Home / Romansa / Protokol Senyap: Aletheia / Bab 3, Sebelum Semua Menghilang

Share

Bab 3, Sebelum Semua Menghilang

Author: qworamora
last update publish date: 2026-05-07 15:54:01

Hari telah berganti, waktu makan siang sudah tiba. Cahaya matahari musim gugur menembus jendela besar markas, memantulkan warna keemasan yang kontras dengan suasana ruangan yang terasa dingin dan penuh tekanan. Beberapa daun kering terlihat berjatuhan di luar sana, terbawa angin siang yang sejuk.

Namun, suasana tenang itu tidak berlaku di dalam ruangan.

Lena masih sibuk duduk di depan layar komputernya. "Semua barang yang di gedung sudah di pindah semua?" tanya Lena pada rekan-rekannya yang sudah sampai di markas tadi pagi.

"Sudah, Nona. Tidak ada barang yang tertinggal, seluruh tanda juga sudah disterilkan tidak akan ada jejak yang tertinggal!" ucap salah satu anggotanya.

"Kerja bagus, Dex. Untuk anggota yang luka? apakah sudah selesai diobati?"

"Sudah, hanya dua saja yang terkena tembakan. Tidak parah, di lengan dan kakinya," kali ini Jace yang menjawab.

"Tapi, ada lima anggota yang tertahan!" seru Lena frustrasi sambil menyugar rambutnya ke belakang. Helai rambut samarannya yang berwarna Smoky Silver Ash jatuh dengan rapi mengikuti gerak tangannya, kontras dengan ekspresi gelisah di wajahnya.

"Dex, apa kau sudah mencari tahu mereka di sana?" lanjut Lena.

"Sudah, tapi tidak ada pesan yang masuk sistem internal sama sekali," jawabnya sambil menundukkan kepala.

"Nyra, kau sudah meretas alat komunikasi mereka?" tanya Lena pada Nyra, wanita berambut coklat pendek yang sedang sibuk dengan layar komputernya.

"Tidak ada tanda-tanda apapun, aneh. Alat mereka masih menyala tapi tidak bisa terhubung," lanjutnya dengan memegang earpiece'nya.

"Sial, matikan semua alat itu Nyra!" lanjut Lena yang tahu apa yang musuh mereka rencanakan. "Kita bisa menghubungi mereka dengan cara lain," lanjutnya.

"Sepertinya kita perlu mengubah rencana, Nona. Kita harus merelakan rekan kita, itu sudah tiba diselamatkan..." lirih Dex.

"Benar… kita sudah siap menghadapi risikonya sejak awal. Membunuh atau dibunuh, itulah dunia yang kita pilih."

"Putuskan jaringan mereka, jangan sampai kita beri celah musuh meretas sistem yang kita buat!" putus Lena tegas.

"Baik, Nona!" ucap Dex dan Nyra serentak.

Jace yang baru kembali dari luar meletakkan beberapa makanan di atas meja kecil dekat sofa.

"Setidaknya makan dulu," ucapnya pelan.

Lena menatap makanan itu sekilas, "Kalian saja, aku masih kenyang."

"Kita sudah, hanya Nona yang belum," balas Nyra menatap sekilas ke arah Lena.

Lena menghela napas kecil, lalu melirik Jace. "Taruh saja, nanti aku makan," ucapnya dan melanjutkan pekerjaannya.

Setelah itu, mereka semuanya kembali melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing. Beberapa menit berlalu, di ruangan itu hanya ditemani bunyi suara jam dinding dan pendingin ruangan.

Tapi keheningan itu tidak berlangsung lama, Dex yang tadi fokus di depan laptopnya langsung berdiri membuat suara decitan kursi yang terdorong kebelakang akibat dirinya.

"Nona Aletheia, rekan kita yang tertangkap ada di kapal pesiar, sepertinya mereka semua melaksanakan aksinya di kapal pesiar nanti malam," ucap Dex yang kemudian menghampiri Lena dengan membawa laptopnya.

"Apa kita akan ke sana juga?" tanya Jace menatap Lena yang tengah berpikir.

"Ini akan sedikit berisiko, tapi di sana pasti kita bisa mengambil bukti tentang kebusukannya otoritas," ucap Lena sambil mengerutkan dahinya.

"Kita buat rencana baru, kalian fokus otoritas dan aku... yang akan melawan marcus sendiri!" lanjutnya dengan tegas.

"Tapi itu akan sedikit berbahaya Nona, aku akan temani!" tawar Jace yang mendapat anggukan dari Dex dan Nyra.

Waktu berjalan begitu cepat hingga tanpa sadar langit di luar jendela telah berubah gelap. Cahaya keemasan musim gugur perlahan digantikan oleh temaram lampu-lampu kota dan dinginnya malam yang menyelimuti markas mereka.

Suara ketikan keyboard, langkah kaki tergesa, serta bisikan diskusi strategi memenuhi ruangan sejak sore tadi, menandakan persiapan mereka untuk malam itu hampir selesai. Di tengah suasana yang menegangkan, Lena berdiri menatap layar besar di hadapannya cukup lama sebelum akhirnya meraih mantel hitamnya perlahan.

"Kita mulai!" ucapnya pada yang lain, "untuk anggota yang terluka dan beberapa lainnya jaga markas, pantau dari sini!"

"Baik!" ucap mereka serentak.

Lena membawa perlengkapan yang akan dia butuhkan, dia mengecek earpiece'nya apakah terpasang dengan benar, membawa beberapa botol kecil berisi cairan obat dan senjata yang akan dia gunakan untuk bertahan.

"Ayo," ucap Lena sambil berjalan keluar markas di ikuti Jace, Dex, Felix, Lim, dan Nyra.

Mereka semua masuk ke dalam mobil khusus organisasi mereka.

"Akan ada kembang api yang dinyalakan, dan di saat itu mereka meledakkan rekan kita yang tertahan dengan bukti yang bisa membuat mereka jatuh!" jelas Felix ketika di dalam mobil, dia sudah mencari tahu apa tujuan dari pesta di kapal pesiar itu.

"Saat kita berada di sana, kami menemukan beberapa arus dana yang tidak sesuai dengan laporan pengeluaran, penyalahgunaan anggaran," timpal Lim memberi tahu apa saja yang mereka dapat di sana.

"Data yang mereka dapat sudah saya rangkum di draft Nona, saya juga mencadangkannya," ucap Dex mendapat anggukan dari Lena.

Mobil berhenti tidak jauh dari pelabuhan. Lena menatap satu per satu rekan-rekannya dengan sorot mata serius.

"Kalian tetap jalankan semuanya sesuai rencana," ucapnya pelan namun tegas. "Begitu kalian berhasil membawa rekan kita dan seluruh bukti keluar dari kapal pesiar itu… jangan berhenti untuk mencariku."

Dex dan yang lainnya langsung terdiam mendengar ucapan Lena.

"Pastikan kalian pergi sejauh mungkin dan selamat sampai tujuan," lanjut Lena sambil menatap mereka bergantian. "Itu sudah lebih dari cukup untukku."

"Kenapa?" tanya Jace pelan, jelas tidak menyukai arah pembicaraan itu.

"Kau juga Jace, langsung menyusul mereka, aku akan lama berhadapan dengan Marcus! Setidaknya kalian selamat walaupun aku tidak—" ucapan Lena terpotong cepat oleh Nyra.

"Kita akan kembali bersama, tidak usah melantur! Ayo cepat!" ucapnya sambil keluar dari mobil.

Merekapun keluar dari mobil, menyadap masuk di tengah keramaian tamu-tamu penting yang akan masuk kapal pesiar.

"Dimana Marcus?" bisik jace pada Lena.

"Deck."

Jace menatap Lena dengan curiga. "Kau tidak menghubunginya, kan?"

Langkah Lena terhenti sepersekian detik. Sangat singkat, hampir tidak terlihat.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Protokol Senyap: Aletheia   Bab 29, Lubang Kecil

    Arthur menatap Lena sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada."Kau tahu?""Itu bukan jawabannya.""Itu jawabannya, kau sudah tahu.""Alasannya?""Pusat—""Pakai istilah..." potong Nyra dan Lena bersamaan."Badai utara," lanjut Nyra memberi tahu.Arthur mengangguk pelan. "Badai utara sangat kencang sehingga menghempaskan semua benda yang ada di hadapannya."Lena mengangguk paham. "Aku tidak suka badai, menyebalkan..." gumamnya."Lalu, kenapa sekolahku tidak?" lanjut Lena penasaran."Badai mengira daratan lemah."Lena menatap Nyra, sedangkan yang ditatap mengangguk paham."Begitu ya...""Baiklah, selagi tuan detektif di sini... kita bersantai saja dulu," lanjut Lena menatap Arthur dengan senyum manis."Bukan kah akan mencurigakan jika tidak seperti ini?" ucap Lena pelan hampir seperti berbisik, tidak lupa senyum manisnya yang belum hilang."Tidak ada pilihan lain..." ucap Arthur menghela napas dan pergi ke kasir memesan sesuatu.Nyra yang melihat Arthur pergi langsung menatap L

  • Protokol Senyap: Aletheia   Bab 28, Belum Selesai

    Dia mengangkat kepala.Seorang guru berdiri di ambang pintu."Ya?""Tolong ikut saya sebentar."Beberapa siswa langsung menoleh penasaran.Nyra bahkan berhenti memasukkan buku ke tasnya."Kenapa?""Tidak tahu."Guru itu hanya memberi isyarat agar Lena mengikutinya.Lena berdiri lalu berjalan keluar kelas.Sepanjang perjalanan menuju gedung administrasi, dia mencoba menebak-nebak alasan pemanggilan tersebut.Nilainya baik.Tidak membuat masalah.Setidaknya tidak ada yang berhasil membuktikan sebaliknya. Jadi, seharusnya tidak ada alasan khusus.Mereka berhenti di depan sebuah ruangan kecil.Guru itu mengetuk pintu."Silakan masuk."Lena mengangguk pelan lalu membuka pintu.Ruangan itu ternyata sudah berisi beberapa orang.Wakil kepala akademi.Dua staf administrasi.Dan seorang wanita yang belum pernah dia lihat sebelumnya.Semua mata langsung tertuju padanya."Oh."Lena berkedip."Apakah saya sedang dalam masalah?"Salah satu staf hampir tersedak mendengarnya.Wanita asing itu justru

  • Protokol Senyap: Aletheia   Bab 27, Rencana Lena

    Tiga hari kemudian.Pagi di Aethelgard I—sekolah Lena—berjalan seperti biasa.Suara bel pertama baru saja berhenti ketika para siswa mulai memenuhi koridor utama. Beberapa berlari menuju kelas, sebagian lagi masih mengobrol santai sebelum pelajaran dimulai.Namun suasana itu tidak bertahan lama.Karena lima menit kemudian—seluruh layar informasi akademi menyala bersamaan."Hah?""Ada apa?"Para siswa langsung menoleh.Biasanya layar-layar itu hanya digunakan untuk jadwal ujian atau pengumuman penting akademi.Tapi kali ini yang muncul adalah lambang resmi Otoritas Kota Aethelgard.Ruangan kelas Lena langsung menjadi ramai.Bahkan guru yang baru masuk pun menghentikan langkahnya.Layar besar di depan kelas menampilkan seorang wanita berpakaian formal."Pengumuman resmi dari Dewan Otoritas Kota."Suasana kelas mendadak hening."Sebagai bagian dari perayaan Hari Persatuan Kota, Otoritas Aethelgard akan menyelenggarakan Gala Persatuan tahunan di Grand Hall Pusat."Beberapa siswa langsung

  • Protokol Senyap: Aletheia   Bab 26, CLASSIFIED : LEVEL 02

    Hujan turun pelan membasahi jendela kantor investigasi.Langit Aethelgard tampak lebih gelap dibanding biasanya, sementara cahaya lampu gedung memantul samar di jalanan basah kota. Suasana kantor juga tidak jauh berbeda—sunyi, berat, dan dipenuhi rasa lelah setelah hampir semalaman menyelidiki kasus auditor.Sesekali kilat tipis menyambar di balik gedung-gedung tinggi kota, memantulkan cahaya pucat ke ruangan investigasi yang hampir kosong. Beberapa petugas lain sudah pulang sejak satu jam lalu, meninggalkan meja-meja kerja yang masih dipenuhi dokumen dan layar data yang belum dimatikan.Arthur masih duduk di depan layar hologram utama.Puluhan data melayang di hadapannya. Nama siswa. Log akses. Waktu kematian. Rekaman kamera yang sempat mati tujuh menit.Dan semakin lama dia melihat semuanya—semakin jelas ada sesuatu yang tidak masuk akal.Tatapan Arthur perlahan berubah tajam.Suara hujan di luar terdengar makin berat, memenuhi keheningan ruangan bersama dengung mesin hologram yang

  • Protokol Senyap: Aletheia   Bab 25, Jejak yang Dihapus

    Pagi di kantor investigasi terasa lebih sunyi dari biasanya. Suara ketikan keyboard dan dengung layar hologram memenuhi ruangan redup yang masih dipenuhi aroma kopi pahit sejak beberapa jam lalu. Beberapa petugas terlihat sibuk memeriksa ulang data kasus auditor, sementara sebagian lain memeriksa kasus yang berbeda. Arthur berdiri di depan layar utama tanpa bergerak. Tatapannya tertuju pada satu nama besar yang terus muncul sejak tadi. AKADEMI AETHELGARD II. Luke mendekat sambil membawa tablet data baru. "Aku sudah coba akses riwayat database sekolah itu." Dia menghela napas pelan. "Dan hasilnya aneh." Arthur melirik sekilas. "Seberapa aneh?" "Beberapa file siswa hilang." "Hilang?" "Bukan terhapus biasa..." Luke memperbesar tampilan layar. "Seolah identitas mereka tidak pernah ada sejak awal." Arthur terdiam. Data digital di kota Aethelgard hampir mustahil hilang total. Semua aktivitas tersimpan otomatis di server pusat kota. Bahkan catatan pelanggaran kecil pun bisa berta

  • Protokol Senyap: Aletheia   Bab 24, Lawan yang Tak Terlihat

    Nyra menatap Lena beberapa detik sebelum akhirnya menyandarkan tubuh ke sofa."Aku serius," katanya sambil menunjuk layar ponsel Lena dengan kaleng minumannya. "Kasus seperti ini mulai terlalu sering muncul."Lena tidak langsung menjawab.Tatapannya justru tertuju ke jendela kamar yang memperlihatkan langit pagi Aethelgard. Cerah. Tenang. "Orang yang bekerja bersih seperti ini biasanya bukan amatir," ucap Lena pelan.Nyra menaikkan alis. "Kau terdengar seperti mengenal mereka.""Tidak." Lena tersenyum kecil. "Tapi pola tetaplah pola."Suasana hening beberapa saat. Hanya suara kendaraan samar dari luar apartemen dan bunyi pendingin ruangan yang terdengar pelan memenuhi kamar.Lalu—Bzzt.Ponsel Nyra tiba-tiba bergetar cukup keras di atas meja.Dia melirik layar sebentar, lalu ekspresinya langsung berubah."…Hm?""Apa?" tanya Lena malas.Nyra tidak langsung menjawab. Dia membaca pesan itu sekali lagi seolah memastikan dirinya tidak salah baca."Markas mengirim update."Lena kini mulai

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status