LOGINMalam menyelimuti lautan yang luas, sementara udara sejuk musim gugur berhembus pelan di atas kapal pesiar yang berlayar tenang di tengah gelapnya samudra. Cahaya lampu-lampu di deck memantul di permukaan air yang bergoyang lembut, menciptakan kilauan samar yang kontras dengan dinginnya angin malam.
Suasana di atas kapal tampak elegan dan tenang di permukaan, namun di balik itu, ada ketegangan yang perlahan mengendap di antara para penumpang. "Mana mungkin aku memberitahunya," ucap Lena pada Jace.. "Aku menyadap ponselnya, lokasinya ada di area ini," lanjutnya. "Kapal pesiar ini sangat luas, bisa saja dia tidak membawa ponselnya," ucap Jace beropini. "Tidak, dia selalu membawa ponselnya," ucap Lena sambil menatap Jace. Lena kembali fokus melihat arah lokasi keberadaan Marcus melalu ponselnya. "Kapal ini sangat besar, bahkan ada kolam renang di dalamnya," Jace berdecak kagum. "Berapa banyak dana yang Otoritas habiskan? bukankah ini patut dicurigai?" Lena menetap sekitar, sebelum melirik Jace. "Dia ada di deck atas, ayo!" ucap Lena berjalan cepat ke arah lokasi Marcus. Mereka berdua berjalan cepat melewati beberapa kerumunan tanpa melakukan gerakan yang mencurigakan. Sesekali Lena mengambil wine yang salah satu pelayan tawarkan padanya. "Ck, aku tidak minum ini!" ucap Lena setelah itu menitipkan kembali minuman itu pada pelayan yang lewat di sana. Sedangkan Jace meminum sedikit wine tersebut. "Kau meminumnya, Jace?" tanya Lena tidak percaya dan mendapat anggukan dari Jace. Lena berdecak pelan, "Kalau ada obat di dalamnya bagaimana? kita di kandang musuh!" bisik Lena pada Jace. Jace menegang, dia lupa menyadari itu. "Aku harus melatihmu lebih dalam lagi, nanti!" gumam Lena dengan menghela napas lelah. Tidak terasa mereka sudah sampai di deck atas, dekat lokasi Marcus. Lena mengikuti arah lokasi diikuti Jace di belakangnya. Seketika langkah Lena terhenti, wajahnya terkejut sesaat. "Marcus," gumamnya. Di tempat lain, di bagian dalam kapal pesiar Dex, Felix, Lim, dan Nyra—Black Knight, sedang menjalankan aksinya. Di dalam lambung kapal pesiar, jauh dari gemerlap pesta di deck atas, suasana berubah menjadi sunyi dan dingin. Dinding logam yang sempit memantulkan langkah kaki pelan yang nyaris tak bersuara. Lampu lorong redup, cukup untuk menyingkap bayangan empat orang yang bergerak dalam formasi teratur. Dex di depan layar kecilnya, jari-jarinya cepat menavigasi sistem kapal yang berhasil dia tembus sebagian. Di belakangnya, Nyra berjalan sambil sesekali menyentuh earpiece di telinganya, memastikan jalur komunikasi tetap stabil. Felix dan Lim menjaga sisi kanan dan kiri lorong, mata mereka terus mengamati setiap sudut yang bisa saja berubah menjadi ancaman. "Status?" suara Nyra pelan, nyaris berbisik. "Masih stabil. Sistem keamanan utama belum aktif penuh di area bawah," jawab Dex tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Tapi itu hanya sementara. Kita tidak punya banyak waktu." Lim mengangguk kecil. "Rute ke ruang tahanan sudah jelas?" Nyra menoleh sekilas. "Sudah. Tapi ada dua titik kontrol sebelum kita sampai. Kita harus lewat tanpa meninggalkan jejak." Felix menghela napas pelan. "Mereka pasti sudah sadar ada gangguan di sistem." "Biarkan saja," balas Nyra dingin. "Selama mereka tidak tahu posisi kita, kita masih unggul." Mereka berhenti di persimpangan lorong. Dex mengangkat tangannya, memberi isyarat untuk berhenti total. Suasana menjadi lebih tegang. Dari kejauhan, suara langkah penjaga terdengar samar, mendekat dari arah atas. Felix menatap Nyra. "Sekarang?" Nyra mengangguk kecil. Dalam hitungan detik, Dex menyusupkan satu perintah ke sistem kapal. Lampu di ujung lorong berkedip sesaat, lalu padam. Alarm kecil terdengar di sistem internal kapal, cukup untuk mengalihkan perhatian para penjaga ke sisi lain. "Zona utara dialihkan," gumam Dex cepat. "Kita punya jendela waktu tiga menit." "Cukup," jawab Lim singkat. Tanpa membuang waktu, mereka bergerak. Nyra membuka panel akses darurat di dinding, mematikan sebagian sensor yang mengarah ke jalur mereka. Dex berjalan paling belakang sekarang, memastikan tidak ada jejak digital yang tertinggal. Satu persatu pintu keamanan mereka lewati dengan cepat. Setiap kunci digital yang terkunci berhasil ditembus Nyra, setiap sistem pengawasan dibutakan Dex dalam waktu singkat. Felix dan Lim tetap waspada, senjata kecil terpasang di tangan mereka, siap jika situasi berubah. Hingga akhirnya mereka tiba di dekat ruang kargo bawah—tempat target utama mereka ditahan. "Ini dia," bisik Lim pelan. Dari balik dinding logam itu, suara samar terdengar. Bukan suara mesin kapal, tapi napas lemah manusia. Nyra menatap Dex. "Buka." Dex mengangguk, lalu mulai meretas panel terakhir. Tangan kanannya sedikit bergetar, bukan karena ragu, tapi karena tekanan waktu yang terus berjalan mundur. "Delapan puluh persen… sembilan puluh…" Di belakang mereka, suara langkah kaki mulai terdengar lagi. Lebih dekat. Lebih cepat. "Cepat," desis Felix. "Sebentar lagi," jawab Dex singkat. Klik. Pintu keamanan akhirnya terbuka perlahan, mengeluarkan hembusan udara dingin dari dalam ruang kargo yang gelap. Di baliknya, beberapa sosok tampak terikat dan terkulai lemah, rekan mereka yang selama ini hilang kontak. "Masuk," lanjut Nyra berbisik cepat. Tanpa menunggu lebih lama, Felix dan Lim langsung bergerak ke dalam, memeriksa kondisi para tahanan. Dex menyapu pandangan ke seluruh ruangan, memastikan tidak ada sistem pelacak aktif yang tersisa. "Masih hidup," ucap Lim pelan, lega. "Angkat mereka. Kita tidak punya banyak waktu," perintah Nyra. Mereka mulai bergerak cepat. Dex membantu mematikan kunci pengikat digital di tangan para tahanan, sementara Felix dan Lim memapah satu per satu keluar dari ruangan. Nyra tetap di belakang, matanya terus memantau jalur keluar melalui earpiece. Namun, baru beberapa langkah mereka keluar dari ruang kargo— BEEP. Lampu merah menyala di seluruh lorong. "Shit…" gumam Dex. "Alarm cadangan aktif," suara Nyra terdengar tegang di earpiece. "Mereka sudah sadar kita di sini." Belum sempat mereka bergerak lebih jauh, suara langkah kaki mulai terdengar dari dua arah, sangat cepat.Arthur menatap Lena sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada."Kau tahu?""Itu bukan jawabannya.""Itu jawabannya, kau sudah tahu.""Alasannya?""Pusat—""Pakai istilah..." potong Nyra dan Lena bersamaan."Badai utara," lanjut Nyra memberi tahu.Arthur mengangguk pelan. "Badai utara sangat kencang sehingga menghempaskan semua benda yang ada di hadapannya."Lena mengangguk paham. "Aku tidak suka badai, menyebalkan..." gumamnya."Lalu, kenapa sekolahku tidak?" lanjut Lena penasaran."Badai mengira daratan lemah."Lena menatap Nyra, sedangkan yang ditatap mengangguk paham."Begitu ya...""Baiklah, selagi tuan detektif di sini... kita bersantai saja dulu," lanjut Lena menatap Arthur dengan senyum manis."Bukan kah akan mencurigakan jika tidak seperti ini?" ucap Lena pelan hampir seperti berbisik, tidak lupa senyum manisnya yang belum hilang."Tidak ada pilihan lain..." ucap Arthur menghela napas dan pergi ke kasir memesan sesuatu.Nyra yang melihat Arthur pergi langsung menatap L
Dia mengangkat kepala.Seorang guru berdiri di ambang pintu."Ya?""Tolong ikut saya sebentar."Beberapa siswa langsung menoleh penasaran.Nyra bahkan berhenti memasukkan buku ke tasnya."Kenapa?""Tidak tahu."Guru itu hanya memberi isyarat agar Lena mengikutinya.Lena berdiri lalu berjalan keluar kelas.Sepanjang perjalanan menuju gedung administrasi, dia mencoba menebak-nebak alasan pemanggilan tersebut.Nilainya baik.Tidak membuat masalah.Setidaknya tidak ada yang berhasil membuktikan sebaliknya. Jadi, seharusnya tidak ada alasan khusus.Mereka berhenti di depan sebuah ruangan kecil.Guru itu mengetuk pintu."Silakan masuk."Lena mengangguk pelan lalu membuka pintu.Ruangan itu ternyata sudah berisi beberapa orang.Wakil kepala akademi.Dua staf administrasi.Dan seorang wanita yang belum pernah dia lihat sebelumnya.Semua mata langsung tertuju padanya."Oh."Lena berkedip."Apakah saya sedang dalam masalah?"Salah satu staf hampir tersedak mendengarnya.Wanita asing itu justru
Tiga hari kemudian.Pagi di Aethelgard I—sekolah Lena—berjalan seperti biasa.Suara bel pertama baru saja berhenti ketika para siswa mulai memenuhi koridor utama. Beberapa berlari menuju kelas, sebagian lagi masih mengobrol santai sebelum pelajaran dimulai.Namun suasana itu tidak bertahan lama.Karena lima menit kemudian—seluruh layar informasi akademi menyala bersamaan."Hah?""Ada apa?"Para siswa langsung menoleh.Biasanya layar-layar itu hanya digunakan untuk jadwal ujian atau pengumuman penting akademi.Tapi kali ini yang muncul adalah lambang resmi Otoritas Kota Aethelgard.Ruangan kelas Lena langsung menjadi ramai.Bahkan guru yang baru masuk pun menghentikan langkahnya.Layar besar di depan kelas menampilkan seorang wanita berpakaian formal."Pengumuman resmi dari Dewan Otoritas Kota."Suasana kelas mendadak hening."Sebagai bagian dari perayaan Hari Persatuan Kota, Otoritas Aethelgard akan menyelenggarakan Gala Persatuan tahunan di Grand Hall Pusat."Beberapa siswa langsung
Hujan turun pelan membasahi jendela kantor investigasi.Langit Aethelgard tampak lebih gelap dibanding biasanya, sementara cahaya lampu gedung memantul samar di jalanan basah kota. Suasana kantor juga tidak jauh berbeda—sunyi, berat, dan dipenuhi rasa lelah setelah hampir semalaman menyelidiki kasus auditor.Sesekali kilat tipis menyambar di balik gedung-gedung tinggi kota, memantulkan cahaya pucat ke ruangan investigasi yang hampir kosong. Beberapa petugas lain sudah pulang sejak satu jam lalu, meninggalkan meja-meja kerja yang masih dipenuhi dokumen dan layar data yang belum dimatikan.Arthur masih duduk di depan layar hologram utama.Puluhan data melayang di hadapannya. Nama siswa. Log akses. Waktu kematian. Rekaman kamera yang sempat mati tujuh menit.Dan semakin lama dia melihat semuanya—semakin jelas ada sesuatu yang tidak masuk akal.Tatapan Arthur perlahan berubah tajam.Suara hujan di luar terdengar makin berat, memenuhi keheningan ruangan bersama dengung mesin hologram yang
Pagi di kantor investigasi terasa lebih sunyi dari biasanya. Suara ketikan keyboard dan dengung layar hologram memenuhi ruangan redup yang masih dipenuhi aroma kopi pahit sejak beberapa jam lalu. Beberapa petugas terlihat sibuk memeriksa ulang data kasus auditor, sementara sebagian lain memeriksa kasus yang berbeda. Arthur berdiri di depan layar utama tanpa bergerak. Tatapannya tertuju pada satu nama besar yang terus muncul sejak tadi. AKADEMI AETHELGARD II. Luke mendekat sambil membawa tablet data baru. "Aku sudah coba akses riwayat database sekolah itu." Dia menghela napas pelan. "Dan hasilnya aneh." Arthur melirik sekilas. "Seberapa aneh?" "Beberapa file siswa hilang." "Hilang?" "Bukan terhapus biasa..." Luke memperbesar tampilan layar. "Seolah identitas mereka tidak pernah ada sejak awal." Arthur terdiam. Data digital di kota Aethelgard hampir mustahil hilang total. Semua aktivitas tersimpan otomatis di server pusat kota. Bahkan catatan pelanggaran kecil pun bisa berta
Nyra menatap Lena beberapa detik sebelum akhirnya menyandarkan tubuh ke sofa."Aku serius," katanya sambil menunjuk layar ponsel Lena dengan kaleng minumannya. "Kasus seperti ini mulai terlalu sering muncul."Lena tidak langsung menjawab.Tatapannya justru tertuju ke jendela kamar yang memperlihatkan langit pagi Aethelgard. Cerah. Tenang. "Orang yang bekerja bersih seperti ini biasanya bukan amatir," ucap Lena pelan.Nyra menaikkan alis. "Kau terdengar seperti mengenal mereka.""Tidak." Lena tersenyum kecil. "Tapi pola tetaplah pola."Suasana hening beberapa saat. Hanya suara kendaraan samar dari luar apartemen dan bunyi pendingin ruangan yang terdengar pelan memenuhi kamar.Lalu—Bzzt.Ponsel Nyra tiba-tiba bergetar cukup keras di atas meja.Dia melirik layar sebentar, lalu ekspresinya langsung berubah."…Hm?""Apa?" tanya Lena malas.Nyra tidak langsung menjawab. Dia membaca pesan itu sekali lagi seolah memastikan dirinya tidak salah baca."Markas mengirim update."Lena kini mulai







