika aku terpukul akan kepergian ibu, ayah tidak pernah menyapaku sehangat ini."Selama kamu ada, entah kapan aku pernah menjadi seorang ayah untukmu.Keterpaksaan ayah menikahi ibumu membuatku terpaksa harus menerimamu juga. Ayah tidak pernah berencana untuk memiliki anak dari ibumu karena pernikahan kami hanya untuk sementata. Namun takdir berkata lain, kamu tiba-tiba lahir dan membuatku terpaksa bertahan dengan pernikahan itu.Kebaikan dan ketulusan Dinda yang diturunkannya padamu, tidak membuatku lantas bisa menerima kalian, hingga aku benar-benar p
"Dit.""Heum."Radit yang sedang memegang ponsel berbalik melihatku, matanya seolah terpesona dan takjub. Aku berjalan anggun memakai gaun putih mendekatinya."Bagaimana?" tanyaku malu-malu. Pipi terasa panas, bisa kuperkirakan ia memerah saat ini. Aku segera menundukkan wajah saat tatapan Radit membuatnya semakin merona."Eits."Ponsel yang dipegang Radit hampir saja jatuh, ia tersenyum kecut dan segera mengantonginya.Tatapannya begitu beda, ia nampak seperti orang yang baru saja melihatku setelah begitu lama kami tidak bertemu, entah apa yang ada dalam pandangannya saat ini.Wajahku semakin tertunduk malu, kenapa dia memandangku seperti itu?Radit menghela napas bahagia hingga terdengar suara yang tidak bisa disembunyikannya.Ia berdiri kikuk menghampiri. Mengangkat wajahku lembut."Bagaimana kamu bisa secantik ini Halwa?" ucapnya dengan mata berkaca-kaca."Aku serasa menemukan Halwa 8 tahun yang lalu, saat jiwaku remuk karena mimpi menikahimu lenyap tergerus penyesalan.Tidak ada
"Selamat malam Bu Halwa."Seorang suster mendorong boks bayi masuk ke dalam ruangan. Mataku berbinar saat melihatnya, begitu pun Radit, Bian dan Bi Asih yang baru saja datang."Bagaimana keadaannya, Sus?" tanyaku."Sangat sehat Bu.""Alhamdulillah."Suster itu memangku bayiku dan menyimpannya di bawah le
"Apa yang harus saya lakukan, dok?"Lelaki itu kelimpungan untuk pergi, ia memutuskan kembali berlari menghampiri. Menanyakan apakah ia masih berguna saat ini."Berdoalah Pak. Hanya itu yang pasien butuhkan saat ini." Ucapan dokter terasa seperti sambaran kilat yang melesat menyabar hatinya.Kakinya ta
"Aw!" aku memekik. Menahan sakit di bagian perut bawah.Tubuhku semakin membungkuk menahannya."Apakah kamu kontraksi, Hal?" tanya Rini."Apa?"Wajah Radit langsung pucat pasi."Apakah Halwa mau melahirkan?" tanya Radit cepat."Sepertinya begitu, Dit.""Apa yang harus kulakukan? apa yang harus kulakukan?"
"Apakah ini mati lampu?" Aku menatap sekeliling, habis Magrib ketiduran dan terbangun karena ponsel terus berbunyi dari nomor yang tak dikenal.Perlahan aku merayap dengan bantuan senter dari ponsel. Sebenarnya bukan hanya karena gelap tapi perut yang sudah memasuki HPL membuatku semakin sulit untuk












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore